BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 49. Demam Bersamaan


__ADS_3

Keesokan paginya. Viona berlari keluar dari kamar Andy, menuju kamar Wijaya, mengetuk pintu sambil berteriak.


Tok tok!


"Tuan besar, tuan besar Wijaya...gawat!"


Pintu kamar terbuka, Wijaya berdiri dengan rambut basah, lingkaran panda terlihat jelas di wajah kharisma nya terlihat lelah. Seperti kurang tidur semalaman.


"Ada apa?" tanya Wijaya dingin.


"Tu-tuan muda...ba-badannya..."


Belum lagi Viona siap berbicara, Wijaya langsung berlari menuju kamar Andy berada di lantai 1.


"Andy," panggil Wijaya setelah sampai di depan pintu kamar Andy, Varo terlihat duduk di tepi ranjang, mengompres dahi Andy.


"Tuan besar sudah bangun?" tanya Varo, tangannya masih terus mengompres dahi Andy.


Dengan langkah goyah Wijaya berjalan masuk ke dalam, mendudukkan dirinya di samping Varo.


"Bagaimana keadaan suhu tubuhnya?" tanya Wijaya lirih.


"Sudah agak mendingan tuan. Tuan muda juga sudah berhenti mengigau," jelas Varo.


"Sama seperti saat ia kehilangan almarhum Mamanya," Wijaya menatap serius wajah Varo, "Hubungi dokter bila perlu. Aku tak ingin Andy jatuh sakit terlalu lama karena terus memikirkan Camilla," lanjut Wijaya memberi perintah.


"Saya rasa obat dokter tidak akan mungkin mampu untuk menurunkan panas tuan muda. Rasa rindu dan kehilangan lah yang membuat tuan muda menjadi demam seperti ini. Bagaimana jika kita lapor ke pihak berwajib saja," Varo memberi masukkan.


"Aku tidak bisa. Camilla pergi atas kehendaknya, bukan karena penculikan. Biar aku saja yang mencarinya. Tolong kamu jaga Andy untukku," tolak Wijaya tegas.


Wijaya beranjak dari duduknya, punggung tangan sejenak menempel di dahi Andy terasa hangat. Wijaya balik badan, berdiri di hadapan Varo masih duduk di samping Andy.


"Hubungi saja dokter anak. Suruh dokter itu membuat resep obat yang bagus. Aku akan pergi mencari keberadaan Camilla. Kamu jaga Andy di sini," tegas Wijaya memberi perintah.


"Tapi tu...."


Wijaya pergi begitu saja tanpa membiarkan Varo menyelesaikan ucapannya.


Belum sarapan atau pun minum air hangat. Wijaya sudah melajukan mobilnya, keluar rumah, menelusuri sudut kota Medan mulai ramai orang pekerja berkendara.

__ADS_1


"Dimana kamu, Camilla. Aku benar-benar akan menghukum mu nanti," gumam Wijaya, pandangan liar ke sekeliling jalan raya, padat pengendara motor.


Sementara itu di kos-kosan milik Camilla.


"Hancuih...hancuih!"


Camilla bersin-bersin hingga hidungnya memerah, ingus keluar masuk.


"Aduh, kenapa aku bisa demam seperti ini. Kalau aku hitung-hitung selama aku hidup di muka bumi ini, baru 2 kali aku jatuh sakit," gumam Camilla, perlahan ia menarik kain seprai untuk di jadikan selimut.


Wajah Camilla pucat, tubuhnya menggigil karena merasakan hawa dingin teramat menusuk ke seluruh tulang, hingga ke hulu hati. Camilla hanya bisa berbaring di ranjang usang nya itu.


"Nggak enak kali rasanya. Apa aku sudah mau mati?" Camilla bergumam, perlahan kelopak matanya terpejam.


Camilla kembali tertidur karena tubuhnya tak bisa untuk di bawa berjalan, ataupun duduk.


Suhu tubuh Camilla semakin lama semakin tinggi, tubuhnya juga menggigil. Camilla terus mengigau, memanggil nama Andy.


"Andy...Andy, maafkan aku. Aku pergi bukan karena aku tak suka kepadamu. Aku pergi karena aku tak ingin hubungan Om duda dan wanita ulat bulu itu rusak. Aku tak ingin di anggap sebagai Pelakor. Aku harap kau mengerti, Andy. Andy...sehat, sehat kau di sana, ya....Andy..."


Camilla terus meracau di balik kain seprai menjadi selimut tubuh mungilnya.


"Kenapa kau?"


"Aku sedang menunggu di jemput Malaikat Maut," sahut Camilla menggigil.


"Aku tak ingin kau mati di kamar kosanku," tante pemilik kosan membantu Camilla bangkit, membawanya perlahan keluar dari kamarnya. "Aku akan bawa kau ke bidan terdekat," lanjut tante pemilik kosan, membawa Camilla.


"Baik kali kau, tante gatal. Apa kau mengincar sesuatu dariku? makanya kau mau membantuku untuk ke bidan," tanya Camilla lemah.


Meski tubuh masih sangat lemah, tapi hujatan dari mulut mungil Camilla tak bisa akan pernah hilang.


"Tentu ada. Aku menginginkan uang darimu. Kalau kau mati sekarang, gimana dengan uang kosan kamar kau!"


Tante pemilik kosan memasukkan Camilla ke dalam mobil, bangku penumpang bagian depan.


"Dasar mata ijo," gumam Camilla, seringai manis tercetak di bibir mungil terlihat pucat. Namun, kedua matanya masih terpejam.


1 jam sudah berlalu. Camilla juga sudah diperiksa ternyata Camilla demam sangat tinggi. Camilla di rawat jalan untuk mengurangi biaya perawatannya.

__ADS_1


Camilla kini terbaring di ranjang usang di dalam kamarnya, infus terpasang di punggung tangan kirinya.


Tante pemilik kosan masih berdiri di samping ranjangnya.


"Kenapa lah dengan sih pencopet satu ini. Tumben sekali dia jatuh sakit. Kalau di pikir-pikir kasihan juga melihat dia hidup sebatang kara di dunia ini. Kalau gitu aku akan merawat kau yang penting cepat sembuh, dan kembali berikan aku uang," hela tante pemilik kosan.


Karena rasa kasihan melebihi rasa benci. Tante pemilik kosan memutuskan untuk merawat Camilla.


Kenapa Wijaya dan Varo sulit mencari keberadaan Camilla? Semua itu karena kosan jauh dari pusat pasar. Memiliki jalan sempit, dan tidak terekam di google maps. Jadi, tidak ada yang bisa mencarinya.


.


.


Sementara itu di perusahaan milik Wijaya.


Wijaya menyandarkan tubuh lesu dan lemahnya di kursi sofa terbuat dari bahan kulit.


"Hari kemana lagi aku mencari kamu?!" gumam Wijaya.


Lamunan Wijaya terputus, mendengar suara langkah dan suara manja dari Mayang di buat-buat.


"Sayang....Viona bilang kamu belum ada makan pagi. Mumpung aku mampir, dan waktuku banyak untukmu. Aku sudah menanyakan bekal makanan buatan ku sendiri," Viona membuka satu-persatu kotak rantang makanan di atas meja.


"Aku tidak lapar, dan berhentilah memanggil ku dengan sebutan sayang!" tegas Wijaya dingin.


"Aku tidak mau. Kita ini masih jadian, yang mau memutuskan hubungan itu hanya kamus seorang, aku tidak. Jadi...sampai kapan pun, aku tidak ingin putus dari kamu!" tolak Mayang, perlahan ia menciduk nasi.


Prang!


Wajah menepis kuat tangan Mayang, membuat sendok berisi nasi terpelanting ke lantai, dan berserakan.


Mayang terdiam, tubuhnya gemetar takut saat melihat raut wajah Wijaya suram.


"Aku minta kamu keluar dari ruangan ku. Kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Aku minta kau keluar!" bentak Wijaya di kalimat terakhirnya.


"Kita sebentar lagi akan bertunangan. Tinggal menghitung hari, Wijaya. Apa kamu tida perduli dengan reputasi perusahaan kamu!" Mayang seperti mengancam.


"Aku rasa kau keliru. Sebaiknya aku pergi, jangan pernah tunjukkan batang hidung kau lagi di hadapanku!" tegas Wijaya sekali lagi mengusir Mayang.

__ADS_1


"Sampai kapan pun. Kau dan aku...kita berdua akan menjadi sepasang suami-istri yang sah! tidak akan aku biarkan wanita sumo itu mengganggu, merebut kamu dariku!" tegas Mayang, ia berlalu pergi keluar ruangan Wijaya.


__ADS_2