BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 10. Toilet duduk


__ADS_3

Camilla terus berjalan, tanpa rasa segan ia masuk ke dalam kamar Wijaya, membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang berukuran king size, kedua tangan dan kaki membentang luas.


“Akh..seperti ini rupanya rasa tempat tidur orang kaya. Tidak aku sangka aku juga bisa…”


Wijaya masuk, langkah semakin cepat, tangan tegapnya mengulur panjang, menarik lengan Camilla hingga tubuh Camilla berubah posisi, terlungkup, separuh badan menggantung di pinggir ranjang. Mulai dari bagian pinggul hingga kaki di atas ranjang, dari atas pinggang hingga kepala menggantung kebawah.


“Eh..eh…tolong aku, Om!”


Camilla panik saat puncak kepalanya separuh hampir menyentuh ke lantai.


“Kamu memang benar-benar membuat aku sulit ajah!” omel Wijaya, tangannya memegang baju bagian Camilla.


Kreekk kreek!


Terdengar suara jahitan di balik penyatu baju lepas.


“Woy, Om! Bagus sikit angkat tubuhku kenapa. Baju ku ini baju monza, 10 ribu aku beli dapat 5, jadi tak akan mungkin mampu menahan beban tubuhku. Om…cepat tahan tubuhku, aku nggak mau geger otak karena terbentur di lantai!” teriak Camilla histeris.


Camilla sangat takut jika puncak kepalanya jatuh ke lantai akan membuat dirinya geger otak.


Wijaya pun memegang pinggul Camilla, “Kau sungguh-sungguh menambah pekerjaan ku saja,” gerutu Wijaya membantu Camilla duduk.


Camilla sudah duduk, ia mengelus dadanya terus berdebar tak karuan saking takutnya, “Hampir saja aku geger otak. Hampir saja,” gumam Camilla di sela ketakutannya.


“Aku ingin kau keluar dari kamarku. Kembali ke kamar-mu yang ada di sebelah,” Wijaya menggenggam pergelangan tangan Camilla, “Cepat, pergi dari kamar ku!” lanjut Wijaya ingin mengusir Camilla.


“Nggak mau!” tolak Camilla sembari menghempas genggaman tangan Wijaya hingga lepas dari pergelangan tangannya.

__ADS_1


Camilla merebahkan tubuhnya di atas ranjang bukuran king size itu, mengambil guling, menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya.


“Camilla!” panggil Wijaya memanggil nama Camilla dengan benar.


“Aku bilang nggak mau, nggak mau! Aku nggak suka tidur di dalam kamar yang besar, aku mau tidur di sini aja sama kau, Om!” teriak Camilla bersikeras ingin tidur bareng dengan Wijaya.


Wijaya sudah cukup menahan amarahnya, tangannya menyingkap selimut menutupi seluruh tubuh Camilla, menggendong tubuh Camilla, meletakkan di atas bahu kekarnya, dan membawanya melangkah pergi meninggalkan kamar menuju kamarnya berada di sebelah kamar Wijaya.


Camilla pun terus memberontak, “Turunkan aku…turunkan aku, Om!”


Sesampainya di kamar Camilla, Wijaya menurunkan Camilla di depan pintu kamarnya. Tatapan serius terus memandang wajah pucat Camilla.


“Kenapa kau tak ingin tidur di dalam kamar ini?” tanya Wijaya datar.


Camilla tertunduk, kedua tangannya meremas pinggiran baju kaosnya, “Dulu aku sempat di culik, di bawa ke rumah besar dan…hampir di lecehkan oleh seseorang di rumah besar itu. Saat itu aku masih berusia 12 tahun, aku sangat takut ketika aku di sembunyikan di dalam ruangan cukup luas tanpa benda, hanya ada tali dan beberapa borgol di sana. Untung aku bisa selamat saat almarhum Mamak dan Bapakku datang menyelamatkan ku saat pria itu hampir….”


“Serius Om?!” tanya Camilla semangat, bola matanya memancarkan binar kebahagian.


Wijaya hanya mengangguk.


Camilla langsung masuk, saat ia mau membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Wijaya dengan cepat menegurnya.


“Karena kamu tinggal di rumah ku, mulai malam ini harus mengikuti aturan di rumah ini. Sebelum tidur wajib cuci muka, gosok gigi, cuci kaki, dan terakhir mengganti pakaian dengan baju piyama yang sudah disediakan Bibi di dalam lemari,” tegur Wijaya menjelaskan.


“Malas ah…nafas ku nggak bau kok. Mungkin nafas Om aja yang bau belacan makanya selalu sikat gigi sebelum tidur, ha ha ha!” tolak Camilla di sela tawa renyahnya.


Wijaya tak suka di bantah melangkah besar mendekati ranjang, tangannya menggenggam pergelangan tangan Camilla, “Cepat! Atau kau akan aku usir malam ini,” ancam Wijaya.

__ADS_1


“Ja-jangan Om, aku nggak mau lagi balek ke kosan berukuran 3x4 meter itu. Mana pemiliknya galak melebihin inang-inang,” pinta Camilla setengah takut akan ancaman Wijaya.


“Kalau gitu mulai sekarang turuti perintahku!” tegas Wijaya.


“Baik..” sahut Camilla terpaksa.


Camilla turun dari ranjang, dengan langkah malas ia menuju kamar mandi. Baru saja sampai di dalam kamar mandi. Camilla tercengang, kedua matanya tak bisa berkedip saat melihat kamar mandi sangat luas, besar melebih kamar mandi di kos-kosan nya dulu.


“Yang benarnya ini kamar mandi? besar dan panjangnya seperti kosan milikku yang di bagi 5, ” Camilla mengucek kelopak matanya, memperjelas penglihatannya, setelah ia merasa cukup puas, Camilla mulai berlari di dalam kamar mandi berukuran 10 x 5 meter.


Camilla terus berlari, masuk ke dalam bak mandi dengan ukuran 3 meter, lari lagi dan masuk ke dalam tempat kucuran shower. Sejenak ia menari-nari di dalam kucuran shower berdinding kaca seperti seorang india, tangannya mengambil Shower, memainkannya seperti ular sendok hendak mencatok mangsanya.


Setelah puas berkeliling di kamar mandi cukup luas dan megah itu. Camilla terhenti di toilet duduk, pandangannya terus mengarah pada toilet menempel di dinding. Camilla terus memperhatikan dan memperhatikan toilet duduk itu. Pertanyaan demi pertanyaan mulai terlintas di otak kecilnya, sampai ia tidak bisa menemukan jawabannya, Camilla keluar dari kamar mandi, ingin bertanya kepada Wijaya perihal toilet duduk itu.


“Kamu kenapa belum membasuh wajah?” tanya Wijaya saat melihat Camilla keluar dari dalam kamar mandi.


“Itu Om…itu..tempat bokernya kok seperti itu ya? gimana caranya aku jongkok? Dan…dimana gayungnya? Apa Om pikir kalau boker, pipis, ceboknya pakai tangan?” Camilla meluapkan semua pertanyaan ke Wijaya.


Wijaya tadi sedang duduk santai di sofa kamar, beranjak dari duduknya. Ia ingin marah akibat pertanyaan dan kebodohon Camilla. Namun, melihat wajah polos Camilla saat bertanya, Wijaya meredam semuanya di dalam tawa tersembunyi di balik bibirnya terkunci rapat.


Wijaya melangkah menuju kamar mandi, diikuti Camilla. Sesampainya di dalam kamar mandi, Wijaya berhenti di depan toilet duduk.


“Caranya kamu cukup duduk, dan turunkan celana kamu ke bawah kalau ada rasa-rasa ingin buang air besar, dan pipis. Tentang gayung, di sini memang tidak ada gayug karena semua sudah ada di toilet ini. Tapi kalau kamu risih tak pakai gayung, aku akan membelikan gayung untuk-mu besok. Untuk sementara kamu bisa basuh pakai sower itu,” tunjuk Wijaya ke shower tergelatak di atas lantai kamar mandi.


Camilla berlari kecil, masuk ke dalam tempat kucuran shower, mengambil showr tergelatak di atas lantai, “Oh…pakai ini. Gimana cara pakainya?” tanya Camilla, pandangannya mengarah pada shower.


“Ya ampun, selama ini kamu hidup di mana sih! Cara pakai yang seperti ini saja kamu tidak bisa,” omel Wijaya, sembari melangkahkan kakinya mendekati Camilla, tangannya merampas shower dari tangan Camilla.

__ADS_1


Camilla merasa di hina langsung berkacak pinggang, “Tinggal di hutan aku…tinggal pendalam hutan Perapat aku. Kalau kau, Om tak suka aku terus bertanya. Lebih baik pigi aja dari kamar ku. Nggak suka aku lihat mulut-mu yang terus mengomeli aku dan membanding-bandingkan aku dengan fasilitas yang tak aku miliki,” Camilla mengambil shower dari tangan Wijaya, “Udah, pigi…pigi kau dari kamar ku!” lanjut Camilla mengusir Wijaya.


__ADS_2