BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 27. POV LAFI


__ADS_3

Tak terasa, Camilla ternyata tertidur pulas sampai pagi di dalam kamar Andy. Karena tak kunjung bangun. Wijaya menyelinap masuk ke kamar Andy, membuka kain gorden selebar mungkin. Membiarkan cahaya matahari pagi menyentuh wajah Andy dan Camilla.


Setelah membiarkan cahaya matahari menyentuh kulit wajah Andy dan Camilla. Wijaya memutuskan untuk berdiri di samping ranjang, berkacak pinggang.


Camilla dan Andy tak juga bangun dari tidurnya, meski sengatan matahari pagi sudah menyentuh wajah mereka.


"Banguuunnn!" teriak Wijaya sekuat mungkin.


Camilla dan Andy spontan duduk, kedua tangan masing-masing mengelus kuping.


"Papa kenapa teriak-teriak?"


"Kau kira aku tuli. Bisa nggak kau bangunkan dengan cara yang sopan?!" omel Camilla, menatap kesal wajah datar Wijaya.


"Sudah lama aku membiarkan cahaya matahari itu menyentuh kulit wajah kalian. Tapi kalian berdua tidak kunjung bangun juga! sudah jam berapa ini Andy....Camilla!" Wijaya balik mengomeli Andy dan Camilla sembari menunjuk ke jam dinding kamar.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul 07:00. Andy langsung lompat dari ranjang, kedua kakinya berlari ke kamar mandi, untuk bersiap berangkat ke sekolah.


Camilla sendiri kembali merebahkan tubuhnya. Namun, Wijaya menahan lengan Camilla, sehingga tubuh Camilla setengah mengambang.


"Mau ngapain kamu?" tanya Wijaya dingin.


"Tidurlah, mau ngapain lagi aku!"


"Apa kau tidak bekerja?"


"Kau tengok pergelangan kakiku, bagaimana aku bisa bekerja. Jalan aja susah!" ketus Camilla lebih galak, tangannya menepis genggam tangan Wijaya. Membuat tubuhnya terjatuh di ranjang.


"Siapa bilang kau tidak bisa bekerja dengan alasan pergelangan kakimu sakit. Percuma aku menghabiskan uang 20 juta untuk membayar gajimu. Tapi kerjaan mu hanya tidur, dan mengomel saja. Sekarang aku akan membawamu ke kamar. Kau harus mandi, bersiap untuk menemaniku, karena kau baby sister ku!" tegas Wijaya.


Tanpa meminta izin, Wijaya menggendong Camilla. Membawa Camilla keluar dari dalam kamar Andy.


"Penipu kau, Om. Penipu! bukannya kau bilang kalau gaji ku di potong untuk hutang-hutang ku? Aku sedang sakit, biarkan aku tidur ....."


Ocehan, penolakan, dan pemberontakan saat Wijaya menggendongnya, membawa menuju ke kamar terhenti, saat melihat Varo, bersama dengan Lafi, di koridor menuju kamar Camilla dan Wijaya.

__ADS_1


"Kenapa dengan gadis imut itu?" tanya Lafi.


"Bukan urusanmu!" ketus Camilla.


"Dek Camilla kenapa?" tanya Varo lembut.


"Ini bang, lelaki duda satu ini memaksa ku untuk bekerja. Lihat saja, ia bahkan ingin memandikan aku. Bang, tolong aku. Pasti otak lelaki duda satu ini sedang memikirkan hal mesum. Masa iya, dia mau memandikan aku dengan kedua tangannya," rengek Camilla berlebihan.


'Pintar berbohong juga gadis ini,' batin Wijaya.


"Varo, tugas kamu sekarang urus Andy. Aku sudah menyiapkan bekas sarapan untuk di mobil, dan juga makan siangnya di atas meja. Sekarang cepatlah turun, bantu Andy untuk bersiap sekolah," perintah Wijaya tak bisa di bantah.


"Baik, saya permisi," pandangan Varo ke wajah sendu di buat-buat Camilla, "Maaf dek, saya yakin tuan Wijaya tidak seperti itu. Saya pergi dulu," lanjut Varo berpamitan.


Camilla hanya bisa diam dengan tangan terulur, berharap Varo membawanya.


Lafi melirik ke Wijaya, "Kenapa abang menggendong gadis itu?" kedua tangan Lafi terulur, "Sini, biar aku saja yang membawanya masuk," pinta Lafi, menyeringai jahat.


Camilla mengeratkan pelukannya, 'Iiih...kenapa dia tersenyum seperti itu? ngeri kali aku lihatnya. Pasti dia sedang memikirkan hal mesum denganku. Emang dia pikir aku, wanita ulat bulu itu! bisa di mantab-mantab pin dengan mudahnya,' batin Camilla.


"Sebaiknya kamu pergi kerja saja. Camilla biar aku yang mengurusnya," tolak Wijaya sopan.


"Aku hari ini sedang tidak ada pekerjaan bang. Bukannya abang sedang sibuk? jadi, biar aku saja yang mengurus Camilla."


Wijaya balik badan, "Sebaiknya kamu mengurus yang lain. Camilla biar aku yang mengurusnya," tegas Wijaya lembut, sembari melangkahkan kedua kakinya menuju kamar Camilla.


Lafi mengerutkan dahinya, menatap kepergian Wijaya, menggendong Camilla.


"Bagaimana jika Mayang tahu kalau abang menggendong Camilla, dan membawanya masuk ke dalam kamarnya?" ancam Lafi, menghentikan langkah kaki Wijaya.


Wijaya mengeratkan genggaman tangannya, wajahnya menoleh ke samping, "Selagi aku tidak berselingkuh dan melakukan hal kotor. Aku yakin Mayang akan memaklumi nya!"


Wijaya pun kembali melangkah menuju kamar Camilla. Meninggalkan Lafi, masih berdiri dengan wajah kesal.


'Sial! kenapa Wijaya selalu beruntung dalam hal apa pun. Sedangkan aku hanya mendapatkan sisa dari miliknya. Aku sangat membenci kau, Wijaya. Awas saja. Semua kebahagiaan yang kau miliki saat ini harus bisa aku nikmati juga!' batin Lafi dengan pikiran jahatnya.

__ADS_1


Lafi mulai melangkahkan kedua kakinya, kedua tangan di genggam erat, kenangan masa kecilnya mulai terlintas.


.


.


#Pov Kenangan Masa Kecil Lafi dan Wijaya


Di meja makan, dan kursi cukup besar dan mewah, duduk 2 orang anak laki-laki berusia tanggung. Laki-laki itu Lafi dan Wijaya.


Seorang pria dengan rambut putih berdiri di samping kursi Lafi. Pria itu adalah almarhum Papa.


"Kenapa nilai kamu selalu buruk dan jelek. Kau juga selalu bolos sekolah. Papa juga sering mendapatkan informasi tentang kau yang sering pergi ke salah satu bar, di setiap malamnya. Bibi juga menemukan barang haram di bawah kolong tempat tidur kamu. Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau tidak bisa menjadi anak yang baik seperti abang mu, Wijaya!" Papa memerahi habis-habisan dengan nada tinggi.


Lafi hanya diam, menggenggam erat pinggiran mejanya.


Plak!


"Jawab Papa. Apa mau kau sekarang?"


"Aku ingin keluar dari rumah ini. Aku sudah merasa cukup muak dengan aturan Papa," Lafi melirik ke Wijaya, duduk dengan kepala tertunduk, "Aku juga tidak suka melihat saudara seperti abang Wijaya!"


"Oh, jadi kau lebih memilih ingin hidup di luar, daripada harus memperbaiki diri dan mencontoh hal baik yang di miliki Wijaya?"


"Aku sudah lama cukup rusak. Dan aku bukanlah abang Wijaya, pria yang baik dan penurut sehingga kalian senang dengannya," Lafi menjeda ucapannya, perlahan ia bangkit dari duduknya, "Aku memang seorang pemakai, Pa. Semua itu aku lakukan karena aku ingin mencari kebahagiaan ku sendiri, tanpa harus di atur oleh Papa. Aku pergi!" lanjut Lafi mulai melangkah pergi.


Wijaya melihat adiknya pergi, beranjak dari duduknya, "Pa...Lafi pergi. Kenapa tidak Papa tahan?"


"Aku sudah muak mendidik anak yang satu itu. Entah apa maunya. Sifatnya sangat mirip dengan mendiang ibu kalian," hela Papa sembari balik badan.


Wijaya mengejar Lafi, membujuk Lafi untuk tidak meninggalkan rumah mereka. Setelah bujukan Wijaya, Lafi akhirnya mau tinggal bersama dengan Wijaya, sudah mapan, dan memiliki rumah sendiri.


Namun, sifat iri dan dengki Lafi kembali muncul saat melihat Wijaya selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Hal itu membuat Lafi geram, ia pun berniat merebut apa pun dimiliki oleh Wijaya.


#POV SELESAI

__ADS_1


__ADS_2