
Varo mengepal kedua tangannya, ia benar-benar tidak suka melihat perselingkuhan calon tunangan dan adik dari tuannya itu. Rasanya ia ingin sekali mengadu, tapi tidak mungkin ia lakukan. Varo akhirnya diam, ia berbalik, mulai melangkah mencari di mana Wijaya, sebab para tamu mencarinya.
Sementara itu di kamar Camilla. Wijaya berdiri di samping Camilla, sedang merapihkan rambut dan wajahnya berantakan akibat perkelahian.
"Camilla, a-aku...." Wijaya tergagap.
"Aku tidak masalah dengan hal ini," sela Camilla sembari meletakkan sisir di atas meja, lalu ia berbalik, berdiri menghadap Wijaya, "Aku hanya ingin memperingatkan kau, Om duda. Jangan pernah kau utarakan isi hatimu di saat kau masih ada wanita lain yang ada bersamamu. Dimana letak pikiranmu! tega kau buat aku tersudut seperti ini. Kau buat aku seperti seorang Pelakor. Jujur aja, aku memang cantik. Tapi aku nggak murahan seperti ini!" lanjut Camilla mengomel, tak lupa menyanjung dirinya sendiri.
"Iya, aku minta maaf. Aku sudah putus dengan Mayang. Camilla, aku benar-benar mulai mencintai mu. Aku jatuh cinta padamu!" ucap Wijaya serius.
"Bacot! enak aja kau bilang mulai mencintai ku. Kau pikir hatiku ini seperti tiket permainan! Urus dulu masalahmu. Aku mau menemani Andy di bawah."
Camilla melewati Wijaya, mendorong pelan tubuh Wijaya, ia pun mulai melangkah pergi meninggalkan Wijaya masih di dalam kamar. Namun, langkah Camilla terhenti saat melihat Varo terdiam seperti patung di depan pintu kamarnya.
"Eh, abang Varo. Kenapa wajah abang pucat seperti itu?" tanya Camilla lembut.
"Apa adek baru saja berkelahi dengan tuan besar?" tanya Varo.
"Aduh! Apa kuat kali suara aku, bang?" Camilla balik bertanya, ia malu jika Varo mendengar omelannya.
"Eh...itu...anu...enggak kok dek. Suara adek sangat merdu. Adek cocok sebagai ibu rumah tangga yang baik," puji Varo cari aman agar tak di marahi Camilla.
"Apa wajah ku sudah cocok menjadi seorang istri, bang?" dengan polosnya Camilla percaya ucapan Varo.
"Co-cocok dek. Bukan hanya cantik, tapi semua karakter ibu-ibu sudah ada pada adek!" sahut Varo terpaksa, sembari memberi 2 jempol ke Camilla.
"Kalau gitu aku pergi dulu bang. Aku mau turun, siapa tahu jumpa cowok ganteng di bawah. Daaa...."
Camilla pergi dengan hati senang. Amarah tadi sudah memenuhi hati dan pikirannya menghilang begitu saja saat mendapatkan pujian dari Varo.
Pintu kamar Camilla terbuka, Varo langsung menundukkan pandangannya saat melihat aura dan tatapan suram dari Wijaya.
"Jangan coba-coba merayu Camilla, jika kamu tak ingin aku pecat!"
"Sa-saya tidak menggombal nya, tuan. Saya hanya memberi pujian saja!" Varo membela dirinya.
"Sama aja. Gara-gara perkataan kamu, Camilla jadi pergi dengan centil!"
"Maafkan saya, tuan," Varo menatap Wijaya, "Tuan, apakah saya boleh bertanya?" lanjut Varo, ia ingin memberanikan diri untuk memberitahu tentang perbuatan Mayang dan Lafi.
"Katakan saja."
"Apakah tuan yakin ingin menikah dengan nona Mayang?" tanya Varo pelan.
__ADS_1
Saat Varo masih bertanya, terdengar suara Mayang.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Varo. Tentu saja aku dan Wijaya akan segera menikah."
Varo terdiam, segera ia menundukkan kepalanya.
Mayang berhenti di samping Wijaya, ingin bergelayut manja. Namun, Wijaya segera menjauh dari Mayang.
"Kita sudah putus. Jangan pernah kamu menempel padaku!" tegas Wijaya.
Kepala Varo langsung terangkat, sorot mata tak percaya terus memandangi wajah serius Wijaya.
'Ada angin apa ini? kenapa tuan besar putus dengan nona Mayang. Apa tuan besar sudah mengetahui perselingkuhan adiknya dengan nona Mayang,' batin Varo, ia sedikit lega mendengar berita ini.
.
.
Sementara itu di bawah.
Camilla menemani Andy, menyapa teman dan ibu dari teman sekelas, ingin berpamitan pulang, dan beberapa rekan bisnis Wijaya.
"Selamat ulang tahun ya, Andy," ucap seorang ibu bertubuh gempal, seluruh tubuh gemilang, dihiasi perhiasan.
"Wanita ini siapa? Apa wanita ini Mama kamu, Andy?" tanya salah seorang wanita yang ingin berpamitan.
"Iya. Namanya Mama Camilla Hanin," sahut Andy berbohong, menyebutkan nama Camilla dengan lengkap.
"Papa kamu memang pintar cari yang bening-bening, ya. Kalau gitu bentar lagi kamu pasti akan memiliki adik yang cantik atau ganteng," sambung ibu dari anak lainnya.
"Sudah pasti. Papa pasti akan membelikan adek baru jika aku yang memintanya," sahut Andy semangat.
Alis Camilla naik turun, ia masih diam, membiarkan Andy berbohong kepada orang-orang.
'Mulut bocah satu ini berbisa juga. Pintar kali dia membual, jauh lebih pintar dari sih duda itu. Ingin rasanya aku plester biar diam. Dari mana pula mempunyai adek bisa di beli. Kau pikir anak manusia itu terbuat dari boneka, cetak langsung jadi!' umpat Camilla dalam hati.
Acara berpamitan para tamu pun selesai selama 30 menit. Semua para tamu undangan sudah tidak ada di ruangan.
Tapi, dimana Wijaya? kenapa dia tidak menampilkan batang hidungnya. Di ruangan itu hanya ada Varo, Viona, dan tukang kebun, Baron.
Camilla berkacak pinggang, berdiri di tengah ruangan saat ini sedang di bersihkan oleh tukang pembersih. Camilla berulang kali menarik nafas dalam-dalam, lalu ia pun berteriak.
"WIJAYA ATMAJI....MAYANG....LAFI.... DIMANA KALIAN SEMUA!"
__ADS_1
Andy duduk di sofa sembari membuka kado tersenyum tipis.
"Kak Camilla memang sangat mirip dengan almarhum Mama. Mama, apakah sudah mendengar teriakan Kak Camilla dari sini. Indah bukan?" gumam Andy bertanya sendiri.
Tak lama Wijaya, Mayang, dan Lafi turun, berdiri di hadapan Camilla saat ini berkacak pinggang, tatapan suram.
"Ada apa Camilla?" tanya Wijaya panik.
"Dimana kau tadi, haa?!" tanya Camilla meninggikan nada suaranya.
"Sopan dikit kenapa kau....."
Mayang ingin membela Wijaya. Namun, Camilla langsung membungkam mulut Mayang.
"Diam kau! aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada Om duda ini. Benci kali aku samanya. Dimana letak pikirannya saat anaknya sedang berulang tahun. Masak aku...aku sebagai baby sister nya yang mengantar para tamu undangan. Dimana kau tadi, Om duda?!" omel Camilla seperti singa betina kehilangan anaknya.
Andy lagi-lagi tersenyum mendengar omelan Camilla.
"Kak Camilla benar-benar idaman aku banget. Andai saja aku sudah dewasa, pasti aku yang akan melamar Kak Camilla untukku. Tapi sayangnya aku masih kecil, dan Papa juga sendirian. Jadi kak Camilla buat Papa saja," gumam Andy kembali dengan pikirannya.
Varo terdiam, ia berdiri di samping sofa tuan mudanya.
"Dek Camilla memang super Mommy. Jadi ingat seseorang? oh....Dek Camilla mirip dengan almarhum nona besar. Waktu itu almarhum nona besar juga sering marah-marah saat tuan Lafi tidak pulang ke rumah," gumam Varo, ia mengingat almarhum nona besarnya.
Camilla masih mengomel.
"Maafkan aku, maaf banget Camilla. Aku lupa, aku lupa kalau hari ini pesta ulang tahun Andy," ucap Wijaya membuat Camilla semakin geram.
"Iiih...geram kali aku rasanya. Kalau saja di sini boleh memaki, mungkin sudah aku maki kau habis-habisan Om duda!" gerutu Camilla geram.
"Hei, wanita sumo. Apa hakmu marah-marah seperti ini?" tanya Mayang santai.
"Memang hakku nggak ada di sini. Tapi aku masih punya pikiran dan hati, nggak macam kau! gaya nya ingin menjadi Mama sambung Andy. Ngurus anak sekecil Andy aja nggak becus!" cetus Camilla geram.
"Tadi aku ingin turun, tapi Wijaya menahanku. Membawaku ke kamarnya. Mau tahu kau apa yang tadi ia katakan padaku?" Mayang memulai manipulasi.
"Sayangnya aku nggak mau tahu dan nggak mau dengar pula. Apa pun urusan kau dengan Om duda. Itu hanya urusanmu, bukan urusan ku. Aku peringatkan sama kalian semua. Sekali lagi kalian mengabaikan Andy, aku pastikan Andy akan aku bawa pergi bersamaku!" ancam Camilla tak takut.
Wijaya menarik nafas berulang kali, ia terlihat sangat lelah hari ini.
"Mayang, hal tadi tidak perlu kau bicarakan pada Camilla. Sekarang pulanglah, aku ingin istirahat," Wijaya menyuruh Mayang pulang karena merasa lelah.
Mayang berbalik, ia menghentakkan kedua kakinya, lalu pergi.
__ADS_1
Camilla juga berbalik, ia melangkah menghampiri Andy. Di sana tinggal Wijaya dan Lafi.