
Wijaya masih terus mengejar Lafi, kini membawa Camilla ke lantai 3, kamar milik Lafi.
"Berhenti!" teriak Wijaya dari jarak 1 meter.
Lafi menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.
"Ck, ganggu aja!" gumam Lafi.
"Om duda!" gumam Camilla senang.
Wijaya mulai melangkah mendekati Lafi. Wijaya menarik Camilla, membuatnya berdiri di sampingnya.
"Berapa kali abang bilang, jangan pernah dekati Camilla. Kenapa kamu tidak paham juga!" bentak Wijaya mulai tersulut emosi.
"Kenapa rupanya kalau aku mendekatinya. Bukannya wanita ini belum memiliki kekasih," sahut Lafi, tangannya ingin menarik Camilla, tapi Wijaya sigap menepis tangan Lafi.
"Cara kamu menyukainya itu berbeda. Aku tahu siapa kamu, Lafi. Jadi, berhentilah mendekati Camilla!" tegas Wijaya.
"Itu bukan urusan abang. Kembalikan Camilla padaku!"
"Apa hak mu meminta Camilla? Camilla itu hanya milikku, dia Baby Sister milikku. Bukan milikmu," Wijaya terlalu emosi mulai melangkahkan kakinya, berdiri di depan Lafi. Sorot mata ingin membunuh menatap lekat wajah Lafi. "Aku peringatkan sekali lagi. Jangan pernah kamu sentuh Camilla. Karena Camilla hanya untukku, dan hanya boleh di sentuh oleh ku!" lanjut Wijaya tegas.
Saat Wijaya berkata seperti itu, ternyata Mayang ada di belakang Wijaya dan Camilla. Mayang dan Camilla terkejut, tak menyangka jika Wijaya akan mengatakan hal seperti itu.
'Apa aku tadi tidak salah dengar. Om duda benar-benar menyukaiku,' batin Camilla.
Mayang merasa dikhianati mendekati Camilla, memutar arah berdiri Camilla, dan menamparnya.
Plak!
Camilla masih dalam posisi melamun tidak bisa menghindari tamparan Mayang.
'Alamak sakitnya. Wanita ulat bulu ini macam setan aja, tiba-tiba datang menamparku. Aku harus membalasnya,' batin Camilla sudah tersadar dari lamunannya.
"Berani sekali kau....."
Plaakk!
Belum lagi Mayang siap berbicara, Camilla melayangkan tamparan ke Mayang. Perdebatan Wijaya dan Lafi pun terhenti.
"Diam kau! kau yang berani sekali menamparku. Uda paten kali kau rasa tangan kau itu, ha!" teriak Camilla. Mayang terdiam.
__ADS_1
Tak ingin Camilla terluka, Wijaya mendekat. Ia ingin melerai.
"Camilla, sebaiknya kita...."
"Diam! ini urusanku dengan wanita ulat bulu ini. Kau jangan ikut campur Om duda!" sekak Camilla.
Wijaya terdiam, menarik nafas, memilih untuk menjauh, dengan menyadarkan tubuhnya ke dinding. Wijaya sangat tahu jika Camilla sudah marah, tidak ada satupun orang bisa menyudahinya. Wijaya memilih untuk menonton.
"Hei, sadar kau siapa! kau hanya Baby sister Wijaya, bukan istri atau kekasihnya!" cetus Mayang meninggikan nada suaranya.
"Iya, aku tahu. Tapi kau dengar sendiri tadi kan, jika Om duda itu menyukaiku. Jadi kau nggak berhak mengurus masalah hati orang lain. Yang aku tanya, kenapa kau menamparku?!" tanya Camilla meninggikan nada suaranya.
"Karena kau sudah merebut Wijaya dariku!" sahut Mayang tegas.
"Ha ha... buat apa aku merebut Om duda darimu. Ngaca dulu kau!" kekeh Camilla.
Mayang semakin tersulut emosi. Kedua tangannya menarik rambut pelangi Camilla, Camilla pun membalasnya. Terjadi tarik menarik rambut.
"Kau yang seharusnya ngaca wanita sumo. Wijaya itu hanya untukku. Bukan untukmu!" teriak Mayang sembari terus menarik rambut panjang pelangi Camilla.
"Siapa kau rupanya? berani mengatur perasaan orang lain. Kau tanya sama Om duda sendiri. Apa saat Om duda bersamamu, bendanya hidup? tidak, 'kan. Berarti kau bukan wanita yang menggairahkan. Kau hanya wanita ulat bulu yang tua!" Cetus Camilla ikut meninggikan nada suaranya, kedua tangannya juga masih menarik rambut Mayang.
"Berani sekali kau mengatakan hal itu. Apa sudah pernah kau merasakan milik Wijaya. Dasar kau, Pelakor!" teriak Mayang kembali.
Sementara itu, Lafi mendekati Wijaya.
"Nggak di pisahkan bang?" tanya Lafi ikut menonton.
"Nggak, biarkan aja. Kalau mereka sudah puas pasti tangan mereka saling lepas," sahut Wijaya santai, tetap menonton.
"Bagaimana jika rambut mereka botak nantinya?"
"Tinggal bawa ke salon aja," sahut Wijaya santai.
"Abang memang sangat santai. Kamu juga sangat beruntung masalah percintaan, tidak seperti aku!" ucap Lafi lirih.
"Kamu juga bisa. Jika memang ingin memiliki cinta yang sempurna, maka berubah lah."
Wijaya dan Lafi malah saling curhat dan menasehati.
Merasa wajah sudah pedas terkena cakaran masing-masing kuku. Camilla dan Mayang saling menjauh, nafas terlihat memburu.
__ADS_1
"Awas kau, wanita sumo!" ancam Mayang.
"Kenapa rupanya aku harus awas? sudah gila ku rasa kau!" cetus Camilla sembari membenarkan rambut panjang pelanginya.
Mayang menoleh ke Wijaya, dan mulai bertanya.
"Sayang, kamu pilih aku atau wanita sumo ini?" tanya Mayang dengan nafas terputus-putus karena kelelahan.
"Aku mencintaimu, tapi aku menyayangi Camilla," sahut Wijaya jujur, tanpa menyembunyikan perasaannya.
"Kalau gitu batalkan pertunangan kita. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang memiliki perasaan bercabang!" tegas Mayang.
"Baiklah, kalau gitu hari ini kita putus!" sahut Wijaya tegas.
Mayang mengepal kedua tangannya, wajahnya terlihat kesal, sorot mata kebencian mengarah pada Camilla.
"Ini semua gara-gara kehadiran kau! Lihat, lihat apa yang baru saja Wijaya katakan padaku. Apa kau sudah puas telah merusak hubungan orang lain," Mayang meluapkan kekesalannya dengan membentak Camilla.
"Mungkin ini karma atas perbuatanmu!" sahut Camilla santai. Pandangannya mengarah pada Wijaya, "Om, aku tidak ingin di bilang perusak hubungan orang lain. Tentang perasaan yang baru saja kau utarakan, maaf, aku tidak bisa membalasnya," Camilla berbalik, "Tolong selesaikan masalah kau dengan wanita ulat bulu ini Om!" lanjut Camilla, ia pun mulai melangkah pergi.
Wijaya menghela nafas panjang, menolehkan pandangannya ke Lafi, "Tolong antarkan Mayang pulang," Wijaya meminta tolong ke Lafi, lalu Wijaya pergi menyusul Camilla.
Setelah Wijaya pergi, Mayang menghentakkan kedua kakinya.
"Aaaa ...dasar wanita sumo. Wanita pasaran yang tak tahu sopan santun. Gara-gara kehadirannya aku jadi batal menikah dengan Wijaya!" teriak Mayang.
"Rencana aku untuk juga gagal. Sudahlah, lebih baik kita akhiri saja rencana ini," sahut Lafi santai.
"Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan wanita sumo itu lepas begitu saja. Aku harus memberikannya pelajaran!"
"Abang Wijaya tidak menyukai kamu. Berhentilah memaksakan diri. Lebih baik kamu fokus saja denganku," ucap Lafi.
"Tapi aku ingin menjadi nyonya dari seorang pria pengusaha. Aku menginginkan hal itu, Lafi," rintih Mayang, ia memeluk Lafi.
"Kita habisi saja abang Wijaya, ambil semua hartanya. Gimana?" usul Lafi.
"Tidak semudah itu. Kamu pikir membayar pembunuh yang profesional itu murah. Aku hanya ingin kembali ke Wijaya, aku tidak ingin pertunangan ini di batalkan," rengek Mayang.
"Kalau gitu kamu harus mengambil hati Andy. Kelemahan abang hanya pada putranya itu," sahut Lafi memberi usul.
"Kamu benar!" Mayang senang, ia spontan memberi kecupan ringan di bibir. Namun, Lafi malah membalasnya dengan mencium Mayang.
__ADS_1
Tanpa di sadari Mayang dan Lafi, Varo baru saja datang langsung melihat adegan ciuman mereka. Varo langsung berlari, bersembunyi di balik tiang.