
Pukul 07:00. Wijaya, Andy, dan Camilla, duduk di kursi makan. Menikmati sarapan pagi dengan sup iga sapi.
Andy terus menatap sebelah mata Wijaya terlihat membiru, dan punggung tangannya ada bekas cakaran. Pandangan Andy kemudian beralih pada Camilla, sedang menarik-narik rambut panjang pelanginya, sambil menikmati santap makanannya.
Tak puas hanya terus menerka lewat pandangan, Andy mulai membuka mulutnya untuk bertanya.
“Kenapa sebelah mata Papa membiru, dan di punggung tangan ada bekas cakaran? Perasaan kita tidak memelihara kucing, ataupun harimau di rumah!” Andy menyamakan bekas cakaran dan lebam itu ulah dari seekor harimau atau kucing.
“Memang kita tidak memelihara kucing, atau harimau. Tapi, kita memilihara dan menempatkan wanita siluman di rumah ini!” sahut Wijaya, pandangannya mengarah pada Camilla, duduk di sebelah Andy, menikmati sup iga sapi.
Dengan santainya, tanpa melihat ke Wijaya, Camilla berkata, “Ya ngeri kali rumah besar seperti ini ada wanita siluman. Lebih bagus pigi kau ke dukun Om. Cepat-cepat usir wanita siluman itu, sebelum ia memangsa aku, dan Andy.”
“Iya, benar kata Kak Camilla, Pa,” Andy membenarkan usulan Camilla.
Sebelah alis Wijaya semakin naik turun, tangan memegang gagang sendok semakin mengerat, tatapan sinis terus menatap wajah santai Camilla, terus menikmati sum-sum di iga sapi. Seketika kenangan tadi malam kembali muncul.
.
# Flashback tadi malam
Wijaya terus menarik Camilla, membawanya masuk ke dalam kamar. Namun, Camilla tak suka tidur di kamar besar sendirian, tangannya terus berusaha menggenggam erat tangan Wijaya.
“Aku nggak mau tidur di sini, aku nggak mau tidur di kamar sebesar ini.”
Meskipun sedang mabuk berat, Camilla masih merasa tidak nyaman jika tidur di dalam ruangan besar. Trauma itu masih terus menghantuinya.
“Masih sadarnya kamu? Sudah, jangan banyak permintaan, sebaiknya kamu tidur di dalam kamar ini!” tegas Wijaya, melepaskan genggaman tangan Camilla.
Camilla tak ingin Wijaya pergi meninggalkan dirinya sendiri di dalam kamar besar, tangannya berusaha mengulur, mencoba menggenggam tangan Wijaya. Namun, bukan genggaman di dapan dari tangan Camilla, punggung tangan Wijaya malah mendapat beberapa goresan kukuh dari kuku panjang Camilla.
“Apa-apaan kamu!” bentak Wijaya sembari menarik tangannya yang terluka.
Camilla tiba-tiba terdiam, sepasang bola mata indahnya mulai mengkhayal ke tingkat tinggi. Camilla terus memandang mata sebelah kanan Wijaya, ia melihat di atas kelopak mata Wijaya ada kecoak. Camilla merasa jijik melihat kecoak, mulai mengepalkan tangannya, mengangkatnya, dan perlahan mulai mengarah ke wajah Wijaya.
“Ka-kamu mau ngapain?” tanya Wijaya gugup.
Bug!
Belum sempat menjauh, kepalan tinju sudah mendarat di mata kanan Wijaya.
Camilla benar-benar mabuk berat, entah minuman apa diberikan Viona kepadanya.
“Akh, kenapa kau memukulku?” tanya Wijaya di sela menahan denyut di matanya.
“Kau sangat jorok Om. Apa kau tidak lihat, ada kecoak menempel di kelopak mata-mu tadi,” sahut Camilla, kepalan tinju ia tunjukkan ke Wijaya.
Di mata Camilla, kepalan tinju itu ada kecoak mati. Tapi di mata Wijaya itu hanya kepala tinju dari tangan mungil milik Camilla.
“Itu bukan kecoak! Lihat mata ku, lihat mataku yang sudah kau pukul, Camilla Hanin!” teriak Wijaya memanggil nama Camilla.
__ADS_1
“Oh…” angguk Camilla tanpa bersalah.
Mendengar ada teriakan Wijaya dari dalam kamar Camilla. Varo langsung mengecek Wijaya berada di dalam kamar Camilla, membuka pintu kamar tanpa mengetuk.
“Tuan, kenapa dengan punggung tangan Anda, dan…kenapa mata kanan Anda?” tanya Varo, begitu masuk di suguhkan pemandangan kacau dari Wijaya.
“Wanita sumo itu yang sudah melukaiku seperti ini. Wanita sumo itu sangat menyebalkan!” sahut Wijaya bergumam.
Kecemasan Varo kepada Wijaya, seketika menghilang, saat melihat Camilla duduk menyila di atas lantai kamar, menatap Wijaya dan Varo dengan tatapan mengantuk.
“Abang ganteng, mau menemani aku tidur?” tanya Camilla, kelopak matanya pun perlahan turun, tubuhnya seketika ambruk ke samping.
Camilla mabuk berat, ia tidur begitu saja, dengan posisi duduk bersila.
Wijaya hanya bisa menarik nafas dan menggeleng. Mencoba meredakan amarahnya, tanpa membalas perbuatan Camilla.
“Urus wanita itu, aku mau ke kamar, mengobati luka atas ulah gadis ini,” perintah Wijaya.
.
#Flashback off
.
Wijaya, Camilla, dan Andy, sudah selesai makan. Piring dan mangkuk kotor di atas meja sudah di angkut oleh Viona.
“Pa, Kak Camilla ikut, ‘kan?” tanya Andy penuh harap.
“Tidak, wanita sumo itu akan membuat masalah nantinya,” sahut Wijaya datar.
“Tapi Pa, aku ingin sekali-kali di antar bersama dengan seorang wanita. Aku iri melihat teman-teman di antar oleh Ibu nya ke sekolah. Apa aku tidak boleh merasakan hal itu saat ada Kak Camilla di sini?” pinta Andy sendu, kepala tertunduk.
Seketika hati keras Wijaya luluh melihat ekspresi wajah dan perkataan sendu dari putra nya itu.
Benar memang, Andy sudah sangat lama tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu, ataupun kehangatan dari seorang wanita semenjak Mama nya meninggal dunia.
“Tenang aja. Aku akan mengantarkan kau ke sekolah. Memang benar, kalau kita pergi ke sekolah di antar sama Mamak, hari-hari kita akan sangat jauh berbeda. Apalagi kalau dapat pujian dan kecupan semangat sebelum masuk ke gerbang sekolah. Dulu aku pernah merasakan hal itu, makanya aku pintar di sekolah. Tapi berhubung Mamak kau sudah tiada. Jadi, aku aja yang mengantar kau setiap pergi ke sekolah Tk, selama aku di sini. Gimana?” usul Camilla dengan logatnya sedikit kasar, tapi tujuannya baik.
“Iya, aku mau!” sahut Andy dengan mata berbinar.
Wijaya, dan Varo berada di sana hanya bisa diam.
Seuntai senyum tergaris di wajah tampan Varo, ‘Gadis ini sungguh menarik. Di balik sikap kasarnya, ada sisi lembut dan hangat yang tersimpan. Membuat perasaan saya setiap kali melihatnya tak karuan. Apakah ini yang dinamakan cinta?’ batin Varo terkesima melihat karakter Camilla.
“Pa, Kak Camilla ikut, ‘kan?” tanya Andy sudah berdiri di hadapan Wijaya.
Wijaya hanya mengangguk. Detik selanjutnya, pandangan Wijaya mengarah pada Varo, masih terus memandang Camilla.
“Cepat siapkan mobil,” perintah Wijaya membuyarkan lamunan Varo.
__ADS_1
“Ba-baik tuan,” sahut Varo harus kembali tersadar.
Varo lebih dulu melangkah menuju mobil sudah di parkirkan di depan teras rumah.
Wijaya mengambil tas milik Andy, lalu tas kerja miliknya.
Wijaya, Camilla, dan Andy, melangkah bersama meninggalkan ruang makan, menuju mobil Wijaya sudah siap jalan di depan teras rumah.
Mobil di naiki Wijaya, Andy, Camilla, dan Varo, perlahan berjalan keluar dari gerbang rumah, dan kini berjalan menuju sekolah Tk.
Di dalam mobil melaju dengan kecepatan sedang, Andy terus mengajukan beberapa pertanyaan kepada Camilla. Camilla pun terlihat dengan senang hati menjawabnya.
“Kak, katanya dulu Kakak pintar. Tapi kenapa Kakak tidak bekerja di tempat yang bagus?” tanya Andy dengan polosnya.
“Aku hanya tamat SMK, bagaimana bisa aku bekerja di tempat yang bagus. Bekerja menjadi Baby sister untuk Papa, kau, aja aku sudah sangat bersyukur,” sahut Camilla jujur.
“Sebelum kita bertemu, Kakak bekerja sebagai apa? Kok Kakak bisa keluyuruan di Mall?” tanya Andy mengingat perjumpaan mereka pertama kali.
‘Iss..apalah bocah ingusan satu ini. Dia terus menanyakan apa pekerjaanku. Tanya yang lain kek, buat aku gugup aja,’ gerutu Camilla dalam hati.
“Kak,” panggil Camilla, ia menengadahkan wajahnya, menatap Camilla saat ini sedang memangkunya.
“Apa ya? pekerjaan ku dulu cukup melelahkan. Menuntutku harus berlari, bersembunyi, bahkan rambut panjang pelangiku ini sempat di potong pendek sama inang-inang di pajak itu. Kesal kali aku pokoknya. Sudahlah jangan di ingat lagi tentang pekerjaanku yang lalu,” sahut Camilla langsung memutus percakapannya.
“Jahat sekali inang-inang itu Kak. Terus saat rambut Kakak di potong, apa yang Kakak lakukan kepada inang-inang itu?” Andy balik bertanya.
“Tentu saja aku tarik sarungnya, lalu aku robek. Kraak…sarung lapuk itupun robek dengan mudahnya,” sahut Camilla dengan raut wajah suram.
“Mengerikan,” gumam Andy sedikit takut saat melihat ekspresi wajah Camilla.
“Eh, aku juga mau kasih tahu kau. Tapi sebelumnya aku tanya sama mu dulu. Aku cantik tidak?” tanya Camilla mengedipkan bulu mata lentiknya.
Varo, dan Wijaya mendengar kepedaan Camilla, hanya bisa menggaris senyum, dan tawa tertahan.
“Cantik, jika aku lihat-lihat. Kakak itu sekilas mirip dengan mendiang Mama,” sahut Andy mulai mengarah ke hal lain.
“Matamu, kau samakan wajah ku dengan wajah yang sudah meninggal dunia. Besok-besok kau ajak Papa-mu itu ke dokter mata. Periksa yang benar, agar matamu tidak rabun sejak dini,” celetuk Camilla tak terima di sama wajahnya dengan wajah orang lain.
“Ha ha ha…Kak Camilla ini sangat imut,” kedua tangan mungil Andy mencubit pipi Camilla, “Aku rasa Kakak pantas menggantikan Mama, daripada tante Mayang,” lanjut Andy mengutarakan isi hatinya.
“Ha ha ha…tentu saja aku tidak mau. Yang benar aja kau suruh aku menikah dengan seorang duda, ha ha ha…lucu! Kau ini benar-benar lucu,” tolak Camilla di sela tawa sumbang nya.
“Kakak harus pikir-pikir dulu, Papa ku itu keren, meski dia duda. Jika Kakak menikah dengan Papa, Kakak juga mendapatkan bonus, yaitu aku!”
“Ha ha…tahu darimana kau dapat gombalan maut seperti itu?” tanya Camilla di sela tawa sumbang nya.
“Tentu saja aku tahu dari tv,” sahut Andy, kemudian tertawa geli.
“Kamu memang menggemaskan,” geram Camilla, tangannya mengacak rambut Andy.
__ADS_1