AZZAM

AZZAM
Jumpa Fans


__ADS_3

Malam harinya, Eko bersama yang lain membuat api unggun di halaman rumahnya. Mereka membakar ubi, jagung dan ikan. Singkong sudah dikukus dan diberi parutan kelapa. Mereka mengganti makan malam dengan singkong, ubi, jagung dan ikan. Gendis juga ikut di antara mereka. Sebagai perempuan satu-satunya dan yang paling muda, gadis itu dimanjakan oleh yang lain.


“Zam.. cobalah kau telepon kakek kau. Aku mau kenalan,” seru Yakob.


“Telepon aja, Zam. Dari pada dia ngigo kebawa mimpi. Kakek Abi.. kakek Abi.. hahaha..”


Azzam mengambil ponsel dari saku celananya. Sejak tadi sore memang Yakob sudah rewel ingin diperkenalkan dengan sang kakek. Pemuda itu segera melakukan panggilan video call pada Abi. Setelah beberapa kali deringan, Abi menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, kakek sehat?”


“Alhamdulillah. Kamu sedang di mana, Zam?”


“Aku lagi nginep di rumah Eko. Kita lagi bakar-bakaran ini.”


Azzam memperlihatkan api unggun, kemudian menyorot sahabatnya satu per satu, tak terkecuali Yakob. Dengan senyuman manis, Yakob melambai ke arah kamera. Jantungnya berdebar tak karuan, sebentar lagi akan dikenalkan Azzam pada idolanya. Dia seperti akan bertemu wanita pujaan saja.


“Kakek, ada yang mau kenalan sama kakek.”


“Siapa?”


“Bang Yakob.”


Dengan cepat Yakob berpindah ke sisi Azzam. Pria itu langsung mendekatkan wajahnya pada Azzam. Matanya menatap wajah Abi yang memenuhi layar ponsel.


“Selamat malam pak Abi. Perkenalkan, saya Yakob, temannya Azzam.”


“Oh jadi kamu yang namanya Yakob.”


“Iya. Saya penggemar berat pak Abi.”


“Panggil kakek saja.”


Melihat Yakob yang sedang berbincang dengan Abi, timbul keisengan Zakaria. Pemuda tersebut langsung mendekati Yakob. Dia memunculkan wajahnya ke kamera, hingga menghalangi wajah Yakob.


“Kakek sehat?” tanya Zakaria.


“Alhamdulillah.”


“Sana kau! Sudah kubilang jangan ada kau di antara aku dan kakek Abi.”


Yakob mendorong Zakaria hingga wajahnya tidak tertangkap kamera lagi. Azzam dan yang lainnya hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol Yakob dan Zakaria.


“Tadi kakek lihat ada adiknya Eko. Siapa namanya, kakek lupa.”


“Gendis, kek,” jawab Azzam.

__ADS_1


“Oh iya, Gendis.”


“Kakek.. kapan-kapan boleh saya jumpa dengan kakek?”


“Boleh.. kalau kalian libur, mainlah ke Bandung. Nginep di rumah kakek. Nanti kamu tidur di rumah pohon, hahaha..”


“Waduh kaya monyet dong, kek. Hahaha…”


Untuk beberapa saat Yakob berbincang dengan Abi. Banyak yang pria itu tanyakan pada Abi. Maklum saja, sejak kecil dia sudah mendengar cerita tentang Abi dari kedua orang tuanya. Dan sejak itu, dia menjadi penggemar nomor satu, walau belum pernah bertemu muka. Ternyata Abi adalah orang yang menyenangkan.


“Zam.. berapa orang temanmu yang ikut berlibur ke rumah Eko?”


“Empat, kek. Kalau sama Eko jadi lima.”


“Kakek transfer ke rekeningmu buat uang jajan mereka. Jangan lupa, kasih juga buat gendis.”


“Siap, kek.”


“Awas jangan disunat jatah temanmu.”


“Hahaha.. kakek bisa aja.”


Perbincangan Azzam dan Abi pun berakhir. Pemuda itu lalu memeriksa rekening bank-nya. Abi sudah mengirimkan sejumlah uang untuk teman-temannya.


“Kalian punya rekening bank, kan?” tanya Azzam.


“Kakek Abi barusan ngirim uang buat uang jajan kalian. Aku transfer aja ya ke rekening masing-masing. buat Gendis, besok aku ambil cash di ATM.”


“Aku juga dapet, kak?” tanya Gendis.


“Iya.”


“Makasih ya, Zam,” sahut Eko.


Azzam mulai mengirimkan uang yang diberikan Abi ke rekening teman-temannya. Seno membelalakkan matanya melihat nominal yang dikirimkan Azzam. Abi memberikan dua juta rupiah untuk masing-masing teman Azzam.


“Zam.. ngga salah ini uang jajan yang kakek Abi kasih?” tanya Seno.


“Ngga. Emangnya kenapa?”


“Banyak banget.”


“Wah sultan emang beda kalau ngasih uang jajan. Pasti kemarin waktu lebaran kamu dapet angpaw gede dari kakek Abi,” seru Zakaria.


“Gede banget.”


“Berapa?” tanya Yakob penasaran.

__ADS_1


“Dua ribu, hahaha..”


“Dua ribu apa, nih? Dua ribu dolar?”


“Dua ribu perak.”


“Serius?”


“Serius. Malah opa Kevin cuma ngasih seribu perak.”


“Ajaib juga kakek Abi ini, hahaha.. tapi yang ditransfer beda lagi pastinya. Ya, kan?” goda Yakob. Dia tidak percaya saja, seorang konglomerat seperti Abi memberi angpaw sebanyak dua ribu perak pada cucu-cucunya.


Tak ada jawaban dari Azzam, hanya senyuman saja tersungging di bibirnya. Pandawa lima plus Anfa memang tidak memberi lagi angpaw pada mereka. Tapi angpaw yang diterima dari para pamannya, jika dikumpulkan jumlahnya hampir mencapai seratus juta. Dan itu semua langsung masuk ke rekening masing-masing.


“Oh iya, kalian nanti rencananya mau ambil korps apa sesudah lulus nanti?” tanya Yakob.


“Aku korps penerbang tempur,” jawab Azzam.


“Aku juga,” sahut Eko.


“Aku kopasgat (Komando Pasukan Gerak Cepat),” sambung Zakaria.


“Mantap. Ambil pesawat tempur?”


“Iya,” jawab Azzam dan Eko bersamaan.


“Lalu kau, gimana?” Yakob melihat pada Seno.


“Belum kepikiran. Tenanglah masih dua tahun lagi,” ujar Seno seraya terkekeh.


Di antara yang lain, memang Seno yang belum tahu akan bergabung di korps mana. Jika ketiga temannya memilih berada di korps penerbang tempur, pemuda itu belum berpikir sampai ke sana. Mungkin saja dia akan mengambil Navigator atau korps Elektronika, sesuai dengan pendidikan yang diambilnya.


“Kalau abang sendiri?” kali ini Eko yang bertanya.


“Aku ambil korps infanteri. Nantinya aku mau mendaftar ke kopassus.”


“Mantap, bang. Kamu gimana, Wil?”


“Korps Marinir.”


“Mantaplah. Semoga kalian semua bisa mencapai apa yang diinginkan,” ujar Yakob.


“Aamiin..”


Semua yang ada di sana kecuali Seno, memang sudah membayangkan kesulitan yang akan dialami saat mengambil korps yang dipilihnya. Namun mereka yakin, dengan tekad yang kuat dan semangat pantang mundur, semua halangan akan dapat dilalui.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2