BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 16. Pakah ini yang dinamakan Malaikat pencabut nyawa?


__ADS_3

Sudah pukul 19:30 malam. Camilla tak kunjung kembali ke Perusahaan milik Wijaya. Wijaya dan Varo terus menunggu dan menunggu di dalam mobil miliknya sudah terparkir di depan teras Perusahaan.


Wijaya terus melirik ke jam arloji di pergelangan tangan kirinya itu, detak jarum panjang terus berpindah. Namun, Camilla tak kunjung datang.


“Varo, apa kamu tahu kemana Camilla pergi?” tanya Wijaya menatap Varo duduk di kursi kemudi.


“Maaf, bukannya tuan sudah memecatnya?”


“Aku hanya bercanda,” Wijaya menggaruk kepalanya sedikit suntuk, “Aih, kemana nya wanita sumo satu ini,” lanjut Wijaya bergumam.


“Daripada kita menunggu, lebih baik kita mencarinya sendiri, tuan,” usul Varo.


“Kamu benar. Mari kita cari secara perlahan wanita sumo itu!”


Varo mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan halaman Perusahaan miliknya. Mobil terus melaju dan melaju, melewati lampu merah dimana sangat padat kendaraan, orang baru pulang bekerja.


Hampir 1 jam mereka mencari Camilla, tak ketemu juga. Perut mulai keroncongan, kerongkongan juga terasa kering. Wijaya memutuskan menyuruh Varo untuk menghentikan kendaraan mereka di salah satu tempat nongkrong kekinian di jalan Halat. Kebetulan mobil di kendarai Varo dan Wijaya, berada di jalan Halat.


Baru saja mobil terparkir, Wijaya juga baru keluar dari dalam mobil, berdiri di samping mobil, bersama dengan Varo. Sepasang bola mata Wijaya tak sengaja di suguhkan sebuah pemandangan dari jarak kejauhan, seorang gadis memakai baju gaun seperti milik Camilla, berlari kencang, di belakang gadis itu ada 3 orang pemuda mengejarnya sembari terdengar teriakan.


“Copet, copet! Woy, copet, berhenti kau!”


Dahi Wijaya semakin berkerut saat melihat gadis itu berlari semakin dekat, terlihat jelas wajah gadis itu benar-benar Camilla. Melihat Camilla semakin dekat dengannya, Wijaya mengulurkan kakinya, tak lama terdengar suara orang jatuh.


Bam!


“Duh, duh! Bodoh kali pun yang punya kaki ini. Udah tau aku lagi lari buru-buru, bisa-bisanya dia jegal kakiku. Macam anak kecil aja ah!” gerutu Camilla kesal dalam posisi jatuh terlungkup, kedua siku dan lutut terluka, berdarah.


Wijaya masih diam, tak bersuara. Tangan panjang Wijaya mengambil dompet dan ponsel milik korban, terjatuh di samping kakinya.


3 pemuda mengejar Camilla menghentikan langkahnya di samping Wijaya.


“Hosh, hosh! Dapat kau!” ucap pemuda memakai baju kaos berwarna kuning kunyit.


“Benar, enaknya kita apakan gadis ini, weuy?” tanya pemuda memakai baju hijau botol kepada 2 orang temannya.


“Kalau di pukul sayang, kulitnya bening kali weuy. Rame-rame kan aja kalau gitu!” sambung pemuda memakai baju biru tua.


Camilla mendengar hal itu spontan memeluk sebelah kaki Wijaya, tanpa melihat wajahnya.


“Bang, tolong aku, bang. Aku nggak sengaja nya mengambil barang orang itu bang. Aku bukan copet bang. Abang lihat lah bajuku yang bagus ini. Jadi mana mungkin aku seorang pencopet bang. Lagian barang-barang orang itu sudah sama abang, ‘kan? Balekkanlah sama orang itu bang, aku mohon bang. Aku akan melakukan apa saja kalau abang menolongku!” pinta Camilla masih belum mengetahui kepada siapa ia meminta pertolongan.


Tanpa menjawab permintaan Camilla. Wijaya mengulurkan tangannya, mengembalikan ponsel dan dompet kepada ketiga pemuda itu.


“Aku yang akan mengurusnya, kalian bisa pergi sekarang!” pinta Wijaya datar.


Camilla mendengar suara begitu familiar langsung terdiam, 'Jangan bilang jika abang-abang ini, Om duda anak satu itu,' batin Camilla.


“Mau kau, apakan gadis muda ini, Om? Jangan bilang mau kau ajak ke hotel,” cetus pria memakai baju berwarna biru tua.


“Kalau iya, kenapa?” Wijaya balik bertanya dengan tatapan suram.

__ADS_1


Melihat tatapan tak menyenangkan dari Wijaya, 3 pemuda itu pergi dengan senyum penuh arti.


Pelukan tangan Camilla perlahan terlepas, kepala masih terus menunduk, ‘Benar, suara itu beneran milik Om duda anak satu, Wijaya. Matilah aku, habislah aku. Capek-capek jalan dari Medan, malah jumpa pula aku di Halat. Apa ini yang dinamakan Malaikat pencabut nyawa?' gumam Camilla dalam hati.


Camilla perlahan menaikkan pandangannya, ingin menatap jelas apa benar suara pria itu adalah Wijaya.


Betapa tak menyangka nya Camilla, suara itu benar milik Wijaya. Perlahan ia bangkit, berdiri, kedua kakinya bersiap hendak berlari. Namun, Wijaya sudah lebih dulu menggenggam baju dress bagian belakang Camilla.


“Lepaskan aku….kalau kau Om, tidak mau melepaskan aku. Maka aku akan berteriak nih, aku berteriak kalau kau ingin menculik ku!” ancam Camilla, kaki kanannya terus ingin melangkah ke depan. Namun, bajunya tertahan oleh genggaman Wijaya.


Wijaya tak memperdulikan permintaan dan ancaman Camilla. Ia malah melirik ke Varo, berdiri di samping pintu mobil penumpang bagian belakang.


“Varo, buka pintu!” tegas Wijaya.


Varo segera membuka pintu. Wijaya dengan cepat menggendong tubuh mungil Camilla, terus memberontak, membawanya masuk ke dalam dan mencampakkannya di kursi penumpang. Detik selanjutnya Wijaya masuk. Varo dengan cepat menutup pintu, berlari kecil menuju pintu kemudi dan masuk.


“Lepaskan aku! Atau aku teriak nih, kalau kau Om ingin memperkosaku!” ancam Camilla, menatap serius wajah Wijaya sedang duduk tenang di sisi kirinya, pandangan menatap lurus ke jalan.


“Mobilku kedap suara, jikapun aku beneran melakukan itu ke kamu di sini. Tidak ada orang yang akan mendengar teriakan kamu dan suara-suara kamu lainnya,” sahut Wijaya datar.


Pernyataan Wijaya membuat Camilla sedikit takut, perlahan tangannya memegang handle pintu mobil, diam-diam menarik handle itu. Namun, pintu tak bergerak sama sekali.


‘Ck, duda satu ini serius ternyata. Gimana kalau dia beneran memasukkan miliknya. Oohh..tidak-tidak! Jika itu terjadi maka masa depan dunia percopetanku tidak akan semulus ini. A-aku tidak bisa membayangkan jika aku bunting anaknya. Apa aku sebaiknya baik budi aja. Iya, pintar kau, Camilla. Lebih baik turuti aja kemauan Om duda anak satu ini agar kau selamat,’ batin Camilla.


“Kok diam aja?” Wijaya memutar arah duduknya, miring sedikit ke Camilla. Salah satu tangannya dengan sengaja mendekat ke luka di lutut Camilla, dan menekannya.


“Sakit, sakit, sakit, weuy! Bodoh,” teriak Camilla sembari memaki dengan nada suara lembutnya.


“Sakit, sakit, duh..sakiiiittt!!!”


Plak!


Saking sakitnya tangan Camilla menjadi ringan, melayang ke pipi Wijaya.


Wijaya terdiam, melepaskan tangannya, duduk kembali ke tempatnya. Membiarkan Camilla terus mengelus lukanya bertambah luka.


“Varo, segera pulang!” perintah Wijaya.


“Baik tuan.”


Varo melajukan mobilnya meninggalkan parkiran pinggiran jalan Kafe tadi. Mobil terus melaju menuju rumah Wijaya. Sejenak di dalam mobil itu terasa hening, hanya suara rintihan ringan Camilla.


Varo diam-diam melirik Wijaya dari kaca spion tengah, ‘Kasihan Camilla. Tapi kenapa tuan Wijaya tidak marah saat pipinya di tampar oleh Camilla. Wajah cemas tuan Wijaya juga sangat terlihat saat ini. Apa jangan-jangan…’ Varo menggantung pikirannya, sepasang bola mata Varo beralih ke Camilla terus menghembus sikunya terlihat mengeluarkan darah akibat tekanan dari Wijaya.


Varo merogoh saku kemejanya, mengambil sapu tangan miliknya, lalu mengulurkannya ke belakang.


“Camilla, pakai sapu tangan ini untuk menghentikan pendarahannya. Setelah sampai di rumah, saya akan membantu kamu mengobati luka-luka itu,” ucap Varo terdengar tulus. Wijaya hanya diam, pandangannya masih berfokus ke jalan.


“Terimakasih bang,” sahut Camilla lirih, menerima sapu tangan dari Varo.


“Oh ya, kenapa dek Camilla bisa berada di Halat? Bukannya jarak Perusahaan tuan dengan Halat itu sangat jauh. Apa kedua kaki adek baik-baik saja saat menempuh perjalanan cukup jauh itu?” Varo memulai membuka pembicaraan dengan bertanya halus.

__ADS_1


“Aku sudah biasa bang. Abang tidak perlu mencemaskan aku,” sahut Camilla, segaris senyum manis terlintas di raut wajah cantiknya. Membuat Wijaya melirik dari ujung ekor matanya, melirik sadis.


“Adek sudah makan?” tanya Varo.


“Be-belum bang.”


“Kalau gitu nanti biar abang buatkan makanan untuk adek, sekarang adek bersihkan dulu darahnya agar tidak mengotori ke tempat lain,” ucap Varo sembari melemparkan senyum tulus dari kaca spion tengah.


Sahut menyahut Varo dan Camilla membuat Wijaya sedikit panas.


“Ehm, lebih baik fokus mengemudi. Jangan banyak bicara kamu, Varo!” tegur Wijaya.


“Baik tuan,” sahut Varo patuh.


Mobil kini telah memasuki lingkungan rumah Wijaya, dan terhenti di depan gerbang berwarna hitam. Pintu gerbang terbuka terlihat seorang pria muda membukakan pintu. Varo kembali melajukan mobil, memasuki halaman dan memarkirkan mobil di garasi.


Belum lagi sempat Varo membuka seatbelt miliknya. Wijaya sudah lebih dulu membuka seatbelt.


“Aku duluan,” pamit Wijaya, ia sudah keluar dari dalam mobil, keluar garasi, dan masuk ke rumah.


Varo membukakan pintu untuk Camilla.


“Terimakasih bang,” ucap Camilla setelah keluar dari dalam mobil.


“Kamu masih bisa berjalan?” tanya Varo mencemaskan sebelah lutut Camilla terlihat sangat merah, akibat Wijaya menggenggamnya sangat kuat tadi.


“Bisa, meski sedikit sakit karena ulah Om duda anak satu itu,” sahut Camilla.


Camilla perlahan berjalan dengan kaki terpincang, sesekali terlihat bibirnya nyengir, menahan nyeri. Varo tak tega melihat Camilla, tanpa permisi menggendong tubuh Camilla.


“Eh, eh, kenapa aku di gendong bang?” tanya Camilla panik.


“Maaf, saya hanya tidaka bisa melihat kamu berjalan seperti itu,” sahut Varo.


“Abang baik banget, pasti pacar abang sangat bangga melihat cowok nya sebaik abang,” puji Camilla.


“Saya tidak memiliki kekasih,” sahut Varo singkat.


Varo mulai melangkah meninggalkan garasi, masuk rumah, berjalan menuju ruang tamu, mendudukkan Camilla di sana. Menit selanjutnya terdengar suara sandal rumah berlari dari ruang tv menuju ruang tamu.


“Kak Camilla, Kak Camilla!” teriak Andy menyambut kedatangan Camilla. Di belakang Andy ada Viona, berlari mengejar Andy.


“Tuan, tuan muda jangan berlari seperti itu,” teriak Viona cemas.


Camilla melambaikan tangannya, "Hai, bocah ingusan. Kenapa belum tidur?" tanya Camilla setelah Andy berdiri di sampingnya.


"Kak, kenapa kedua lututnya, sikut nya juga berdarah?" tanya Andy cemas.


"Pria yang kau sebut Papa itu lah. Papa kau itu yang buat aku terluka!" sahut Camilla lirih.


"Apa! Benar ini ulah Papa?!"

__ADS_1


__ADS_2