
"Katakan saja, aku hanya butuh jawaban kamu, Mayang,” ucap Lafi, perlahan ia berdiri, dan duduk di sebelah Mayang.
“Ha ha ha...kalau aku tidak mencintainya, kenapa aku masih bertahan sampai di titik ini,” sahut Mayang di sela tawa sumbang.
“Oh, kalau gitu aku pergi dulu,” pamit Lafi, ia berdiri. Namun, tangan kanannya di tahan oleh Mayang dari belakang.
“Tunggu, apa kamu mencintaiku?” tanya Mayang.
“Lupakan saja,” sahut Lafi sembari melepaskan genggaman tangan Mayang.
Mayang berdiri, “Lafi...” panggil Mayang menghentikan langkah Lafi.
“Ada apa?” tanya Lafi menolehkan wajahnya ke samping, menatap Mayang sedang berdiri.
“Aku...sebenarnya aku mencintai kamu, Lafi,” ucap Mayang mengutarakan isi hatinya.
Lafi spontan menoleh, mendekati Mayang, tangannya memegang kedua lengan Mayang, “Kamu serius?! Apa kamu juga sudah mau menerima perbuatan kita malam itu?” tanya Lafi penuh harap, mengenang malam di mana Lafi dan Mayang beradu kasih setelah selesai pemotretan.
“Iya. Namun, karena kamu tidak pernah mengutarakan isi hati ke aku, dan aku juga menganggap perbuatan malam itu hanya karena kita sedang tidak sadar. Saat aku bertemu dengan Wijaya, dan sebulan jalan bersama Wijaya, ia langsung mengutarakan isi hatinya. Aku langsung saja menerimanya,” jelas Mayang.
"Sekarang, apakah kamu mau menerima cintaku?" tanya Lafi lagi.
"Iya, aku mau," angguk Mayang.
Saat Mayang dan Lafi sedang asik berbincang, dari kejauhan terlihat Camilla dan Andy sedang berdiri, terdiam mendengar percakapan Mayang dan Lafi.
“Yang nggak ada otaknya sih Mayang itu. Bisa-bisanya dia berselingkuh dengan adik Wijaya,” gumam Camilla.
“Kak Camilla, nenek sihir itu bilang apa ke Om Lafi. Kenapa tadi aku dengar Om sedang menyatakan cintanya? ” tanya Andy tidak mengerti maksud dari percakapan Mayang dan Lafi.
“Ti...karena Andy sudah selesai menemani aku berbelanja. Maka aku akan memberikan es krim yang ada di sana!” tunjuk Camilla ke stand es krim, “Ayo, kita beli es krim di sana,” sambung Camilla mengalihkan pembicaraan.
“Yuk,” sahut Andy mengangguk.
Andy dan Camilla pun berjalan menuju stand es krim. Menit selanjutnya terlihat Varo dan Wijaya keluar dari store tempat di mana Camilla tadi berbelanja. Wijaya dan Varo seketika terkejut saat sepasang mata mereka tidak sengaja menangkap Lafi dan Mayang sedang berpelukkan.
Wijaya mulai tersulut api amarah, berjalan cepat mendekati Mayang dan Lafi.
“Lafi...Mayang!” panggil Wijaya meninggikan nada suaranya.
Spontan Lafi dan Mayang melepaskan pelukan mereka.
“Sayang...” gumam Mayang.
“Ck, kenapa? Apa abang salah paham samaku?” tanya Lafi memulai berbohong.
Wijaya mendekat, dan berdiri di samping Mayang, “Tentu saja. Kenapa kalian berdua berpelukan. Apa kalian...”
“Jangan asal menuduh, lihat kaki calon tunangan abang,” tunjuk Lafi ke pergelangan kaki Mayang terlihat memar, dan sedikit bengkak.
__ADS_1
“Sayang...kaki kamu kenapa?” tanya Wijaya cemas, melupakan amarah sudah hampir meledak.
“Tadi Mayang tersan...”
Baru saja Lafi hendak berbicara. Terdengar suara Andy.
“Om Lafi tadi kenapa Om menyatakan cinta ke tante Mayang?” ceplos Andy dengan polosnya sembari terus menjilat es krim rasa coklat dalam genggamannya.
Pertanyaan Andy spontan membuat Wijaya, Camilla, Lafi, Mayang, dan Varo terkejut.
Camilla berdiri di belakang Andy, tangannya langsung membungkam mulut Andy, sembari nyengir kuda ke Wijaya, “He he he...jangan hiraukan perkataan anak, Om ini. Mu..mungkin Andy salah dengar,” jelas Camilla pura-pura menutupi percakapan Mayang dan Lafi.
“Lafi..apa benar yang di katakan Andy tadi?” tanya Wijaya tegas.
“Iya,” sahut Lafi menggantung, Wijaya, Mayang, Varo, dan Camilla, terkejut, masing-masing sepasang bola mata mereka membulat sempurna memandang wajah Mayang tampak pucat dan gugup. Mengetahui ucapan menggantungnya akan membuat kericuhan di tempat umum, Lafi segera merangkul Wijaya, kepalan tinju mentos bidang dada Wijaya, “Iya, aku memang benar menyatakan cinta kepada Mayang. Tapi itu hanya akting saja, soalnya aku sedang terpikat dengan seorang gadis cantik, keturunan orang terpandang. Gadis itu sangat sulit sekali di gapai, jadi aku meminta Mayang untuk berpura-pura menjadi gadis itu,” Lafi menyikut Mayang, “Bukan begitu Mayang,” sambung Lafi.
“Oh..i-iya,” sahut Mayang terbata-bata.
“Bohong...tante Mayang pasti berbohong!” ketus Andy tidak senang.
Wijaya dan Varo saling menatap bingung. Namun, karena Andy nakal, Wijaya tidak mempercayai nya. Wijaya mencengkram pergelangan tangan Andy.
“Andy, kenapa kamu membentak tante Mayang? Cepat kamu minta maaf!” perintah Wijaya tegas.
“Tidak mau...aku tidak salah, kenapa harus meminta maaf sama wanita sihir itu!” tolak Andy.
“Kakak, aku tidak mau minta maaf sama tante Mayang. Aku tidak salah,” rengek Andy penuh harap.
“Tidak perlu minta maaf, kalau Papa kau menyuruh kau terus minta maaf atas ketidaksalahan kau!” Camilla menepuk dadanya, “Aku yang akan melawan mereka!” sambung Camilla tegas.
Mayang dan Wijaya menelan saliva nya saat melihat wajah Camilla menatap mereka seperti tampak membunuh, dan aura sangat suram.
Camilla pun menggaris lehernya, menatap Wijaya dan Camilla seperti beneran ingin membunuh.
“Sayang...lihatlah wanita sumo itu?” rengek Mayang ke Wijaya.
“Ke-kenapa kamu memberi kode seperti itu?” tanya Wijaya di sela kegugupannya.
“Bukan apa-apa, tenggorokan ku hanya sakit,” sahut Camilla beralasan.
“Tante, aku tidak usah minta maafkan?” tanya Andy memastikan.
“Tentu, sekarang mari kita pergi!” ajak Camilla sembari menggenggam tangan Andy, membawanya berjalan terlebih dahulu.
“Wanita itu cantik, tapi sayang, kelakuannya seperti seorang lelaki,” puji Lufi bergumam, senyum manis segaris tercetak di bibirnya. Detik selanjutnya Lufi melangkah, mengikuti langkah kaki Camilla dan Andy.
“Tuan besar, saya duluan,” pamit Varo, bibirnya tampak menahan tawa saat memandang wajah pucat dan panik Mayang. Menit selanjutnya ia berjalan meninggalkan Wijaya dan Mayang.
Setelah Camilla, Andy, Lafi, dan Varo, pergi. Mayang bergelayut manja di lengan Wijaya.
__ADS_1
“Sayang...pergelangan kaki ku sakit. Dan...dan kenapa wanita sumo itu tidak takut kepada kamu? Sayang...pecat saja sudah wanita itu. Gara-gara wanita itu, Andy jadinya bertambah nakal,” adu Mayang tidak-tidak.
“ ‘Kan sudah aku bilang, kamu harus sabar sayang. Aku akan membuat wanita sumo itu tidak bakalan betah bekerja denganku. Kalau soal kaki kamu, aku gendong saja,” sahut Wijaya lembut, menenangkan hati Mayang.
Wijaya pun menggendong Mayang, lalu membawanya turun dan keluar dari dalam Mall menuju parkiran mobil, sudah menunggu di depan teras Mall.
Terlihat Varo membuka pintu mobil penumpang bagian belakang, membantu Wijaya untuk mendudukkan Mayang di belakang. Setelah Wijaya dan Mayang duduk di belakang, Varo kembali masuk, dan duduk di kursi kemudi.
“Saya akan melajukan mobil ini tuan besar,” ucap Varo memberi kode kalau dirinya akan melajukan kendaraannya.
“Iya, sebaiknya kita langsung antar Mayang ke rumahnya, dan biarkan aku menemaninya di sana. Dan kamu antar Andy, dan wanita sumo itu ke rumah. Lalu jemput aku,” perintah Wijaya.
"Baik tuan besar," sahut Varo. Mobil pun kini melaju meninggalkan parkiran Mall.
“Enak kali jadi tante Mayang, apa-apa selalu di temani Papa. Sampai-sampai aku sebagai anaknya sendiri di lupakan,” gerutu Andy kesal melihat Wijaya sekarang tampak berbeda, lebih mementingkan Mayang.
“Tenang aja, ‘kan ada aku. Aku akan terus memberi kasih sayang penuh cinta yang aku miliki,” sambung Camilla ingin menenangkan Andy.
“Emang kakak tahu gimana cara memberi cinta?” tanya Andy polos.
Camilla sejenak terdiam, bola matanya memandang liar ke sekeliling mobil, dan berhenti ke Varo, “Ssst...abang tahu gimana memberi cinta?”
"Tidak tahu, saya belum pernah menyatakan cinta ke seorang wanita," sahut Varo.
"Sudahlah itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah aku akan memberikan kasih sayang yang tulus untuk kau, Andy!" ucap Camilla sedikit meninggikan nada suaranya di dalam mobil.
Mayang di merasa terus menutup kedua telinganya.
"Berisik sekali kamu, wanita sumo. Bisa diam tidak?!" ketus Mayang tak suka.
"Tidak, sumbat aja kuping kau itu dengan kapuk. Oh....atau pigi aja kau ke kuburan," celetuk Camilla tak takut.
"Sayang....lihatlah wanita sumo itu," rengek Mayang, menyandarkan kepalanya di bahu Wijaya.
"Iiih.... betul-betul, jijik kali aku lihat wanita satu ini," Camilla memalingkan wajahnya ke belakang, "Hei...bisa nggak kau menjaga harga diri di depan anak-anak? di sini ada Andy. Bisa-bisanya kau terus bergelayut manja di depan anak-anak. Yang sudah nggak tahan lagi nya kau...."
"Camilla, saya harap kamu tenang dulu, ya. Kita lagi di jalan, kalau kamu seperti ini bisa mengganggu tuan muda yang sedang duduk di atas pangkuan kamu. Lihat saja tubuh tuan muda terjepit oleh gerakan kamu," Varo berusaha menenangkan Camilla.
"Iya benar juga kau, bang. Untung abang ini cakep, baik, sopan lagi. Nggak macam Om-om yang di belakang itu!" ejek Camilla untuk Wijaya.
Perdebatan kecil pun terus terjadi sampai mobil terhenti di jalan Jermal. Varo membuka pintu Wijaya, lalu membuka pintu untuk Mayang.
"2 jam lagi jemput aku kembali," pesan Wijaya ke Varo.
"Siap tuan, saya pamit mengantar tuan muda dan Camilla," pamit Varo.
Wijaya hanya mengangguk.
Varo masuk, ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Wijaya, sedangkan Wijaya membantu Mayang masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1