
Mobil milik Wijaya sudah sampai di depan gerbang sekolah TK. Varo segera turun, membuka pintu untuk Camilla.
“Silahkan turun dek, kita sudah sampai,” ucap Varo menahan pintu mobil.
Camilla menurunkan Andy dari atas pangkuannya, sepasang bola mata indahnya menatap ke sekeliling luar sekolah TK milik Andy. Sekolah mewah, dimana Paud, TK, dan SD, menjadi satu.
“Bukannya ini sekolah untuk orang berduit?” gumam Camilla.
“Kak, kak,” panggil Andy menarik baju dress Camilla.
“Iya,” sahut Camilla singkat, pandangannya mengarah ke bawah, menatap Andy berdiri di hadapannya.
“Aku ingin salam seperti anak yang lainnya,” pinta Andy, tangannya menunjuk ke anak lelaki, berdiri dengan ibunya di samping mobil Avanza.
Bola mata Camilla mendadak bulat sempurna saat mengenal anak lelaki itu.
‘Buset. Bukannya itu tante pemilik kos-kosan. Mana aku belum melunasi kosan aku. Kok bisalah aku jumpa tante girang itu di sini. Aiihh…sial kali aku rasa,’ batin Camilla, perlahan pandangan dan arah berdirinya memutar, membelakangi anak lelaki itu, dan tante pemilik kos-kosan.
“Kak Camilla, salam,” Andy menarik tangan kanan Camilla, langsung mencium punggung tangan Camilla, lalu pergi tanpa menyalami Wijaya. Hal itu membuat Wijaya sedikit kecewa.
“Andy! Aku ini Papa-mu, kenapa kamu hanya mengalami tangan wanita sumo ini. Dia hanya orang asing, nak!” teriak Wijaya menatap kepergian Andy sudah berlari masuk ke gerbang sekolah.
Andy tidak menjawab, ia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke Wijaya.
Perlakuan Andy termasuk pilih kasih, membuat Camilla tertawa pelan, dan mengejek.
“Ha ha…tidak di salam sama anak sendiri berteriak di depan umum. Tapi saat anak membutuhkan kasih sayang saat berjalan bersama kekasih, anak di lupakan. Ha ha…kayak gitu harus di hormati. Ha ha ha..sungguh malangnya nasib Andy punya bapak macam kau, Om!”
“Apa baru saja kamu menghinaku?” tanya Wijaya sudah berdiri di belakang Camilla.
“Perasaan di hina. Itu adalah pujian manis dariku,” elak Camilla, tangan menggenggam pergelangan tangan Wijaya, “Ayo pigi, aku masih harus mengantarkan kau lagi ke Perusahaan kecil kau itu Om!” lanjut Camilla, kakinya perlahan melangkah mendekati mobil. Namun, belum lagi sampai masuk ke dalam mobil. Camilla harus dihentikan oleh tangan wanita dengan kutek merah.
“Milla,” panggil wanita memiliki kutek merah.
Camilla perlahan melirik ke suara begitu familiar ia dengar. Senyum palsu spontan Camilla tunjukkan saat melihat wanita berkutek merah itu adalah tante pemilik kos-kosan.
__ADS_1
“Eh, tante. Kau mengulurkan tanganmu kepadaku, past kau mau pamer kutek baru-mu, ‘kan?”
“Jangan merayuku dengan pujian basi-mu. Sekarang bayar tunggakkan kos-kosan kau!” cetus tante pemilik kos-kosan, tangannya mengulur, melambai seperti meminta duit.
“Itu…a-aku belum dapat duit. Bisa tunggu sampai aku gajian, nggak?”
“Enak aja, kau pikir aku memberikan kau tempat tinggal itu gratis!” bentak tante pemilik kosan, saliva nya menyembur ke wajah Wijaya, karena Camilla bersembunyi di balik tubuh kekar Wijaya.
“Aku akan menghukummu nanti malam,” bisik Wijaya pelan. Camilla hanya bisa nyengir kuda, lalu keluar dari balik tubuh Wijaya.
“Tante, aku nggak punya uang. Aku kerja aja baru beberapa hari, kau tanya aja sama Om duda ini,” tunjuk Camilla melimpahkan ucapannya ke Wijaya.
Tante pemilik kosan melihat Wijaya dari atas sampai bawah. Seketika segaris senyum nakal terlintas di raut wajahnya.
“Milla, gimana pembayarannya diganti dengan aku tidur semalam sama duda kekar ini. Gimana?” usul tante pemilik kosan membuka penawaran.
“Betul lah kau, tante. Kalau gitu kau ambil ajalah, nggak apa-apa aku. Datang aja kau, tante di rumah yang ada di jalan Jermal. Rumahnya paling besar di sana, kau panggil aja kalau kau…”
Ctak!
“Aduh…duh. Sakitnya,” keluh Camilla, tangannya mengelus dahi memerah dan sedikit menonjol.
Wijaya menatap suram wajah tante pemilik kosan, “Berapa hutangnya?” tanya Wijaya datar.
“Aku bilang tidak usah bayar. Cukup kau enak-enakkan aja aku nanti malam. Soalnya sudah lama biji kacang mente ku tidak di makan,” tolak tante pemilik kosannya dengan raut wajah mesumnya.
Wijaya mengeluarkan uang 5 gepok dari saku jasnya, mengulurkan uang kepada tante pemilik kosan.
“Cukup?”
“Aku bilang cukup tidur….”
“Maaf, selera ku untuk tidur dengan seorang wanita bukan Anda. Lebih baik aku tidur dengan anak yang baru saja tamat sekolah, daripada aku tidur dengan wanita seperti Anda. Aku rasa uang ini untuk membayar kosan Camilla lebih dari cukup. Sisanya Anda bisa mencari seorang pria yang bisa di bayar 300 ribu untuk satu malam,” sela Wijaya dingin.
“Baiklah, aku terima uang kau ini,” tante pemilik kosan mengambil uang dari tangan Wijaya. Ia pun berbalik, tangannya melambai ke Camilla, “Daaa…Milla, sayang!”
__ADS_1
Tante pemilik kosan itu berjalan mendekati mobil miliknya, masuk, lalu menjalankan mobilnya.
Wijaya menggenggam erat pergelangan tangan Camilla, “Masuk!”
Wijaya membawa paksa Camilla, masuk ke dalam mobil, mencampakkannya ke kursi, lalu ia pun masuk dan duduk di samping Camilla.
“Bisa nggak, kalau mau menyuruh aku duduk itu dengan perbuatan yang lembut? Kau ini Om, kasar sekali. Dasar Duda!” protes Camilla.
“Varo, jalan!” tegas Wijaya memberi perintah, mengabaikan protes Camilla.
Mobil sudah berjalan meninggalkan luar gerbang sekolah Andy, menuju Perusahaan kecil milik Wijaya.
“Hei, aku sedang melayangkan protes sama kau, Om !” lanjut Camilla kembali mengomel.
“Uang 5 juta tadi akan aku potong dari gajimu. Oh…bukan itu aja, kau juga harus membayar ponsel milikku yang kau rusakkan kemarin malam. Itu ponsel aku beli dari luar, seharga 70 juta. Kau juga harus mencicilnya setiap bulannya. Belum lagi bunganya. Jadi, total hutang yang kau miliki denganku sebesar 100 juta rupiah. Setiap bulan saat gajian, aku akan memotongnya sebanyak 18 juta. Jadi, total gaji yang akan kau peroleh setiap bulannya hanya 2 juta,” ucap Wijaya merincikan kerugiannya atas ulah Camilla.
Camilla mendengar hal itu terlihat tidak senang.
“Curang kau, Om! Tadi wanita itu minta tidur dengan-mu, tanpa aku harus membayar hutang kepadanya. Tapi kau aja yang kebaikan mengasih uang sebanyak 5 juta, terus kau suruh pula dia mencari lelaki 300 ribuan untuk teman tidurnya. Udah itu kau tambah lagi dengan ponselmu yang rusak kemarin seharga 70 juta! Kau pasti bercanda, uang 70 juta itu udah bisa kau bangun rumah 4x10 meter di daerah kota Tembung. Pasti kau ingin memeras ku, ‘kan?” protes Camilla tak terima.
Wijaya menatap Camilla, “Aku tanya sama-mu. Misalnya aku terlilit hutang dengan pebisnis lainnya yang bernilai miliaran rupiah. Aku tidak sanggup bayar, di sampingku hanya ada kamu. Lalu pria pebisnis itu memintaku untuk tidak usah membayarkan hutang ku kepadanya. Dia hanya meminta kau untuk tidur dengannya, dengan satu syarat. Kamu harus merelakan keperawananmu. Apa kau mau?” Wijaya balik bertanya dengan mengembalikan perbuatan Camilla.
“Ya nggak lah! Udah gila ku rasa kau, Om. Gini-gini aku masih bisa jaga kesucianku. Kau tahu harga kesucian itu mahal, dan harus dinikmati oleh suamiku nantinya. Kau cocok-cocokan pula masalah tadi dengan bisnis kau. Dasar..duda!”
“Emang berapa harganya?” tanya Wijaya, perlahan ia mendekatkan wajahnya, membuat Camilla duduk menyudut.
“Harga apa?” Camilla balik bertanya dengan suara menciut.
“Harga kesucianmu?” Wijaya balik bertanya, sepasang bola matanya menatap wajah panik Camilla.
“Nggak di jual buat kau, Om. Itu hanya untuk lakik ku nanti,” sahut Camilla semakin menciut, duduknya perlahan merosot ke bawah, saat wajah Wijaya semakin dekat.
"Oh.." sahut Wijaya menggantung, ia kembali duduk ke posisi semula.
1 jam setelah menempuh perjalan macet di kota Medan, karena banyak orang pergi kerja. Akhirnya mobil Wijaya sudah terparkir di depan teras Perusahaan.
__ADS_1
Di depan teras terlihat ada seorang wanita berdiri, memakai baju kurang bahan, di jenjang lehernya melingkar syal.