AZZAM

AZZAM
Rival Hati


__ADS_3

Nina meminta Azzam mengajak teman-temannya menikmati hidangan. Pemuda itu mengajak teman-temannya menuju halaman belakang, tempat di mana para sepupunya berkumpul.


“Zam.. sepupumu bening semua. Bisalah kirim satu buat wing day nanti, pakein brevetku,” bisik Seno.


“Tenang. Nanti aku kirim yang paling cantik buatmu.”


“Sip.”


“Heh Zuha.. kamu mau pesan juga? Kakaknya Azzam bening juga tuh, mau ngga?” goda Seno.”


Zuhaidar tak menanggapi ucapan Seno. Dibanding dipasangkan brevet oleh Zar atau sepupu Azzam yang lain, dia lebih senang dipakaikan brevet oleh salah satu dari pandawa lima. Dengan begitu dia bisa merasa kalau keluarganya yang memasangkan brevet untuknya. Namun Zuhaidar merasa sungkan untuk memintanya pada Azzam.


“Ayo makan.. makan.. jangan malu-malu, anggap aja rumah sendiri. Abis makan jangan lupa cuci piring, nyapu sama ngepel ya,” celetuk Geya.


“Itu kan kerjaan elo, Gehger,” seru Zar.


“Hari ini aku mau jadi mandor. Lumayan dapet tenaga tambahan lima, hahaha..”


“Buat neng Geya, apa sih yang ngga,” ceplos Zakaria. Mode usilnya mulai muncul melihat keluarga Azzam yang begitu welcome.


“Zuha… di depan mata, si Zak ngegembelin perempuan lain. Tampol aja,” seru Seno.


“Ngga usah heran, Zaka itu kan modelan playboy cap karung goni,” jawab Zuhaidar santai.


“Hahahaha.. bukan playboy cap orang tua?” tanya Zar.


“Boleh juga, bang. Cocok sama mukanya yang boros.”


“Hahaha..”


Zakaria hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak di akademi, tidak di kediaman keluarga Azzam, Zuhaidar senang sekali meledeknya. Niken yang sedari hanya diam, tak ayal ikut tertawa. Matanya kemudian menangkap sosok Arsy yang berpindah tempat duduk ke dekat Azzam. Gadis itu mengenali Arsy, dia adalah perempuan yang mencium Azzam di foto yang dilihatnya di akun IG Azzam. Hatinya lega mengetahui kalau Arsy adalah kakak dari Azzam.


“Kak Arsy nanti mau, ngga pasangin brevet di dadaku pas wing day?” tanya Seno.


“Eh.. ngga bisa. Kamu ngga boleh pinjam kak Arsy,” sergah Azzam.


“Pinjam bentar aja, pelit bener.”


“Sama yang lain aja, jangan sama kak Arsy.”


“Maaf ya Seno, minta yang lain aja. Adikku ini posesif, dia ngga bakal ngijinin,” jawab Arsy sambil tersenyum.


Azzam merangkul bahu Arsy lalu mencium pipi kakaknya ini. Niken hanya terpana melihat pemandangan tersebut. Tak disangka, Azzam yang biasa bersikap dingin, ternyata begitu hangat ketika bersama keluarganya.


“Azzaaam.. itu ada Sora,” terdengar suara Nara memanggil anaknya.


“Uhuy.. kakanda pulang, adinda langsung datang,” celetuk Arya.


“Suamiku..” Zar melihat pada Arya.

__ADS_1


“Istriku..” balas Arya.


“Hahaha…”


Seno, Zakaria dan Eko hanya bisa tertawa saja melihat kelakukan kakak dan sepupu Azzam. Tanpa mempedulikan ledekan Zar dan Arya, Azzam segera bangun dari duduknya, kemudian masuk ke dalam rumah. Nampak Soraya sedang mencium punggung tangan para pandawa lima.


“Ke sini sama siapa?” tanya Azzam begitu Soraya mendekat.


“Ojol.”


“Udah makan, belum?”


“Udah.”


“Kan aku bilang makan di sini aja. Ayo..”


Soraya segera mengikuti Azzam menuju halaman belakang. Zakaria dan Seno langsung terpana melihat wajah Soraya yang cantik. Eko sampai melambaikan tangan di depan wajah sahabatnya. Azzam segera mengenalkan Soraya pada teman-temannya. Niken dan Zuhaidar bergantian menyalami Soraya. Dalam hati Niken mengagumi kecantikan Soraya, namun gadis itu juga tidak bisa menahan kecemburuannya. Apalagi sikap Azzam begitu berbeda pada Soraya.


“Makan Sora..” tawar Stella.


“Makasih, kak. Aku udah makan.”


“Ini ada pie coklat. Kamu kan paling suka pie coklat.”


Azzam menyorongkan piring berisi pie coklat pada Soraya. Gadis itu mengambil satu potong pie, lalu mencicipinya. Niken semakin dibuat tak enak hati melihat kedekatan Azzam dengan Soraya.


“Nunggu tiga tahun buat apa, kak?”


“Buat Azzam ngelamar kamu.”


“Eaaaa… baek-baek lo, Zam. Di akademi jangan macem-macem, udah ada yang nunggu.”


“Ck.. kenapa repot ngurusin aku. Kalian aja masih pada jomblo.”


“Weh… buat kita-kita mah cari jodoh gampang itu,” seru Arya.


“Masa? Emang ada perempuan yang kuat sama mulut petasan bang Zar? Kelakuan nyebelin bang Arya? Juteknya kak Arsy? Sama perut bakulnya kak Stella?”


“Woi.. Zam.. jangan cari gara-gara, ya! Gue jadiin seblak lo!” sewot Stella.


“Hahaha.. kalau gue, yakin ngga susah. Tapi kalau Stella ngga tau juga. secara dia kan rewog, kasihan yang jadi suaminya. Harus punya pabrik beras, ternak ayam sama sapi, bhuahahaha…”


Dengan kesal Stella menyumpal mulut Arya dengan pisang ambon. Azzam nampak menikmati perdebatan saudara sepupunya, sambil berbincang dengan Soraya. Zakaria, Seno dan Eko dibuat takjub dengan kelakukan Arya dan yang lain. Tak menyangka keluarga konglomerat seperti mereka, ternyata otaknya kurang se-ons. Di luar itu, mereka sangat mengagumi keluarga Azzam yang ramah dan mau menerima siapa saja dengan tangan terbuka.


Setelah menghabiskan waktu sampai selepas isya, Azzam dan yang lain bermaksud kembali ke mess. Mereka belum diijinkan untuk menginap selama berada di Bandung. Zar dan Arya berinisiatif mengantarkan mereka kembali ke mess. Namun sebelumnya mereka mengantarkan dulu Soraya pulang ke rumah.


“Makasih ya, Zam,” ujar Soraya saat akan masuk ke dalam rumah.


“Sama-sama.”

__ADS_1


“Nanti aku boleh lihat kamu pas terjun payung, ngga?”


“Boleh. Kamu teleponan aja sama kak Arsy.”


“Ok, deh. Sukses ya, Zam. Hati-hati waktu mendarat.”


“Iya.”


Dari balik kaca mobil, Niken terus memperhatikan interaksi antara Azzam dengan Soraya. Sampai pemuda itu berpamitan pada ayah Soraya dan kembali ke mobil. Hati Niken hancur melihat itu semua. Mungkin Soraya adalah alasan mengapa Azzam selalu membatasi diri dengannya. Zuhaidar yang mengetahui perasaan Niken pada Azzam, hanya bisa mengusap punggung gadis itu. Semoga saja sang sahabat tidak patah hati dan berpengaruh pada studinya.


🌻🌻🌻


Hari di mana dilaksanakan atraksi terjun payung sekaligus wing day, akhirnya tiba. Semua taruna sudah berada di landasan pacu Sulaiman. Dengan mengenakan pakaian dinas lapangan loreng dan helm, mereka berbaris di landasan. Di punggung mereka sudah terdapat tas berisi parasut.


Untuk para dasar kali ini, semua taruna akan melakukan terjun payung tanpa terkecuali. Mereka terbagi dalam dua belas kloter. Masing-masing kloter berisi 13 taruna, kecuali dua kloter terakhir. Azzam tidak berada satu kloter bersama para sahabatnya. Dia berada di kloter 10, Eko berada di kloter 5, Seno berada di kloter 8, dan Zakaria berada di kloter 9. Niken juga berbeda kloter darinya. Gadis itu berada di kloter 4, sedang Zuhaidar berada di kloter 11.


Sementara itu, di lokasi pendaratan, semua orang tua taruna yang datang menyaksikan aksi terjun payung anaknya sudah berkumpul di lokasi pendaratan. Kenzie, Nara, Arsy dan Zar juga sudah berada di sana. Mereka tidak sabar menunggu Azzam melakukan atraksi terjun payung. Soraya yang ikut datang bersama mereka juga sudah tidak sabar ingin melihat Azzam beraksi.


Selain mereka, pandawa lima juga sudah hadir bersama istri-istri mereka. Mereka sangat bersemangat sekali ingin melihat aksi Azzam dan para sahabatnya. Apalagi Abi sudah berjanji akan menyematkan brevet para dasar pada Zakaria menggantikan kedua orang tua pemuda itu.


Dari kejauhan nampak kedua orang tua Eko bersama dengan Gendis memasuki lokasi pendaratan. Semalam mereka baru saja tiba di Bandung. Kenzie bahkan sudah menyiapkan tempat untuk mereka menginap di hotel Arjuna. Kebahagiaan mereka tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi Kenzie sendiri yang menyambut kedatangan mereka.


Kedua orang tua Eko masih merahasiakan kedatangan pada anaknya. Mereka ingin memberikan kejutan pada Eko. Orang yang memandu mereka mengantarkan kedua orang tua Eko pada Kenzie.


“Pak Kenzie,” panggil Darmo, ayah dari Eko.


“Bagaimana istirahatnya pak Darmo dan bu Puji?” tanya Kenzie seraya menyalami tangan keduanya.


“Alhamdulillah. Terima kasih banyak pak Kenzie atas kemurahan hatinya.”


“Kenalkan ini istri saya, Nara. Dan ini kakak-kakaknya Azzam, Zar dan Arsy.”


Nara bersalaman dengan Darmo dan Puji seraya menyebutkan namanya. Disusul dengan Zar dan Arsy. Keduanya mencium punggung tangan orang tua Eko. Mereka tidak menyangka, anak konglomerat seperti mereka bersikap begitu santun pada orang tua. Gendis yang ikut bersama kedua orang tuanya tak lupa memperkenalkan dirinya juga. Dia mencium punggung tangan Nara, Zar dan Arsy bergantian.


Setelah mengenalkan pada anak, istrinya, Kenzie juga mengenalkan mereka pada orang tuanya. Sama seperti halnya keluarga Kenzie, pandawa lima beserta istri mereka menyambut ramah kehadiran keluarga Eko.


“Kapan mulai atraksinya, Ken?” tanya Abi.


“Sebentar lagi mungkin, pa.”


“Mereka langsung terjun semua atau gimana?” tanya Jojo.


“Dibagi beberapa kloter, pa. Tapi aku ngga tahu Azzam di kloter berapa.”


Perbincangan mereka terhenti ketika mendengar suara pesawat terbang. Refleks mereka mendongakkan kepala, melihat ke atas. Satu per satu taruna keluar dari pesawat yang membawa mereka. Parasut langsung terkembang tak lama setelah mereka keluar dari pesawat. Kenzie langsung merekam aksi tersebut.


🌻🌻🌻


Niken patah arang eh patah hati🤭

__ADS_1


__ADS_2