
Camilla, Varo, Viona, dan Lafi baru saja turun terkejut mendengar ucapan Andy.
Lafi mengepal erat kedua tangannya, 'Ck, mendengar kejujuran dari bocah ini membuat aku sangat ingin murka. Bosan banget lama-lama tinggal di rumah ini. Mana aku nggak bisa leluasa melakukan hal apa pun kepada Camilla. Bukan hanya Wijaya yang bisa menyentuh dan berinteraksi dengan akrab dengan Camilla. Aku juga ingin,' batin Lafi.
Karena sikap iri Lafi akan kebahagiaan Wijaya yang tidak pernah ia dapatkan. Lafi memutuskan kembali ke kamarnya.
Sementara itu di ruang tamu, kepanikan masih di rasakan oleh Wijaya dan Camilla. Entah kenapa dada Camilla terus berdetak kencang saat Andy menyuruh Wijaya untuk melamar dan menikahinya.
Raut wajah Camilla juga berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.
'Aih, seperti ini rupanya rasanya mendengar jika seorang pria ingin melamar seorang wanita. Aduh, duh. Jantungku rasanya ingin lepas. Eh ...tunggu dulu. Kenapa aku senang jika Om duda ini yang ingin melamar ku. Tidak bisa! seharusnya yang melamar ku itu abang Varo. Enak aja aku dapat duda. Dapat yang lajang dong, biar rasanya asam manis, macam belimbing ulu gitu,' batin Camilla mulai berpikir aneh.
Pikiran Camilla terpecah saat Andy menatap sangat dekat wajah mengkhayal Camilla.
"Kak, Kak Camilla!"
"I-iya!" sahut Camilla gugup.
"Wajah kakak kenapa sangat merah. Apa Kakak sedang demam?"
Andy ingin menempelkan punggung tangannya ke dahi Camilla. Namun, Camilla dengan cepat beranjak dari duduknya. Ia pun berlari meninggalkan ruang tamu tanpa memberikan penjelasan apa pun.
Wijaya, Varo, Andy, dan Viona, terdiam menatap kepergian Camilla.
"Kenapa dengan Kak Camilla?" tanya Andy bingung.
"Sudah jangan di pikirkan. Lebih baik kamu istirahat di kamar," Wijaya mengalihkan pandangannya ke Viona, "Viona, temani Andy untuk mandi dan beristirahat," lanjut Varo memberi perintah.
"Ba-baik tuan," sahut Viona mendekat ke Andy.
"Pa, tolong pastikan Kak Camilla baik-baik saja, ya. Soalnya aku tidak ingin Kak Camilla sakit atau terserang penyakit aneh apa pun," pinta Andy serius.
"Iya," angguk Wijaya.
Andy pun pergi bersama dengan Viona ke kamarnya.
"Maaf tuan. Jika saya perhatikan, sepertinya tuan muda sangat menyayangi dek Camilla," ucap Varo tiba-tiba, Wijaya mendengarnya terkejut, dan hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
"Jika Camilla sudah tidak bekerja di rumah ini. Apakah sifat Andy akan kembali seperti dulu lagi. Seperti saat melihat istri ku, atau Mamanya meninggal dunia?" tanya Wijaya lirih.
"Saya rasa ia. Buktinya semenjak dek Camilla datang ke sini, tuan muda kembali ceria. Kalau tuan muda terlihat sangat mencemaskan dek Camilla, mungkin karena tuan muda merasa trauma akan kehilangan nona besar terjadi pada dek Camilla. Itu menurut saya, tuan," jelas Varo dengan pendapatnya.
"Terimakasih sudah memberikan pendapatan kamu. Aku ingin mandi, kamu bisa istirahat dulu," sahut Wijaya, lalu ia melangkah menuju kamar miliknya berada di lantai atas.
"Sepertinya ada kebingungan di wajah tuan Wijaya," gumam Varo menatap punggung Wijaya sudah berada jauh dari pandangan.
Setelah di koridor lantai 2 antara kamar Camilla dan kamarnya. Wijaya mendengar suara tawa Camilla dari dalam kamar. Wijaya segera melangkah, membuka sedikit pintu kamar Wijaya. Bola mata Wijaya membulat sempurna saat melihat Lafi ternyata berada di dalam kamar Camilla.
"Lafi!" panggil Wijaya sembari membuka lebar pintu kamar Camilla.
Tawa Camilla pun terhenti, pandangannya juga beralih ke Wijaya, masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa bang?" tanya Lafi sopan.
"Sudah berapa kali aku bilang. Kamu jangan pernah mendekati Camilla!" sahut Wijaya sedikit meninggikan nada suaranya.
Wijaya menghentikan langkahnya di hadapan Lafi, pandangan maut antara abang dan adik terjadi.
"Kenapa rupanya? Apa abang mencintai Camilla?!"
"Tidak bisa jawabkan. Berarti abang menyukai Camilla. Gimana dengan Mayang, apa abang memikirkan perasaan Mayang? Abang harus merelakan salah satunya. Jangan rakus bang. Adikmu juga ingin mendapatkan kebahagiaannya!" cetus Lafi mengejutkan Wijaya saat dirinya di bilang rakus.
Camilla hanya diam, ia malah memilih beristirahat di sofa sambil menonton tv siaran kartun, daripada mendengar dan melihat pertengkaran abang dan adik.
"Yang satu bodoh, dan yang satu sok suci," gumam Camilla mengumpat sembari menambah volume suara.
Saking kuatnya suara kartun, perdebatan Lafi dan Wijaya berhenti. Lafi dan Wijaya memandang ke Camilla, sudah tertidur di sofa dengan posisi yang tak mengenakan di pandang mata.
Camilla memang memakai baju dress. Tapi, ia bisa tidur dengan 1 kaki di naikkan ke kepala sofa, dan yang satu di biarkan menggantung ke bawah. Bukan itu saja, Camilla juga mendengkur.
Sebelah alis Wijaya terus menaik saat melihat Camilla sangat ceroboh.
'Wanita sumo ini. Kenapa dia tidak pernah mengingat kejadian buruk yang selalu menimpa dirinya. Sudah berulang kali ia hampir di lecehkan, tapi kenapa dia tidak pernah mengingatnya. Ingin rasanya aku bedong wanita satu ini,' batin Wijaya.
'Buset, cantik-cantik tidurnya macam kerbau. Tapi melihat posisi tidurnya seperti ini, rasanya aku ingin melahapnya. Gadis satu ini memang sangat-sangat menarik,' batin Lafi, sehari senyum nakal tercetak di wajah tampannya.
__ADS_1
Melihat adiknya mulai memasang raut wajah mesum. Wijaya mengambil selimut, membenarkan posisi tidur Camilla, dan menyelimuti seluruh tubuhnya, tersisa hanya wajah Camilla saja.
"Hei, kenapa abang menutupi seluruh tubuh cantik Camilla?" tanya Lafi pelan.
"Ia bukan bahan untuk pikiran mesum mu!"
"Aku tanya sekali lagi. Apa abang beneran suka dengan Camilla?" Lafi kembali bertanya.
"Iya, aku memang mulai jatuh cinta padanya. Ia wanita yang unik, dan juga berani memarahiku. Mengingatkan aku dengan...."
"Dia bukan mendiang istri abang. Dia adalah Camilla Hanin, gadis pasaran, mantan pencopet. Gadis memiliki bibir indah dengan setiap kalimat yang kasar. Apa abang menyukai gadis seperti itu?" jelas Lafi, ia kembali bertanya dengan karakter Camilla.
"Iya, aku menyukai dirinya yang selalu memarahi ku, memakiku, bahkan membentak ku. Kenapa?!" sahut Wijaya tegas.
"Jadi, Mayang?"
"Entahlah, aku merasakan jika kami tidak cocok. Andy juga tidak menyukai Mayang," hela Wijaya lirih.
"Soal pertunangan abang dan Mayang, gimana?" Lafi kembali mengingatkan.
"Aku tidak tahu, jalani aja."
"Kalau aku menginginkan Camilla. Apakah abang memberi restu?"
"Aku tidak bisa," sahut Wijaya singkat.
"Kenapa? apakah abang sudah pernah melakukan hal buruk kepada Camilla sehingga abang sulit untuk melupakan nya?" tanya Lafi mulai aneh.
"Jaga ucapan kamu. Camilla tidak seperti itu!"
"Kalau gitu aku yang akan merusaknya, sampai dia....."
Krak!
Remot tv melayang, mendarat di kening Lafi, sampai remote tv terbelah dua. Baterai nya juga berserakan di lantai.
"Aduh...duh...kenapa abang melakukan ini kepadaku?!" keluh Lafi merasakan denyut di keningnya, kedua tangannya juga segera menutup bekas lemparan sudah berubah menjadi merah, berdarah.
__ADS_1
"Bukan aku!" sahut Wijaya dengan wajah tegangnya, bola matanya mengarah ke sofa.