
Suara sirine terdengar tepat jam empat shubuh, membangunkan para taruna yang masih terlelap dalam tidurnya. Begitu mendengar suara sirine, para taruna bergegas bangun, kemudian membereskan tempat tidurnya. Setelahnya mereka keluar menuju kamar mandi, untuk mencuci muka, menggosok gigi dan berwudhu bagi yang beragama Islam.
Usai menunaikan ibadah shalat shubuh, para taruna kembali ke flatnya untuk mandi dan berganti pakaian. Mereka mengenakan celana loreng dan kaos berwarna biru dongker dengan tulisan ANGKATAN KEBANGGAANKU dan di sebelah tulisan tersebut terdapat tulisan AAU dengan posisi vertikal. Mereka melapisinya dengan seragam loreng. Dan terakhir, menutupi kepala mereka dengan topi hitam.
Setelah memakai sepatunya, para taruna bergegas menuju tempat penyimpanan alat-alat drumband. Pagi ini mereka akan berlatih drumband seperti biasanya. Dengan membawa peralatan masing-masing, mereka segera menuju lapangan. Azzam dan Zakaria menggendong bass drum yang ditaruh di depan dadanya. Eko memainkan terompet, Zuhaidar memegang marching bells, sedang Seno memegang snare drum. Tali snare drum disampirkan di bahunya, dengan posisi snare drum berada di pinggangnya.
Para taruna berbaris sesuai peralatan yang dipegangnya. Barisan pertama taruna yang memegang snare drum. Barisan kedua yang memegang bass drum. Barisan ketiga memegang marching bells. Dan barisan keempat memegang terompet. Setiap barisan mempunyai satu orang mayoret yang sudah siap dengan tongkatnya.
Mayoret bertugas sebagai pemandu barisan dalam membentuk formasi dan juga memberi tanda para pemain memainkan alat musiknya. Di bagian paling depan, terdapat empat mayoret yang akan memimpin dan bergerak sambil memutar-mutar tongkatnya, memberi aba-aba dan semangat pada anggota drumband. Niken adalah satu-satunya mayoret perempuan di Gita Dirgantara Taruna tahun kedua.
Drumband Akademi Angkatan Udara ini sudah dikenal oleh masyarakat luas, karena sering tampil di beberapa acara. Nama yang tersemat adalah Gita Dirgantara AAU. Gita Dirgantara AAU merupakan drumband dari Akademi Angkatan Udara, yang merupakan aktivitas taruna dan taruni di luar kemiliteran.
Setelah semua berkumpul, mereka memulai latihannya. Di tengah keheningan suasana pagi, suara alunan drumband mereka terdengar bergema. Bahkan suara latihan mereka bisa sampai terdengar ke alun-alun kota Yogyakarta. Hal ini juga yang menyebabkan beredarnya humor suara drumband misterius di kalangan masyarakat. Padahal itu adalah suara drumband dari taruna akademi angkatan udara.
Gita Dirgantara AAU nantinya akan menjadi suguhan untuk masyarakat yang datang berkunjung ke akademi. Di saat-saat tertentu, akademi angkatan udara kerap mengadakan acara Tour de Campus. Setelah menikmati pertunjukkan drumband, masyarakat dapat berinteraksi dengan para taruna, senam sehat bersama taruna, menyaksikan penampilan band taruna, game quiz, pembagian souvenir, dan diakhiri dengan keliling AAU menggunakan bus AAU, serta mengunjungi museum karbol.
Usai latihan membawakan lagu yang akan ditampilkan nanti, para taruna segera menuju pos Garuda 2. Di sana titik awal pertunjukkan drumband dimulai. Mereka akan berjalan sambil memainkan alat musik. Dari pos Garuda 2, menuju pos Radar, kembali ke pos Garuda 2 dan finish di Tugu Adisakti. Masyarakat yang hendak mengikuti kegiatan Tour de Campus mulai berdatangan ke pos Garuda 2.
Mayoret memainkan tongkatnya, memberi aba-aba pada anggota Gita Dirgantara untuk memulai permainan musiknya. Para pemegang snare drum dan bass drum, mulai memainkan stiknya, menabuh drum yang tergantung di tubuhnya. Setelah permainan drum berhenti, pemegang marching bells dan terompet mulai memainkan alat musiknya. Mereka memainkan lagu Kopi Dangdut.
__ADS_1
Kaki Azzam bergerak maju sambil melangkah ke kanan dan kiri secara berirama. Tangannya tidak lupa menabuh bass drum yang berada dalam gendongannya. Sesekali tangannya memutar-mutar stik, sebelum menabuh drumnya. Suara musik dari marching bells, terompet dan drum terdengar berirama memainkan lagu dangdut yang sangat populer tersebut.
Setelah lagu pertama berakhir, sang mayoret kembali menggerak-gerakkan tongkatnya. Tubuhnya berputar, dengan langkah kaki seperti seorang yang sedang menari. Sesekali dia memutar tongkatnya, melempar, kemudian menangkapnya lagi. Suara drum memulai lagu kedua, disusul dengan marching bells dan terompet. Untuk lagu kedua, mereka memainkan Manuk Dadali, lagu dari daerah Jawa Barat.
Masyarakat yang menonton atraksi mereka banyak yang merekam melalui kamera ponsel. Mereka terus mengikuti para taruna yang terus berjalan menuju pos Radar. Beberapa gadis muda yang sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukkan mengarahkan kameranya pada Azzam. Wajah ganteng taruna tersebut, tentu saja menarik perhatian mereka.
Setelah berkeliling dari pos Garuda 2 menuju pos Radar, kembali ke pos Garuda 2, mereka akhirnya sampai di Tugu Adisakti. Usai melakukan pertunjukkan, pemain drumband membubarkan diri. Mereka menaruh kembali alat-alat yang digunakan ke tempatnya. Selanjutnya mereka kembali ke lapangan untuk berbaur dengan masyarakat yang datang dan melakukan senam bersama. Sebelumnya mereka membuka seragam lorengnya, dan hanya mengenakan kaos warna biru dongker.
Saat acara interaksi bersama taruna, sudah bisa dipastikan siapa taruna yang banyak diajak foto bersama oleh para pengunjung. Jawabannya sudah pasti Azzam. Walau enggan, tapi dia tidak kuasa menolak permintaan pengunjung untuk berfoto dengannya. Tak jarang dia menyeret Eko, Seno atau Zakaria agar berfoto bersama. Rasanya canggung saja berfoto berdua dengan para gadis.
“Kakak namanya siapa?” tanya salah seorang gadis yang habis berfoto dengannya.
“Wah namanya bagus banget.”
“Kakak udah punya pacar belum?”
“Belum. Tapi kalau istri sudah,” sambar Zakaria.
“Hah? Masa sih, kak? Beneran udah nikah?”
__ADS_1
“Iya lebaran kemarin dia baru aja nikah. Sekarang istrinya lagi hamil muda.”
Mata Azzam melotot mendengar Zakaria yang dengan santainya mengarang cerita tentangnya. Pemuda itu malah mengedipkan matanya pada Azzam. Ketiga gadis yang tadi mengerubungi Azzam berpamitan. Mereka hendak berfoto dengan yang lain.
“Heh.. sembarangan aja kalau ngomong,” tegur Azzam begitu para penggemarnya pergi.
“Itu cara terampuh buat ngusir tuh cewek-cewek. Kalau ngga begitu, pasti bakalan nempel terus sama kamu, hahaha..”
“Kalau mereka nanya mana foto istrinya gimana?” tanya Seno.
“Gampang itu. Suruh aja bang Yakob dandan pake gamis, terus dipakein kerudung. Kasih gincu bibirnya, beres, hahaha...”
“Bhuahahaha… yang ada pada kejang-kejang yang lihat fotonya.”
Tak ayal Azzam ikut tertawa mendengarnya. Membayangkan Yakob memakai gamis, kerudung plus bibirnya diberi lipstick merah merona, dia jadi bergidik sendiri. Percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara pelatih memberi aba-aba pada para taruna untuk ikut senam bersama. Mereka segera menuju tempat diadakannya senam bersama.
🌻🌻🌻
Alhamdulillah, lewat bantuan editor, kontrak akhirnya turun juga. Untuk aturan baru aku ngga bisa up bab gemuk. Peraturan baru emang agak revot,nanti aku pecah jadi beberapa bab. Aku juga ngga nyaman tapi udah aturannya begitu. So, aku bakalan up lebih banyak bab ke depannya. Makasih buat dukungannya🙏
__ADS_1