
Tak terasa pelatihan terbang layang selama empat bulan berakhir sudah. Para taruna yang mengikuti pelatihan ini sudah berbaris di lapangan untuk mengikuti upacara penutupan latihan terbang layang, sekaligus memasangkan brevet terla pada para taruna. Marsekal Muda Rasyid memberikan sambutannya pada upacara penutupan ini.
Dengan mengenakan seragam berwarna oranye, para taruna mendengarkan apa yang disampaikan oleh gubernur akademi tersebut. Usai memberikan sambutannya, kini saatnya para taruna mendapatkan brevet terla. Brevet ini diberikan ini pada setiap taruna yang sudah menyelesaikan pelatihan di akademi angkatan udara. Terdapat tiga brevet yang nantinya akan terpampang di seragam para taruna.
Brevet pertama sudah mereka dapatkan, yakni setelah melakukan pelatihan para dasar. Dan sekarang mereka akan mendapatkan brevet kedua setelah melakukan latihan terbang layang. Marsekal Muda Rasyid bersama petinggi akademi dan pelatih mulai mendatangi para taruna untuk memasangkan brevet di dada kiri mereka.
Marsma Rasyid mendekati Azzam. Cucu dari Abimanyu Hikmat itu memberikan hormatnya pada sang gubernur. Marsma Rasyid kemudian memasangkan brevet ke dada kiri Azzam. Setelah mendapatkan brevet, Azzam kembali memberikan hormatnya. Setelahnya, pria itu menuju Zakaria. Dia pun memasangkan brevet ke dada kiri pemuda itu.
Sekarang Marsma Rasyid berdiri di depan Seno. Cukup lama dia memandangi pemuda di depannya. Kemudian dia memasangkan brevet di dada kiri Seno. Rasa haru mendera perasaan Seno, hanya satu yang diingatnya saat sang gubernur memasangkan brevet ke dadanya, yakni Eko. Pemuda itu kemudian memberi hormat pada Marsma Rasyid.
Sebelum menuju taruna lain, Marsma Rasyid mengeluarkan sebuah brevet lalu memberikannya pada Seno. Pemuda itu hanya diam memandangi brevet di tangannya, tanpa tahu apa maksud dari sang pemberi.
“Berikan brevet ini pada orang tua Eko,” ujar Marsma Rasyid.
“Siap, komandan!”
Seno kembali memberikan hormatnya. Marsma Rasyid menepuk pelan pundak Seno, kemudian menuju taruna yang lain. Seno sangat bahagia, ternyata gubernur akademi juga menyiapkan brevet untuk sahabatnya yang sudah tiada. Bukan hanya pemuda itu, tapi Azzam dan Zakaria yang ikut mendengarkan, juga merasa bahagia.
🌻🌻🌻
Usai menjalani pelatihan terbang layang dan menyelesaikan studi di semester empat, Azzam, Zakaria dan Seno bermaksud untuk berkunjung ke rumah almarhum Eko. Mereka hendak memberikan titipan brevet pada kedua orang tua sahabat mereka. Yakob dan Willi juga berencana datang. Mereka akan berkumpul bersama, mengenang kebersamaan mereka beberapa waktu lalu saat Eko masih bersama mereka.
Setelah Willi sampai di terminal Giwangan, kelima pria itu segera menaiki trans Yogya untuk sampai di daerah di mana Eko tinggal. Tidak lupa mereka membawa buah tangan untuk kedua orang tua dan adik Eko. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Darmo, Puji dan Gendis, terutama Seno. Pastinya kedua orang tersebut bahagia saat tahu Eko juga mendapatkan brevet terbang layang dari gubernur akademi.
Sebelum menuju rumah Eko, lebih dulu mereka mendatangi makam Eko. Ditaruhnya barang bawaan mereka di dekat makam Eko. Azzam dan Seno membersihkan makam Eko dari dedaunan yang jatuh ke atasnya. Zakaria, Yakob dan Willi menaburkan bunga dan air di atas makam.
__ADS_1
“Ko.. kita sudah menyelesaikan latihan terbang layang. Sesuai amanatmu, aku meneriakkan namamu saat berada di udara. Bukan cuma aku, tapi Azzam dan Zakaria juga melakukannya. Aku merasa kamu berada bersama kita saat melakukan itu,” ujar Seno.
“Ko.. kamu juga berhasil mendapatkan brevet terbang layang. Kami akan memberikan brevet itu pada kedua orang tuamu untuk dipasangkan ke seragammu,” sambung Azzam.
“Aku tahu kamu sudah bahagia di duniamu yang baru. Tapi kami akan berusaha menambah kebahagiaanmu dengan menyelesaikan setiap latihan,” lanjut Zakaria.
“Setiap ada waktu senggang, kami pasti akan meluangkan waktu untuk menengokmu, dan juga keluargamu,” tambah Yakob.
“Kami tidak akan pernah melupakanmu. Kamu adalah sahabat terbaik yang kita punya. Senang bisa mengenalmu, Ko,” pungkas Willi.
Setelah memanjatkan doa, mereka sedikit menceritakan pengalaman di akademi pada sahabatnya yang lebih dulu meninggalkan mereka. Terkadang terdengar tawa kelimanya ketika Yakob menceritakan pengalaman lucu. Willi juga tidak kalah semangat menceritakan pengalamannya.
Setengah jam lebih mereka berada di makam Eko. Setelah dirasa cukup, mereka pun beranjak dari tempat masing-masing. Kini mereka akan mengunjungi rumah Eko. Yakob mengambil bungkusan berisi buah-buahan yang dibelinya tadi. Willi membeli oleh-oleh khas Surabaya. Zakaria membelikan baju koko untuk Darmo, dan mukena untuk Puji.
Seno juga tidak mau ketinggalan. Dia sudah membelikan mukena dan tas baru untuk Gendis. Pemuda itu berharap Gendis mau menerima hadiah yang diberikan olehnya. Sedang Azzam sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk Gendis dan juga kedua orang tua Eko.
“Waalaikumsalam.”
Darmo dan Puji terkejut dengan kedatangan Azzam, Seno, Zakaria, Yakob dan Willi. Keduanya segera mempersilahkan mereka untuk masuk. Gendis yang berada di kamar juga langsung keluar ketika mendengar ada tamu yang berkunjung.
“Apa kabar pak, bu?” tanya Azzam seraya mencium punggung tangan kedua orang tua Eko.
“Alhamdulillah, baik. Kalian bagaimana?”
“Alhamdulillah, baik juga,” jawab Zakaria mewakili yang lain.
__ADS_1
“Ini oleh-oleh buat ibu.”
Yakob memberikan bungkusan di tangannya. Di belakangnya Willi menyusul, memberikan bungkusan berisi oleh-oleh khas Surabaya. Kemudian Zakaria memberikan paper bag berisi baju koko dan mukena. Selanjutnya Seno menghampiri Gendis, dia membelikan tas sekolah dan juga mukena untuk gadis tersebut.
Sejenak Gendis hanya terdiam saja, membiarkan tangan Seno yang menggantung dengan paper bag di tangannya. Puji menyenggol tangan anaknya, barulah kemudian Gendis menerima pemberian Seno.
“Terima kasih,” ujar Gendis pelan tanpa melihat pada Seno.
Sebenarnya Seno merasa sedih Gendis memperlakukannya seperti orang asing. Namun dia mencoba memahami mengapa gadis itu bersikap seperti itu. Mungkin Gendis masih marah padanya, yang menjadi penyebab sang kakak meninggal dunia. Kali ini giliran Azzam mendekati Gendis, dia memberikan paper bag di tangannya.
“Ini untukmu.”
Mata Gendis membelalak melihat pemberian Azzam untuknya. Pemuda itu membelikan ponsel keluaran terbaru. Gendis sama sekali tidak menyangka Azzam akan memberikan barang yang sangat diinginkannya. Hampir semua temannya sudah memiliki ponsel pintar, kecuali dirinya.
“Ini untuk bapak dan ibu.”
Azzam kembali menyerahkan paper bag di tangannya. Darmo terkejut ketika tahu Azzam membelikannya sebuah jam tangan. Dia yakin sekali kalau harga jam tangan ini cukup mahal. Begitu pula dengan Puji yang terkejut sekaligus terharu ketika Azzam membelikannya kalung seberat 10 gram beserta liontinnya.
“Eko pernah bilang ingin membelikan bapak, jam tangan, kalung untuk ibu dan hape untuk Gendis setelah lulus sekolah nanti. Aku hanya ingin mengabulkan keinginan Eko saja. Tidak ada maksud apapun. Semoga bapak dan ibu senang. Anggap saja ini pemberian dari Eko.”
“Ya Allah, Azzam.”
Puji tidak dapat menahan keharuannya lagi. Dia langsung memeluk Azzam. Airmata mengalir dari kedua matanya. Darmo juga merasakan hal yang sama. Mereka mungkin telah kehilangan Eko, namun sebagai gantinya, Tuhan memberikan lima anak untuk mereka.
“Ada satu lagi, bu,” ujar Seno.
__ADS_1
Pemuda itu mengeluarkan brevet dari saku celananya, lalu memberikannya pada Puji.
🌻🌻🌻