BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 36. Kepergok


__ADS_3

Selesai sudah Lafi dan Mayang bercengkrama mesra di koridor ruang private, kini mereka perlahan meninggalkan koridor sambil bergandengan tangan.


Camilla baru keluar dari toilet, tak sengaja berpapasan dengan Lafi dan Mayang.


Mayang terkejut, ia langsung melepaskan gandengan tangannya, lalu berdiri berjarak 3 langkah dari Lafi.


"Ka-kamu kenapa bisa di sini?" tanya Mayang gugup.


"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama," sahut Camilla santai.


"Ka-kami baru saja makan," Mayang mengarahkan pandangannya ke Lafi, "Bukan begitu Lafi," lanjut Mayang memberi kode.


"Iya, dek Camilla kenapa bisa sampai di sini?" Lafi mengiyakan dan bertanya secara halus.


"Abang juga kenapa bisa di sini?" Camilla balik bertanya.


"Hanya kebetulan saja," hela Lafi, bingung mau bertanya apa lagi.


"Sama, aku juga!"


Setelah itu Camilla kembali melangkah. Namun, Mayang buru-buru menahan lengan Camilla dari belakang.


"Tunggu! apa kamu ke sini dengan Wijaya?" tanya Mayang mulai cemas.


"Enggak, aku ke sini sama tubangku!"


"Aku serius. Kamu ke sini sama Wijaya?" Mayang kembali bertanya dengan lembut.


"Aku rasa wanita seperti kau tidak pantas mendapatkan jawaban yang lebih serius. Kalau kau mau tahu aku pergi sama siapa, lihat saja keluar. Satu lagi, jangan pernah kau sentuh kulitku dengan tangan kotor mu! Mandi wajib dulu kau, baru bisa menyentuh kulitku yang suci ini!" teriak Camilla di kalimat terakhirnya.


Mayang tersentak, ia langsung menarik tangannya.


"Kasar sekali ucapanmu," gumam Mayang di dengar oleh Camilla.


"Daripada kamu, dasar ulat bulu!" sahut Camilla geram.


Camilla kembali melangkah, meninggalkan Lafi dan Mayang.


"Lafi, gimana ini?" Mayang terlihat panik.


Lafi menggenggam tangan Mayang, "Tenang aja. Abang ku itu terlalu baik, ia tak mungkin memiliki prasangka buruk kepada kita," ucap Lafi menenangkan Mayang.


"Apa sebaiknya kita pergi lewat pintu samping saja?"

__ADS_1


Lafi mengecup kening Mayang, lalu menggenggam tangannya.


"Mari kita pergi," ajak Lafi lembut.


Mayang pun menurut, mereka jalan keluar. Sesampainya di tempat meja makan umum, Lafi dan Mayang tidak melihat Camilla dan Wijaya di meja.


Merasa senang karena Camilla dan Wijaya sudah tidak ada. Mayang kembali bergelayut manja dengan Lafi. Lafi tak menolaknya. Mayang dan Lafi berjalan santai keluar dari restauran.


Sesampainya di luar parkiran restauran, Mayang dan Lafi terkejut, melihat Wijaya dan Camilla berdiri di samping mobil milik Mayang.


'Apa wanita sumo ini sudah memberitahu Wijaya. Gawat! sebentar lagi kami akan bertunangan. Gimana kalau Wijaya membatalkan pertunangan kami. Bisa gagal aku menjadi istri pengusaha,' batin Mayang ketakutan.


Suasana menjadi tegang dan canggung. Lafi penasaran apakah Camilla sudah memberitahu Wijaya. Lafi perlahan mendekati Wijaya.


"Abang di sini juga?" tanya Lafi berbasa-basi.


"Hem!" dengus Wijaya.


"Kami juga...."


"Sudah tahu!" sela Wijaya dingin. Pertanyaan penuh tanda tanya, membaut Mayang dan Lafi semakin gugup.


Sorot mata datar Wijaya mengarah pada Mayang, masih berdiri dengan wajah pucat saking gugupnya.


Mayang dan Lafi terkejut mendengar pertanyaan Wijaya. Sorot mata Mayang dan Lafi, langsung tertuju pada Camilla.


'Apa wanita sumo ini tidak memberitahu Wijaya,' batin Camilla.


'Selain memiliki bentuk tubuh yang bagus, wanita ini juga memiliki kepribadian yang menarik. Membuat gairah ku kembali menggelegar. Kapan aku bisa mencicipinya? Ah ....sepertinya aku punya ide,' batin Lafi mulai merencanakan hal buruk untuk Camilla.


Sedangkan di dalam hati Camilla, 'Pasti kalian sudah kembut. Kalian pikir aku mulut ember. Tidak sayang, permainan aku buat soal adu mengadu, dan cara balas dendam aku dengan kalian berdua berbeda. Kita lihat saja nanti. haha ha ha....senang kali ah, kalau buat rencana jahat untuk orang lain. Sudah macam setan aja aku!' batin Camilla.


"Kalung yang kamu kenakan sungguh indah," puji Mayang sudah berdiri di depan Camilla.


Mayang sengaja melembutkan dan sopan kepada Camilla, karena tidak ingin Camilla membocorkan perbuatannya kepada Wijaya.


"Tentu saja indah, namanya yang beli tubang aku. Kau nggak punya tubang, 'kan?" Camilla sedikit menyombongkan dirinya, dan memanasi Mayang.


"Eh...itu. A-apa kamu lupa, aku sudah punya Wijaya?" sahut Mayang gugup.


"Oh...." angguk Camilla sembari balik badan, "Kalau gitu aku tunggu di mobil ya, Om duda!" lanjut Camilla mulai malas berbicara dengan Mayang.


"Iya," sahut Wijaya singkat.

__ADS_1


Camilla pun melangkah mendekati mobil milik Wijaya, tak jauh terparkir dari mobil Mayang. Sesampainya di mobil, Camilla terus menatap Mayang dan Wijaya, kini terlihat mendekati mobil Wijaya.


"Cih, masih punya muka untuk tersenyum kepada Om duda," gumam Camilla geram melihat Mayang terus melemparkan senyumannya kepada Wijaya.


Pintu mobil penumpang bagian depan di buka Wijaya.


"Apa kamu bisa pindah..."


"Tidak bisa!" putus Camilla langsung sembari menutup pintu mobilnya.


Bam!


Pintu mobil di tutup kuat.


"Sayang, biar aku saja yang duduk di belakang," ucap Mayang seolah mengalah pada Camilla.


Mayang tahu kalau Camilla memiliki kartu as perbuatannya dengan Lafi. Jadi untuk sementara ini Mayang bersikap lembut dan mengalah kepada Camilla, agar perbuatannya hari ini tidak di bocorkan oleh Camilla.


"Kamu yakin?" tanya Wijaya tidak enak.


"Yakin sayang," sahut Mayang santai, menunjukkan wajah tidak keberatan.


Wijaya membuka pintu mobil penumpang belakang. Mayang pun masuk, lalu Wijaya masuk ke dalam mobil.


Wijaya terus melirik ke Mayang duduk di kursi penumpang belakang, wajahnya terlihat tidak enakan melihat calon tunangannya duduk di kursi penumpang belakang.


Camilla sendiri terus memperhatikan Wijaya dari ujung ekor matanya.


'Dasar duda bodoh. Di mana otaknya hingga dia tidak menyadari perbuatan adik dan calon tunangannya ini. Iiih....geram kali aku, iya. Pingin aja aku bongkar kebusukan wanita ulat bulu dan adiknya ini. Tapi aku sadar. Mana mungkin Om duda ini percaya samaku. Udahlah, kok pusing pula aku memikirkan kebodohan Om duda ini. Mampus lah dia situ, yang penting aku udah ada bukti. Besok-besok kalau aku lihat dia mati karena kebodohan cintanya, barulah aku datang seperti seorang pahlawan. Kali ini aku santai-santai dulu,' batin Camilla.


"Kamu kenapa tidak memakai seatbelt?" tanya Wijaya tiba-tiba, sembari mendekatkan tubuhnya dan memasangkan seatbelt milik Camilla.


Degser!


Aliran darah Camilla mendadak mengalir dengan cepat.


Aroma tubuh, wajah Wijaya sangat dekat dengan wajahnya, serta hembusan nafas Wijaya menyentuh kulit wajah Camilla. Membuat rasa aneh mulai muncul.


'Alamak, jantungku. Kenapa kau terus berdebar seperti ini? Ayo cepat diam kau. Kau sengaja ya, ingin di dengar oleh Om duda ini. Ayo cepat, diam kau!' batin Camilla menyuruh debaran jantungnya untuk diam, tangannya menggenggam erat baju bagian depannya.


Ternyata benar, bukan Camilla saja yang mendengar debaran jantungnya sendiri. Wijaya juga. Bibir Wijaya mendekat ke daun telinga Camilla.


"Jangan di pendam, keluarkan saja jika kau suka," bisik Wijaya lembut. Wajah Camilla memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


Mayang sendiri, hanya bisa diam, dan sibuk dengan ponsel miliknya, mengirim pesan singkat kepada Lafi.


__ADS_2