AZZAM

AZZAM
Selamat Tinggal


__ADS_3

Keesokan harinya, usai apel pagi, seorang pelatih bernama Mayor Indra, menghampiri Azzam dan Zakaria. Dia membawa kedua taruna itu ke tempat yang sepi. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Setelah dirasa situasi aman, barulah dia mulai berbicara.


“Eko dan Seno sudah selesai menjalani operasi. Seno dan Eko masih berada di ruangan ICU.”


“Siap. Terima kasih, komandan!” jawab Azzam dan Zakaria bersamaan.


“Kalian ikut dengan saya. Temui saja di belakang pos Radar. Jangan sampai ada yang melihat kalian.”


“Siap, komandan.”


Setelah mengatakan itu, Mayor Indra segera meninggalkan Azzam dan Zakaria. Dia menuju ruangannya untuk mengambil kunci mobil. Salah seorang anak buahnya mengabarkan kalau Eko minta keluar dari ruang ICU dan ingin bertemu dengan kedua sahabatnya. Menurut aturan, tidak ada taruna yang boleh menjenguk Eko dan Seno sampai masalah ini selesai diselidiki. Namun pelatih tersebut terpaksa melanggar perintah karena tidak tega melihat Eko.


Pihak akademi sengaja menutup rapat kasus ini agar jangan sampai terendus keluar. Selain untuk menjaga nama baik akademi, ini juga berkaitan dengan pelaku yang ternyata adalah anak dari pejabat tinggi di TNI Angkatan Udara. Gubernur akademi sudah memerintahkan semua jajarannya untuk menutup mulut dan tidak membahas masalah ini pada public. Kedua orang tua Eko dan Seno pun belum diberi tahu oleh pihak akademi.


Azzam dan Zakaria berlari menuju pos Radar. Mereka bersembunyi dibalik pohon yang ada di belakang pos. Matanya terus mengawasi keadaan sekitar, takut kalau ada yang melihat keberadaan mereka berdua. Tak berapa lama kemudian, nampak kendaraan jeep mendekat. Mayor Indra menghentikan kendaraannya, lalu melambaikan tangannya. Dengan cepat mereka masuk, lalu bersembunyi agar tidak terlihat di pos penjagaan.


Tangan Mayor Indra terangkat ketika melewati pos. Pria itu membawa kendaraannya keluar dari lingkungan akademi. Setelah posisi mereka menjauh dari akademi, barulah Azzam dan Zakaria keluar dari persembunyian.


Sesampainya di rumah sakit, mereka tidak bisa langsung menemui Eko. Anak buah Mayor Indra harus memancing penjaga untuk meninggalkan ruang isolasi di mana Eko berada. Setelah situasi aman, pria itu segera mengajak Azzam dan Zakaria menuju ruangan isolasi di mana Eko berada.


Mata Azzam dan Zakaria langsung berkaca-kaca ketika melihat keadaan Eko. Temannya itu terbaring lemah di atas bed, dengan beberapa peralatan medis menempel di tubuhnya. Menurut keterangan suster yang bertugas, Eko yang sudah sadarkan diri bersikeras untuk keluar dari ruang ICU dan meminta bertemu dengan sahabatnya.


“Ko..” panggil Azzam seraya mendekat.

__ADS_1


“Zam.. Zak..” suara Eko terdengar lemah. Namun pemuda itu berusaha menyunggingkan senyumnya dibalik wajah pucatnya.


“Eko.. bagaimana keadaanmu?”


Airmata Azzam menetes ketika menanyakan itu. Tanpa Eko menjawab, dia sudah tahu kalau keadaan sahabatnya ini berada dalam kondisi yang tidak baik sama sekali.


“Seno.. bagai.. mana Se.. no?”


“Seno baik-baik, aja. Jangan khawatirkan Seno.”


Walau belum tahu bagaimana keadaan Seno, namun hanya itu yang bisa Azzam katakan agar Eko tidak terus mencemaskan keadaan sahabatnya. Tangan Eko terangkat, dengan cepat Azzam menangkapnya. Sebelah tangan Eko juga sudah digenggam oleh Zakaria. Mayor Indra yang membawa kedua taruna itu hanya diam membisu menyaksikan pemandangan mengharukan di depannya.


“Az…zam a..ku ti..tip Gen..dis.”


“Ma..af a..ku ti..dak bi..sa mene..ma..ni ka..lian la..gi..”


“Jangan banyak bicara dulu, Ko. Kamu harus istirahat. Kita ngga akan kemana-mana. Kita bakal tetap di sini menemani kamu.”


Zakaria yang tidak tahan mendengar perkataan Eko yang seakan tengah mengucapkan kalimat perpisahan, berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Bi..lang pa..da Se..no i..ni bu..kan sa…lah..nya.”


“Ko…” airmata Azzam dan Zakaria semakin deras bercucuran.

__ADS_1


“Ka..li..an ha..rus te…tap ma..ju ja..ngan me..nye..rah. To..long wu..jud..kan im..pian..ku.


Suara isak tangis Azzam dan Zakaria mulai terdengar. Keduanya semakin ketakutan kalau Eko akan meninggalkan mereka. Mata Azzam melihat pada monitor yang menunjukkan tanda vital Eko. Angka yang tertera di layar semakin menunjukkan penurunan.


“Ti..tip o..rang tu..a..ku” lanjut Eko, suaranya makin terdengar lemah.


“Kamu jangan menyerah, Ko. Kami akan tetap menemanimu. Kita akan selesaikan pendidikan dan menjadi perwira bersama,” Azzam masih terus berusaha memotivasi sahabatnya.


“Zam.. Zak.. se..nang bi..sa me..nge..nal ka..li..an”


“Ko.. jangan pergi. Siapa yang mengiringiku nyanyi dengan gitar kalau kamu tidak ada?”


Dengan sisa kekuatannya, Eko mencoba tersenyum mendengar ucapan Zakaria. Matanya lalu melihat pada Mayor Indra yang berdiri di dekat pintu. Dia mengedipkan kedua matanya. Seakan mengerti apa yang diinginkan Eko, pria itu mendekat. Dia berhenti tepat di dekat kepala Eko. Kemudian dengan suara pelan membimbing Eko mengucapkan kalimat tauhid.


Begitu Eko selesai mengucapkannya, monitor yang ada di meja sebelah mengeluarkan suaranya. Tangan Eko terkulai begitu saja.


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” ujar sang Mayor Indra pelan.


“EKOOOOOOOOO!!!”


🌻🌻🌻


Mohon maaf kontrak Eko hanya sampai di sini. Setelah kepergian Eko kalian akan melihat bagaimana perubahan para sahabatnya dan bagaimana solidnya persahabatan mereka nantinya.

__ADS_1


Mudah²an sosok Eko meninggalkan kenangan manis buat kalian🤗


__ADS_2