BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 46. Diam-diam Kabur


__ADS_3

3 hari sudah berlalu dari ulang tahun dan pergi ke kebun binatang. 4 hari lagi menuju ulang tahun Camilla, dan 4 hari lagi menuju ke pertunangan Wijaya dan Mayang.


Memang Wijaya sudah mengatakan putus kepada Mayang. Namun, Wijaya sudah memesan cincin berlian untuk pertunangan. Mayang juga masih sering datang ke rumah, meski Wijaya sering mengabaikannya.


Hari ini di ruangan pribadi Wijaya, seperti biasa. Sebagai seorang Baby sister, Camilla mengikuti dan mengawasi kemanapun Wijaya pergi.


Bosan menonton siaran tv, Camilla memutuskan untuk mengambil bangku santai kecil, dan duduk di sebelah kursi kerja Wijaya. Wijaya tak keberatan, ia pun bekerja tanpa terganggu.


"Om tidak pusing terus bekerja seperti ini?" tanya Camilla saat melihat grafik di layar monitor.


"Namanya sudah menjadi tugasku, dan ini jenis bisnis yang aku kerjakan. Kamu mau belajar?" Wijaya menawarkan.


"Tidak, lebih bagus aku menjadi seorang istri aja. Atau aku bekerja kembali sebagai pencopet. Nggak ribet. Cukup lari-larian sudah dapat uang," sahut Camilla santai.


Wijaya menghentikan pekerjannya, memutar arah duduk nya. Wijaya mendekatkan wajahnya, memegang dagu Camilla. Camilla hanya terdiam, seperti terhipnotis.


"Camilla, aku mencintaimu," Wijaya menyatakan perasaannya dengan wajah sangat dekat, sehingga hembusan nafasnya menyapa wajah Camilla.


"Aku juga sebenarnya mencintai...."


Camilla menggantung ucapannya saat ia baru saja tersadar mengungkapkan isi hatinya. Camilla spontan bergerak. Namun, bangkunya goyang.


"Eh..eh..."


Brak!


Bangku, dan Camilla terjatuh.


Wijaya cepat menangkap tubuh Camilla, membuat Camilla jatuh dalam pangkuannya.


Deg deg!


Suara degupan jantung mereka terdengar satu sama lain.


Wijaya benar-benar jatuh cinta kepada Camilla. Ia perlahan mendekatkan wajahnya. Mencium bibir ranum Camilla.


Bola mata Camilla membulat sempurna, saat ciuman pertama nya di curi oleh Wijaya. Entah kenapa, tubuhnya seolah tak menolak ciuman itu, membiarkan Wijaya terus menciumnya.


Merasa oksigen sudah habis stok di paru-paru, Wijaya melepaskan ciumannya. Jempolnya mengusap lembut bibir Camilla.


Wajah Camilla memerah, ia baru sadar akan rasa malu. Tangan Camilla bergerak dengan ringan.


"Kurang ajar kau, Om duda!"


Plaak!

__ADS_1


Camilla bangkit dari pangkuan Wijaya, wajahnya masih memerah karena malu.


"Kau sudah mencuri ciuman pertamaku. Bagaimana aku harus mengatakan kepada suamiku masa depanku nanti. Bibirku sudah tidak perawan lagi. Kurang ajar...kurang ajar kau, Om duda!" lanjut Camilla mengomel, sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan Wijaya.


Wijaya hanya terkekeh, tangannya mengelus sebelah pipinya terdapat bekas tapak tangan mungil Camilla.


Pintu ruangan terbuka, Radim berdiri di tengah-tengah pintu bagian luar dan dalam.


"Presdir kenapa dengan Anda, dan dek Camilla?" tanya Radim mengingat tadi ia berpapasan dengan Camilla, wajah Camilla seperti kepiting rebus, sedangkan sebelah pipi Wijaya memerah, terlihat bekas tapak tangan mungil.


"Hanya hal kecil," sahut Wijaya santai, sembari berdiri.


"Oh, saya pikir tuan dan dek Camilla sedang berkelahi seperti biasanya," cetus Radim berjalan masuk membawa tumpukan dokumen di tangannya.


"Kamu lihat kemana tadi Camilla pergi?" tanya Wijaya, sudah duduk di kursi kerjanya.


"Naik lift turun, tuan," sahut Radim, meletakkan tumpukan dokumen di atas meja.


"Apa ini dokumen tentang kontrak kerja sama setiap store dan stand?" tanya Wijaya membuka setiap lembaran dokumen.


"Iya, tuan. Semua kontrak kerja sama sudah saya susun rapih, tuan tinggal membacanya dan menandatangani," sahut Radim.


"Baiklah, kamu boleh keluar. Biar aku lihat dulu," perintah Wijaya menyuruh Radim keluar.


"Saya permisi, tuan," Radim perlahan mundur, lalu ia pergi meninggalkan ruangan Wijaya.


Sementara itu di bawah, meja resepsionis. Camilla duduk di tengah-tengah, Varo, dan Gabi. Wajah cantiknya terus ia tekuk, seolah menampilkan kekesalan.


"Kenapa?" tanya Gabi tanpa suara ke Varo berada di sebrang Camilla. Varo hanya mengangkat kedua bahunya.


Penasaran kenapa Camilla bisa kesal, Gabi mencolek bahu Camilla.


"Dek, berantem lagi dengan tuan Wijaya?"


"Kesal kali aku lihatnya!" cetus Camilla tanpa jeda.


"Kenapa?" tanya Varo dan Gabi serentak.


Camilla terdiam, 'Kepo kali lah orang ini. Udah ku jawab, masih aja terus nanya. 'Kan nggak mungkin aku bilang, kalau barusan aku di cium Om duda. Mana itu ciuman pertamaku, kayak mana lah aku bilang ke suami masa depanku nanti, kalau bibirku sudah tak perawan lagi. Ah ..mana rasanya tadi buat darahku mengalir begitu deras. Terus apa pula yang aku pikirkan tadi, masa aku menginginkan hal lebih. Yang sudah gilanya aku tadi. Haiish!' gumam Camilla dalam hati.


"Dek, dek..." Gabi melambaikan tangannya, memecah lamunan Camilla.


Sorot mata Camilla masih terus memandang lurus ke depan, melihat seorang wanita berjalan masuk dengan anggun. Gabi, dan Varo mengikuti arah gerak pandang Camilla.


Wanita itu adalah Mayang.

__ADS_1


Gabi, dan Varo berdiri.


"Selamat pagi nona Mayang," sapa Gabi dan Varo serentak.


"Di mana Wijaya?" tanya Mayang dengan wajah sombong, sorot mata tak suka memandang Camilla, "Kenapa kau di sini?" lanjut Mayang bertanya kepada Camilla.


"Bukan urusanmu!" sahut Camilla santai.


"Justru urusanku. Sudah di gaji mahal-mahal, malah kau santai di sini. Cepat masuk ke ruangan Wijaya!" bentak Mayang di kalimat terakhir.


"Aku rasa itu bukan urusanmu!" sahut Camilla, beranjak dari duduknya, lalu mulai melangkah menuju pintu keluar perusahaan.


"Hei, mau kemana kau, wanita sumo!" teriak Mayang.


"Cari tubang!" sahut Camilla santai, masih terus berjalan keluar.


Karena terus diabaikan oleh Camilla, Mayang menghentakkan kedua kakinya.


"Iih...dasar wanita sumo. Nggak ada sopan-sopan nya anak satu ini. Awas saja kamu!" gumam Mayang mengancam.


Sementara itu, Camilla terus berjalan dengan santai. Begitu melewati pos satpam, ia tersenyum. Namun, kedua kaki masih terus melangkah. Setelah keluar dari gerbang Perusahaan, Camilla mulai mempercepat langkah kakinya.


"Kesempatan bagus. Pusing aku lama-lama bekerja dengan sih duda itu. Lebih baik aku kabur aja, hidup bebas di dunia penuh kekejaman ini sangatlah menyenangkan. Lagian aku juga malas berdebat dengan wanita ulat bulu itu, malas kali aku, kalau wanita ulat bulu itu bilang aku adalah Pelakor. Padahal dia sendiri pengkhianat, iiih .. jijiknya aku!" gerutu Camilla di sepanjang langkahnya.


Camilla terus berjalan, tanpa terasa kedua kakinya berhenti di kos-kosan lama miliknya. Di depan gerbang kos ada tante pemilik kosan.


"Ngapain kau ke sini?" tanya tante kosan ketus.


"Bisa nggak aku balek tinggal di sini. Nggak ada tujuan aku, tante," sahut Camilla langsung ke intinya.


"Itu bukan urusanku. Lagian, bukannya kau sudah memiliki duda tajir melintir dengan wajah tampan, itu!"


"Malas kali aku kerja samanya," hela Camilla, tangannya memijat pelipisnya.


"Eh ..kok bisa gitu pula. Sudah diapain aja kau samanya?" mulai penasaran, perlahan mendekati Camilla.


"Sebelum aku jawab. Aku tanya dulu sama kau, tante. Apakah baju lama ku masih ada di sini?"


"Oh...tentu, baju kau ada di dalam kerdus itu. Rencananya mau aku jual monza, tapi karena kau datang. Ya....tak jadilah!" sahut tante pemilik kosan.


"Tante, kamar lama punyaku masih ada?" Camilla kembali bertanya.


"Oh...masih. Nggak ada orang yang mau tidur di kamar itu. Ada hantunya katanya. Apa kau pernah lihat hantu di kamar itu?" jelas Tante pemilik kosan.


"Ngapain pula para hantu menunjukkan wajahnya ke aku. Sudah jelas mereka takut sama malaikat pencabut nyawa seperti ku," kekeh Camilla.

__ADS_1


"Kau ini, nggak lucu. Sudahlah gini aja. Karena adanya hantu di dalam kamar itu, turun harga lah aku buat. Kau cukup bayar 150 ribu aja sebulan. Barang-barang kau juga masih aku simpan di gudang," ucap tante pemilik kosan.


Camilla memeluk tante pemilik kosan, "Terimakasih tante gatal," terimakasih Camilla lain dari yang lain.


__ADS_2