BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 54. Rencana Lafi dan Mayang


__ADS_3

Keesokan harinya. Camilla, Wijaya, Andy, dan Varo, berada di butik gaun pernikahan. Andy, Wijaya, dan berada di ruang tunggu, menunggu Camilla sedang mencoba gaun pengantin.


Andy memandang wajah Wijaya, "Papa, Papa, apa dulu saat Papa dan almarhum Mama menikah, kalian berdua melakukan hal seperti ini juga?" tanya Andy.


"Iya," sahut Wijaya singkat, senyum kebahagiaan merekah di wajah nya.


Tak lama terdengar suara Lafi.


"Aku datang," ucap Lafi tak semangat.


Memang Wijaya masih marah dengan Lafi, atas perbuatan tercelanya. Mengingat Lafi adalah saudara satu-satunya, Wijaya mencoba menyingkirkan amarahnya, dan fokus ke hari pernikahannya dengan Camilla.


Tirai pintu ruang ganti terbuka, terlihat seorang wanita memakai baju gaun putih keluar.



Saking kagum dan terpanah melihat kecantikan tak biasa terpancar dari Camilla. Andy dan Wijaya spontan berdiri, Varo, dan Lafi, tubuhnya menegak, bola matanya memandang penuh takjub.


Andy berlari kecil, berdiri di hadapan Camilla.


"Kakak sungguh cantik. Kecantikan kakak mengalahkan bidadari," Andy mengambil tangan Camilla, "Kalau melihat kakak cantik seperti ini, menikahlah denganku. Kakak tidak usah menikah dengan Papa," lanjut Andy dengan pikiran dewasanya.


Wijaya melirik tajam ke putranya mulai tahu isyarat gombal. Lafi dan Varo tertawa dalam bibir terbungkam.


Camilla tertawa geli, ia menundukkan sedikit tubuhnya, mengelus puncak kepala Andy.


"Ha ha...kau pikir aku mau hidup dengan bocah yang tidak memiliki uang? jatuh aja kau masih menangis, bagaimana kau bisa menjadi suamiku!" kekeh Camilla. Andy cemberut.


"Cantik sekali dek Camilla," Varo bergumam.


'Ck, cantik kali sih preman wanita ini. Awas saja, aku culik kau nanti dek. Nggak rela aku melihat abang Wijaya bahagia dengan sangat mudah di saat aku belum mendapatkan kebahagiaan,' batin Lafi dengan rencana jahatnya.


30 menit sudah selesai mencari baju untuk persiapan pernikahan. Varo, Wijaya, Andy, dan Camilla, memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Lafi terus melajukan sepeda motornya menuju apartemen miliknya. Sesampainya di dalam apartemen, Lafi mengobrak-abrik seluruh barang miliknya, meluapkan kekesalannya.


"Aaaakh! sampai kapan pun tidak akan pernah ku biarkan abang bahagia. Tidak akan aku biarkan!" teriak Lafi, ia terduduk di sudut meja tv.


Sementara itu di rumah mewah milik Mayang, di dalam kamarnya. 2 insan manusia sedang beradu peran, bulir air asin mengalir, membasahi kedua tubuh polos mereka.


2 insan itu adalah Mayang, dan seorang lelaki berperawakan seram. Sebelah mata terdapat bekas sayatan pisau, seluruh tubuh di penuhi tato.


Setelah puas melakukan kegiatan panas itu, Mayang terbaring di ranjang, sedangkan pria itu mengambil pakaiannya berserakan di atas lantai, dan memakainya.

__ADS_1


"Kau memang luar biasa," puji Mayang kepada pria bertato itu.


"Goyangan kau juga sungguh hebat. Tapi sayang, milikmu tak senikmat dulu!" ucap pria bertato itu jujur.


Mayang mengepal kedua tangannya, tak senang mendengar kejujuran dari pria bertato itu.


'Kurang ajar, pantas saja Lafi belakangan ini jarang mau menerima permintaan ku. Ck, kalau saja aku tidak membutuhkan bantuannya, mungkin aku malas melayani pria ini,' kesal Mayang dalam hati.


Pria bertato itu duduk di pinggiran ranjang, menolehkan wajah seramnya.


"Jadi, tugas apa yang ingin aku kerjakan?" tanya pria itu dengan suara besarnya.


Mayang memberikan selembar foto, gambar seorang wanita sedang jalan di atas trotoar jalan. Wanita itu adalah Camilla.


"Culik wanita ini, kalau bisa lenyapkan dia sebelum pernikahannya berlangsung," ucap Mayang memberi perintah.


"Haha...gadis yang cantik. Kalau gadis seperti ini rasanya sayang untuk di lenyapkan," pria bertato itu berdiri, "Sisanya kau tak perlu membayar ku lagi, karena aku sudah mendapatkan bayaran atas hal ini," lanjut pria itu.


"Apa maksudmu?" tanya Mayang mengernyitkan dahinya.


"Itu bukan urusanmu!" tegas pria bertato itu, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Mayang.


"Akkh! kenapa semua orang menyukai wanita sumo itu!" teriak Mayang kesal, melemparkan semua benda berada di sekitarnya.


.


.


Andy meletakkan kepalanya di atas paha Camilla, menengadahkan pandangannya ke atas, menatap wajah Camilla sedang membaca buku dongeng.


"Kak...."


"Iya," sahut Camilla menutup buku dongengnya.


Andy duduk, menatap wajah Camilla sangat dekat, lalu memeluknya penuh cinta. Camilla terkejut mendapat perlakuan spontan dari Andy.


"Terimakasih kakak sudah mau menikah dengan Papa."


"Lebay kali kau. Bolak-balik ku dengar kau bilang terimakasih," protes Camilla karena malu.


"Tidak hal yang bisa kau katakan selain berterima kasih. Oh ya, kak. Setelah kakak menikah dengan Papa, kakak tidak akan kabur lagi, 'kan?"


"Entahlah tergantung perlakuan Papa, kau!" sahut Camilla jujur.

__ADS_1


"Aku pastikan Papa akan selalu bersikap baik kepada kakak. Kalau Papa bersikap jahat kepada kakak, maka aku yang akan bersikap baik kepada kakak, agar kakak bisa selalu bersamaku," janji Andy serius.


"Ha ha ha...dasar bocah!" Camilla hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Andy.


Andy kembali merebahkan tubuhnya, menjadikan kedua paha Camilla sebagai bantal dan guling nya.


Walau karakternya, dan ucapannya kasar, hari Camilla masih memiliki jiwa lembut. Jari-jemari lentiknya membelai puncak kepala Andy. Andy pun tertidur lelap dalam belaian Camilla.


Pintu kamar Andy terbuka, Wijaya masuk ke dalam, duduk di samping Camilla.


"Anak ini memang sangat nakal," ucap Wijaya pelan, sorot mata mengarah pada Andy tertidur lelap di atas pangkuan Camilla.


"Mirip bapaknya!" sambung Camilla mengejek.


"Kamu!"


Wijaya menghentikan ucapannya saat melihat kelopak mata Andy bergerak.


"Sekali lagi ku dengar mulut kau bising di sini, ku kasih kepalan ini mulutmu, ya, Om duda!" ancam Camilla pelan, menunjukkan kepalan bogem. Wijaya hanya nyengir.


10 menit berlalu dalam diam, Camilla perlahan membenarkan posisi tidur Andy. Lalu beranjak turun dari ranjang, berdiri di samping Wijaya.


"Aku rasa wanita yang melahirkan putramu adalah wanita yang paling beruntung," gumam Camilla tanpa sadar.


Wijaya hanya mengulas senyuman tipis.


"Oh...rasanya ketek aku bauk sekali. Aku mandi dulu lah, ya!"


Wijaya menggenggam tangan Camilla, "Mari aku bantu kamu mandi," ajak Wijaya.


Wijaya menarik keluar Camilla dari dalam kamar Andy, menuju lantai 2.


"Lepaskan, lepaskan Om!" pinta Camilla, tangannya terus memukul genggaman tangan Wijaya, berharap bisa lepas. Tapi, Wijaya tidak melepaskan nya.


Kini Camilla dan Wijaya sudah berada di dalam kamar mandi di dalam kamar Camilla.


"Mau apa kau, Om?" tanya Camilla panik.


"Tentu saja aku ingin mandi. Aku ingin meminta tolong kepadamu, tolong gosokan daki di punggungku!" sahut Wijaya, membuka bajunya. Camilla spontan menutup kedua matanya.


"Nggak sopan kau. Cepat, cepat kau pakai lagi baju kau itu, Om!" teriak Camilla.


"Kamu, 'kan baby sister ku. Jadi kamu berhak memandikan, menggosok, dan mengurusku," Wijaya membuka kembali celananya, "Sudah buka aja, tidak ada hal ekstrim lainnya yang akan kita lakukan di sini!" lanjut Wijaya.

__ADS_1


Camilla pun percaya, ia membuka perlahan kedua matanya, perlahan pandangannya turun, terpanah pada satu titik sudah berdiri tegak seperti pemukul baseball.


__ADS_2