
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Pak Kenzie..”
Darmo terkejut melihat kedatangan Kenzie. Ternyata pria itu datang dengan membawa rombongan. Matanya langsung tertuju pada Azzam dan Zakaria. Sejak anaknya meninggal, dia belum bertemu lagi dengan teman-teman dekat anaknya. Dia sempat bertanya-tanya, mengapa Azzam dan yang lainnya tiba-tiba menghilang. Azzam dan Zakaria mendekati Darmo, lalu mencium punggung tangan pria itu.
“Bapak..” panggil Azzam.
“Azzam.. Zaka.. kalian kemana saja? Apa kalian sudah tahu kalau Eko.. Eko…”
Darmo tak bisa melanjutkan ucapannya. Kepala Azzam dan Zakaria mengangguk mengetahui arah pembicaraan ayah dari almarhum sahabatnya itu. Mendengar suara dari depan rumah, Puji keluar. Sama seperti Darmo, wanita itu juga terkejut melihat kedatangan Kenzie dan yang lain. Azzam dan Zakaria mendekati wanita itu, kemudian mencium punggung tangannya.
“Azzam.. apa yang terjadi pada Eko? Apa benar dia meninggal saat bermain futsal?” tanya Puji sambil memegangi kedua tangan Azzam.
“Ibu… maaf, perkenalkan ini Irjen Rasyid. Beliau yang akan menjelaskan tentang kejadian yang menimpa Eko.”
Kenzie menyela pembicaraan, lalu memperkenalkan Irjen Rasyid pada kedua orang tua Eko. Bergantian pria itu menyalami Darmo dan Puji. Pria itu juga memperkenalkan istri dan kedua anaknya. Darmo mempersilahkan semua tamunya masuk ke dalam. Pandawa lima bersama Anfa memilih menunggu di luar.
“Azzam, kamu tahu di mana makam Eko?” tanya Abi.
“Tahu, kek.”
“Ayo antar kakek ke sana.”
Bersama dengan Zakaria, Azzam mengantar pandawa lima bersama Anfa ke makam Eko. Abi membiarkan saja Kenzie dan Kenan yang mengurus masalah orang tua Eko. Dia yakin Irjen Rasyid cukup bijak untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Eko.
__ADS_1
Di dalam rumah Eko, sekarang hanya ada Darmo bersama istrinya, keluarga Irjen Rasyid dan juga Kenzie serta Kenan. Jantung Darmo berdebar kencang menunggu penjelasan dari petinggi angkatan udara tersebut. Akhirnya rasa penasarannya akan kematian sang anak akan terjawab hari ini.
“Sebelumnya saya beserta keluarga mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk putra bapak dan ibu. Dari yang saya dengar dari para sahabatnya, Eko adalah anak yang baik. Dia juga taruna yang rajin dan memiliki banyak teman yang menyayanginya.”
“Alhamdulillah,” jawab Darmo.
“Bapak dan ibu.. saya juga ingin mengucapkan maaf atas apa yang terjadi pada Eko. Apa yang dikatakan pihak akademi perihal meninggalnya Eko tidaklah benar. Eko meninggal bukan karena kecelakaan saat bermain futsal.”
Refleks Puji memegang tangan suaminya. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Ketakutannya akan Eko yang meninggal karena dianiaya, sepertinya terbukti. Darmo pun belum bisa mengatakan apapun. Dia masih menunggu Irjen Rasyid menyelesaikan perkataannya.
“Jadi begini, pak.”
Secara gamblang dan tanpa ada yang ditutup-tutupi, Irjen Rasyid menerangkan apa yang sebenarnya terjadi. Pria itu juga berterus terang kalau dia adalah ayah dari Gusti, orang yang menjadi dalang pemukulan Eko dan Seno.
“Ya Allah, Eko……”
“Apa salah anakku sampai dia disiksa seperti itu? Apa kesalahan Eko?” ujar Puji disela-sela tangisnya.
“Eko itu anak yang baik. Dia adalah kebanggan kami, harapan kami. Menjadi TNI angkatan udara adalah cita-citanya. Dia ingin mengangkat derajat orang tuanya. Tapi impiannya tidak bisa terwujud. Allah lebih sayang dia dan memanggilnya kembali ke sisi-Nya.”
Tangan Darmo mengusap airmata yang mengalir di wajahnya. Kata-kata yang keluar dari mulut pria itu terdengar sangat menyayat hati. Perwita, Rizky dan Razak hanya bisa menundukkan kepalanya. Hanya Irjen Rasyid saja yang masih menegakkan kepalanya, walau dirinya didera rasa malu yang luar biasa.
“Saya tahu apa yang dilakukan anak saya sungguh keji. Sebagai orang tuanya, saya hanya bisa meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya berharap bapak dan ibu berlapang dada membukakan pintu maaf untuk kami. Saya juga berjanji, kasus ini tidak akan terkubur begitu saja. Walau Gusti anak saya, tapi saya akan pastikan kalau anak itu mendapat hukuman yang setimpal. Mohon maafkan kami yang tidak bisa mendidik Gusti dengan benar,” Irjen Rasyid menangkupkan kedua tangannya.
Dibalik kesedihan yang dirasakan Darmo mengetahui kebenaran dibalik meninggalnya sang anak, melihat sikap Irjen Rasyid beserta istri dan kedua anaknya membuat pria itu terharu. Sebenarnya mudah saja bagi petinggi TNI itu untuk mengubur kasus anaknya, namun pria itu memilih datang dan meminta maaf pada dirinya dan juga sang istri.
__ADS_1
“Terima kasih untuk pak Irjen yang sudah jujur membuka misteri kematian Eko. Terima kasih, kami sudah tidak penasaran lagi sekarang.”
“Bapak.. ibu.. saya tahu kalau nyawa Eko tidak bisa digantikan oleh apapun. Tapi ijinkan saya bertanggung jawab. Kalau bapak dan ibu berkenan, kami akan menanggung biaya sekolah adik Eko sampai ke perguruan tinggi. Jika ibu dan bapak membutuhkan sesuatu, katakan saja pada saya, jangan sungkan.”
“Terima kasih, pak. Terima kasih.”
“Seno.. bagaimana keadaannya?” tanya Puji.
“Seno masih dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah mulai membaik, hanya saja masih harus beristirahat di rumah sakit. Hanya saja, kondisi psikis Seno belum membaik. Dia masih merasa bersalah atas meninggalnya Eko. Saya sudah meminta pada dokternya untuk menyediakan psikolog untuknya.”
“Ya Allah.. kasihan anak itu. Dia pasti sangat terpukul,” ujar Darmo.
“Apa kami bisa menengoknya?”
“Bisa, pak. Saya akan mengantar bapak dan ibu ke rumah sakit untuk menengoknya.”
“Bapak.. ibu, apa kami bisa melihat makam Eko?” Perwita yang sedari tadi diam, kini membuka suaranya.
“Bisa, bu.”
“Saya juga ingin melihat makam Eko,” ujar Kenzie.
Darmo dan Puji bangun dari duduknya. Mereka semua keluar dari rumah dan segera menuju makam Eko. Tempat di mana Eko dimakamkan tidak terlalu jauh dari kediaman Darmo. Setelah berjalan kaki selama delapan menit, mereka sampai di makam. Azzam bersama Zakaria, Anfa dan pandawa lima, masih berada di sana.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Gutak gitek, guwal geyol, mudah²an review ngga pake lama😂