AZZAM

AZZAM
Pelangi Setelah Hujan


__ADS_3

Azzam dan Zakaria mendudukkan diri di dekat makam Eko setibanya di sana. Abi bersama yang lain ikut berjongkok. Mereka memanjatkan doa untuk almarhum Eko. Azzam memegangi nisan Eko yang masih terbuat dari papan kayu. Jarinya mengusap nama Eko yang tertera di sana.


“Ko.. hari ini aku tepatin janjiku. Sebentar lagi orang yang sudah menyiksamu dan Seno akan mendapat hukuman setimpal. Keadaan Seno juga sudah baik, tapi dia masih terpukul. Dia merasa bersalah padamu,” ujar Azzam.


“Ko.. kalau kamu lagi ngga sibuk, coba kamu datangi Seno. Tapi dalam mimpi aja, jangan nongol langsung. Nanti yang ada dia pingsan. Bilangin ke dia, harus semangat dan jangan menyerah,” sambung Zakaria.


Kening Abi dan yang lain mengernyit mendengar ucapan Zakaria yang sedikit nyeleneh. Abi bangun lalu melihat keadaan di sekitar makam. Area pemakaman ini berada di tengah-tengah lahan warga. Abi berjalan melihat-lihat lahan sekitar. Juna mengikuti adiknya dari belakang. mata mereka lalu tertuju pada plang kayu yang tertancap di salah satu tanah. Di plang tersebut tertera tulisan DIJUAL.


Abi dan Juna berhenti tepat di depan lahan yang akan dijual itu. lokasinya tidak jauh dari area pemakaman, hanya sekitar seratus meter saja. Mereka kemudian menghampiri seorang pria yang ada di lahan tersebut.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Pak, mau tanya. Apa tanah ini mau dijual?”


“Iya, pak.”


“Berapa luasnya ini, pak?”


“Seribu lima ratus meter, pak.”


“Mau dijual berapa ini, pak?”


“Lima ratus ribu semeternya.”


Dengan cepat Abi menghitung berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli tanah tersebut.


“Bapak yang punya?” tanya Juna.


“Nggih, pak.”

__ADS_1


“Terima kasih, pak.”


Abi dan Juna meninggalkan orang tersebut. Mereka berdua kembali ke makam Eko. Sambil berjalan, Juna berbincang dengan Abi.


“Kamu mau beli lahan itu?”


“Iya. Aku mau kasih buat pak Darmo. Mereka sudah kehilangan anak laki-laki yang akan menjadi penopang hidup. Dengan tanah itu, pak Darmo bisa memiliki pemasukan sendiri dan bisa hidup lebih baik.”


“Kamu benar. Coba bicarakan dengan yang lain, siapa tahu mereka mau bantu juga. Aku juga mau ikut bantu.”


“Iya, kak.”


Sesampainya di makam, Abi langsung berbincang dengan Cakra, Kevin, Jojo dan Anfa. Tangan Abi menunjuk pada tanah yang dilihatnya tadi dan alasan mengapa dia bermaksud membelikan tanah tersebut untuk Darmo. Zakaria yang mendengarkan percakapan pandawa lima, hanya bisa mengagumi dalam hati. Keluarga konglomerat itu ternyata begitu ringan tangan dan tidak pernah setengah-setengah ketika membantu orang lain.


“Aku setuju, Bi. Kita bagi rata aja, berapa yang harus dikeluarkan,” seru Cakra.


“Aku juga setuju,” sahut Jojo.


“Jangan lupa berikan modal juga untuk menggarap lahannya,” sambung Anfa.


“Nanti biar Nan aja yang urus, sampai balik nama. Kita tinggal terima beresnya aja.”


Semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Perbincangan mereka terhenti ketika melihat kedatangan Darmo bersama yang lain. Irjen Rasyid bersama istri dan kedua anaknya mendekati makam Eko. Hati Perwita miris melihat makam korban penyiksaan anaknya. Terdengar isak tangis Puji. Wanita itu selalu menangis setiap kali mendatangi makam anaknya.


Abi memanggil Kenan. Dia membawa anak bungsunya itu ke tanah yang tadi dilihatnya. Kepala Kenan mengangguk mendengar perintah sang ayah.


“Azzam, bapak mau menengok Seno,” ujar Darmo.


“Biar kami antar,” jawab Kenzie.


“Terima kasih pak Kenzie.”

__ADS_1


“Mohon maaf pak Darmo, saya tidak bisa ikut ke rumah sakit. saya harus kembali ke akademi untuk mengurus masalah ini,” ujar Irjen Rasyid.


“Tidak apa, pak. Terima kasih atas niat baiknya memperjuangkan keadilan untuk anak kami.”


“Eko layak mendapatkannya.”


Bersama-sama mereka meninggalkan makam Eko, kecuali Kenan. Pria itu ingin bertemu lebih dulu dengan pemilik tanah. Sebelum kembali ke Bandung, dia ingin segera menyelesaikan tugas yang diberikan sang ayah padanya.


🌻🌻🌻


Seno sudah dipindahkan ke ruang VIP atas perintah Irjen Rasyid. Pria itu ditemani seorang kopral yang diminta menjaga kamarnya. Lettu Putra kembali ke akademi untuk bertemu dengan Mayor Indra. Salah satu rekannya mengabarkan kalau atasannya itu sudah dibebaskan.


Seorang suster datang membawakan makanan untuk Seno. Pemuda itu menatap nampan berisi makanan tanpa berselera. Tak ada keinginan darinya untuk menyentuh makanan tersebut.


Kepalanya menoleh ketika melihat pintu kamar terbuka. Matanya berkaca-kaca ketika melihat Darmo, Puji dan Gendis datang menengoknya. Bersama dengan keluarga Eko, ada pula Azzam beserta keluarganya dan juga Zakaria.


“Bapak.. ibu..” panggil Seno.


Darmo dan Puji menghampiri Seno. Tangis pemuda itu langsung pecah saat Darmo mendekat. Dia memegangi tangan pria itu kemudian menaruh kepalanya di atas punggung tangan Darmo.


“Maafin aku, pak. Maafin aku…”


“Ndak ada yang perlu dimaafkan, Seno.”


“Maafin aku. Karena aku, Eko meninggal. Maafin aku..”


Puji tak bisa menahan airmatanya mendengar ucapan Seno. Wanita itu beberapa kali menghapus airmatanya. Darmo memeluk Seno dan berusaha menenangkannya. Jelas sekali kalau pemuda itu begitu terpukul dan merasa bersalah atas meninggalnya Eko. Perlahan Darmo mengurai pelukannya.


“Apa yang terjadi pada Eko, bukan salahmu. In Syaa Allah, bapak dan ibu sudah ikhlas. Kamu harus cepat sembuh, kamu harus lebih semangat lagi untuk belajar. Teruskan cita-cita Eko. Buat kedua orang tuamu bangga, mengerti?”


Hanya anggukan kepala yang dilakukan Seno. Puji mendekat lalu memeluk Seno. Tangannya mengusap punggung pemuda itu dengan lembut, seolah dia sedang memeluk anaknya sendiri. Setelah pelukan Puji terurai, mata Seno tertuju pada Gendis. Gadis itu masih bergeming di tempatnya. Dia memandangi Seno dengan tatapan yang sulit diartikan. Melihat tatapan Gendis padanya, Seno dapat merasakan kemarahan dan kebencian gadis itu padanya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan ditanya kemana Azzam pergi. Jawabannya dikekepin Neneng entunun🤧


__ADS_2