BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 53. Terbongkar


__ADS_3

Wijaya sudah membawa Camilla kembali ke rumah besar nan mewah miliknya. Andy tidak pernah melepaskan genggaman tangan Camilla, sampai mereka kini berada di ruang tamu.


Viona, dan Baron terkejut melihat ke datangan Camilla. Mereka saling sikut, bibir bergerak seolah membicarakan sesuatu.


Camilla menyadari sikap Baron dan Viona.


"Hei, ngapain kalian berdua dari tadi saling berbisik?" tegur Camilla meninggikan nada suaranya.


Viona dan Baron sigap, mereka berdiri saling berjauhan.


"Ke-kenapa kamu bisa kembali lagi?" tanya Viona memberanikan diri.


"Itulah yang namanya takdir," sahut Camilla sombong.


Tak lama terdengar suara langkah sendal tumit tinggi wanita keluar dari ruang dapur, menuju ruang tamu.


Tak tak!


Wanita itu berhenti di samping Wijaya, menyelipkan tangan lentiknya ke lengan Wijaya. Wanita itu adalah Mayang.


"Masih punya muka untuk muncul lagi di rumah ini?" tanya Mayang lembut.


"Masih punya harga diri merangkul calon suami orang!" tegas Camilla tak mau kalah.


"Ha ha...calon suami. Helooo...Wijaya ini adalah calon tunangan aku. Tiba-tiba muncul sudah buat halu saja, kamu, wanita sumo!" ejek Mayang di sela tawanya.


Andy ingin marah melihat sikap Mayang. Namun, Camilla mengelus punggung Andy, mencoba untuk tidak ikut campur.


"Ini urusan aku. Kau diam aja. Okay!" bisik Camilla.


Andy mengangguk.


Camilla beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Mayang, masih merangkul paksa lengan Wijaya. Camilla berdiri di hadapan Wijaya dan Mayang.


"Oh, tunangan kata kau, ya!" Camilla menunjukkan jari manis melingkar berlian. "Duh...duh, kok jari manis aku rasanya berat, ya!" lanjut Camilla pamer.


Mayang melotot, melepaskan genggaman tangannya, mengambil tangan Camilla untuk melihat apakah benar itu cincin berlian asli.


Mayang menatap tajam ke Wijaya, "Apa maksudnya ini?" tanya Mayang tak suka.


"Aku sudah melamar Camilla," sahut Wijaya datar.

__ADS_1


"Kamu pasti bercanda, 'kan sayang?" tanya Mayang seolah tak percaya, ia berdiri menghadap Wijaya, menatap wajah acuh tak acuh Wijaya.


"Bukannya aku katakan jika kita sudah putus!" tegas Wijaya.


"Kapan? aku tidak pernah merasa jika kita berdua putus. Kamu pasti bercandakan sayang?" ucap Mayang mengelak.


Wijaya mengambil ponsel miliknya, menunjukkan vidio asusila Mayang dengan Lafi. Mayang melotot, tak percaya jika Wijaya mengetahui perselingkuhan mereka.


"Ka-kamu tahu darimana?" tanya Mayang gugup.


"Darimana itu tidak penting," sahut Wijaya, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Mayang berlutut, memegang kedua kaki Wijaya, dan menangis.


"A-aku bisa jelaskan. Aku dan Lafi tidak seperti itu. I..itu hanya sebuah uji coba untuk memainkan peran. Ka..karena aku ingin bermain film," jelas Mayang mengelak, memberikan alasan tak masuk akal.


"Oh ..sangat menghayati sekali latihannya. Apa enak melakukan hal itu kepada adikku sendiri? Kenapa kamu tidak memintaku untuk mengajari kamu cara yang benar bermain di ranjang," cetus Wijaya geram.


Mayang terdiam, kedua tangan mengepal erat. Suara langkah sepatu pria memasuki ruang tamu. Pria itu adalah Lafi.


"Oh, jadi sekarang abang sudah tahu permainan kami di belakang?" cetus Lafi, berdiri di samping Camilla.


Camilla melirik, kedua kaki spontan membuat jarak 3 langkah dari Lafi.


Sejenak Camilla memang terkejut mendengar pertanyaan Lafi. Karena memiliki jiwa pemberani untuk memberitahu kebenaran. Camilla mulai kembali melangkah dan berdiri di hadapan Wijaya. Wijaya hanya diam, membiarkan calon istrinya melakukan hal apa pun asal di jalan lurus.


Camilla berkacak pinggang, sebelah alis menaik, "Sayang, sayang, matamu! kalau ia, kenapa? tidak suka?!" tegas Camilla di kalimat terakhir.


"Kamu memang sangat menarik Camilla," Lafi ingin memegang dagu Camilla. Namun, Wijaya dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Lafi.


"Calon suami yang siap siaga," gumam Lafi, memutar bola mata jengah nya.


"Berapa kali aku katakan, jangan pernah sentuh atau dekati Camilla!" tegas Wijaya, rahangnya mengetat, sorot mata ingin membunuh memandang lekat wajah menantang Lafi.


Mayang sudah tersulut emosi, dan merasa kalah dari Camilla. Tangannya menjadi ringan.


Plak!


Camilla terdiam.


Lafi, dan Wijaya berhenti berdebat. Andy melihat Camilla di tamparan spontan berlari, berdiri menghadang di depan Camilla.

__ADS_1


"Tante Mayang sangat jahat. Kenapa tante menampar Mama? apa salah Mama kepada tante Mayang?!" teriak Andy.


Mayang, Camilla, Varo, Viona, Baron, Lafi, dan Wijaya mendengar hal itu terkejut.


"Mama!" gumam mereka tak percaya.


Mayang semakin tersulut emosi, ia mendekati Andy.


"Dasar bocah bodoh! apa kau tahu siapa yang kau panggil Mama?" Mayang mengarahkan jarinya ke Camilla, "Kau bilang wanita sumo, setiap tutur katanya kasar, dan seorang pencopet adalah Mama?!" lanjut Mayang dengan nafas memburu di dada karena emosi.


"Iya, kak Camilla adalah seorang wanita yang aku carikan untuk Papa. Kenapa? Tante tidak suka!" jelas Andy, ia marah seperti seorang pria dewasa.


"Dasar bocah sia...."


Mayang ingin menampar Andy. Namun, ada tangan mungil dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Mayang, menurunkannya secara paksa hingga terlihat urat halus di lengannya.


Andy sendiri memeluk Camilla, dengan kedua kelopak mata terpejam.


"Sekali kau sentuh kulit Andy. Maka bersiaplah untuk kehilangan 12 tukang rusukmu!" ancam Camilla menekan nada suaranya.


Mendengar hal itu nyali Mayang menciut, menelan saliva sudah berada di tenggorakan saja susah. Keringat dingin mengalir dari wajahnya, melihat sorot mata tajam seperti ingin membunuh dari Camilla.


Mayang menarik tangannya, tidak ingin tulang-tulang menghilang satu persatu. Mayang memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatannya.


Mayang berbalik, melangkah keluar dari rumah Wijaya. Lafi juga ikut melangkah pergi, menuju kamar miliknya berada di lantai 3.


Camilla menundukkan pandangannya, melihat kedua tangan mungil itu gemetar memegang rok dress bunga-bunga Camilla.


'Padahal dia sangat takut. Tapi bocah ini masih sanggup membela dan memarahi wanita ulat bulu itu. Entahlah, baru beberapa jam bersamanya hatiku mulai luluh. Bocah ingusan ini seperti ada magnet tersendiri di hatiku,' batin Camilla.


"Kau pasti lelah, sebaiknya aku temani kau ke kamar," ucap Camilla mencoba menenangkan Andy.


Andy melepaskan genggamannya, melirik ke Wijaya berada di belakang Camilla, detik selanjutnya menatap wajah cantik Camilla tersenyum tulus kepadanya.


"Kakak mau menemani aku beristirahat?" tanya Andy dengan suara gemetar, efek ketakutan.


"Iya dong. Bukannya kau sudah lama menungguku untuk menemani kau tidur. 30 hari loh, itu bukan waktu yang sebentar."


"Kakak benar-benar wanita yang paling jahat. Bukan hanya cerewet, tapi kakak adalah wanita yang tegaan," gumam Andy di dengar oleh Wijaya dan Camilla.


"Tadi kau panggil aku Mama, sekarang kau panggil aku, kakak," Camilla mencubit gemas kedua pipi tembem Andy, "Kau memang bocah tengil yang nakal!" lanjut Camilla gemas.

__ADS_1


"Papa... cubitan kak Camilla sangat sakit. Apa dia ingin balas dendam padaku. Pa...tolong bantu anakmu sedang di siksa!" teriak Andy meminta pertolongan.


Wijaya, Varo, Viona dan Baron, terkekeh melihat Andy.


__ADS_2