BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 41. Hari Ulang Tahun Andy


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Andy. Sebuah perayaan pesta ulang tahunnya.


Ruang tamu di dekorasi dengan sangat indah. Bolu ulang tahun menjulang tinggi, berbagai menu makanan sudah tersaji di meja hidangan.


Para tamu undangan, termasuk teman sekelas Andy mulai berdatangan. Di sambut oleh Camilla, Andy dan Wijaya dari depan pintu.


"Selamat ulang tahun Andy," ucap salah seorang teman Andy sambil berjabat tangan.


"Terimakasih. Kamu masuk dulu, silahkan nikmati kue yang enak-enak di sana," Andy mengulurkan tangannya ke meja hidangan berisi makan ringan.


"Andy, Kakak cantik ini siapa? apa Kakak ini adalah Mama baru, kamu?" tanya anak itu penasaran.


Camilla hanya melempar senyum kakunya.


Sejenak Andy melirik, lalu ia mengajak temannya itu menjauh dari Camilla dan Wijaya.


"Iya, cantik, 'kan?" sahut Andy setelah berada jauh dari Camilla dan Wijaya.


"Cantik. Kakak itu juga terlihat sangat lembut dan penuh kasih sayang. Andai aku memiliki Mama seperti Mama kamu," gumam temannya sembari melirik ke Camilla.


'Kamu benar, Kak Camilla memang penuh dengan kasih sayang. Saking sayangnya ia kepadaku dan Papa, Kak Camilla hampir setiap detik memarahi Papa dan yang lainnya. Kak Camilla memang benar-benar mirip mendiang Mama,' batin Andy merasa sikap Camilla mirip dengan almarhum Mamanya.


Satu-persatu tamu undangan memenuhi ruangan. Karena acara sudah mau di mulai, Wijaya dan Andy berdiri di depan kue bolu ulang tahun. Camilla dan Varo berdiri di sisi lain, begitu juga dengan Mayang dan Lafi.


Nyanyian selamat ulang tahun, dan tepuk tangan meriah terdengar memenuhi seluruh ruangan.


Wijaya menemani Andy memotong bolu ulang tahun, lalu menyuapinya. Saat Wijaya menyuruh Andy untuk memberikan potongan bolu kepada Mayang, langkah Andy malah berbalik menuju tempat Camilla berdiri.


Semua tamu undangan melihat hal itu, bisikan halus pun mulai terdengar. Namun, Andy tak memperdulikan hal itu.


"Kakak harus membungkuk," pinta Andy setelah ia berdiri di hadapan Camilla.


"Kenapa kau memberikan aku potongan kue bolu itu. Seharusnya kau berikan pada wanita ulat bulu aja," sahut Camilla, sorot matanya mengarah pada Mayang berdiri di samping Wijaya.


"Nanti saja, aku ingin memberikan potongan pertama ini untuk Kakak. Ayo, cepat membungkuk Kak!" Andy kembali memaksa Camilla.


Camilla pasrah, ia membungkuk, melebarkan mulutnya. Andy menyuapkan potongan bolu ke mulut Camilla.


Mayang memang terlihat tenang dan baik-baik saja, karena Mayang sudah menyusun rencana untuk Camilla.


'Malam ini kau akan berpisah dari Wijaya, wanita sumo,' batin Mayang.


Saat terakhir kali Lafi menghabiskan waktu berdua dengan Mayang. Mayang dan Lafi ternyata membuat janji, ingin memisahkan Camilla dan Wijaya.


Hari ini lah yang sudah mereka tunggu-tunggu. Sebuah rencana buruk sudah di susun matang, tinggal melancarkan nya saja.

__ADS_1


Selesai sudah acara membagi kue bolu. Wijaya membaur dengan rekan kerjanya, Andy membaur dengan teman sekelasnya. Camilla sendiri berdiri di samping meja hidangan, membantu setiap anak mengambilkan kue dan minuman.


Tangan panjang dan besar memukul pelan pundak Camilla. Camilla menoleh, melihat siapa orang memukul pundak nya. Ternyata orang itu adalah Lafi.


"Sendirian aja dek," ucap Lafi.


"Nggak kok, di sini rame. Apa mata abang sudah rabun?"


"Maksud ku, kamu kenapa sendirian aja. Kenapa tidak ikut dengan abang Wijaya di sana," jelas Lafi, tangannya mengarah pada Wijaya berdiri di tengah-tengah ruangan bersama dengan rekan bisnisnya.


"Oh! nggak enak aja aku bang. Masa iya aku harus selalu nimbrung dengan Om duda. Sekali-kali sendirian, 'kan nggak masalah. Abang sendiri, kenapa tidak bersama dengan pacar abang?" Camilla balik bertanya.


"Berapa kali aku katakan jika aku tidak memiliki pacar. Wanita-wanita itu hanya sebagai pelampiasan ku saja," hela Lafi.


"Kasihan kali lah wanita-wanita itu, macam serbet aja," Camilla menggeleng.


"Tapi kalau adek jadi pacar aku. Aku janji akan setia," goda Lafi.


"Sayangnya abang bukan tipe lelaki idamanku. Kayak mana itu bang!" tegas Camilla di sela tawa sumbang nya.


"Teganya adek. Apa aku kurang ganteng, tajir di mata adek?" tanya Lafi lirih.


"Aku bukan cari yang ganteng dan tajir aja bang. Aku juga ingin cari yang setia, baik, pengertian, dan.... superhero lah."


"Setahuku di kamar abang ada kaca besar. Tapi kenapa abang saat berbicara abang lupa bercermin," celetuk Camilla dengan wajah datarnya.


"Tajam kali," gumam Lafi tak berkutik.


Ada 5 menit Lafi dan Camilla saling diam, sampai Mayang menghampiri Lafi dan Camilla.


"Hai," sapa Mayang pura-pura ramah.


"Emang kita kenal?" tanya Camilla dingin.


"Dari tadi aku melihat kamu sendirian aja. Aku ikut nimbrung boleh?"


"Tumben sopan, biasa kau bilang aku wanita sumo. Nggak usah ikut nimbrung kau, wanita ulat bulu. Perasaanku tiba-tiba saja mendadak tidak enak. Langsung aja ke intinya, kalian mau ngapain dekat-dekat aku?" Camilla mulai curiga.


Mayang mengeluarkan ponselnya, membuka rekaman suara.


"Apa kamu mau mendengarkan rekaman suara ini?" Mayang membuat penawaran.


"Kayaknya aku nggak suka mendengarkan gosip murahan," tolak Camilla.


"Ini bukan sebuah gosip. Tapi ini kenyataan, sudah dengarkan saja. Aku pasang headset dulu," Mayang seperti memaksa.

__ADS_1


Mayang memasangkan headset di telinga Camilla, lalu menekan tombol play.


.


.


💫 Suara Rekaman 💫


"Sayang, kenapa sih wanita sumo itu masih terus bekerja dengan kamu. Pecat saja dia kenapa. Aku nggak suka melihat ia terus-menerus dekat dengan kamu," rengek Mayang.


"Aku tidak mungkin memecatnya sayang. Aku tidak ingin Andy membenci ku. Biarkan wanita sumo itu menjadi Baby sister ku. Kamu tenang aja, aku akan membuat wanita sumo itu tidak akan betah bekerja denganku," sahut Wijaya.


"Emang kamu ingin melakukan apa agar dia tidak betah dengan kamu?" tanya Mayang.


"Aku akan mulai mengerjai nya dengan cara yang tak biasa."


"Apa itu? jangan yang tidak-tidak sayang."


"Aku akan membuat ia menari-nari bersamaku di dalam kamar setelah acara ulang tahun Andy selesai," cetus Wijaya kembali. Namun, suaranya sedikit berbeda dari suara pemutaran audio pertama.


Pemutaran audio selesai.


.


.


"Terimakasih atas rekaman suaranya. Sekarang aku mengerti kenapa Om duda suka sekali mendekatkan wajahnya kepadaku. Ternyata dia sangat menginginkan hal itu," cetus Camilla sembari memberikan ponsel Mayang.


Mayang dan Lafi terkejut.


Bukannya marah setelah mendengar audio rekaman editan Mayang dan Lafi. Camilla malah menambahkan pernyataan baru.


'Ck, kenapa wanita sumo ini tidak marah. Bukannya dia suka mengamuk seperti banteng. Tapi kenapa dia malah terlihat tenang, dan...dan kejujuran baru apa yang di katakan nya. Kenapa Wijaya selalu bisa dekat dengan Camilla. Kenapa samaku tidak. Apa Wijaya hanya mempermainkan aku saja,' batin Mayang di buat panas oleh Camilla.


Segaris senyum tercetak di wajah cantik Camilla, 'Ha ha ha....aku memang wanita miskin, dan tidak berpendidikan tinggi. Tapi aku tidak bodoh. Kalian berdua pikir aku tidak mencerna secara jelas tentang suara Om duda pada menit terakhir berbeda. Sepintar apa pun kalian mengedit suara itu. Tetap aku yang lebih pintar, ha ha ha....mantan pencopet ini bro!' batin Camilla terkekeh.


Pikiran Camilla terhenti saat Lafi menggenggam pergelangan tangan Camilla, dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu.


Camilla terbengong, kedua kakinya berlari mengikuti Lafi.


'Eh, kok macam di film India. Main lari-larian, dan kenapa aku ikut aja. Macam sih Kajol pula aku,' gumam Camilla dalam hati baru tersadar.


Wijaya langsung meninggalkan rekan kerjanya saat tak sengaja melihat Lafi membawa Camilla.


"Lafi tidak pernah berubah," gumam Wijaya terus melangkah.

__ADS_1


__ADS_2