
Sampai tengah malam, 12:30 malam. Wijaya terus menjaga Camilla, tanpa beranjak sedikitpun dari sisi ranjang. Rasa kantuk dan lelah perlahan menggerogoti kedua matanya, membawa kedua kelopak mata itu ingin terpejam.
Tak kuasa menahan rasa kantuk teramat sangat, Wijaya akhirnya tertidur di samping ranjang.
Pintu kamar Camilla terbuka, bayangan anak kecil berdiri di depan pintu kamar, sebelah tangan memegang buku dongeng. Bayangan itu adalah milik Andy.
Dengan wajah setengah mengantuk Andy berjalan masuk, naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di samping Camilla.
"Kenapa kakak tidak bangun juga?" Andy membuka lembaran pertama buku dongengnya, "Aku tidak bisa tidur tanpa di bacakan dongeng. Jadi aku ingin kakak bangun, bacakan buku dongeng keluaran terbaru untukku," lanjut Andy meminta di bacakan buku dongeng.
Karena efek obat, Camilla tak juga terbangun. Andy menyerah, ia pun mulai membacakan dongeng untuk dirinya sendiri.
Suara mungil itu perlahan meredup, Andy tertidur dengan posisi memeluk Camilla, buku dongeng di letakkan di atas perut Camilla.
Sampai 04:30 pagi dini hari, Andy dan Wijaya masih tertidur dengan posisi yang sama.
Perlahan kelopak mata Camilla bergerak, ia pun terbangun, dengan tubuh terasa berat, karena Papa dan anak masing-masing menimpah tubuh Camilla.
Camilla pasrah, tak jadi bangkit. Sorot mata sendu melirik ke jam dinding di kamar, lalu melirik ke Andy, memeluk lengannya, dan Wijaya memeluk kedua kakinya.
"Padahal aku hanya tertidur. Tapi kenapa kedua lelaki menyebalkan ini tidak membiarkan aku beristirahat sedikit pun," gumam Camilla kesal.
Kekesalan Camilla mereda mendengar suara mengigau Andy.
"Kakak jangan sakit-sakit lagi, ya. Kakak harus bangun, aku janji ingin cepat menjadi pria dewasa, dan menjadi dokter. Sampai waktu itu tiba, aku minta Kakak harus sehat, ya..."
"Kau pikir, kau, Tuhan!" sahut Camilla bergumam.
Gerah karena keringat membasahi tubuh dan baju piyama miliknya. Camilla perlahan melepaskan diri dari Andy dan Wijaya. Turun membuka lemari pakaian, mengambil baju daster, melangkah menuju kamar mandi.
30 menit berlalu, Camilla berdiri di depan cermin, mengeringkan rambut pelanginya. Mendengar suara pengering rambut, Wijaya terbangun. Terkejut melihat Camilla sudah berdiri, dan mandi.
Wijaya langsung beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Camilla, menggendongnya, meletakkan di atas ranjang, samping Andy.
"Hei, kenapa kau menggendongku? rambutku belum kering ini!" protes Camilla menunjuk rambut panjang pelanginya masih setengah kering.
"Biar aku saja yang mengeringkan. Kamu cukup diam di ranjang!" tegas Wijaya, berlalu pergi.
Wijaya mengambil pengering rambut, mengerikan rambut panjang pelangi Camilla. Camilla terdiam, menerima perbuatan Wijaya dengan wajah kecut.
Karena bising, Andy terbangun, duduk.
"Sudah bangun, Kak?" tanya Andy senang.
"Hem!"
__ADS_1
"Aku senang sekali kalau kakak sudah sembuh," Andy senang, sampai memeluk Camilla.
"Lain kali, kalau aku sakit, kamu tidak boleh tidur di dekat aku. Kalau kamu ikut terserang demam, gimana?" nasehat Camilla terdengar cemas.
"Aku adalah seorang pria, imun tubuh ku lebih kuat dari kakak. Jadi...kakak jangan mengkuatirkan hal itu," Andy menepuk dadanya, "Sebab aku adalah calon pria sejati!" lanjut Andy.
Wijaya menggeleng, tertawa pelan mendengar ucapan anaknya yang masih bocah, tapi berlagak dewasa.
Camilla mengapit kedua pipi Andy, hingga mulut meruncing ke depan.
"Gemas kali aku lihat bocah satu ini. Kenapa kau tidak mendaftarkan diri untuk menjadi aktor cilik aja!" usul Camilla melihat Andy ada bibit menjadi bintang cilik.
"Aaa.....aku nggak mau. Aku hanya ingin menjadi dokter!" tegas Andy dengan cita-citanya.
Camilla merasa gemas menggelitik perut Andy. Wijaya, Camilla, dan Andy saling bergurau.
Jam terus bergerak, menunjukkan pukul 06:30 pagi. Andy, Wijaya, dan Camilla berada di meja makan. Lafi tidak ada, karena ia izin untuk pergi pengambilan gambar ke Negeri Sakura.
"Kamu serius bisa ikut bersamaku ke Perusahaan?" tanya Wijaya cemas.
"Tentu saja. Aku adalah Baby Sister nya kau, Om. Kalau aku tidak bekerja, nanti kau tidak gaji aku pula!" sahut Camilla sembari melahap makanannya.
"Sekarang kamu bukan lagi Baby Sister ku, kamu adalah calon istriku, Camilla. Lebih baik beristirahat lah dulu di rumah," jelas Wijaya mengingatkan.
"Oh...sebaiknya kamu ikut aku ke kantor," ucap Wijaya datar.
Mengingat Camilla sekarang adalah calon istrinya, dan Camilla juga sudah 2 kali kabur. Setiap kabur Camilla mendapatkan kejadian buruk. Wijaya tidak lagi ngotot, ia memutuskan untuk membawa Camilla kemanapun ia pergi.
Andy sudah di antar oleh Varo pergi ke sekolah. Wijaya dan Camilla juga sudah berada di ruang kantor miliknya.
Seperti biasa, Camilla selalu duduk di kursi khusus tempat ia menonton.
Tok tok!
Camilla dan Wijaya mengarahkan pandangannya ke pintu ruangan. Pintu ruangan terbuka, terlihat seorang wanita masuk ke dalam tanpa di persilahkan.
"Hai, sayang..."
Mayang melebarkan kedua tangannya, memeluk Wijaya, memberi ciuman pipi kanan kiri.
Sudah bosan melihat sifat Mayang seperti itu, Camilla kembali menonton film favoritnya.
"Ganas kali kau jadi perempuan!" gumam Camilla, tangannya memasukkan beberapa makanan ringan ke mulutnya.
"Makanya cari pacar, dong! masa kamu mau sama bekas aku!" ejek Mayang menyadarkan kedua gunung kembarnya ke punggung Wijaya.
__ADS_1
Wijaya masih diam, ia ingin melihat apakah Camilla cemburu melihat perbuatan Mayang.
"Ha ha....kau juga kenapa mau sama bekasnya dari seorang wanita yang sudah meninggal dunia. Sadar diri kau!" ketus Camilla, sorot mata masih fokus ke layar tv.
"Kasar sekali ucapan kamu, dasar wanita sumo!"
"Diamlah, dasar wanita ulat bulu!" sahut Camilla tak mau kalah.
Camilla menolehkan pandangannya ke Mayang. Kedua bola matanya membesar, keripik di salah satu tangannya ia genggam erat. Amarahnya memuncak melihat Mayang memeluk Wijaya dari belakang dengan gunung kembar menempel ke punggung.
"Menjauh tidak dari Wijaya!" tegas Camilla sembari terus melangkah.
"Kenapa? Wijaya masih kekasihku!" tolak Mayang, semakin mengeratkan pelukannya.
"Ku bunuh kau!" ancam Camilla, tangannya menyambar sebuah pena di atas meja kerja Wijaya.
Wijaya menunduk, segaris senyum terukir di wajah kharisma nya. Ia merasa senang, akhirnya Camilla cemburu kepada Mayang.
Camilla menarik kasar tangan Mayang, membuatnya menjauh dari Wijaya.
"Jangan gatel kali kau!" hardik Camilla.
"Lah, emang kenapa? Wijaya aja tidak marah saat aku menempel padanya."
"Om, duda itu laki-laki. Jadi wajar aja kalau dia memiliki karakter seperti itu. Kau nggak tahu istilah, sini aku kasih tahu. Buaya mana yang tak menolak kalau di kasih paha ayam. Nah! itulah sifat lelaki. Jadi kau sebagai wanita jangan kegatalan. Mau kau, aku jahit itu mu?!" ancam Camilla meninggikan nada suaranya.
Wijaya mendengar hal itu menunduk malu.
'Aku di samakan dengan buaya. Padahal aku diam untuk melihat apakah kamu cemburu,' batin Wijaya.
"Ha ha....kau pikir aku....."
Plak!
Tangan mungil itu melayang dengan ramah menyapa pipi Mayang.
"Aku peringatkan sama kau. Jangan pernah sekali-kali kau datang menjumpai Om duda. Om duda adalah calon suami ku, dan kau.....kau hanya cinta masa lalunya. Kau juga seorang wanita yang tak tahu malu. Oh ...apa perlu aku ingatkan siapa kau? baiklah...."
"Cukup!"
"Oh....panas kau? apa kedua telinga kau terasa terbakar mendengar perkataan ku?"
"Awas saja kau! kau sudah merebut Wijaya dan semua yang aku inginkan dari Wijaya. Kau akan tanggung akibatnya!" ancam Mayang, menyerah sendiri.
Mayang berbalik badan, ia pergi meninggalkan ruangan kerja Wijaya.
__ADS_1