BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 40. Di Tolak dan Kejujuran


__ADS_3

Sesampainya di kantor, Wijaya menatap lekat wajah Camilla menikmati es kekinian. Hatinya masih terasa panas di bakar api cemburu saat Camilla melambaikan tangannya ke Radim.


Camilla menolehkan wajahnya ke sisi kiri, dimana Wijaya masih terus menatap lekat dirinya.


"Mau Om!" Camilla menawarkan es kekinian.


"Tidak!"


"Enaklah Om. Oh, apa karena pipetnya bekas mulutku? Kau tenang aja Om duda, mulutku nggak bauk dan nggak mengandung bakteri. Aku bisa jamin garansi, kalau kau tidak percaya kita bi...."


Ucapan Camilla terhenti saat Wijaya tiba-tiba memutar haluan tempat ia berdiri. Kini ia berdiri dengan membungkukkan tubuhnya, wajahnya juga sangat dekat dengan wajah Camilla.


'Eh, kenapa posisinya sangat dekat? nafas Om duda wangi obat kumur juga tercium sangat jelas di hidungku,' batin Camilla, wajahnya terlihat panik.


"Jangan buat aku cemburu," ucap Wijaya tiba-tiba.


Camilla menjadi heran.


"Eh, emang aku melakukan hal apa sampai kau cemburu Om duda?" tanya Camilla bingung.


"Jangan pernah tersenyum, melambai, atau melakukan hal lain kepada lelaki lain di depanku!" Wijaya kembali mengungkap kecemburuannya.


Camilla bertambah heran dan bingung.


"Emang kenapa? aku belum memiliki kekasih. Wajar dong aku melakukan hal seperti itu."


"Aku mencintaimu!"


Wijaya menyatakan perasaannya dengan mode serius. Camilla terkejut mendengarnya.


"He He He...pasti kau bercan...."


"Tidak, aku serius. Aku mencintaimu, menyukai semua karakter yang ada pada dirimu. Aku sungguh mencintaimu!" sela Wijaya tegas dengan wajah datarnya. Camilla semakin bingung.


'Sih duda ini bilang dia mencintaiku. Lihat saja wajah datarnya, kayak gitu rupanya seorang pria menyatakan perasaannya kepada seorang wanita. Aku rasa sih Om duda ini sedang membual dan mengerjai ku. Lihat saja, aku akan mengerjainya balek,' batin Camilla.


Wijaya perlahan berdiri. Namun, Camilla menarik tangan Wijaya, membuat Wijaya terjatuh di dekapan Camilla.


Degser!

__ADS_1


Aliran darah Camilla dan Wijaya mengalir begitu cepat. Sorot mata satu sama lain saling bertaut hingga membuat gejolak cinta di dalam hati bergetar, ingin melompat keluar.


"Kalau kau mencintaiku Om. Coba kau cium aku sekarang juga Om," bisik Camilla mulai mengerjai Wijaya.


"Aku tidak bisa!" Wijaya melompat dari tubuh Camilla, berdiri dengan benar.


"Kenapa? bukannya kalau seseorang mencintai orang lain, mereka akan melakukan ciuman atau hal lebih lainnya," cetus Camilla.


"Mencintai dan menyukai seseorang bukan berarti kita harus melampiaskan hasrat kita. Semua itu harus ada batasan, jangan langsung menerobos layaknya seperti suami-istri. Aku serius mencintaimu. Tapi aku tidak berniat melakukan hal lebih denganmu," jelas Wijaya datar.


"Kamu pasti bercanda, 'kan Om?" tanya Camilla masih tak percaya.


"Aku serius. Aku mencintaimu!" tegas Wijaya kembali mengulangi kalimat itu.


"Ha ha ha....Om duda ini mencintai ku. Kalau kau mencintaiku, gimana dengan wanita ulat bulu itu? sebentar lagi kalian berdua akan bertunangan," kekeh Camilla hingga perutnya terasa pegal.


"Aku akan membatalkannya, menggantikan wanita itu denganmu!" tegas Wijaya serius. Camilla terdiam.


"Kenapa semudah itu kau berpaling hati Om?" tanya Camilla datar.


"Karena baru kali ini aku menyadarinya. Ternyata aku tidak beneran mencintai Mayang. Waktu itu aku hanya kesepian, dan berpikir untuk mencari seorang wanita yang bisa menemani Andy," sahut Wijaya tanpa rasa bersalah.


"Maaf, aku tidak menyukai kau Om. Lebih baik jangan katakan hal itu lagi padaku!"


Camilla terdiam, ia menundukkan kepalanya. Suara tawa dan hujatan tiba-tiba terdengar dari Camilla.


"Ha ha ha! Om duda bilang dia tidak mencintai wanita ulat bulu lagi. Lalu ia melamar ku atas dasar perasaannya. Ha ha ha...lucu, lucu kali aku rasa. Sama wanita yang sudah lama bersamamu saja rasa itu bisa hilang dengan mudah karena ada aku di dekatmu. Besok-besok saat ada wanita baru yang mendekati kau Om. Pasti kau juga akan mengatakan hal yang sama pada wanita baru. Kau akan mengatakan jika kau tidak lagi menyukaiku, dan kau mulai jatuh cinta dengan wanita baru itu. Dasar lelaki bermulut, sa-mpah!"


Kejujuran Camilla menusuk ke jantung Wijaya. Wijaya tersadar, ia terlalu cepat mengungkapkan perasaannya membuat Camilla berpikir jika dirinya sama seperti seorang pria di luaran sana.


Wijaya balik badan, melangkah menuju meja kerjanya dengan raut wajah suram.


'Malu, malu, malu. Aku sangat malu!' batin Wijaya.


Wijaya pun duduk di kursi kerjanya, lalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.


.


.

__ADS_1


Sementara itu di rumah Mayang.


Lafi dan Mayang bercengkrama di ruang tamu. Suara cecapan bibir mereka menggema di ruang tamu.


Merasa oksigen di paru-paru sudah habis, Lafi melepaskan ciumannya, lalu menurunkan Mayang dari atas pangkuannya.


"Kamu memang obat penawarku," gumam Lafi merasa puas setelah melampiaskan sedikit hasratnya karena tak bisa menyentuh Camilla.


"Kamu juga," sahut Mayang ikutan puas akan ciuman mereka.


"Kapan kamu bertunangan dengan abang ku?" tanya Lafi sambil membersihkan tangannya dengan tisu basah.


"Katanya 2 minggu lagi," sahut Mayang, membenarkan bajunya.


"Baguslah!"


"Apa kamu ingin mendekati Camilla?" tanya Mayang langsung paham maksud Lafi.


"Tentu saja. Gadis pasaran itu sangat membuat aku penasaran. Saat melihatnya gejolak di dadaku semakin memuncak. Tubuh gadis pasaran itu seperti ada magnet tersendiri untuk menaikkan hasratku," sahut Lafi jujur.


"Oh, jadi maksudmu aku tidak semenarik wanita sumo itu?!" Mayang tidak suka.


"Menarik. Tapi lebih menarik lagi gadis pasaran itu. Andai saja abang Wijaya tidak terlalu ikut campur tentang apa yang aku perbuat, mungkin gadis pasaran itu sudah jadi milikku!" tegas Lafi terlihat serius.


"Wanita sumo itu sulit untuk di singkirkan. Dia memang ceroboh. Tapi dia selalu mendapatkan pertolongan dari siapa pun. Kamu tahu, 3 bulan lalu aku pernah mengirim seseorang untuk memperkosanya. Namun, Wijaya menolongnya. Andai saja waktu itu Wijaya tidak menolongnya, mungkin wanita sumo itu tidak....."


Brak!


Ucapan Mayang terhenti karena gebrakan meja dari Lafi.


"Ternyata semua ulah itu dari kamu. Aku peringatkan sama mu, jangan pernah kau menyuruh orang lain untuk menyentuh Camilla. Karena hanya aku, hanya aku yang boleh melakukan hal itu pada Camilla. Sekali lagi kau berani menyuruh orang lain untuk melakukannya. Maka aibmu akan ku sebar luaskan!" ancam Lafi.


Lafi sangat marah akan kejujuran Mayang. Ia tidak suka saat mengetahui jika Mayang adalah dalang di balik orang-orang jahat itu. Lafi mengancam seperti itu ke Mayang, karena ia ingin hanya dirinya yang bisa menguasai kesucian Camilla.


Mayang mendengar hal itu semakin tidak suka kepada Camilla. Sudah banyak hal dia berikan kepada Lafi, kenapa Lafi malah memilih Camilla, bukan dirinya. Apa spesial nya Camilla?


Rencana buruk pun perlahan mulai menggerogoti pikirannya, tanpa memperdulikan ancaman Lafi.


"Dasar playboy!" gumam Mayang.

__ADS_1


"Aku serius. Aku memang menyukai tubuhmu Mayang. Tapi....aku sangat lebih menginginkan Camilla!" jelas Lafi kembali.


Mayang semakin geregetan, dadanya naik turun, seolah menahan emosinya.


__ADS_2