BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 15. Aku pigi dulu ya bang


__ADS_3

Setelah mengantarkan Mayang ke rumah, Wijaya membawa Camilla menuju Perusahaan kecil miliknya. Sebuah Perusahaan khusus buat Wijaya untuk melakukan pengecekkan barang dan lain-lain untuk gedung Mall miliknya, baik di kota Medan, atau beberapa Mall terbesar tersebar di kota lain. Wijaya sengaja tidak menggabung Perusahaan miliknya, dengan kantor berada di dalam Mall terbesar miliknya berada di kota Medan.


Mobil di tumpangi Varo, Camilla, dan Wijaya sudah sampai di kantor kecil miliknya.


Varo membuka pintu buat Camilla, “Kita sudah sampai,” Varo memberitahu Camilla.


Camilla turun, sepasang bola mata indahnya memandang luas ke sebuah gedung Perusahaan terbilang cukup sederhana.


“Nggak usah di lihatin terus, ayo masuk!” ajak Wijaya, kedua kaki melangkah menuju gedung Perusahaan miliknya.


“I-iya.”


Camilla, dan Varo menyusul Wijaya sudah berjalan masuk ke dalam Perusahaan nya.


“Selamat pagi, tuan Wijaya. Selamat pagi, Varo ku yang ganteng dan emuah..emuah!” sapa seorang wanita cantik saat Wijaya dan Varo melintasi meja resepsionis. Sepasang bola mata memakai kontak lensa berwarna batik.


“Pagi juga Gabi,” sapa Varo memberi senyuman manis ke wanita resepsionis bernama Gabi. Camilla hanya mengangguk.


“Siapa gadis yang bersama dengan kamu?” tanya Gabi menyelidik.


Varo dan Camilla menghentikan langkahnya di samping meja resepsionis.


Camilla langsung mendekat, tangannya mengulur, “Perkenalkan aku, Camilla Hanin, umur ku 18 tahun. Panggil saja Camilla. Aku di sini sebagai….mmmm..mmm!”


Belum lagi siap memperkenalkan dirinya, Wijaya tadi sudah hampir sampai di depan pintu lift, terpaksa balik kembali. Dengan langkah seribu Wijaya mendekati Camilla, membungkam mulut Camilla agar tidak keceplosan, mengatakan jika dia adalah baby sister untuk nya.


Kalau Camilla sempat keceplosan, bisa-bisa Wijaya akan malu di depan karyawan dan rekan-rekan lainnya.


“Camilla hanya baby sister milik Andy. Gabi, silahkan lanjut bekerja lagi. Kami pamit dulu,” jelas Wijaya buru-buru, ia membawa Camilla masih dalam dekapannya dengan tangan membungkam mulut Camilla, menuju lift.


Sesampainya di dalam lift Wijaya melepaskan dekapan dan bungkaman tangannya.


“Cih..cih…bauk kali tangan kau itu Om!” Camilla terus mengusap bibir ranumnya, merasa jijik di sentuh oleh Wijaya.


“Aku minta sama kamu, jangan sekali-kali kamu beritahu kalau kamu itu adalah baby sister pilihan Andy, untukku. Kalau sempat kamu keceplosan berkata seperti itu ke karyawan yang ada di sini. Maka kamu akan aku pecat!” ancam Wijaya dengan tatapan serius.


“Kenapa? Malu kau, Om!”


“Ti-tidak, a-aku hanya…”


Ucapan terputus saat pintu lift terbuka, berhenti di lantai 2.


Wijaya tak melanjutkan ucapannya, ia keluar dari dalam lift, diikuti Camilla.


“Om, om. Ini kantor-mu?” tanya Camilla menyakinkan kantor milik Wijaya super sederhana ini.

__ADS_1


“Iya, kenapa?” Wijaya balik bertanya, sembari terus melangkah di koridor menuju ruangan pribadi miliknya.


“Ah, yang benarnya kau, Om? Setahuku kalau orang kaya itu memiliki kantor cukup besar, karyawannya cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan sombong-sombong. Tapi, pas aku masuk ke dalam kantor kau ini Om. Agak lain ku rasa..” Camilla menggantung ucapannya, kedua kakinya berjalan cepat ingin menyeimbangi langkah Wijaya. “Yang miskinnya kau, Om?” lanjut Camilla setelah langkah mereka sejajar.


Langkah kaki Wijaya terhenti, tatapan mengintimidasi menatap lekat raut wajah cantik Camilla terlihat begitu polos.


“Mau menghina aku terus, apa kau mau aku pecat?!” ancam Wijaya dengan nada dinginnya.


“Apanya kau ini Om. Dikit-dikit main pecat, dikit-dikit mengancam aku. Apa nggak adanya pembahasan-mu yang lain selain kalimat itu? kalau gitu aku jalan duluan lah. Siapa tahu aku jumpa cowok ganteng. Mana tahu dia mau menikahi aku, jadi aku nggak usah bekerja jagain kau terus Om!” cetus Camilla, ia terus melangkah menuju koridor ruang kerja Wijaya.


“Kalau mau carik jodoh jangan di kantorku. Pergi sana kamu ikut lomba kencan buta atau semacamnya!” teriak Wijaya saat Camilla sudah berada jauh di hadapannya.


Camilla sendiri sudah menghentikan langkah kakinya di depan ruangan bertulisan “Presdir Wijaya Atmaji”. Camilla terus memandang dari luar ruangan, sebuah ruangan milik Wijaya berdinding kaca, di dalam ruangan terlihat sofa empuk dan beberapa fasilitas terlihat sangat nyaman.


“Pagi, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pria bertubuh tinggi kekar, rambut ikal, bola mata berwarna hitam pekat.


“Wah…ganteng kali abang satu ini,” gumam Camilla terkesima melihat ketampanan pria berada di hadapannya itu.


“Anda sedang apa di sini?” tanya pria itu lagi.


Camilla langsung mengulurkan tangannya, “Perkenalkan nama aku, Camilla, umur ku 18 tahun. Aku adalah baby sister Andy, anak Wijaya. Tahu Wijaya ‘kan? Om-om yang super bawel dan menjijikan itu! yang asal pacaran ceweknya lengket terus!”


Sifat centil tersembunyi tiba-tiba keluar saat melihat pemuda tampan. Maklumi saja, namanya Camilla masih remaja, jadi wajar saja jika hal itu terjadi.


Wijaya baru saja tiba, menjewer daun telinga Camilla, “Kamu itu! jangan terlalu centil, ingin berkenalan kenal sana, kenal sini. Apa kamu tidak takut jika orang yang kamu ajak berkenalan itu adalah orang jahat?” geram Wijaya.


“Sakit, sakit, Om…lepaskan!” teriak Camilla dengan nada suara lembutnya.


“Ha ha ha…Om! Gadis kecil ini memanggil Presdir dengan sebutan Om!” kekeh pria tampan berambut ikal itu.


Wijaya menatap suram ke pria tampan berambut ikal, “Lucu?”


“Iya, lucu aja. Tapi memang benar deng, kalau Presdir, Om-om. Eh…bukan Om-om lagi, melainkan Duren (duda keren), ha ha ha!” sambung pria tampan berambut ikal itu kembali terkekeh.


“Apa kamu tidak ada pekerjaan, Radim Fawwaz?!” tanya Wijaya sinis, tangan masih menempel di daun telinga Camilla.


“Ini saya sedang ingin melaporkan sesuatu kepada Presdir,” pria tampan berambut ikal, sebut saja Radim, melirik ke Camilla sedang berusaha melepaskan jeweran Wijaya, “Siapa gadis muda belia nan cantik ini, Presdir?” lanjut Radim bertanya.


“A-aku…mmm…mmm!”


Wijaya langsung melepaskan jeweran nya, beralih membungkam bibir ranum Camilla.


“Camilla, baby sister Andy. Kenapa? Kamu naksir dengannya?” timpal Wijaya.


“Ha ha ha…sedikit,” sahut Radim, tangannya menggaruk rambut bagian belakang tak gatal.

__ADS_1


“Kamu masuk dulu ke ruangan. Aku masih ada urusan dengan Camilla!” tegas Wijaya memberi perintah.


“Baik, saya permisi, Presdir,” pamit Radim ke Wijaya. Detik selanjutnya bola mata itu beralih ke Camilla, "Sampai jumpa gadis cantik. Abang kerja dulu," pamit Radim ke Camilla, ia balik badan, melangka menuju ruangan miliknya tak jauh dari ruangan milik Wijaya.


Setelah kepergian Radim, Wijaya melepaskan tangannya, beralih menggenggam pergelangan tangan Camilla, membawa Camilla masuk ke dalam ruangannya.


“Duh..duh, sakit, sakit!” keluh Camilla saat pergelangan tangannya di genggam erat oleh Wijaya.


Sesampainya di dalam Wijaya melepaskan genggaman tangannya, berjalan sedikit mendekati meja, mengambil pengontrol tirai, menutup ruangannya dengan tirai.


“Wah…keren kali,” puji Camilla melihat tirai bisa menutup sendiri, melupakan rasa sakit di pergelangan tangannya, terlihat memerah bekas tangan Wijaya.


“Sebaiknya kamu tidak perlu lagi bekerja seperti ini,” ucap Wijaya tiba-tiba.


Camilla langsung menoleh, menatap Wijaya dengan tatapan penuh tanda tanya, “Kenapa? Apa salahku, Om?”


“Nggak tahu, tapi aku rasa kamu berhenti saja bekerja menjadi baby sister ku. Aku tidak bisa terus-menerus membawa kamu seperti ini,” jelas Wijaya, ia balik, melangkah menuju meja kerjanya, dan duduk di sana, diikuti Camilla, berdiri di samping kiri Wijaya.


“Jahat kali kau, Om. Kalau aku nggak kerja, mau makan apa aku? Kalau kau usir aku dari rumah besar kau itu Om. Mau tinggal di mana lagi aku. Tega, kau ya, Om!” Camilla balik badan, “Udahlah pigi aja aku, mumpung aku pakek baju cantik, lebih baik aku mencari pekerjaan lain saja!” lanjut Camilla, melangkahkan kedua kakinya menuju pintu ruangan Wijaya.


“Oh…yaudah pergilah. Hati-hati ya! kalau bisa jangan balik-balik lagi, atau menampakkan batang hidung kamu di hadapanku!” teriak Wijaya kepada Camilla sudah berdiri di depan pintu, tangan menahan daun pintu.


“Jangan ngemis untuk berharap aku datang ke rumah kau lagi ya, Om! Awas kau, Om!” ancam Camilla.


Blam!


Camilla pun pergi meninggalkan ruangan kerja milik Wijaya.


Wijaya langsung membuka tirai ruangannya, sembari menatap kepergian Camilla dengan bibir terus tersenyum.


“Aku sangat yakin kalau kamu akan kembali dengan sendirinya nanti ke kantor ku. Ha ha..dasar wanita. Setomboy apa pun, wanita tetaplah wanita, tukang ngambek,” gumam Wijaya.


Camilla sendiri terus berjalan, melewati Varo berada duduk di meja resepsionis. Varo melihat itu spontan beranjak dari duduknya.


“Camilla!” panggil Varo menatap kepergian Camilla terlihat wajah kesal.


“Gadis cantik itu mau kemana?” tanya Gabi ikut menatap kepergian Camilla.


“Saya susul dulu,” pamit Varo, kedua kakinya melangkah lebar mengejar Camilla sudah keluar dari pintu.


Dengan langkah lebar, akhirnya Varo bisa mengejar Camilla, menggenggam pergelangan tangan Camilla dari belakang.


“Kamu mau kemana?” tanya Varo sedikit cemas.


“Mau pigi lah aku. Buat apa aku di sini lagi,” Camilla menoleh ke pintu masuk kantor Wijaya, “Biar abang tahu ya, Wijaya itu yang selalu di panggil tuan dan Presdir sudah memecatku. Duda anak satu itu sudah tak menginginkan aku lagi bekerja dengannya. Tentang Andy, titip salam ajalah aku ya, bang,” Camilla perlahan melepaskan genggaman tangan Varo, “Aku pigi dulu!” lanjut Camilla pamit pergi.

__ADS_1


“Camilla…Camilla! Jangan pergi sembarangan, kawasan ini sangat sunyi, dan berbahaya buat kamu berjalan sendiri!” teriak Varo menatap kepergian Camilla sudah berjarak 5 meter dari tempat ia berdiri.


Camilla tak menggubris teriakan Varo, ia terus bejalan dan berjalan dengan hati kesal.


__ADS_2