
Keesokan paginya. Andy berdiri di luar pintu kamar Camilla, tangannya memegang sebuah kotak hadiah.
Tok tok!
Andy mengetuk pintu kamar Camilla.
"Kak, apakah Kakak sudah bangun?" tanya Andy dengan suara imutnya.
Pintu kamar terbuka, Camilla keluar masih memakai baju piyama. Rambut acak-acakan, mulut berulang kali menguap.
"Huuaa...Ada apa?" tanya Camilla di sela menguapnya.
Andy mengulurkan kotok hadiah itu, "Ini hadiah ulang tahun dariku untuk Kakak. Aku melihat biodata kakak sewaktu melamar pekerjaan, kalau minggu depan Kakak berulang tahun. Jadi, kemarin waktu aku pergi ke Mall bersama dengan Om Varo, aku menyempatkan diri untuk membelikan hadiah ulang tahun buat kakak," ucap Andy pelan, dan malu-malu.
Camilla jongkok, kedua matanya berbinar terang melihat kado hadiah ulang tahun dari Andy.
"Untukku?" tanya Camilla menyakinkan.
"Iya, ini buat Kakak. Kakak harus menerima kado ini, karena aku membelinya dari hasil tabunganku sendiri," sahut Andy mengangguk.
Camilla spontan memeluk Andy, ia terharu mendengar ucapan Andy. Saking terharunya Camilla sampai menangis. Andy pun terkejut mendengar tangisan Camilla.
"Cup cup...kakak kenapa menangis?" tanya Andy.
Tangisan Camilla terhenti, ia menatap dengan bola mata basah, "Aku terharu. Seumur hidup aku tidak pernah diberikan kado ulang tahun. Pernah sekali aku di kasih kado ulang tahun. Tapi...."
"Masa lalu yang suram jangan di kenang lagi kak. Aku ada di sini untuk kakak. Aku janji akan selalu memperhatikan Kakak," sela Andy menenangkan seperti seorang pria dewasa.
"Gemes kali aku lihat bocah satu ini. Jadi pacarku ajalah kau, mau!" gemas Camilla sembari mencubit kedua pipi Andy. Andy diam, tersenyum manis.
Saat Camilla berkata seperti itu, ternyata Wijaya sudah lama berdiri di samping mereka, memandang suram ke Camilla.
"Ehem! Apa kamu mencintai putraku?" tanya Wijaya seolah cemburu dan mengambil serius gurauan Camilla.
Camilla melepaskan cubitan gemasnya, lalu memeluk Andy.
"Iya, aku menyukai putra kau, Om duda. Dia lelaki langkah. Boleh aku menikah dengannya?" sahut Camilla kembali bercanda. Wijaya semakin cemburu.
Wijaya macam anak kecil aja. Masa iya cemburu sama anaknya sendiri. Camilla juga, kenapa sering carik gara-gara. Gemas sekali keluarga Cemara satu ini.
Wijaya menarik Andy, menjauhkannya dari Camilla.
"Andy masih kecil, dan kamu sudah tua. Sadar diri!" cetus Wijaya kaku.
"Kalau aku menunggu Andy sampai dewasa, gimana? jadikan aku menantu mu, Om!"
Andy hanya terkekeh pelan saat melihat wajah Papanya berubah menjadi gelap. Sepertinya Andy tahu jika Wijaya menyukai Camilla, dan saat ini Wijaya cemburu pada anaknya sendiri.
__ADS_1
Camilla membungkuk, "Kalau aku menunggumu sampai besar, kau mau menikah denganku, 'kan?" tanya Camilla serius.
"He he...tentu saja tidak. Saat aku sudah menjadi pria gagah dan tampan, masa iya aku menikah dengan Kakak yang sudah keriputan. Lebih bagus Kakak menikah dengan Papa saja," sahut Andy jujur.
Camilla terdiam, ia berbalik.
"Malas ah. Menikah dengan Papa mu sama saja membawa ku ke dalam jurang neraka!" cetus Camilla.
"Kenapa gitu kak?" tanya Andy penasaran.
"Kamu pikir aku setan, membawamu ke jurang Neraka!" Wijaya menimpali.
"Setannya wanita ulat bulu itu. Aku malas berurusan dengannya, bisa khilaf aku kalau terus berkelahi dengannya," jelas Camilla jujur.
"Berarti Kakak menyukai Papa?" tanya Andy mengambil kesimpulan.
"Eh..." Camilla terdiam, wajahnya memerah seperti buah jambu.
Andy mengangguk, sepertinya pertanyaannya pas. Wijaya tersenyum, puas dengan hasil interogasi Andy.
"Aku sudah putus dengannya. Aku pastikan tidak akan ada yang mengganggu hubungan kita. Gimana, apakah kamu mau menjadi istriku?" tanya Wijaya langsung melamar Camilla.
"Eh....istri?!" teriak Camilla histeris.
"Aku serius, aku menyukai kamu, Camilla!" tegas Wijaya kembali.
Bam!
Hembusan angin dari pintu kamar membuat kedua mata Andy dan Wijaya terpejam.
"Pilihan aku tidak salahkan, Pa?" tanya Andy.
"Kamu memang nakal, Andy," gumam Wijaya sembari mengelus puncak kepala Andy.
Andy menengadah, "Pa, bukannya hari ini hari libur?" tanya Andy, masih berdiri di luar pintu kamar Camilla bersama dengan Wijaya.
"Iya, kenapa?"
"Ke kebun binatang yuk! sekalian beli roti ganda di Siantar," pinta Andy dengan wajah memelas.
"Kalau gitu mari kita bersiap!" ajak Wijaya.
"Kak Camilla ikut, 'kan Pa?"
"Hem...tidak tahu. Coba kamu tanyakan sendiri. Papa tunggu kamu di bawah," usul Wijaya.
"Baik, Pa," angguk Andy semangat.
__ADS_1
Wijaya berbalik, ia melangkah turun. Sementara Andy, masuk ke dalam kamar Camilla yang tak terkunci.
Terlihat Camilla sudah memakai pakaian rapih, duduk di depan meja rias.
"Ada apa?" tanya Camilla datar.
"Kak, hari ini masih sisa hari ulang tahunku yang kemarin," ucap Andy.
"Terus!"
"Kakak, 'kan belum memberikan aku kado ulang tahun."
"Terus!"
"Aku tidak meminta kado apa pun lagi dari Kakak. Asal..."
"Asal..."
"Asal Kakak mau menemani aku ke kebun binatang yang ada di Siantar," Andy menggenggam salah satu tangan Camilla, "Mau ya, Kak. Mau ya...." lanjut Andy memelas dengan wajah sendu.
Camilla menarik nafas panjang, lalu menatap wajah sendu Andy.
"Baiklah," hela Camilla.
"Yeah!" girang Andy melompat kesenangan.
Andy, Camilla, dan Wijaya bersiap-siap untuk pergi ke kebun binatang, lalu mereka juga ingin singgah ke Perapat, Danau Toba.
Setelah 30 kemudian. Wijaya, Camilla, dan Andy, sudah melaju menuju Siantar.
Karena perjalanan agak sedikit jauh, Andy memilih untuk duduk di belakang. Sepanjang perjalanan Andy terus bercerita dengan Camilla, ia terlihat sangat senang, tidak seperti biasanya.
Wijaya mendengarnya hanya bisa menggaris senyum tipis di wajah kharisma nya.
'Mungkin saat ini kamu belum mau menerima cintaku. Tapi suatu saat nanti, aku yakin. Kamu pasti akan menerima cintaku. Semenjak kehadiran kamu di sini, aku tersadar. Jika engkau adalah wanita yang pantas untuk menjadi pasanganku,' batin Wijaya.
1 jam kemudian. Sudah lelah bercerita, Andy meminta Camilla untuk pindah ke belakang karena ingin di temani tidur. Setelah bertukar tempat duduk, Camilla pindah duduk di belakang, di samping Andy. Camilla dan Andy tidur bersama, kepala mereka juga saling bertumpu.
Merasa gemas melihat momen langkah, Wijaya menghentikan laju mobilnya ketika sudah memasuki kota Siantar. Wijaya mengambil benda pipih miliknya, memotret momen Camilla dan Andy.
Setelah puas mengambil beberapa foto Andy dan Camilla. Wijaya melajukan kembali mobilnya menuju kebun binatang di kota Siantar.
Tak sampai 30 menit, mobil sudah berhenti di parkiran kebun binatang. Wijaya pun membangunkan Camilla dan Andy, masih tertidur lelap.
"Camilla, Andy, bangun," Wijaya membangunkan dengan lembut.
Camilla dan Andy terbangun, terkejut saat melihat mobil sudah sampai di parkiran kebun binatang.
__ADS_1