
Apa yang diharapkan Seno menjadi kenyataan. Sebelum libur akhir semester, Yakob dan Willi menyempatkan diri berkunjung ke rumah Eko. Mereka tidak bisa ikut kalau di akhir semester, karena mereka akan pulang untuk merayakan hari raya bersama keluarga di kampung halaman.
Seperti biasa, kelima pria itu tidak pernah datang dengan tangan kosong. Ada saja yang mereka beli untuk keluarga almarhum sang sahabat. Kedatangan mereka tentu saja disambut gembira oleh Darmo dan Puji. Berkat Azzam dan yang lainnya, mereka seperti merasa masih mempunyai putra.
“Bagaimana kabarnya, pak? Sehat?” tanya Seno seraya mencium punggung tangan Darmo.
“Alhamdulillah. Kalian juga sehat-sehat, kan?”
“Iya, pak.”
“Bapak ngga bosan kan, kita datang terus berkunjung?” tanya Yakob sambil bercanda.
“Bapak malah senang.”
“Ini.. ada titipan dari Mayor Indra.”
Seno mengeluarkan brevet Wanatirta dari saku celananya. Puji begitu terharu sang pelatih masih mau memberikan brevet untuk putranya yang sudah meninggal dunia. Dipandanginya brevet berbentuk wing tersebut. Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar Eko. Dikeluarkannya seragam berwarna biru yang masih tergantung rapih di lemari, lengkap dengan atributnya. Kemudian Puji memasangkan brevet Wanatirta, tepat di atas brevet Terla.
“Ko.. ini brevet terakhir kita. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa melengkapi brevetmu,” ujar Seno.
Dari luar kamar, Gendis mengintip dan mendengarkan apa yang dikatakan Seno. Gadis itu senang, para sahabat Eko tidak pernah melupakan almarhum kakaknya. Seno berbalik hendak keluar kamar. Melihat itu, Gendis bergegas menjauh dari kamar Eko.
🌻🌻🌻
Liburan kali ini, selain untuk menyerahkan brevet Wanatirta, hal ini dimanfaatkan Azzam dan yang lain untuk membantu Darmo panen. Kali ini, ayah dari Eko itu akan memanen singkong. Bersama dengan Slamet dan Widadi, kakak Slamet, mereka menuju kebun untuk memanen singkong.
Beberapa keranjang sudah terisi oleh singkong hasil kebun Darmo. Yakob meminta Darmo pulang dan beristirahat. Sisa pekerjaan akan diselesaikan oleh mereka. Begitu Darmo pergi, Gendis datang membawakan minuman dan makanan berupa jagung rebus. Dia meletakkan barang bawaannya di sebuah saung yang ada di kebun.
“Terima kasih, Gendis,” ujar Azzam seraya menuangkan air dari dalam kendi.
“Sama-sama, kak.”
__ADS_1
Seno datang mendekat, kemudian mengambil air yang sudah dituangkan oleh azzam. Pemuda itu duduk di saung, baru kemudian meminum airnya. Gendis yang berada di dekatnya tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, enggan melihat pada Seno.
Melihat Gendis yang tidak nyaman berada di dekatnya, Seno memilih menyingkir. Dia berjalan sedikit menjauh dari saung. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seekor ular merayap mendekati Gendis. Para sahabatnya tidak ada yang menyadari kedatangan ular tersebut. Seno mengenali jenis ular tersebut. Itu adalah ular lidi. Tubuh bagian atas berwarna coklat zaitun, dan bagian bawahnya berwarna kuning.
Tahu sang ular semakin mendekati Gendis, Seno segera berlari kemudian mendorong Gendis. Terkejut dengan gerakan Seno yang tiba-tiba, ular lidi tersebut mematuk pergelangan kaki Seno, membuat pria itu mengaduh. Gendis terkejut melihatnya, dia berteriak saat tahu kaki Seno dipacok ular.
“Kenapa?” tanya Azzam panik.
“Mas Seno dipacok ular.”
“Ular apa?” tanya Yakob.
“Ular lidi,” jawab Seno tenang karena tahu kalau ular tersebut tidak berbisa.
“Wah bahaya!” seru Yakob.
Dengan cepat pria itu mendekati Seno. Dia mengambil tali rapiah yang ada di saung, kemudian mengikat pergelangan kaki Seno. Tentu saja Seno dibuat bingung dengan apa yang dilakukan Yakob.
Seno tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Yakob membuka ketiaknya lebar-lebar dan mendekatkan ke wajah Seno. Kaos kutung yang dikenakan pria itu membuat Seno bisa dengan leluasa menghisap aroma therapy dari ketiak Yakob yang berkeringat. Kepalanya langsung berputar-putar setelah menghirupnya.
“Bahaya Dis.. ini bahaya. Lihat Seno pingsan,” Yakob menakut-nakuti Gendis.
Azzam, Zakaria, Willi dan Slamet saling berpandangan. Mereka tahu kalau Yakob tengah membohongi Gendis. Tapi semuanya membiarkannya saja. Mereka penasaran akan reaksi Gendis. Melihat Seno yang terlihat semaput, Gendis mendekati Seno lalu mengguncang-guncang tubuh pemuda itu sambil menangis.
“Mas.. mas Seno.. mas Seno bangun… mas Seno jangan tinggalin aku. Aku ngga mau kehilangan kakak lagi. Mas Seno!!”
“Dis.. kamu ke rumah, ambil obat-obatan, cepat ya,” ujar Azzam.
“Iya, kak,” jawab Gendis seraya mengusap airmatanya.
Secepat kilat gadis itu berlari keluar dari kebun. Tak lama setelah Gendis pergi, Seno tersadar dari semaputnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir aroma therapy yang seperti masih menempel di dekat hidungnya.
__ADS_1
“Kau jangan bangun dulu,” Yakob mendorong kepala Seno kembali berbaring.
“Sen.. masa digigit ular lidi aja sampe semaput,” ledek Zakaria sambil terkekeh.
“Bukan digigit ularnya yang bikin semaput. Itu aroma therapy ketek bang Yakob bener-bener semriwing.”
“Hahaha…”
Tak lama kemudian Gendis datang bersama dengan Darmo serta Puji. Kedua orang tuanya terkejut mendengar Seno dipacok ular. Dengan tenang Yakob mengobati luka di kaki Seno. Gendis terus memperhatikan apa yang dilakukan pria itu. Seno membuka matanya sedikit. Melihat Gendis yang terlihat cemas, hatinya menghangat. Ternyata adik sahabatnya itu tidak benar-benar membencinya.
🌻🌻🌻
Setelah membantu panen dan menginap semalam, Azzam dan yang lainnya berpamitan pada Darmo dan Puji. Mereka harus kembali ke akademi. Darmo dan Puji mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan Azzam, Seno, Zakaria, Yakob dan Willi. Pria itu berpesan untuk sering-sering datang jika ada waktu luang.
Seno melihat ke dalam rumah, dia mencari Gendis yang tidak terlihat batang hidungnya. Sejak tragedi dirinya dipacok ular, sikap Gendis mulai berubah. Walau belum mau berbicara langsung dengannya, namun sikapnya mulai melunak.
“Kalau gitu kami permisi dulu ya, bu, pak,” pamit Azzam.
“Iya, hati-hati. Belajar yang rajin.”
Bergantian Azzam dan yang lain mencium punggung tangan Darmo dan Puji. Kelima pria itu kemudian bersiap meninggalkan kediaman Eko. Namun baru saja beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara Gendis memanggil Seno.
“Mas Seno!!”
Seno menghentikan langkahnya, menunggu Gendis sampai ke dekatnya. Gadis itu kemudian menyerahkan wadah makanan yang dalamnya berisi getuk buatannya sendiri. Untuk sesaat Seno hanya terdiam saja sambil memandangi wadah tersebut. Tak ada pergerakan dari Seno, Gendis menarik tangan pemuda itu lalu meletakkan wadah makanan di atas tangan Seno. Setelahnya dia segera berlari masuk ke dalam.
“Yang dikasih Seno aja,” protes Yakob.
“Itu bonus habis menghirup aroma therapy abang, hahaha..” timpal Zakaria.
Dengan wajah penuh senyuman, Seno memasukkan wadah makanan ke dalam tasnya. Apa yang dilakukan Gendis membuktikan kalau gadis itu sudah tidak membencinya lagi.
__ADS_1
🌻🌻🌻