
Wanita berdiri di depan pintu kamar Wijaya dengan raut wajah marah itu adalah Mayang. Melihat hal itu pikiran Mayang langsung pergi ke tingkat imajinasi kreatif nya. Mayang balik badan, kedua kakinya melangkah menuju kamar Camilla.
“Mayang…sayang, kamu sejak kapan di sini?” tanya Wijaya gugup, langkah kaki mengikuti Mayang dari belakang, sesekali tangannya itu terulur menyentuh lengan Mayang. Namun, Mayang selalu menepis genggaman tangan Wijaya.
“Kamu bilang membenci wanita sumo itu. Tapi kenapa aku melihat ia keluar dari dalam kamar kamu, pakaiannya juga terlihat seperti seorang wanita penggoda!” Mayang menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar luar Camilla. Mayang balik badan, “Aku tak menyangka jika kamu menjilat ucapan kamu sendiri. Apa saja yang sudah kamu lakukan dengan wanita sumo itu?” lanjut Mayang terus menuduh Wijaya.
Andai Wijaya tahu jika Mayang sudah bermain gila dengan adiknya. Apakah Mayang masih punya muka terus menuduh Wijaya seperti ini?
“Sa-sayang, ka-kamu salah paham. Aku hanya membawa Camilla masuk ke dalam kamar ku, karena tadi malam Lafi datang dalam keadaan mabuk, masuk ke kamar Camilla, memeluk dan membungkam mulut Camilla. Aku hanya menjauhkan Camilla dengan Lafi, agar tak terjadi hal buruk. Aku serius!” jelas Wijaya.
Hati Mayang mendadak panas mendengar Lafi melakukan hal seperti itu dengan Camilla. Bukannya malam itu mereka sudah menghabiskan malam dan hal-hal gila sampai Mayang tak bisa menjalankan kedua kakinya. Tapi kenapa Lafi masih bisa ingin menikmati hal itu oleh wanita pasaran seperti Camilla.
‘Dasar playboy. Aku kira cintamu untukku beneran tulus. Ternyata aku salah. Aku juga sudah merasa rugi mengeluarkan uang banyak untuk mengganti semua baju piyama milik Camilla dengan baju piyama tipi situ. Aku kira Wijaya akan mengusir Camilla karena sudah memakai baju piyama tak pantas. Cih..awas saja kamu wanita sumo, aku akan menghancurkan masa depan kamu!’ gerutu Mayang mempunyai rencana buruk kepada Camilla.
Pintu kamar Camilla terbuka, terlihat Camilla keluar, memakai baju dress bunga-bunga panjang selutut, berlengan pendek. Rambut panjang dengan di setiap ujung rambut di cat pelangi di kuncir satu. Sejenak Camilla merasa tak nyaman, tangannya terus menurunkan roknya. Namun, melihat Mayang ada di depan pintu, Camilla mendadak memiliki ide untuk mengejek Mayang.
“Kamu…kenapa kamu memakai baju seperti ini?” tanya Mayang terlihat tidak senang, ia perlahan melangkahkan kedua kakinya mendekati Camilla, mengelilingi Camilla.
“Kenapa, sirik kau!” ketus Camilla berlagak sombong.
“Bukan level ku sirik sama kamu, wanita sumo!” tegas Mayang sudah berdiri di depan Camilla.
“Ya udah, kalau gitu awaslah,” Camilla mendorong Mayang, membuat Mayang mundur selangkah ke belakang.
“Berani sekali kau…” Mayang hendak menarik rambut Camilla. Namun, Camilla sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangan Mayang.
“Jangan pernah kau sentuh seujung kulitku dengan tangan kotor mu itu! cih…wajah saja yang cantik, tapi hati kau di penuhi kebusukan. Sadar diri kau kalau ingin menghinaku. Kau bilang kita tidak selevel? Memang benar kita tidak selevel, jadi jangan pernah kau mengaturku atau mengusik kehidupanku,” Camilla menggantung ucapannya, ia mendekatkan bibirnya di daun telinga Mayang, “Kalau berani mengusikku lagi, habislah kau, aku buat. Bersiap saja, ha ha ha!” lanjut Camilla di selingi tawa suram.
__ADS_1
Camilla menghempaskan lengan tangan Mayang, berjalan meninggalkan Mayang dengan Wijaya, sembari mengayunkan rambut panjang pelanginya.
Mayang terlihat benar-benar sangat kesal. Mayang terus menghentakkan kedua kakinya, kedua tangan di samping tubuh mengepal erat.
“Awas kau, wanita sumo!” teriak Mayang, menatap punggung Camilla sudah jauh, Camilla juga terlihat melambaikan tangannya tanpa menoleh.
Bukannya membela Mayang, Wijaya balik badan, sekilas tawa dan senyum lucu melihat tingkah Camilla terlihat di wajah kharisma Wijaya. Detik selanjutnya Wijaya memegang kedua bahu Mayang, mengelusnya untuk menenangkan amarah Mayang.
“Sudah, sudah. Sayang, kamu sudah sarapan? Kalau belum kita sarapan bareng di luar yuk!” Wijaya membujuk Mayang.
Mayang berdiri di hadapan Wijaya, “Sayang, aku mau wanita sumo itu berhenti bekerja menjadi baby sister untuk kamu. Aku tidak bisa membayangkan jika iya terus bersama kamu. Sayang, pecat dia, ya!” ucap Mayang memohon dengan raut wajah di buat imut.
“Maaf sayang, aku tidak bisa memecat Camilla begitu saja. Aku tak ingin melihat Andy marah kepadaku. Aku sadar selama ini tidak bisa meluangkan waktu banyak buat Andy, jadi aku membiarkan Andy mengatur ini semua,” Wijaya membelai puncak kepala Mayang, “Tapi kamu tenang saja, aku akan membuat Camilla tidak betah menjadi baby sister untukku. Jadi, kamu jangan cemberut dan marah lagi. Sayang wajah cantik kamu di tekuk hanya karena hal sepele,” lanjut Wijaya lembut, perlahan membujuk Mayang.
“Oh ya, sejak kapan kamu memanggil wanita sumo itu dengan nama aslinya?” tanya Mayang menyelidik.
“Baiklah, di restauran biasakan, sayang?”
“Iya,” sahut Wijaya.
Wijaya dan Mayang melangkah turun ke bawah. Wijaya dan Mayang berjalan sambil bergandeng tangan menuju ruang tamu, melewati Camilla sedang duduk, membaca koran pagi.
“Oh…beranilah dia pigi nggak bawak aku,” gumam Camilla melihat Wijaya berjalan dengan Mayang, sudah berjalan mendekati pintu rumah.
Camilla melipat koran, meletakkannya di atas meja, kedua kakinya berlari kecil mengikuti Wijaya dan Mayang, sudah keluar dari rumah, berjalan menuju mobil terparkir di depan teras rumah.Dengan langkah seribu, Camilla sudah menahan pintu penumpang bagian depan. Mayang dan Wijaya terkejut, tidak mendengar suara langkah kaki, tapi Camilla sudah berada di samping mobil aja.
“Hei, awas kau, wanita sumo. Aku mau masuk!” cetus Mayang tak senang.
__ADS_1
Bukannya minggir, Camilla malah menyandarkan tubuhnya di pintu mobil, kedua tangan di lipat di depan dada.
“Kok aku pula yang minggir. Kau lah yang minggir sana. Aku di sini bekerja sebagai baby sister Wijaya! Jadi, kemanapun Wijaya pergi, aku harus ikut,” Camilla menggenggam pergelangan tangan Mayang, “Tempat kau itu di sini!” lanjut Camilla menarik Mayang, membawanya masuk ke bangku penumpang bagian belakang, mendorong tubuh Mayang sampai duduk di kursi penumpang.
Wijaya merasa sikap Camilla terlalu berlebihan, ia mendekati Camilla, menggenggam lengan Camilla, “Sudah cukup, dia itu kekasih ku. Jadi yang berhak duduk di samping ku itu Mayang, bukan kamu!” Wijaya mengulurkan tangannya, “Sayang, mari keluar dan duduk bersama ku,” sambung Wijaya, tangan mengulur ke Mayang.
Mayang menerima uluran tangan Wijaya, ia keluar dari dalam mobil. Tak lupa mengejek Camilla.
“Ck..seorang ibu saja tidak masalah jika anaknya duduk bersama dengan baby sister anaknya. Malah ibu itu sangat senang. Ini kamu…hai..hai, dasar duda,” gerutu Camilla. Namun, kedua kaki melangkah masuk ke dalam, dan duduk di kursi penumpang belakang.
Wijaya dan Mayang melihat Camilla masuk dan sudah duduk santai di bangku belakang terkejut.
“Ka-kamu kenapa masuk? kami mau pergi sarapan berdua,” tanya Mayang bingung.
“Aku juga belum sarapan, jadi sekalian aja,” sahut Camilla santai.
Mayang menatap Wijaya, “Sayang…aku tidak mau pergi dengan wanita sumo itu,” rengek Mayang pura-pura manja.
“Camilla, sebaiknya kamu tunggu aku di rumah. Aku dan Mayang mau makan berdua, tidaka berniat membawa ka…”
“Bacot!”
Blam!
Ucapan Wijaya terhenti saat Camilla langsung menutup pintu mobilnya.
Wijaya hanya bisa pasrah, ia berulang kali menarik nafas. Detik selanjutnya menatap wajah kesal Mayang, “Sayang, biarkan saja ia ikut. Kita akan buat dia tidak nyaman agar tidak mau mengikuti kita lagi,” bujuk Wijaya, tangan mengelus puncak kepala Mayang.
__ADS_1
“Baik,” sahut Mayang pasrah.