
Wanita sedang berdiri di teras Perusahaan adalah Mayang. Melihat Mayang berdiri, melempar senyum ke Wijaya masih berada di dalam mobil. Wijaya buru-buru turun dari mobilnya, melangkah besar mendekati Mayang. Sementara Camilla, masih bersama dengan Varo di dalam mobil. Pandangan mereka mengarah ke Wijaya dan Mayang sedang rangkulan, berjalan masuk ke dalam Perusahaan.
Camilla mengeluarkan kepalanya dari jendela, pandangannya menengadah ke langit cerah, tanpa mendung menyelimuti.
“Cerahnya di luar. Saking cerahnya ketekku sampek basah. Tapi, kenapa wanita ulat bulu itu memakai syal?” gumam Camilla di dengar oleh Varo.
“Mungkin lehernya masuk angin. Adek nggak turun?”
“Malas ah, nggak suka aku lihat wanita ulat bulu itu,” Camilla kembali duduknya ke kursinya, dan melanjut ucapannya, “Kalau aku dekat-dekat dia. Bawaan nya aku pingin marah….aja! entahlah, yang aku rasa mungkin karena aku terlalu jijik melihatnya yang sok manis itu.”
“Bukannya nona Mayang memang manis. Kalau tidak manis, mana mau tuan Wijaya berpacaran padanya,” sahut Varo jujur.
“Yang butanya kurasa mata lelaki ini. Apa-apa dinilai dari penampilan, besok-besok sering kelen periksa mata ke Dokter. Kasihan mata sehat kelen di butakan oleh sisi luar saja!”
“Adek mau turun?” tanya Varo tak menanggapi omelan Camilla.
“Iya, nggak usah bolak-balek bertanya abang. Untung cakep, kalau jelek, benar-benar hilang semangat pagiku di buat abang!”
Camilla turun dari mobil, melangkah masuk ke Perusahaan. Varo sendiri, melajukan mobilnya, memarkirkan mobil di tempat parkiran Perusahaan.
Camilla terus berjalan masuk. Sesampainya di meja resepsionis, langkah Camilla berhenti, dan menyapa Gabi, “Pagi, Kak Gabi.”
“Pagi Camilla,” balas Gabi menyapa ramah. Tangan Gabi melambai, “Hei, hei, apa kamu tahu siapa wanita yang tadi, yang bersama dengan tuan Wijaya?”
“Tentu saja aku tahu. Emang kenapa?”
“Oh, aku pikir kamu tidak tahu. Dengar-dengar tuan mau bertunangan dengan wanita itu. Kapan itu kira-kira?” tanya Gabi mulai kepo.
“Nggak tahu lah aku, Kak. Aku bukan Bapak, Mamak, saudara-saudari dari mereka berdua. Tugasku hanya bekerja saja,” sahut Camilla singkat, sepasang bola matanya mendadak liar, menatap sekeliling ruangan. Binar mata tiba-tiba terpancar, saat melihat Radim, “Pigi dulu aku ya, Kak. Soalnya ada seseorang yang mau aku sapa,” sambung Camilla berpamitan ke Gabi.
Camilla berlari kecil, mendekati Radim sedang jalan menuju lift.
“Abang Radim, bang!” panggil Camilla dengan suara lembut, namun tomboy.
Radim menghentikan langkahnya di depan pintu lift, menolah ke Camilla sudah berdiri di samping kanannya.
“Eh, ada gadis imut. Ada apa dek?”
__ADS_1
“Nggak ada, aku hanya ingin menyapa abang aja.”
“Oh, saya kira ada hal yang lain ingin adek sampaikan,” ucap Radim sembari menekan tombol lift. Pintu terbuka, Radim melangkah masuk.
“Emang kalau kita menyapa harus ada pembahasan ya, bang?” tanya Camilla, kakinya ikut melangkah masuk ke dalam lift.
“Mmm, nggak juga sih. Adek kenapa sendiri, Presdir mana?”
“Biasalah, Om duda itu, kalau sudah bersama dengan wanita ulat bulu. Pasti dia melupakan siapa saja yang ada di dekatnya. Yang aku rasa kenak peletnya si Wijaya itu, bang,” curhat Camilla, mulai menuduh.
Ting
Pintu lift terbuka. Camilla dan Radim melangkah keluar bersamaan.
“Dek, sebenarnya adek itu kerja apa? Kok saya perhatikan sudah 2 kali sama ini, adek terus ikut ke kantor dengan Presdir?” tanya Radim penasaran.
Sejenak Camilla terdiam, ‘Apa abang ganteng ini kepo? Kalau aku bilang baby sister Om, duda, itu. Aku nanti di pecat. Aah…sudahlah, aku bilang aja aku pembantunya, oh…atau baby sister nya Andy,’ gerutu Camilla dalam hati.
“Dek,” panggil Radim kembali, mengejutkan Camilla.
“Eh…itu…”
Camilla dan Radim serentak melirik ke belakang.
“Pagi Presdir, nona Mayang,” sapa Radim santai, setelah berbalik badan.
“Pagi juga,” sahut Wijaya singkat.
“Saya permisi dulu Presdir, dan nona,” pamit Radim setelah melihat raut wajah suram Wijaya.
Radim tidak ingin terlalu banyak ikut campur masalah Camilla dan Wijaya, kedua kakinya melangkah cepat menuju ruang kerjanya.
Setelah kepergian Radim, Camilla menatap Wijaya, dan Mayang merangkul manja di lengan Wijaya.
“Sayang, kenapa ada wanita sumo di Perusahaan, kamu?” tanya Mayang dengan suara manja di buat-buat.
“Tapi dia bekerja sesuai permintaan Andy, sayang,” sahut Wijaya lembut.
__ADS_1
Mayang perlahan melepaskan rangkulan tangannya dari lengan Wijaya, berjalan mendekati Camilla, dan berhenti di hadapannya.
“Karena Andy, calon anak sambung ku yang meminta kamu untuk bekerja menjaga calon Suami ku. Aku tidak keberatan. Tapi, kalau kau sampai macam-macam ingin merebut Wijaya, dariku, maka aku akan membuat kau menghilang dari muka bumi ini!” ancam Mayang, menatap lekat wajah datar Camilla, seolah tak takut.
“Oh!”
Camilla hanya menjawab singkat dengan wajah datarnya, detik selanjutnya ia berbalik, membawa kedua kakinya melangkah menuju ruang kerja milik Wijaya.
Mayang melihat sikap cuek Camilla, menjadi kesal, kedua kakinya melangkah cepat, lalu menarik rambut panjang Camilla sedang tergerai dari belakang.
Wijaya melihat aksi brutal Mayang, buru-buru berlari mendekati Camilla dan Mayang. Ingin melerai, namun Mayang malah menyikut perut Wijaya.
Bug!
Wijaya spontan menunduk, memegang perutnya terkena sikut tajam dari tangan Mayang.
“Berani sekali kau mengabaikan aku!” teriak Mayang sembari menarik rambut panjang pelangi Camilla.
Camilla tidak mengeluh sakit atau semacamnya, ia malah berbalik, sepasang matanya penasaran dengan syal ungu sedari tadi melingkar di leher Mayang. Camilla pun menarik syal itu hingga terlepas dari leher Mayang.
Bola mata Camilla dan Wijaya membulat sempurna, melihat begitu banyak jejak merah di jenjang leher Mayang.
Camilla penasaran mendekatkan dirinya, tangannya menyentuh jejak merah itu.
“Keren, kerokan di mana kau ini? aku juga mau di kerok seperti itu!” tanya Camilla dengan polosnya. Menganggap jejak merah itu adalah sebuah kerokan.
“Oh…i-ini hasil karya. Bukannya waktu itu kamu tahu, kalau aku di telepon Manager untuk pergi pemotretan. Jadi, ada satu tema yang mengharuskan aku melakukan hal ini di jenjang leherku,” sahut Mayang mendadak lembut.
Wijaya sangat mengerti itu jejak apa, hampir meluapkan amarahnya kepada Mayang. Namun, setelah mendengar kebohongan terdengar nyata. Wijaya kembali mencoba berpikir positif.
Mayang sendiri terus memasang wajah senyum paksa di balik wajah gugupnya, hingga wajah itu terlihat pucat dan mengalir bulir-bulir air asin di wajahnya.
‘Ini semua gara-gara ulah Lafi. Andai saja ia tidak terlalu buas malam itu, pasti bekas ini tidak akan pernah muncul di permukaan kulitku,’ batin Mayang.
Beberapa hari lalu, saat Mayang berpamitan pergi karena di telepon oleh sang Manager karena ada pemotretan di luar kota. Sebenarnya Mayang berbohong. Mayang hanya kesal saja dengan Wijaya karena mengajak Camilla pergi bersama dengan mereka. Kekesalan Mayang bertambah saat Wijaya tak membela dirinya waktu itu.
Sebagai bahan pelampiasan amarahnya, Mayang menelepon Lafi yang kebetulan saat itu baru saja sampai di luar kota. Lafi pun menyuruh Mayang untuk datang ke sana, menemaninya karena vila bokingan nya cukup luas untuk satu orang.
__ADS_1
Lafi dan Mayang pun menghabiskan malam-malam mereka dengan bergelut di atas ranjang. Lafi dan Mayang bermain gila di belakang Wijaya.