
Pria di sebut Om Lafi oleh Andy, adalah seorang pria sempat Camilla copet dompetnya. Camilla juga berpura-pura mengembalikan Atm, Ktp, Sim, dan kartu penting lainnya, dengan alasan, ‘Dompet itu di buang oleh orang lain’. Namun untungnya saat aksi pencopetan Camilla menutup sebagian wajahnya dengan topi, dan menyelipkan rambut panjang dengan ujung pelanginya ke dalam topi, jadi Lafi tidak bisa mengetahui jika wanita itu adalah Camilla.
Meski Lafi tidak mengetahui orang itu adalah Camilla, tapi tetap saja, Camilla merasa sangat malu atas perbuatannya. Camilla pun terus menundukkan wajahnya dan menutupnya dengan baju-baju di genggaman tangannya.
“Aduh…matilah aku kalau sempat abang-abang itu adalah Om dari Andy. Bisa-bisa aku di masukkan ke dalam penjara karena aku sudah mencopet uangnya. Apa aku kabur aja, ya? atau pura-pura aku mengembalikan uangnya itu?” gumam Camilla bertanya dengan dirinya sendiri.
Di saat Camilla terus bergumam dengan pikiran nya. Ada tangan kecil menarik ujung baju kaos Camilla dari belakang. Tangan itu adalah Andy.
“Kak…Kak Camilla kenapa terus menunduk?” tanya Andy dari sembari terus menarik ujung baju kaos Camilla.
Lafi sendiri mengerutkan dahinya, melihat ujung rambut panjang Camilla di cat dengan warna pelangi. Lafi teringat dengan seorang wanita, ia temui waktu di pusat pasar terbesar di kota Medan. Seorang wanita cantik, tomboy, memberikan KTP, SIM, ATM, dan kartu beharga lain miliknya waktu itu. Tapi kenapa wanita itu bisa kenal dengan Andy?
“Ka..kamu bukannya wanita yang waktu itu memberikan Ktp, Sim, Atm, dan kartu penting lainnya milikku? Wah…aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu kembali di sini,” celetuk Lafi terlihat senang.
Camilla pun langsung menolehkan wajahnya, nyengir kuda ia tunjukkan kepada Lafi, “He he he…oh...abang yang waktu itu kecopetan, ya?” ucap Camilla sembari tersenyum palsu, dan pura-pura lupa.
“Benar, tapi waktu itu aku belum sempat berterimakasih sama kamu, loh. Bagiku uang yang di dalam dompet itu tidak seberapa. Yang terpenting adalah kartu-kartu yang di dalam dompet itu,” Lafi mengulurkan tangannya, “Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih terlebih dahulu atas kebaikan kamu,” sambung Lafi mengucapkan terimakasih dengan tulus kepada Camilla.
“Ah…tidak perlu berterimakasih segala bang. Sudah sewajarnya sesama umat manusia saling membantu,” tolak Camilla malu-malu.
“Kalau gitu perkenalkan, nama aku, Lafi Lael. Panggil aja Lafi, atau bisa panggil senyaman yang kamu ingin 'kan. Aku juga adalah Om nya Andy, adek dari Papa nya Andy,” jelas Lafi memperkenalkan dirinya kepada Camilla, tangan masih terus mengulur, berharap balasan jabat tangan Camilla.
“Aku, Camilla Hanin, panggil saja Camilla…”
“Kak Camilla ini adalah Baby Sister Untuk Papa, Om,” sambung Andy menambah perkenalan Camilla ke Lafi.
Sejenak pikiran Lafi menjadi lambat, ia terus berpikir kenapa abang nya harus memakai Baby sister? Bukannya Wijaya sudah tua, dan sebentar lagi juga akan bertunangan dengan Mayang.
“Maksudnya Camilla ini adalah Baby sister untuk Andy, gitu ‘kan maksud Andy?” tanya Lafi memperjelas pendengarannya dengan merubah perkataan Andy.
“Bukan loh Om…untuk Papa, bukan untuk aku!” tegas Andy.
__ADS_1
“Loh…gimana..gimana ini maksudnya? Om masih belum mengerti,” ucap Lafi masih terus mencocokkan pikirannya dengan perkataan Andy.
“Sini Om..sini aku bisikan, tapi Om janji jangan bilang-bilang sama Papa, ya,” pinta Andy sembari menarik ujung jaket lee Lafi.
“Siap!”
Lafi pun menundukkan separuh tubuhnya, lalu Andy mulai menjelaskannya dengan cara berbisik. Terlihat Lafi terus tertawa tiada henti mendengar alasan Andy untuk mempekerjakan Camilla sebagai Baby sister untuk Wijaya.
“Ha ha ha…sudah cukup, Om sudah tidak tahan lagi,” kekeh Lafi hingga membuat perutnya pegal.
Di tengah tawa renyah Lafi, terdengar suara Wijaya dari belakang.
“Apa yang lucu, dan kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak pulang ke rumah?!” tanya Wijaya ketus.
Lafi pun menoleh kebelakang, sembari mengatupkan bibirnya. Namun, binar mata kebencian perlahan terlihat jelas saat melihat Mayang berdiri di samping Wijaya. Lafi tak menjawab pertanyaan Wijaya. Lafi malah mengelus puncak kepala Andy.
“Maaf, Om hari ini tidak bisa pulang ke rumah lagi. Lain kali Om akan berbicara panjang lebar dengan kamu. Om pamit dulu,” pamit Lafi kepada Andy.
Lafi pun pergi, ia berjalan meninggalkan Wijaya, Camilla, Andy, Mayang, dan Varo di dalam store itu.
“Anak itu memang tidak ada berubahnya,” gerutu Wijaya kesal.
“Sayang, jangan marah dulu. Coba aku kejar Lafi, dan biarkan aku bertanya langsung kepadanya,” ucap Mayang mencoba menenangkan Lafi.
“Tidak perlu sayang, biarkan saja ia pergi!” tolak Wijaya tak menginginkan Mayang ikut campur dengan urusannya.
“Sayang, aku tidak suka loh kalau kamu terus cekcok seperti ini dengan Lafi. Dia itu adik kamu satu-satunya, dan aku juga akan menjadi bagian keluarga kamu suata saat nanti, jadi izinkan aku mengejarnya, ya,” ucap Mayang kembali memohon.
Sejenak Wijaya menarik nafas, lalu mengangguk, “Baiklah, kamu hati-hati ya, sayang,” Wijaya mengizinkan Mayang pergi untuk mengejar Lafi.
“Iya, kamu di sini saja, temani wanita sumo itu berbelanja. Aku pergi sebentar ya,” pamit Mayang.
__ADS_1
Setelah dapat anggukan dari Wijaya, Mayang pun dengan cepat keluar dari store itu, menatap liar ke sekeliling Mall, mencari dimana Lafi berada. Setelah cukup lelah mencari, akhirnya Mayang menemukan Lafi di store khusus menjual sepatu sport.
“Lafi,” panggil Mayang lembut dari belakang.
Sejenak Lafi menoleh. Namun, ia segera meletakkan sepatu ke dalam raknya, lalu pergi meninggalkan store itu dengan wajah marah.
Mayang pun segera mengejarnya, tangannya berusaha menggapai tangan Lafi dari belakang. Namun tidak pernah sampai.
“Lafi…Lafi…tunggu aku. Kenapa kamu menjadi sangat marah seperti ini dengan ku?”
“Kau pikir aja sendiri!” ketus Lafi sembari terus berjalan lurus.
“Lafi, aku mohon jelaskan apa salah ku dengan kamu. Lafi….auw!”
Saat Mayang terus berteriak memanggil Lafi, kaki Mayang tiba-tiba keseleo, dan jatuh di tempat. Lafi pun segera menghentikan langkahnya, menggendong tubuh Mayang, dan mendudukkannya di kursi tunggu dekat store
“Mana yang sakit?” tanya Lafi cemas, tangannya meraba pergelangan kaki Mayang terlihat memar, dan menekannya.
“Aaa….duhh…sakit Lafi,” teriak Mayang dengan nada aneh, membuat semua pengunjung di sana memandang perbuatan Lafi.
“Makanya, sudah tahu memakai hak tinggi masih aja kamu terus berlari. Kamu lihat kaki kamu yang mulus ini jadinya memar,” omel Lafi.
“Maaf, habisnya kamu terus mengelak saat berjumpa denganku. Apa karena gara-gara malam itu?”
“Tidak,” sahut Lafi singkat.
“Jadi kenapa kamu terus mengelak saat berjumpa denganku. Katakana padaku , Lafi. Jangan buat aku terus merasa bersalah dan bertanya-tanya tentang sikap dingin-mu kepadaku,” pinta Mayang memohon.
Lafi perlahan berdiri, ia menatap lekat wajah sendu Mayang.
“Apa kamu mencintai Abang ku, Wijaya Atmaji?” tanya Lafi serius.
__ADS_1
“Ke..kenapa kamu bertanya seperti itu?” Mayang balik bertanya dengan kaku.