
Segaris senyum terlihat di wajah Wijaya, ia semakin mendekati Camilla, kedua tangannya perlahan memegang pinggiran karet kolor.
Camilla melihat itu semakin panik, ia berjalan mundur, sebelah tangan menutup kedua matanya. Namun, masih terdapat sedikit celah.
"Aku teriak ini!" ancam Camilla.
"Teriak aja kalau kamu bisa. Biar kamu tahu, kalau kamar mandi ini, dan seluruh ruangan di rumah ini kedap suara," sahut Wijaya santai, kedua kakinya terus mendekat, Camilla jadi tersudut di pinggiran bak mandi.
Byur!
Camilla tercebur ke dalam bak mandi sudah berisi air hangat. Sebagian rambut panjang pelangi basahnya menutup ke wajah, sorot mata datar memandang wajah puas Wijaya dari balik rambutnya basah.
"Puas?" tanya Camilla dingin.
"Ha ha....gitu amat. Padahal aku cuman bercanda, kenapa kamu serius banget!" kekeh Wijaya.
Tak ingin basah sendirian, Camilla menarik Wijaya masuk ke dalam. Mereka berdua basah dalam satu tempat, sejenak tawa canda keluar dari bibir mereka. Namun, wajah perlahan saling mendekat, terjadilah ciuman.
Gejolak di dalam hati memuncak, rasa aneh terus berputar di bawah perut Camilla semakin menjadi, begitu juga dengan Wijaya. Tanpa sadar mereka saling melucuti baju hingga tak tersisa.
Milik Wijaya sudah menyapa dengan paksa ke dalam gua sempit, dengan perjuangan ekstra separuh miliknya sudah masuk ke dalam. Namun, langsung terhenti mendengar Camilla menangis, dan menggenggam erat kedua bahu Wijaya hingga kuku panjang menusuk ke kulit.
Wijaya mengurungkan niatnya, debaran jantung begitu hebat terhenti. Wijaya memeluk Camilla, membelai puncak kepala sembari mengecup kening Camilla berulang kali.
"Maafkan aku...aku sungguh-sungguh minta maaf," ucap Wijaya lembut.
"Hiks....hiks...sakit! entah di mana perasaan kau, Om. Kau paksa masuk pula punya kau yang macam batang baseball itu. Seharusnya kau mikir dulu, kalau punya aku itu tidak akan mungkin muat untuk ukuranmu!" protes Camilla di sela tangisannya.
Wijaya tersenyum, menahan tawanya.
"Kalau semuanya sudah masuk, pasti muat. Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi sampai kita menikah," bujuk Wijaya ingin menenangkan Camilla.
"Udah nggak perawan lagi lah aku ini!"
"Masih lah, 'kan belum masuk semu...."
"Lihat...kau lihat ini!" Camilla menunjukkan jarinya, terdapat noda merah, "Katanya kalau sudah ada keluar ini, berarti sudah tidak perawan lagi. Hiks....mana denyut. Sudah buat dosa aku jadinya. Mampus lah, marah lah Mamak sama Bapakku dari alam syurga sana. Hiks ....mau menjelaskan gimana lagi aku! masuk Neraka lah aku ini..." omel Camilla di sela tangisannya.
"Kalau gitu aku lanjut lagi biar hilang..."
Plaak!
Tangan Camilla sangat ringan, membuat sebelah pipi Wijaya memerah.
__ADS_1
"Bodoh!"
Camilla beranjak turun dari bak mandi. Namun, ia merasakan hal perih di bagian sela kakinya.
"Duh...aduh...macam tersiram air cabai," gumam Camilla di dengar Wijaya.
Merasa kasihan dengan Camilla. Wijaya menarik tangan Camilla, membawanya masuk ke dalam bak mandi, dan menuntaskan aksinya agar Camilla tak merasakan lagi sakit itu.
Keesokan paginya. Pagi-pagi sekali, Wijaya masuk ke kamar Camilla, mengecek apakah calon istrinya itu baik-baik saja atau tidak setelah pertempuran hebat.
Wijaya mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Camilla memerah, suhu tubuhnya juga sangat tinggi.
"Camilla, kenapa kamu tiba-tiba demam?" tanya Wijaya cemas.
"Ma...mamak...Bapak....Mak...aku merindukan kalian..." racau Camilla masih dalam keadaan terpejam.
Wijaya berlari keluar kamar, mengambil ponselnya berada di dalam kamarnya, lalu menghubungi dokter.
30 menit kemudian. Pak dokter sudah selesai memeriksa Camilla.
"Istri, tuan besar tidak kenapa-kenapa. Hanya terserang demam akibat kelamaan berendam di dalam air," Pak dokter mendekatkan bibirnya ke telinga Wijaya, "Jangan terlalu bersemangat untuk melakukannya, dan pikirkan tempat yang tidak membuat pasangan jatuh sakit," lanjut Pak dokter, Wijaya langsung paham maksudnya.
Wijaya terdiam, wajah menunduk malu.
"Terimakasih dok."
Pak dokter hanya mengulas senyum tipis, lalu pergi di temani Varo.
"Pa, kenapa Kak Camilla bisa jatuh sakit? apa Papa telah menyakiti Kak Camilla lagi?" tanya Andy menyudutkan Wijaya.
Wajah Wijaya menjadi gugup. Agar tidak kelihatan gugup, Wijaya cepat-cepat merubah mimik wajahnya. Wijaya mengulas senyum paksa.
"Ti..tidak. Bagaimana mungkin Papa menyakiti Camilla," sahut Wijaya gugup, membela diri.
Andy menatap tak percaya.
'Papa pasti berbohong,' batin Andy tak percaya dengan ucapan Wijaya.
"Apa kamu tidak berangkat ke sekolah?" tanya Wijaya memecah suasana.
"Tidak, aku ingin menjaga Kak Camilla," tolak Andy, ia memilih merebahkan tubuhnya di samping Camilla, dan memeluk lengan Camilla.
"Biar Papa saja yang menjaganya," Wijaya menggenggam pergelangan tangan Andy, "Sudah, kamu harus mandi sana!" lanjut Wijaya menarik pelan tangan Andy, sampai Andy terduduk.
__ADS_1
Andy menggigit lengan Wijaya.
"Aaakh! kenapa kamu menggigit lengan Papa?!" tanya Wijaya merasa denyut bekas gigitan mungil Andy.
"Aku bilang, aku tidak ingin bersekolah!" tegas Andy, ia masuk ke dalam selimut Camilla, memeluk tubuh Camilla.
Wijaya meraup kasar wajahnya.
"Apa kamu pikir Camilla akan senang melihat kamu tidak bersekolah? kamu yakin jika saat Camilla terbangun, dia akan senang?"
Andy perlahan mengeluarkan kepalanya dari balik selimut, hanya menunjukkan sebagian wajahnya.
"Papa benar, jika Kak Camilla bangun, pasti dia akan memarahiku. Karena dia bilang aku harus belajar yang rajin agar bisa jadi dokter," ucap Andy menyadari hal itu.
"Papa yakin Camilla juga senang mendengar hal ini," Wijaya kembali mengulurkan tangannya, "Mari Papa bantu turun," lanjut Wijaya ingin memberikan bantuan.
"Tidak usah, aku sudah dewasa Pa. Aku bisa turun sendiri," tolak Andy merasa dirinya sudah dewasa, ia pun turun dari ranjang.
Andy menghentikan langkahnya di depan pintu saat mendengar racauan Camilla.
"Andy...Papa....Papa mu...."
Racauan itu terhenti, Camilla kembali tertidur, memutar posisi tidurnya.
Andy langsung melirik tajam ke Wijaya terlihat gugup. Andy melangkah besar mendekati Wijaya, berdiri di hadapannya.
"Kenapa Kak Camilla menyebut nama Papa? apa yang sudah Papa lakukan kepada Kak Camilla?!" tegas Andy.
Wijaya merasa terselamatkan atas pertanyaan Andy, saat melihat pintu kamar terbuka, Varo masuk ke dalam kamar.
"Oh...syukurlah kamu sudah datang. Varo, tolong bawa Andy keluar dari kamar ini. Antar dia bersekolah," perintah Wijaya tegas.
Andy mendengar alibi Wijaya merasa kesal, ia kembali bertanya.
"Pa...jawab Pa?!"
Varo dengan cepat menggendong tubuh mungil Andy, saat melihat kode tangan dari Wijaya.
"Papa ...awas Papa, ya!" ancam Andy setelah pintu kamar separuh tertutup.
Wijaya menghela nafas panjang, ia lega karena putranya tak lagi ada di dalam kamar, tak lagi terus menghujaninya dengan beribu pertanyaan membuatnya bingung untuk bertanya.
Wijaya menatap Camilla, tertidur dengan lelap, "Maafkan aku sudah membuat kamu sampai syok. Habisnya aku tidak ingin membuat gantungan rasa itu. Jika aku tidak menyelesaikannya, pasti rasanya akan berkepanjangan. Kalau seperti ini, aku harus mempercepat pernikahan. Aku harus meminta Radim ...ah...tidak-tidak, Radim mulutnya ember, lebih baik aku meminta Varo untuk mempercepat semuanya," gumam Wijaya lirih.
__ADS_1