
Di dalam kamar. Camilla merebahkan tubuhnya di tilam usang beralas tikar dan lantai. Camilla terus menatap langit kamarnya, menaruh lengannya di dahi.
"Kenapa hatiku merasa gelisah. Bagaimana dengan keadaan Andy. Apakah bocah nakal itu bisa tidur tanpa aku temani," Camilla mengubah posisi tidurnya, miring, memeluk guling, "Mataku terasa lelah, tapi hatiku sangat gelisah," lanjut Camilla, perlahan kelopak matanya terpejam, ia pun tertidur pulas.
Sementara itu di rumah mewah milik Wijaya. Andy masih terus mengamuk, menjerit dan berteriak di dalam kamarnya. Walau jarum jam dinding sudah mengarah pada angka 12.
Tidak ada yang bisa menghentikan amukan Andy malam itu. Termasuk, Wijaya.
"Aku nggak mau tidur. Aku mau di temani sama Kak Camilla. Aku nggak mau tidur!" teriak Andy, melemparkan bantal, guling, dan seprainya.
Wijaya hanya bisa menghela nafas, memijat pelipisnya terasa tegang, kepalanya juga berdenyut hebat.
Keributan akibat ulah Andy, membuat Viona, pembantu rumah, dan tukang kebun, Baron, mencoba menenangkan tuan mudanya itu, atau Andy.
"Tuan muda jangan mengamuk terus, ini sudah malam dan tuan muda harus segera tidur," bujuk Viona.
"Benar tuan muda, apa tuan muda menginginkan sesuatu. Tuan muda ingin saya ambilkan bunga?" lanjut Baron menambahkan.
"Nggak mau. Aku hanya menginginkan Kak Camilla. Aku ingin Kak Camilla segera kembali pulang!" Andy kembali berteriak.
Andy membaringkan tubuhnya, mengambil selimut, menyelimuti seluruh tubuhnya. Cairan bening terus mengalir dari bola mata indahnya. Terdengar suara isakan di bibir mungilnya dari selimut.
'Padahal aku sudah berjanji pada Kakak untuk melindungi dan merawat Kakak jika sakit. Tapi, kenapa....kenapa Kakak pergi begitu saja. Apa yang sudah dilakukan oleh tante Mayang dan Papa pada Kakak. Sekarang siapa lagi temanku, tidak ada lagi orang yang peduli padaku. Pulang lah Kak, atau kita menikah saja. Aku akan melamar Kakak, agar tidak ada seorangpun yang bisa menyakiti Kakak. Kak Camilla...hiks..hiks!' batin Andy lirih.
Saking tak ingin kehilangan Camilla, Andy sampai ingin melamar dan menikahinya. Mendengar kepergian Camilla, hatinya terasa sakit dan hidupnya seperti sudah tak ada artinya lagi.
Kenangan atas kepergian almarhum Mama nya kembali muncul, membuat Andy ingin segera melupakan kebahagian tercipta dari sekeliling nya.
Air mata terus mengalir hingga membuat kedua kelopak mata Andy membengkak, hidungnya memerah. Karena waktu terus berjalan, dan hari mulai larut, perlahan kelopak mata sembab itu terpejam. Andy tertidur memeluk guling, seluruh tubuh masih di tutupi selimut lembut, sesekali terdengar suara isakan dari bibir mungilnya.
Viona dan Baron mendekati Wijaya.
"Tuan, sepertinya tuan muda sudah tidur," ucap Viona pelan.
__ADS_1
"Apa yang harus saya berikan agar tuan muda kembali bahagia, tuan?" Baron mulai menambahi.
"Tidak ada. Sebaiknya kalian beristirahat lah. Terimakasih atas bantuannya," perintah Wijaya singkat, dan dingin.
"Baik, kami pamit dulu, tuan," Viona dan Baron keluar dari kamar Andy.
Wijaya perlahan mendekati ranjang, duduk di pinggirannya, menyingkap sedikit selimut menutupi wajah Andy.
"Sihir apa yang sudah kau berikan padaku dan putraku. Kemana kau, Camilla. Awas saja kalau aku bisa menemukan keberadaan mu, aku tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih gila lagi agar kau tak akan pernah dan bisa kabur dariku dan juga Andy!" sumpah Wijaya pelan dan tegas.
Viona dan Baron terus berjalan, mereka terhenti di bawah anak tangga, sesekali pandangan menoleh ke koridor kamar Andy, memastikan apakah Wijaya turun. Setelah merasa cukup aman, Viona mulai membicarakan Camilla.
"Aku benci kali lihat Baby sister milik tuan besar," celetuk Viona tiba-tiba.
"Kenapa, apa karena gadis itu lebih cantik dan bisa memikat hati tuan besar?" cetus Baron.
"Ya enggak lah. Aku hanya....hanya benci aja samanya. Gadis preman itu seperti nyonya besar di rumah ini, berani mengatur tuan besar, dan tuan muda. Bukan itu saja, gadis itu juga sering adu mulut dengan nona Mayang," Viona melipat kedua tangannya, "Sekarang gadis itu sudah pergi. Haah...rasanya senang sekali, aku bisa leluasa di rumah ini," lanjut Viona dengan pikiran buruknya.
Tanpa Viona dan Baron sadari, Varo berdiri dari tadi di belakang mereka. Sorot mata tajam ingin membunuh terus mengarah pada punggung dan gerak bibir Viona terus menjelekkan Camilla.
Tak tahan mendengar Viona selalu menilai buruk dan iri kepada Camilla. Varo memegang bahu Viona, menekannya kuat. Viona kaget, spontan menoleh.
"Va-Varo...."
"Apa perlu saya bungkam mulut Anda?" tanya Varo dingin.
"Bungkam saja, dari tadi wanita tua ini terus menjelekkan Camilla," tambah Baron tidak membela Viona.
Tentu saja Baron tidak akan membela siapa pun. Baron itu adalah seorang pria yang baik, tapi ia memiliki hati busuk. Baron adalah type pria suka adu domba, dan memfitnah siapa pun untuk membuat dirinya jauh dari bahaya. Apa lagi berhubungan dengan pekerjaan.
Varo tak termakan omongan Baron, ia melirik tajam ke Baron, lalu menekan tangannya di bahu Baron.
"Kalian berdua sama saja. Saya peringatkan kepada kalian berdua, jangan pernah mengusik kehidupan dek Camilla, kalau kalian berdua ingin aman!" ancam Varo seolah tak takut.
__ADS_1
Varo memang terlihat cuek dan tak perduli saat di hadapan Camilla. Tapi saat melihat Camilla di hina dan di perlakukan seperti wanita buruk. Varo selalu pasang badan, meski sesekali hatinya menciut karena memikirkan pekerjaan.
Takut akan ancaman, dan sorot mata suram ingin membunuh dari Varo. Baron dan Viona perlahan menurunkan tangan Varo dari bahu mereka, berbalik badan, lalu kabur, masuk ke kamar mereka masing-masing.
Setelah kepergian Viona dan Baron. Varo menghela nafas panjang, memijat pelipisnya terasa tegang.
"Di mana lah dek Camilla yang imut ini," hela Varo bergumam.
Suara Wijaya mengejutkan Varo.
"Tidak ketemu juga?" tanya Wijaya sudah berdiri di samping kiri Varo.
"Ya ampun, tuan besar mengejutkan saya saja," Varo mengelus dadanya, jantungnya hampir lepas.
"Aku pusing, harus gimana lagi kita mencari Camilla. Andy dari tadi terus mengamuk," Wijaya menoleh ke Varo, "Sebenarnya apa yang terjadi pada Camilla tadi?" lanjut Wijaya kembali bertanya untuk memastikan hal apa yang menyebabkan Camilla kabur.
"Tidak ada yang terjadi tuan, hanya cekcok biasa dengan nona Mayang. Dek Camilla memang keluar untuk menenangkan dirinya, karena malas melihat nona Mayang. Tapi siapa sangka jika kepergiannya adalah tujuannya untuk kabur," Varo balik menatap penuh tanya ke Wijaya, "Apa jangan-jangan inti permasalahan itu ada pada tuan besar. Soalnya sebelum dek Camilla duduk bersama dengan saya dan Gabi. Dek Camilla bergumam sambil berjalan menuju meja resepsionis. Ia bilang tidak suka melihat sikap tuan besar. Wajah dek Camilla saat itu juga tampak memerah. Apa yang sebenarnya terjadi, tuan?" lanjut Varo mulai mengintrogasi Wijaya.
Wijaya menunduk, menghela nafas singkat, lalu memandang Varo. Ingin menutupi kesalahannya, tapi ia tidak bisa melakukan itu di depan Varo, supir pribadi sudah sangat dekat dengannya.
"Maafkan aku. Aku tadi....tadi aku tak sengaja menciumnya," Wijaya jujur. Varo mengepal kedua tangannya dengan erat.
"Selain itu?" tanya Varo dengan suara dan wajah berubah dingin.
"Tidak ada. Aku hanya khilaf, habisnya Camilla selalu menjahili dan bergurau yang membuat aku terkadang hilang akal. Ta...tapi aku tidak ada niat buruk lainnya kepada Camilla," jelas Wijaya gugup.
"Apa pun alasannya itu tidaklah benar tuan," Varo balik badan, "Tuan besar sama saja dengan nona Mayang," lanjut Varo menggantung. Wijaya terkejut mendengar pernyataan terakhir dari Varo.
"Apa maksud kamu, Varo?" tanya Wijaya penasaran.
"Bukan apa-apa. Saya permisi dulu, mau istirahat karena besok harus kembali mencari dek Camilla," sahut Varo masih dingin.
Varo melangkah besar menuju kamar nya, Wijaya masih terdiam, berdiri seperti patung dengan beribu pertanyaan mengenai Mayang di pikirannya.
__ADS_1