BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 33. Perasaan


__ADS_3

Camilla dan Andy, sudah berada di rumah, di dalam kamar Andy. Camilla terlihat begitu serius merawat Andy. Meski umurnya tergolong masih muda, tapi jiwa keibuannya sudah terpancar.


Wijaya berada di dalam kamar Andy, terus berdecak kagum dalam hati. Perasaan ingin memiliki Camilla sekarang semakin jelas. Namun, ia kembali tersadar karena saat ini Wijaya sudah memiliki Mayang, dan 2 bulan lagi mereka akan melangsungkan pertunangan.


Pikiran Wijaya terpecah saat mendengar suara ketukan pintu.


Tok Tok!


"Masuk," Wijaya mempersilahkan masuk.


Pintu kamar Andy terbuka, terlihat Mayang berdiri di depan pintu, tangan kanan memegang koper.


"Sayang, aku tadi ke Perusahaan. Gabi bilang kamu pulang karena Andy sakit. Apa benar?" tanya Mayang sembari melangkah masuk, membawa koper besarnya terlihat berat.


"Jangan bising kau di sini!" tegur Camilla, tak suka mendengar suara manja di buat-buat Mayang.


Mayang melirik sinis ke Camilla, "Kenapa kamu pula yang marah. Aku, 'kan bertanya pada calon tunangan sekaligus suamiku!" sahut Mayang tidak suka di tegur.


Camilla beranjak dari duduknya, tangannya membawa baskom bekas berisi air hangat dan handuk kecil. Kedua kakinya melangkah mendekati Mayang.


"Aku peringatkan sama mu ya! suhu tubuh Andy muda turun. Butuh istirahat total, jangan kau ganggu Andy dengan alasan apa pun. Kalau kau mau berdua dengan calon suami kau ini, atau hal lainnya. Pergi dari kamar ini!" tegas Camilla menekan nada suaranya.


Wijaya tidak memarahi Camilla. Ia malah memilih diam, dan mengajak Mayang keluar dari kamar Andy.


"Sayang, mari kita keluar," ajak Wijaya, tangannya menggenggam pergelangan tangan Mayang dan membawa Mayang keluar dari dalam kamar Andy dengan wajah terlihat bingung.


Setelah kepergian Mayang dan Wijaya. Camilla kembali mendekati ranjang Andy, meletakkan baskom berisi bekas air hangat di meja lampu tidur, lalu ia membaringkan tubuhnya di sebelah Andy dengan posisi miring menghadap Andy.


"Selama 1 tahun hidup tanpa Mamak. Apakah saat kau sakit ada yang merawat seperti saat ini aku merawat mu? pasti tidak ada. Sungguh kasihan dirimu yang masih kecil. Tapi...kau tenang saja. Selagi masih ada aku di sini. Aku akan mengusir semua pengganggu, dan akan di pastikan saat ini kau bisa beristirahat dengan nyaman sampai benar-benar sembuh," gumam Camilla, sembari membelai puncak kepala Andy.


Entah kenapa, rasa sejuk dan nyaman saat berada di dalam kamar Andy, membawa kedua kelopak mata Camilla perlahan terpejam. Tak mampu melawan kekuatan kantuk sudah merasuki alam sadarnya, Camilla mulai merebahkan tubuhnya di samping Andy, sembari memeluk tubuh mungil Andy.


Sementara itu di ruang tamu. Mayang sedang bergelayut manja dengan Wijaya.


"Sayang, aku rindu sekali dengan kamu," ucap Mayang terus menempelkan wajahnya di bidang dada Wijaya.

__ADS_1


"Aku juga. Pekerjaan kamu gimana?" tanya Wijaya datar.


"Sudah selesai. Makanya aku buru-buru pulang. Tapi ..saat aku mampir ke Perusahaan kamu, Gabi bilang Andy sakit. Aku buru-buru pesan taksi. Eh...sampai di sini Andy malah di rawat sama wanita sumo itu. Kesel banget sih!" dengus Mayang kesal.


"Iya, Camilla sudah merawat Andy dengan baik," Wijaya tiba-tiba memuji Camilla.


Mayang mendengar hal itu sontak terkejut. Apa lagi melihat binar kebahagiaan di kedua mata Wijaya.


"Sayang, kenapa kamu memuji wanita sumo itu dengan raut wajah bahagia. Apa kamu mulai menyukai wanita sumo itu?!"


"Itu tidak mungkin," elak Wijaya santai.


"Kamu bohong!"


"Buat apa aku berbohong. Sebentar lagi kita bertunangan, buat apa aku menyukai wanita lain. Hanya membuang waktu saja," Wijaya kembali membela diri, menutupi rasa sukanya pada Camilla.


"Kamu tidak bohong, 'kan?" tanya Mayang mulai luluh.


"Tidak," geleng Wijaya.


"Tentu saja. Mari aku antar," sahut Wijaya.


Wijaya mengantarkan Mayang untuk beristirahat di kamar miliknya. Sesampainya di dalam kamar, Mayang malah mengunci pintu kamar Wijaya, dan berjalan mendekati Wijaya sedang duduk di sofa.


"Kenapa kamu menguncinya?" tanya Wijaya.


"Aku ingin berdua lebih lam lagi dengan kamu," sahut Mayang, saat ini mendudukkan dirinya di atas pangkuan Wijaya.


"Mayang, turun!" pinta Wijaya lembut.


Bukannya turun, Mayang malah membuka satu persatu kancing baju kemeja Wijaya.


"Sayang, kita sudah lama bersama. Sekali-kali aku menginginkan kehangatan lainnya dari kamu!" gumam Mayang, tarikan nafasnya terlihat bergairah saat sorot matanya melihat ke bidang kekar berbulu lebat.


Wijaya segera menggenggam pergelangan tangan Mayang, "Kita belum sah Mayang. Aku tidak melakukannya," tolak Wijaya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bernafsu sama sekali?" tanya Mayang mulai curiga akan perasaan Wijaya kepadanya.


'Sejujurnya tidak,' jawab Wijaya dalam hati.


Karena Wijaya diam saja, Mayang mulai turun dari pangkuan Wijaya.


"Sebaiknya aku pulang saja," pamit Mayang terdengar kecewa.


"Iya, hati-hati di jalan. Maaf, aku tidak bisa mengantarkan kamu," sahut Wijaya tanpa rasa bersalah.


Mayang semakin kesal mendengar jawaban Wijaya. Ia pun melangkah cepat meninggalkan kamar Wijaya, dan meninggalkan rumah Wijaya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah miliknya berada di Ringrood. Mayang terus mengumpat kesal dalam hatinya, saking kesalnya ia ingin melupakannya pada Lafi. Mayang mengambil ponsel miliknya, mengirim pesan singkat pada Lafi.


1 jam kemudian. Mobil taksi online sudah sampai di depan rumah pagar Mayang. Mayang segera turun, masuk ke dalam gerbang rumahnya. Dimana sudah terlihat seorang pria berdiri di teras rumahnya. Pria itu adalah Lafi.


Mayang mempercepat langkanya, kedua tangannya mengembang, di sambut oleh Lafi. Mayang menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Lafi.


"Kenapa tidak menghubungi aku, agar aku jemput ke Bandara," ucap Lafi.


"Aku tadi ingin memberi kejutan kepada Wijaya. Aku juga ingin mendapatkan kasih sayang yang lebih darinya. Tapi dia selalu tidak mau memberikannya untukku. Aku sangat kesal....kesal!" curhat Mayang.


"Sudahlah, aku ada di sini untuk mu. Kenapa kau selalu mengharapkan hal itu dari abangku. Aku rasa miliknya mungkin sudah tidak berfungsi lagi," sahut Lafi menambahkan.


"Benarkah?!"


"Entahlah, buktinya dia tahan tidak melakukan hal itu kepada wanita mana pun."


"Berarti aku tidak akan merasakan hal itu dengannya. Meski aku menikah nanti?" tanya Mayang mulai percaya.


"Kau bisa mendapatkannya dariku," Lafi memegang dagu Mayang, "Aku ingin bersenang-senang denganmu. Apa kamu mau?" lanjut Lafi mulai mengarah ke hal lain.


"Iya, aku juga ingin bersenang-senang," angguk Mayang.


Mayang dan Lafi masuk ke dalam rumah. Mereka terus berjalan, naik tangga menuju kamar Mayang.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar. Lafi dengan agresif membuka baju Mayang, begitu juga dengan Mayang. Mereka pun saling bercumbu, hingga tubuh mereka saling menyatu.


__ADS_2