
Seno duduk bersimpuh di depan makam Eko. Pemuda itu kembali menangis. Sahabat yang dulu menemaninya, menghabiskan waktu bersama, berbagi suka dan duka sekarang sudah berada di pembaringan terakhir. Yakob dan Willi pun berjongkok di dekat makam Eko. Tangan Yakob mengusap nisan sahabatnya.
“Eko.. maafin aku. Maaf aku baru bisa menengokmu sekarang. Terima kasih sudah menolongku. Aku akan pastikan pengorbanan kamu ngga sia-sia. Aku akan terus belajar dan meraih cita-cita kita bersama,” ujar Seno seraya menghapus airmatanya.
“Ko.. selamat jalan. Maafkan aku dan Willi datang terlambat. Aku yakin kamu sudah bahagia di alammu yang baru,” seru Yakob.
“Kalau kita ada waktu, kita pasti ke sini lihat kamu. Senang bisa mengenalmu, Ko. Selamanya kamu adalah sahabatku,” sambung Willi.
Azzam dan Zakaria tidak mengatakan apa-apa. Hanya keharuan saja yang mereka rasakan sekarang. Bergantian, Seno, Yakob dan Willi menabur bunga yang mereka beli di jalan dan juga airnya.
Kepala mereka menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata Gendis yang datang. Sejak Eko meninggal dan dikuburkan, gadis itu tidak pernah absen mendatangi makam kakaknya setiap hari. Yakob, Willi dan Seno segera bangun. Mereka berlima melihat pada Gendis yang terpaku di tempatnya saat tahu ada orang lain di makam sang kakak.
“Gendis, bagaimana kabarmu?” tanya Azzam.
“Alhamdulillah, baik.”
Gendis maju mendekati makam, lalu menaburkan bunga dan air yang dibawanya. Dia berjongkok sebentar untuk mendoakan Eko, kemudian kembali berdiri. Dipandanginya wajah para sahabat sang kakak, kecuali Seno. Dia masih belum bisa memaafkan pemuda itu. Di matanya, Seno adalah penyebab Eko meninggal dunia.
“Bapak dan ibu, ada?” tanya Yakob.
“Ada.”
“Kami mau bertemu, boleh?”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Gendis. Gadis itu lalu berjalan meninggalkan makam mendahului yang lain. Azzam dan yang lainnya menyusul di belakang. Gendis yang biasanya banyak bicara, kini lebih banyak diam. Sesampainya di rumah, dia langsung memanggilkan bapak dan ibunya.
“Ibu…” panggil Yakob.
“Yakob.. Willi..”
Yakob bergegas mendekat, lalu memeluk Puji. Tangis wanita itu pecah, mulutnya hanya bisa memanggil nama Yakob saja. Setelah Yakob melepaskan pelukannya, kini Willi yang memeluknya.
“Kalian kapan datang?” tanya Puji setelah pelukannya terurai.
“Tadi pagi, bu. Kami langsung ke rumah sakit, lalu ke sini,” jawab Willi.
__ADS_1
“Kalian pasti capek. Sudah makan, belum?”
“Ngga usah repot-repot, bu. Kita ke sini karena bang Yakob, Willi dan seno belum tahu makam Eko,” jawab Azzam.
“Ayo duduk dulu.”
Mendengar dari Gendis kalau sahabat anaknya datang, Darmo yang sedang berada di rumah tetangganya segera pulang ke rumah. Dia sedang minta dicarikan lahan baru yang hendak digarapnya. Karena lahan yang kemarin digarapnya sudah panen. Pemilik lahan mengatakan masih belum mau menanam lagi, karena kehabisan modal. Hasil panen kemarin paceklik, dan pemilik lahan merugi.
“Bapak..” sambut Yakob ketika Darmo masuk ke dalam rumah.
“Kalian kapan datang?”
“Baru saja, pak.”
“Seno.. memangnya kamu sudah boleh keluar rumah sakit?”
“Boleh, pak. Tapi hanya dua jam aja.”
“Ayo istirahat dulu. Gendis ambilkan minum.”
“Maaf.. minumnya seadanya saja.”
“Ngga apa-apa, pak. Minum air kendi itu malah seger, airnya dingin, seperti dari kulkas,” ujar Yakob.
Pria itu menuangkan air ke dalam lima gelas yang dibawa Gendis. Demi menghormati tuan rumah dan mengusir rasa haus, kelimanya langsung menghabiskan minuman di dalam gelas. Cuaca memang cukup terik, air dari kendi mampu menghilangkan dahaga yang dirasakan.
Dari arah luar terdengar suara mobil berhenti. Dari dalamnya, keluar Kenan. Pria itu baru saja selesai melakukan transaksi pembelian tanah. Sesuai amanat Abi, dia akan memberikan akta tanah pada Darmo. Besok, dia sudah meminta seorang notaris untuk membalik akta tanah menjadi milik Darmo.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Daddy..” panggil Azzam.
“Loh, Azzam kamu di sini? Seno.. kamu sudah boleh keluar rumah sakit?”
__ADS_1
“Cuma sebentar, om. Aku belum pernah ke makam Eko.”
“Silahkan duduk, pak Kenan. Gendis, ambilkan minuman lagi.”
“Tidak usah repot-repot, pak.”
Kenan mendudukkan diri di dekat Darmo. Azzam sudah tahu apa maksud kedatangan daddy-nya. Di tangan Kenan terdapat amplop coklat yang pasti berisi akta tanah. Kinerja di keluarganya yang selalu bergerak cepat, sudah bukan hal aneh lagi untuknya.
“Mohon maaf pak Darmo, tujuan saya datang untuk memenuhi amanat yang papa dan paman-paman berikan pada saya.”
“Ada apa ya, pak Kenan?”
“Bapak tahu ada tanah yang dijual di dekat makam Eko?”
“Tahu, pak. Itu tanah milik pak Warno. Bapak mau membeli tanah itu?”
“Saya sudah membelinya, pak. Ini sertifikat tanahnya.”
Kenan memberikan amplop coklat di tangannya. Darmo mengambil amplop tersebut. Dia bingung saja, mengapa Kenan justru memberikan akta tersebut padanya. Keningnya nampak mengernyit melihat pada Kenan.
“Orang tua dan paman-paman saya sengaja membeli tanah itu. Mereka menghadiahkan tanah itu untuk pak Darmo sekeluarga. Bapak bebas untuk mengolahnya.”
“Maksudnya saya yang mengelola lahannya? Mau ditanam apa, pak?”
“Terserah bapak mau ditanam apa. Tanah itu sudah jadi hak milik bapak.”
“Maksudnya bagaimana, pak?”
Kelihatan sekali kalau Darmo masih bingung dengan apa yang dikatakan Kenan. Kalau tidak salah dengar, dia mendengar kalau tanah itu sudah menjadi hak miliknya. Tapi rasanya tidak mungkin saja keluarga Hikmat membelikan tanah untuknya yang bukan siapa-siapa.
“Tanah itu sudah jadi hak milik bapak. Besok ada notaris yang akan ke sini untuk membantu mengubah nama pemilik.”
“Tanah itu un.. untuk sa.. saya? Ba..pak tidak bercanda, kan?”
🌻🌻🌻
__ADS_1