
Sesampainya di depan pintu kamar, Camilla menghentikan langkah kakinya. Ada tangan kecil menggenggamnya dari belakang. Camilla menoleh, menarik nafas panjang setelah melihat tangan mungil itu adalah tangan Andy.
"Kak," panggil Andy sendu.
"Apa?"
"Aku tidak nyaman ada tante Mayang. Kak Camilla bawa aku bersamamu," pinta Andy tulus, binar penuh harap terpancar dari sepasang bola matanya, menatap lekat wajah datar Camilla.
"Wanita ulat bulu itu adalah calon tunangan Papamu, sekaligus calon ibu sambung mu. Kenapa kau tidak nyaman bersamanya?" Camilla memutar arah berdiri Andy, membelakangi dirinya, "Sekarang kamu harus turun. Beradaptasi dengannya," tegas Camilla.
"Tidak! aku tidak mau menerimanya sebagai Ibu sambung ku. Tante Mayang hanya mencintai Papa, bukan aku!" tolak Andy sedikit meninggikan nada suaranya.
"Itu hanya perasaanmu saja. Sekarang kau harus turun, anggap aku tidak ada di dekat kamu, agar kau bisa menerima wanita ulat bulu itu!"
"Kak Camilla jahat! Kak Camilla tidak sayang sama aku. Aku benci Kak Camilla!" teriak Andy, sembari mengepal serat kedua tangannya.
Andy melangkah cepat meninggalkan Camilla. Camilla hanya menarik nafas panjang, tangannya memijat pelipisnya terasa tegang.
"Haaaa...ada, ada aja kelakukan orang ini bah. Nggak bapaknya, gendaknya, adiknya, anaknya, pembantunya, semua sama saja. Untuk ada Abang ganteng, Varo. Kalau tidak, mungkin aku nggak betah kerja di sini," gerutu Camilla sembari membuka pintu kamarnya, melangkah masuk dengan terpincang ke dalam kamar.
Sementara itu di bawah. Wijaya, dan Mayang, sedang membujuk Andy, sedang terlungkup di atas ranjang, seluruh tubuh berbalut selimut.
"Andy," panggil Wijaya, tangannya hendak menyentuh selimut menutupi seluruh tubuh Andy. Namun, harus terhenti saat terdengar suara bentakan Andy.
"Aku ingin Papa, dan tante Mayang pergi dari kamarku!"
"Bagaimana Papa bisa pergi, saat melihat anaknya sendiri seperti ini," sahut Wijaya tenang.
"Buat apa Papa peduli sama ku. Papa pedulikan saja tante Mayang. Aku bisa mengurus diriku sendiri!" omel Andy tak karuan.
"Kamu kenapa jadi marah-marah seperti ini. Apa karena wanita sumo itu yang tidak membiarkan kamu ikut bersamanya?"
"MMM..nggak tahu!"
"Andy, wanita sumo itu hanya orang lain di sini. Jangan terlalu berharap penuh dengannya. Di sini ada tante Mayang. Terbukalah dengannya, karena tante Mayang adalah calon ibu...."
"Tidak! sampai kapanpun, aku tidak mau menerima tante Mayang. Papa tidak mengerti perasaanku, Papa hanya memikirkan perasaan Papa sendiri. Papa egois....Papa...."
__ADS_1
"Weuuy! Kayak gitu rupanya guru, kau mengajarkan cara berbicara yang sopan dengan orang tua!" sela Camilla sembari berjalan masuk dengan kaki terpincang.
Camilla berhenti di samping ranjang Andy, tangannya menarik selimut menutupi seluruh tubuh Andy. Terlihat tubuh mungil itu sedang sujud, pandangannya mengarah pada Camilla. Cairan bening memenuhi sepasang bola mata indahnya.
"Kak Camilla," gumam Andy tak percaya jika Camilla ada di dalam kamarnya.
Camilla duduk di tepian ranjang, wajah datarnya memandang wajah sembab Andy.
"Kau ini buat aku ribet aja. Aku tadinya mau tidur, tapi setelah mendengar teriakan kau, yang bentak-bentak Papa kau ini. Aku jadinya harus turun. Aku bungkam dulu mulut mu yang kasar itu!" omel Camilla.
Andy duduk, perlahan merangkak mendekati Camilla, dan duduk di samping Camilla.
"A-aku tadi...." Andy tergagap.
Camilla menarik tubuh mungil Andy, dan memeluknya.
"Sudahlah, apa boleh buat. Kalau hanya gara-gara permintaan kecil kau yang membuat gempar satu rumah. Dengan senang hati, aku akan menuruti kemauanmu!" lanjut Camilla.
Melihat Andy diam, Mayang terlihat tidak senang. Pandangan matanya memancarkan binar rencana cukup sulit di artikan, saat memandang Camilla memeluk Andy.
'Awas saja kau. Wanita sumo. Aku akan membuat Wijaya segera mengusir mu dari rumah ini!' batin Mayang.
"Ti-tidak apa-apa sayang. Aku tidak keberatan kok," sahut Camilla di sela senyum paksa.
"Karena Andy sudah tenang, sebaiknya kita keluar saja. Biarkan wanita sumo itu menemani Andy," ajak Wijaya sedikit berbisik.
"Iya," angguk Mayang.
"Hei, jaga Andy!" pinta Wijaya tanpa basa-basi.
"Bicara sama siapanya kau itu. Pantas saja anakmu tidak sopan denganmu. Rupanya cara minta tolong kau seperti itu!" cetus Camilla, menatap sinis.
'Wanita yang satu ini memang lain,' batin Wijaya.
Wijaya menarik tangan Mayang, membawa Mayang keluar dari dalam kamar Andy.
Tanpa mereka sadari, Andy ternyata mengintip dari dalam pelukan Camilla. Segaris senyum penuh kemenangan tercetak di raut wajahnya.
__ADS_1
'Akhirnya Papa membawa tante Mayang keluar dari dalam kamarku. Nggak sia-sia aku berakting sampai mengorbankan kedua lututku. Aku berharap hati Papa bisa terbuka, melihat wanita mana yang beneran baik, dan siapa wanita yang pantas menjadi calon ibu sambung ku,' gumam Andy dalam hati.
Andy melepaskan pelukannya, ia merangkak kecil, turun ranjang, mengambil sebuah buku dongeng, masih terbalut dengan plastik.
"Kau mau ngapain?" tanya Camilla melihat Andy mengulurkan buku dongeng masih baru.
"Aku ingin Kakak membacakannya untukku," pinta Andy penuh harap.
"A-aku tidak pandai berdongeng, kau saja yang bacakan dongeng itu," tolak Camilla kikuk.
"Berarti Kak Camilla temani aku tidur di sini?" tanya Andy kembali penuh harap.
"Entahlah, suka ati kau aja. Papa kau yang banyak duitnya, aku hanya seorang pekerja di sini. Jadi, aku nurut-nurut aja lah. Biar senang hati kau," hela Camilla.
"Cepat Kak, buka plastik bukunya," pinta Andy sopan.
Camilla mengambil buku dongeng, membuka plastiknya, lalu memberikannya pada Andy.
"Nah, kau suka baca-baca dongeng kayak gitu?" tanya Camilla, ia perlahan naik ke atas ranjang, dan duduk di sebelah Andy.
"Iya, ini adalah pemberian terakhir dari almarhum Mama," sahut Andy, binar kebahagiaan terlihat di raut wajahnya saat mengenang almarhum Mamanya.
"Pasti Mama kau adalah wanita yang penuh dengan kehangatan, dan anggun."
"Tidak juga, almarhum Mama sebenarnya sangat galak. Sama seperti Kak Camilla," sahut Andy mengejutkan Camilla.
'Etdah! aku di bilang galak. Cara ngomong ku udah lembut kali pun ku rasa. Masa aku di bilang galak. Haih....' batin Camilla, ia merasa dirinya adalah seorang wanita yang lembut.
"Kak, baringkan kepala kakak di sini," ajak Andy sembari membaringkan tubuhnya, tangan mungilnya menepuk batal kosong di sisi kanannya.
"Nggak usahlah, aku cukup nemani aku aja," tolak Camilla, ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Ya sudah, kalau gitu aku akan menceritakan dongeng nya," sahut Andy, mulai membuka lembaran awal.
Andy pun mulai membacakan buku dongeng bergambar kancil. Tangan mungilnya perlahan membuka lembaran-lembaran buku dongeng, sembari terus membacakan.
Camilla tadi menolak itu tidak tidur, malah ia tertidur sambil duduk. Melihat Camilla sudah tertidur, dan mendengar dengkuran keras dari mulut Camilla. Andy mematikan lampu kamarnya, menggantinya dengan lampu tidur. Andy juga meletakkan bukunya di ata meja lampu.
__ADS_1
"Selamat malam Mama yang ada di surga. Malam ini izinkan aku tidur bersama dengan calon pengganti Mama, pilihan aku ya? I love you Mama Dania," gumam Andy meminta izin ke almarhum Mamanya, bernama Dania.
Andy ikut membaringkan tubuhnya dengan posisi miring ke Camilla, kedua tangan mungilnya memeluk paha Camilla. Andy pun tertidur dengan wajah terlihat senang.