
Mendengar luka di dapat Camilla, dari ulah Papa nya, Wijaya. Andy langsung pasang badan, kedua kaki mungilnya melangkah besar menuju kamar Wijaya berada di lantai atas. Suara mungil dari seorang anak lelaki memanggil ‘Papa’ itu menggelegar mulai dari ruang tamu, menaiki anak tangga, sampai kini Andy terhenti di depan pintu kamar Wijaya.
Tok tok!
“Papa, Papa, Papa!” teriak Andy, kedua kepalan tangan mungil itu terus mengetuk daun pintu kamar Wijaya.
Ctak!
Terdengar suara kunci pintu kamar milik Wijaya terbuka.
Terlihat Wijaya baru saja siap mandi, rambut basah, handuk kecil melingkar di bahu, tangan menggosokkan handuk ke rambut basahnya.
“Ada apa?” tanya Wijaya dingin, sepasang mata memandang ke bawah. Melihat Andy berdiri, berkacak pinggang, dengan wajah imut di buat marah.
“Apa yang Papa lakukan kepada Kak Camilla? Kenapa kedua kaki, dan siku Kak Camilla terluka?!” tanya Andy sedikit meninggikan nada suara imutnya itu.
Wijaya tak menjawab pertanyaan Andy, ia malah memilih balik badan, kedua kaki melangkah menuju meja rias, tangan mengambil pengering rambut, dan mulai menghidupkannya.
Wung wung!
“Papa, Papa!” teriak Andy saat suaranya kalah dengan suara pengering rambut.
Wijaya lagi-lagi tak menggubris teriakan Andy, ia masih terus mengeringkan rambutnya. Setelah melihat rambut setengah kering, Wijaya meletakkan pengering rambutnya. Tangannya mengambil krim perawatan wajah dan mulai memakaikannya ke wajah, tanpa memperdulikan omelan putranya itu.
Andy tadi berdiri di depan pintu, kini perlahan melangkah. Ia saat ini benar-benar sangat kesal karena omelan dan pertanyaannya di abaikan oleh Wijaya. Langkah Andy terhenti di samping meja rias, Andy mulai merangkak naik ke atas kursi, kemudian berdiri di meja rias.
Wijaya tadi sedang memakai krim perawatan wajah terpaksa menutup krimnya. Wijaya membuang wajahnya, menarik nafas berulang kali, untuk mencoba menahan diri agar tidak marah kepada putranya itu.
“Papa sangat-sangat jahat. Bukan hanya kepadaku, tapi kepada Kak Camilla juga! Andai almarhum Mama tahu kalau Papa sekarang itu sangat jahat. Pasti Almarhum Mama tidak akan mau hidup bersama Papa lagi!” teriak Andy tepat di hadapan Wijaya.
Wijaya hanya diam, menatap wajah marah putranya itu terlihat sangat imut.
‘Kenapa Andy malah membentakku seperti ini. Aku, ‘kan Papanya, dan Camilla itu hanya orang luar. Lagian siapa suruh wanita sumo itu nggak balik lagi ke Perusahaan setelah ia pura-pura merajuk. Mana saat bertemu menjadi seorang pencopet. Dasar wanita pasaran, nyesel aku mengiyakan permintaan putraku ini. Tapi…kenapa Andy sangat lengket pada Camilla daripada Mayang yang jelas-jelas terlihat lebih anggun, sopan dan keibuan. Wah..apa wanita sumo itu memiliki propesi lain selain mejadi seorang wanita sumo dan pencopet?’ batin Wijaya bertanya-tanya.
__ADS_1
“Papa, Papa!” teriak Andy kembali memanggil Wijaya.
“Papa nggak budek. Kamu kenapa terus berteriak seperti itu?” hela Wijaya, sembari menurunkan Andy dari atas meja rias miliknya. Detik selanjutnya Wijaya berjalan menuju lemari pakaian miliknya.
“Habisnya Papa tidak menjawab pertanyaanku. Aku ingin bertanya, kenapa Papa melukai Kak Camilla?” tanya Andy kembali, kedua kakinya mengikuti Wijaya, mulai dari berjalan menuju lemari pakaian sampai kini Wijaya kembali berdiri di depan kaca.
“Tadi wanita itu mau kabur, jadi Papa lukainya aja dia. Kalau sudah terluka seperti itu, wanita itu jadi nggak kabur lagi, dan kamu juga masih melihatnya di sini,” sahut Wijaya dengan santai.
“Oh! jadi seperti itu Papa memperlakukan seorang wanita?”
“I-iya, habisnya dia terlalu nakal menjadi seorang wanita. Papa tidak suka. Kamu kenapa terus membela wanita itu? apa pikiran kamu telah di cuci oleh perkataan-perkataan kasarnya? Oh..atau kamu sudah di ancam oleh wanita sumo itu?” Wijaya mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.
“Papa salah besar, Kak Camilla tidak seperti itu orangnya,” Andy mengarahkan jari nya ke atas, menengadahkan wajahnya, melihat Wijaya sedang berdiri, menatapnya dengan tatapan datar. “Aku peringatkan kepada Papa. Sekali lagi Papa melukai Kak Camilla, jangan harap aku membiarkan tante Mayang menginjakkan kedua kakinya di rumah ini!” lanjut Andy mengancam Wijaya seperti seorang pria dewasa.
Puas telah memberi ancaman kepada Wijaya, Andy balik badan, melangkah pergi meninggalkan kamar Wijaya.
Wijaya hanya terdiam, berulang kali ia mengedipkan kelopak matanya, berulang kali ia mengusap kedua telinganya.
Tidak ingin terdiam dalam pikirannya, Wijaya melangkahkan kedua kakinya, keluar dari dalam kamar miliknya, menyusul Andy.
Wijaya kini menghentikan langkahnya di ruang tamu. Dimana ada Varo, Camilla, Viona, dan Andy.
“Andy,” panggil Wijaya lembut.
Andy tak menggubris ucapan Wijaya. Ia tadi duduk di sebelah Camilla, perlahan beranjak turun dari duduknya, memilih pergi, berdiri di samping Varo sedang duduk di sebelah Camilla.
“Kamu sudah makan, nak?” Wijaya mencoba membujuk Andy terlihat kesal.
Camilla, Viona, dan Varo, melirik ke Andy, berdiri dengan wajah datar, pandangannya mengarah pada Camilla, kedua tangan mungilnya terlihat mencubit-cubit celana Varo.
“Tuan muda, tuan di tanyai oleh tuan besar. Apakah tuan muda sudah makan?” tanya Varo mengambil alih pertanyaan Wijaya.
“Belum, aku dari tadi menunggu Kak Camilla,” sahut Andy pelan, kedua tangan mungilnya masih terus mencubit-cubit celana Varo.
__ADS_1
“Papa juga belum makan, kita makan berdua, yuk!” ajak Wijaya, tangannya mengulur ke arah Andy.
“Om, katakan pada Papa, kalau aku tidak ingin makan berdua dengannya. Papa sudah jahat sama Kak Camilla. Sebagai permintaan maaf ku untuk Kak Camilla, aku ingin mengajak Kak Camilla makan di sebuah restauran,” pinta Andy ke Varo. Andy benar-benar sangat-sangat marah kepada Wijaya.
Melihat putranya berwajah masam dan tak memperdulikan ucapannya. Wijaya perlahan mendekati Andy, jongkong di samping Andy masih berdiri di samping Varo.
“Sudah malam, besok kamu masih mau bersekolah. Gimana kalau kita barbeque di teras belakang rumah. Kamu mau?” Wijaya kembali membujuk Andy.
“Kak Camilla, apakah Kakak suka barbeque?” Andy malah melempar pertanyaan kepada Camilla.
“Bahasa gaul apa itu?” tanya Camilla tak mengerti.
“Barbeque itu kita bakar-bakar, contohnya, sosis, daging, atau stick lainnya. Gimana, apakah Kakak mau?”
“Andy, Papa cuman mengajak kamu, bukan orang lain,” cetus Wijaya, menatap Camilla dengan tatapan tak senang.
‘Apalah, Om duda satu ini. Tatapannya terlihat tidak senang saat menatapku. Awas kau, aku iyakan ajakan anak, kau itu Om!’ gerutu Camilla dalam hati saat memandang Wijaya masih menatapnya dengan tatapan aneh.
Camilla berdiri, “Ayok lah. Entah apa maksud yang kau katakan tadi. Enak atau tidaknya masakan itu, aku tidak tahu. Tapi, karena kau sudah mengajakku dengan sepenuh hati, maka aku akan mengiyakannya,” Camilla mengulurkan tangannya ke Andy, “Ayo kita ke belakang!” lanjut Camilla mengajak Andy untuk menggenggam tangannya.
“Benarkah? Kakak mau ini?” tanya Andy penuh semangat.
“Tentu saja,” sahut Camilla antusias.
“Ayo Kak, aku akan mengajak Kakak ke belakang,” sambut Andy, menerima uluran tangan Camilla.
Wijaya hanya bisa menghela nafas, tangannya meraup wajahnya.
"Haih, dia itu hanya orang lain, Andy!" hela Wijaya bergumam.
Sementara Viona, mengeratkan kedua tangannya, menatap punggung Camilla dengan tatapan kebencian.
'Baru berapa hari kau di sini, sudah ada aja mangsa yang kau dapatkan. Awas aja kau Camilla. Aku akan membuat perhitungan denganmu!' batin Viona tak suka dengan Camilla.
__ADS_1