BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 35. Hadiah Diam-Diam


__ADS_3

3 bulan sudah berlalu, Camilla bekerja menjadi Baby Sister Wijaya. Karena hari pertunangan Wijaya dan Mayang semakin dekat, Wijaya mulai mempersiapkan hal-hal kecil untuk melamar Mayang.


Hari ini, Wijaya meminta Camilla untuk menemaninya pergi ke toko Berlian. Wijaya ingin memberikan kejutan kecil selain memberikan cincin pertunangan kepada Mayang. Seperti kalung, dan gelang tangan untuk Mayang.


Camilla dan Wijaya duduk di sofa, menunggu beberapa karyawan mengambil contoh barang.


"Om, tempatnya terlihat sangat mewah. Pasti semua perhiasan di sini mahal-mahal," ucap Camilla pelan, sorot matanya memandang luas ke seluruh ruangan.


"Ini namanya toko Berlian. Wajar saja jika semua fasilitas nya terlihat mewah," sahut Wijaya sedikit menjelaskan.


"Oh, berlian bukannya untuk orang-orang yang kaya, ya?"


"Tidak juga, kalau kamu ada duit. Kamu juga bisa memesan berlian di toko Berlian asli."


"He He....aku mana ada duit Om. Dapat gaji, merasakan makan dan tempat tinggal yang nyaman untuk saat ini saja aku sudah bersyukur," cetus Camilla di sela tawa sumbang.


"Kapan kamu berulang tahun?"


"Minggu depan Om. Umurku Minggu depan sudah berpindah menjadi 19 tahun. Nggak terasa, sudah tua juga aku!" sahut Camilla sambil terkekeh.


Wijaya terdiam, ia terus memandang wajah Camilla terus tertawa, 'Tidak seperti biasanya, wanita ini terus tertawa. Apa ia sudah mulai menjadi wanita dewasa?' batin Wijaya.


Salah seorang karyawan datang, membawa 5 kotak berisi contoh barang baru. Karyawan itu pun duduk, membuka satu-persatu kotak berisi berlian, dan menunjukkannya kepada Wijaya.


"Tuan besar, berlian-berlian ini adalah koleksi terbaru kami. Baik kalung, anting, cincin, gelang kaki, dan gelang tangan," jelas karyawan itu.


Camilla terus memandang ke sebuah kalung berbentuk liontin berwarna merah hati.


"Wah, cantik kali kalung ini," puji Camilla bergumam.


Wijaya menyadari hal itu langsung paham. Ia hanya tersenyum, lalu mengangguk.


"Aku pilih yang ini," tunjuk Wijaya ke gelang tangan.


"Baik tuan, saya akan mengemas barang pilihan Anda," ucap karyawan sembari menutup satu-persatu kotak berlian, lalu beranjak dari duduknya.


"Aku ikut!" ucap Wijaya tiba-tiba.


"Oh, silahkan tuan," sambut karyawan sopan.


"Kamu boleh tunggu aku di mobil. Aku mau membereskan pesananku dulu," Wijaya memberi perintah.


"Hem!" angguk Camilla.

__ADS_1


Wijaya beranjak pergi mengikuti langkah karyawan itu. Camilla juga begitu, ia beranjak dari duduknya, melangkah keluar dari toko, menunggu Wijaya di dalam mobil.


10 menit kemudian, Wijaya keluar dari dalam toko Berlian dengan tangannya menjinjing 2 tas kecil belanjaan.


"Kamu lapar?" tanya Wijaya setelah masuk ke dalam mobil, memasang seatbelt miliknya.


"Iya lah lapar, sudah dari pagi aku menemani kau Om!" ketus Camilla, wajahnya terlihat kesal.


Wijaya tiba-tiba mendekat, mengalungkan sebuah kalung berlian berbentuk liontin berwarna merah hati yang di sukai Camilla.


Camilla mendapat perlakuan spontan, terdiam dengan wajah kakunya. 5 menit ia terdiam dalam kebingungan, Camilla mulai tersadar, dan langsung memekik.


"Hei, hei! apa-apaan ini. Kenapa kau mengalungkan kalung ini di leherku?!"


"Hadiah dariku!" sahut Wijaya singkat.


"Aku nggak butuh," Camilla ingin melepaskan kalung itu di jenjang lehernya. Namun, Wijaya menahan tangan Camilla.


"Jika kau melepaskannya, maka aku akan sangat marah besar kepadamu. Aku memberikan itu tulus, anggap saja sebagai kado ulang tahun dariku untukmu," Wijaya mengancam.


"Tapi, aku.....aku..."


"Aku, aku apa?"


"Tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Sudah jangan di pikirkan. Mari kita makan," putus Wijaya.


Wijaya menghidupkan mesin mobilnya, melajukan mobilnya meninggalkan parkiran, menuju restauran terdekat.


30 menit kemudian, mobil Wijaya sudah sampai di sebuah parkiran tak jauh dari toko Berlian.


Camilla turun terlebih dahulu, lalu di susul oleh Wijaya.


"Mari masuk," ajak Wijaya sopan.


Camilla mengikuti langkah Wijaya sudah terlebih dahulu jalan di depannya. Wijaya juga sudah memilih tempat duduk di bagian sudut, agar lebih nyaman.


Waiters datang, memberikan menu makanan. Setelah memesan makanan, waiters pergi.


"Kamu pernah menjalin hubungan dengan orang lain?" tanya Wijaya tiba-tiba.


"Maksudnya?"


"Kamu pernah berpacaran?"

__ADS_1


"Ha ha...pacaran. Nggak pernah, boro-boro pacaran. Aku berubah cantik seperti ini aja karena aku kerja dengan kau, Om!" sahut Camilla di sela tawanya.


"Kalau ada seseorang yang menyukai kamu. Gimana?" tanya Wijaya mulai serius.


"Nggak ada orang yang tulus menyukaiku. Beberapa lelaki yang melihatku, karena mereka ingin melampiaskan nafsunya aja. Kau lihatlah kemolekan tubuhku ini Om. Jujur aja, kau pasti juga begitu, 'kan?"


Wijaya terdiam, ia mengepal tangannya ia sembunyikan di bawah kolong meja.


'Jujur saja, aku mulai menyukai kamu. Kehebohan dan kebodohan yang kau buat selama tinggal dan bekerja di rumahku, membuatku menyadari ternyata aku mulai jatuh cinta kepada mu, Camilla,' batin Wijaya.


"Om, om duda!" Camilla melambaikan tangannya, membuyarkan lamunan Wijaya.


3 Waiters datang, membawa pesanan makanan dan minuman milik Camilla dan Wijaya.


"Selamat menikmati, kalau ada yang kurang boleh panggil kami," ucap waiters setelah meletakkan minuman dan makanan di atas meja.


"Tidak, kalian bisa pergi!" tegas Wijaya datar.


"Baik, kami permisi!" sahut 3 waiters meninggalkan meja Camilla dan Wijaya.


Percakapan Wijaya dan Camilla selesai begitu saja. Wijaya dan Camilla mulai menikmati santap makanan mereka.


30 menit sudah berlalu, Camilla dan Wijaya sudah selesai makan. Sejenak mereka terdiam, sesekali saling pandang. Bingung mau membahas apa


"A-aku permisi ke toilet dulu," pamit Camilla sedikit gugup.


"Iya, kamu tahu di mana tempatnya, 'kan?"


"Tahu!" angguk Camilla.


Camilla beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju toilet, sambil bergumam.


"Saking gugupnya dan nggak tahu harus ngomong apa. Aku sampek ingin terkencing."


Langkah Camilla terhenti, saat sorot matanya tak sengaja mengarah ke sebuah ruangan private terhubung dengan koridor toilet. Camilla melihat Lafi dan Mayang keluar dari ruangan private. Camilla juga melihat Lafi menciumi Mayang.


"Ah...yang ngelindurnya aku!" gumam Camilla, mengucek kedua kelopak matanya, lalu memperjelas penglihatannya.


Mengetahui apa yang di lihatnya nyata, Camilla buru-buru bersembunyi, tangannya mengambil ponsel berada di tas tangan miliknya.


"Aku sudah muak melihat maksiat kalian berdua," gumam Camilla sembari mengambil Vidio dan beberapa foto Mayang dan Lafi sedang bermesraan.


Sudah puas mendapatkan beberapa bukti foto dan vidio, Camilla melenggang santai menuju toilet.

__ADS_1


__ADS_2