
Zuhaidar keluar dari toilet seraya memegangi perutnya. Baru saja berjalan beberapa langkah menjauhi toilet, perutnya kembali terasa mulas. Bergegas gadis itu kembali ke toilet. Lima menit kemudian Zuhaidar keluar. Kondisi perutnya sudah terasa baikan setelah berhasil mengeluarkan semua ampas yang mengganggu.
Gadis itu bergegas kembali menuju sasana krida untuk membantu Seno membereskan bola-bola. Matanya menangkap Eko berlari masuk ke dalam gedung olahraga tersebut. Melihat Eko, Zuhaidar mempercepat langkahnya. Namun saat masuk ke dalam sasana krida, dia tidak melihat siapa pun di lapangan basket. Keningnya berkerut melihat bola-bola yang berserakan di lantai. Seingatnya tadi, dia dan Seno sudah memasukkannya ke dalam keranjang.
Zuhaidar terkejut ketika mendengar suara-suara dari arah ruang ganti. Dengan mengendap-endap gadis itu menuju ruang ganti. Hampir saja dia berteriak melihat Gusti dan kedua temannya sedang menghajar Eko dan Seno. Zuhaidar bermaksud pergi untuk memanggil bantuan, namun kakinya menyenggol bangku di dekatnya, membuat Gusti dan dua temannya curiga.
Cepat-cepat Zuhaidar mencari tempat bersembunyi ketika Hari mengecek tempat datangnya suara. Zuhaidar bersembunyi di bawah tumpukan spanduk, tangannya menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar. Tak menemukan apapun, Hari kembali ke tempatnya semula. Dia melanjutkan kembali aktivitasnya, menjadikan Seno dan Eko samsak hidupnya.
Pelan-pelan Zuhaidar mengeluarkan ponselnya, lalu dari balik tumpukan spanduk, merekam adegan tersebut. Tangan Zuhaidar bergetar saat mereka adegan mengerikan di depannya. Sebisa mungkin gadis itu menahan tangisnya melihat kedua rekannya dihajar habis-habisan oleh seniornya.
Sejak saat itu, hidup Zuhaidar tidak tenang. Petinggi akademi sudah tahu kalau gadis itu datang ke sasana krida saat penyiksaan berlangsung melalui rekaman cctv. Dia dipanggil ke ruangan gubernur dan ditanyai soal kejadian. Dia dicecar dan diancam untuk menutup mulutnya. Ponselnya disita dan gerak-geriknya diawasi. Beruntung gadis itu sempat memindahkan rekaman penyiksaan ke SD card dan mengeluarkan dari ponselnya.
Zuhaidar belum punya kesempatan untuk memberikan SD card tersebut pada Azzam. Kamarnya digeledah dan setiap keluar dan masuk kamar flatnya, dia selalu diawasi oleh seorang perwira wanita yang selalu mengawalnya. Hari ini dia mendapat ide memasukkan SD card ke dalam kue brownies yang diberikan Niken. Gadis itu juga meminta Niken yang memberikannya pada Azzam. Zuhaidar berharap Azzam bisa mengungkap ketidakadilan yang menimpa Seno dan Eko.
“Kamu harus memakannya, sekarang!”
Sejenak Azzam terpaku memandangi kue di tangannya. mendengar suara Niken yang penuh penekanan saat memintanya memakan kue itu, membuatnya curiga. Pasti ada sesuatu yang hendak disampaikan Niken padanya. Buru-buru dia membuka bungkusan kue tersebut. Azzam mengeluarkan kue, lalu membelahnya. Di dalamnya dia menemukan sebuah SD card yang sengaja dimasukkan ke dalam kue.
Azzam bergegas menyalakan laptopnya. Dimasukkan SD card ke dalam card reader, lalu menyambungkannya ke laptop. Hanya ada satu file video di dalam kartu tersebut. Azzam segera memutar video tersebut.
Mata Azzam berkaca-kaca saat melihat adegan penyiksaan Eko dan Seno yang terekam oleh Zuhaidar. Tangannya mengepal erat, menahan amarah yang hendak meledak. Durasi video hanya lima menit tapi cukup membuktikan bagaimana kejamnya Gusti dan kedua temannya saat menyiksa Eko dan Seno.
“Aaaaaaaaaaa!!!!”
Azzam berdiri sambil berteriak kencang. Dipukulnya dinding kamarnya dengan kencang sampai buku-buku tangannya terluka. Airmatanya menetes mengingat penderitaan kedua sahabatnya. Dengan kasar dihapusnya airmata yang membasahi pipinya, kemudian diambilnya ponsel dari saku celananya. Sudah saatnya dia membalas perbuatan keji Gusti, Hari dan Esa. Pemuda itu segera menghubungi Kenzie. Tidak butuh waktu lama bagi Kenzie menjawab panggilan sang anak.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam, papa…” suara Azzam terdengar bergetar.
“Azzam.. kamu kenapa? Kamu sakit?”
Mendengar nada suara anaknya yang tidak biasa, tentu saja membuat Kenzie curiga. Mendengar suara sang ayah, Azzam tidak kuasa menahan tangisnya. Pemuda itu menangis tersedu tanpa bisa mengatakan apapun.
“Azzam.. kamu kenapa?” tanya Kenzie cemas.
__ADS_1
“Pa.. tolong aku… tolong aku.. Eko dan Seno….”
Ucapan Azzam menggantung begitu saja. Pemuda itu tidak bisa melanjutkan perkataannya dan kembali menangis. Dengan sabar Kenzie menunggu sampai anaknya tenang. Pasti ada hal yang tidak biasa terjadi, yang membuat Azzam menangis seperti itu. Setelah beberapa saat, Azzam sudah bisa menguasai dirinya. Tangisnya pun sudah mereda.
“Kamu sudah siap bercerita?”
“Aku minta bantuan papa.”
“Bantuan apa? Katakan saja.”
“Pa.. Eko.. Eko sudah meninggal.”
“Apa? Apa yang terjadi? Bagaimana Eko bisa meninggal?”
Azzam tidak menjawab pertanyaan sang ayah. Pemuda itu memilih mengirimkan video yang didapatnya dari Niken ke e-mail Kenzie.
“Aku udah kirim video ke e-mail papa.”
Kenzie yang memang sedang berada di ruang kerja pribadinya, langsung mengecek e-mail dari sang anak yang baru saja masuk. Matanya membulat saat melihat adegan penyiksaan terhadap Eko dan Seno. Ternyata itu yang membuat anaknya menangis.
“Seno.. bagaimana keadaannya?”
“Seno sudah sadar. Tapi masih di rumah sakit. aku belum bisa nengok dia. Pergerakanku diawasi, hapeku juga disita. Untung ada yang membantuku, dan aku bisa menghubungi papa sekarang.”
“Papa akan berangkat ke Sleman sekarang juga. Papa akan memberikan keadilan untuk Eko. Tapi untuk menangkap ikan, papa memerlukan umpan.”
“Aku ngerti, pa.”
“Dua jam lagi papa berangkat ke sana.”
“Terima kasih, pa.”
“Jaga dirimu baik-baik.”
“Iya, pa.”
__ADS_1
Panggilan antara Azzam dan Kenzie berakhir. Azzam menyalin dulu video ke ponselnya. Pemuda itu kemudian mematikan ponselnya dan memasukkan ke laci meja belajarnya. Azzam mengambil laptopnya, lalu keluar dari kamarnya. Dengan langkah mantap, pemuda itu berjalan menuju ruangan gubernur akademi.
TOK
TOK
TOK
“Masuk!”
Azzam membuka pintu, kemudian masuk ke dalamnya. Lebih dulu pemuda itu memberikan hormat pada Marsda Edi Purnomo, kemudian berjalan mendekati meja kerjanya. Mata sang gubernur melihat pada laptop di tangan Azzam.
“Lapor komandan, saya ingin memberikan bukti kasus penyiksaan Eko dan Seno.”
“Bukti apa?”
Azzam mendekati meja, lalu menaruh laptopnya di sana. Dinyalakannya laptop tersebut, dia mencari file yang sudah disimpannya tadi, lalu memutar video tersebut. Azzam memutar laptop menghadap Marsda Edi Purnomo. Pria itu terkejut melihat video yang memperlihatkan kekejian Gusti dan dua temannya pada Eko dan Seno.
“Saya harap komandan bersedia memberikan hukuman setimpal pada pelaku.”
“Dari mana kamu dapat video ini?”
“Siap. Maaf komandan, saya tidak bisa mengatakan dari mana sumbernya. Saya harap komandan dapat memberikan keadilan untuk dua teman saya.”
Cukup lama Marsda Edi Purnomo terdiam. Dia memandangi wajah Azzam yang cukup tenang. Tangannya kemudian meraih telepon ekstensi yang ada di meja kerjanya. Tak lama kemudian, datang dua orang bawahannya masuk ke dalam ruangan.
“Masukkan Azzam ke ruang isolasi.”
“Komandan!” teriak Azzam.
Dua orang anak buah Marsda Edi Purnomo langsung memegangi tangan Azzam. Sebisa mungkin pemuda itu berusaha melepaskan diri. Wajahnya nampak emosi ketika melihat gubernur akademi itu menghapus file video yang hendak dijadikan barang bukti. Azzam berontak dan berusaha melepaskan diri. Kedua prajurit yang memeganginya, segera menyeret pemuda itu keluar dari ruangan.
Sepanjang jalan menuju ruang isolasi, Azzam terus berteriak dan mencoba berontak. Salah seorang prajurit yang menyeretnya terpaksa menghadiahi bogeman ke perut Azzam. Keduanya segera membawa Azzam ke ruang isolasi, lalu memasukkan pemuda itu ke dalam. Pintu langsung terkunci setelah Azzam masuk ke ruang tahanan tersebut. Dia berjalan menuju velbed lalu mendudukkan dirinya di sana. Segurat senyum tipis tercetak di wajah pemuda itu.
🌻🌻🌻
__ADS_1