
Tepat pukul 09:30, Wijaya dan Camilla, sudah berada di ruang kerja pribadi, di Perusahaan Wijaya. Camilla terlihat duduk santai, sambil menonton sinetron dengan suara kuat, mengganggu konsentrasi Wijaya.
'Wanita sumo ini, nggak di rumah, nggak di sini. Kelakuannya buat aku kesal aja. Mau ku tinggal di rumah, tapi aku tahu Lafi itu gimana. Di bawa ke kantor, tapi pikiran nya nggak ada,' geram Wijaya dalam hati, sampai tak sadar kepalan tangan nya memukul meja.
Brak!
Camilla spontan menoleh.
"Kenapa kau, Om?" tanya Camilla bingung, melihat raut wajah suram Wijaya.
"Bisa tidak kau kecilkan sedikit suara tv itu. Aku di sini sedang bekerja," cetus Wijaya menekan nada suaranya.
"Baiklah, aku akan matikan siaran tv ini."
Camilla beranjak dari duduknya, dengan terpincang ia mendekati kursi Wijaya. Tanpa pikir panjang, Camilla pun duduk di atas pangkuan Wijaya. Wijaya terkejut, sampai leher nya ia panjangkan.
"Ka-kamu ngapain duduk di sini?"
"Kau tadi suruh aku matikan tv. Mau keluar aku tidak bisa, kakiku sakit. Jadi aku memutuskan untuk duduk di sini aja. Aku mau menonton kau bekerja," sahut Camilla, bokongnya bergerak hingga menyentuh titik tadinya tidur perlahan mulai bangkit.
'Sial, kenapa saat wanita sumo ini yang duduk, milikku menjadi bangkit?' batin Wijaya mulai cemas.
"Turun Camilla! aku tidak menyuruhmu untuk mematikan siaran tv. Aku hanya....."
Ucapan Wijaya terhenti saat bibirnya di bungkam dengan 5 jari tangan Camilla.
"Diam! Bekerja denganmu serba salah. Banyak kali ini itu yang kalau larang. Sekarang lebih baik cepat kerjakan tugasmu. Anggap aku kekasihmu, sih wanita ulat bulu yang sering duduk di atas pangkuanmu!"
Camilla memundurkan duduknya, saat bokongnya menyentuh benda keras itu. Camilla spontan maju.
"Apa itu?" lanjut Camilla bingung, bola matanya melirik ke bawah. Namun, Wijaya dengan cepat menutup mata Camilla.
"Bukan urusanmu. Bocah sepertimu belum boleh melihat hal itu!" hela Wijaya sedikit cemas.
Camilla perlahan menurunkan tangan Wijaya, menutup matanya. Camilla menoleh, menyeringai aneh.
"Ka-kamu kenapa menyeringai seperti itu?" tanya Wijaya gugup.
"Kau sedang tegang, 'kan Om?"
"Tegang apanya?" mengelak.
__ADS_1
"Itu, milikmu!"
Bola mata Camilla melirik ke bawah. Benar terlihat tegang dan gagah. Melihat bentuknya sebesar itu, Camilla perlahan beranjak dari duduknya. Raut wajahnya berubah menjadi pucat.
'Nggak sanggup aku, benar-benar nggak sanggup. Melihatnya dari balik kain saja sudah hampir membuat aku pingsan, apalagi ketika aku melihat langsung. Niat mau menjahili, aku malah terkena karmanya. Tuhan, ampuni kedua mataku ini. Mamaku...Bapakku. Aku beneran nggak lihat apa-apa. Jangan kalian marahi aku dari syurga sana, ya. I-ini aku akan turun,' gerutu Camilla dalam hati.
Camilla tadinya ingin turun. Namun Wijaya malah menekan bahu Camilla.
"Kenapa turun?" tanya Wijaya mulai mengerjai Camilla.
"I-ini Om. Aku baru ingat, ada buah mangga yang harus aku ambil di sana. Jadi, aku turun dulu lah. Lagian nggak enak pula aku, kalau nanti pacar kau, Om, datang. Di pikirnya nanti aku menggoda kau pula Om," sahut Camilla cari aman.
"Oh, Mayang hari ini dan untuk 2 hari ke depan ia tidak datang. Jadi kamu jangan cemas. Tadi kamu bilang, takut Mayang menuduh mu sedang menggodaku? bukannya saat ini kau sedang menggodaku. Kau lihat benda sudah tertidur cukup lama sering bangun karena ulahmu!" jelas Wijaya dingin, sembari mendekatkan wajah dan tubuhnya Camilla.
"Eh...eh, salah paham. Ini salah paham...."
"Tidak ada yang salah paham. Karena milikku sudah bangun, mari kita main sebentar. Apa kamu pernah melakukannya?" sela Wijaya mulai nakal.
Ctak!
Tanpa rasa takut, Camilla mengetuk dahi Wijaya dengan penggaruk punggung, hingga dahi Wijaya memerah dan bendol.
"Aku pikir otak kau, Om mulai beku. Jadi aku perlu mencairkannya," sahut Camilla tenang, ia pun turun dari pangkuan Wijaya.
"Kau mau kemana?" tanya Wijaya segera menahan pergelangan tangan Camilla.
"Mau ke ruangan Radim. Aku mau menanyakan apakah besok malam ia memiliki janji dengan kekasihnya. Kalau tidak, aku mau janji temu dengannya," sahut Camilla santai.
"Selangkah keluar dari pintu, kamu akan tahu akibatnya," ancam Wijaya datar, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Aakh! ribet amat sih kau, Om. Ya sudah, aku balek nonton tv aja!" teriak Camilla tak suka.
Camilla kembali berjalan tertatih mendekati kursi khusus untuk nonton sudah disediakan untuk Camilla. Camilla duduk di sana, menghidupkan tv dengan volume suara kecil.
Wijaya sendiri terus menatap Camilla, kepalanya menggeleng, segaris senyum manis terpancar di wajah tampannya, lalu ia kembali mengerjakan pekerjaannya.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 11:30. Wijaya sudah selesai mengerjakan tugasnya. Sedangkan Camilla, ia tertidur di kursi dengan tv menyala.
Wijaya beranjak dari duduknya, mendekati kursi Camilla. Belum sampai ke kursi Camilla, pintu ruangan terbuka, Wijaya menoleh, menatap siapa membuka pintu ruangannya.
"Kak Camilla, aku datang!" teriak Andy, masih berseragam sekolah TK.
__ADS_1
Andy berlari masuk, di ikuti Varo berjalan di belakang, memegang tas Andy. Andy menghentikan langkahnya dan langsung naik ke atas pangkuan Camilla, masih tidur dengan nyenyak tanpa merasakan kehadiran Andy.
"Kenapa kamu bawa Andy ke sini?" bisik Wijaya.
"Maaf tuan, tadi tuan muda bersikeras. Tuan muda juga mengancam saya, jika saya tak membawanya ke Perusahaan tuan, maka tuan muda akan melakukan mogok makan dan minum," jelas Varo sedikit tertekan.
"Anak itu, entah dari mana dia mendapatkan ide suka mengancam seperti itu!" helah Wijaya.
'Dari almarhum nona besar. Masa gitu aja tuan tidak tahu!' sahut Varo dalam hati.
Wijaya mengambil tas Andy dari Varo, "Varo, nanti belikan makan siang untukku, Andy, dan juga Camilla. Jangan lupa belikan cemilan kesukaan Andy," lanjut Wijaya memberi perintah.
"Baik tuan, segera saya pergi!"
Varo pergi meninggalkan ruangan Wijaya, membeli pesanan di perintahkan oleh Wijaya.
Wijaya melirik ke Andy, saat ini sedang duduk tenang di atas pangkuan Camilla, masih tertidur lelap. Wijaya meletakkan tas milik Andy, lalu berjalan mendekati Andy.
"Andy, kenapa terus menatap wanita...." ucapan Wijaya terhenti saat Andy memberikan isyarat untuk tidak berbicara.
"Papa ini, jangan bising. Kalau Papa berbicara nanti Kak Camilla bangun," tegur Andy berbisik.
Wijaya mengalah, ia balik badan, memilih duduk di sofa untuk tamu di ruangan itu.
Andy terus menatap wajah Camilla sangat dekat, hingga hembusan nafas Andy menyentuh wajah Camilla, dan membuatnya terbangun.
"Kak Camilla sudah bangun?" tanya Andy semangat.
"Aku bangun, karena aku merasakan ada hawa nafas wangi permen karet. Kau juga, kenapa duduk di atas pahaku? apa kau kira, kau itu ringan?" tanya Camilla datar, wajahnya terlihat masih mengantuk.
"Aku hanya ingin menatap wajah Kak Camilla lebih lama," sahut Andy, melempar senyum manis.
"Kau pikir aku mau mati! jadi kau ingin menatapku lebih lama lagi?!"
"Ha ha ha....Kak Camilla lucu deh," tangan mungil Andy mencubit kedua pipi Camilla, "Anak siapa sih Kakak?" lanjut Andy.
Camilla melirik ke Wijaya, "Woy, duda, lihat anak kau ini. Yang dia pikir aku ini adeknya!" keluh Camilla.
"Nikmati aja!" sahut Wijaya singkat.
'Sial! bapak sama anak sama aja!' gerutu Camilla dalam hati. Camilla pun pasrah akan kegemasan Andy padanya.
__ADS_1