BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 09. Om aku tidak suka yang besar-besar


__ADS_3

2 jam kemudian Wijaya sudah di jemput oleh Varo. Mobil mereka juga sudah meninggalkan halaman rumah Mayang. 5 menit setelah Wijaya pulang, terdengar suara sepeda motor sport. Sepeda motor sport itu pun memasuki halaman rumah Mayang, berhenti di depan teras rumah Mayang.


Dengan tertatih Mayang tadi sedang duduk di ruang tamu berjalan menuju pintu rumah, melihat siapa orang itu. Mayang kini berdiri di depan pintu rumah, pandangannya menatap lurus ke seorang pria memakai jaket hitam, helm sport hitam, turun dari sepeda motor sport. Pria itu berjalan perlahan menaiki tangga teras, dan terhenti di depan Mayang.


“Ka-kamu siapa?” tanya Mayang gugup.


Pria itu membuka kaca helm sportnya, Mayang terkejut saat tahu pria itu adalah Lafi. Tangan Mayang spontan menarik tangan Lafi, membawanya masuk ke dalam rumah, dan mengunci rumahnya.


“Kamu sudah gila?!”


“Tentu saja aku sudah gila. Bukannya hari ini hari pertama kita jadian?” sahut Lafi santai.


“Aku tahu, tapi gimana jika Wijaya tiba-tiba kembali? bisa-bisa Wijaya membatalkan pertunangan kami,” seru Mayang panik.


Lafi mendekatkan dirinya, tangannya membelai lembut bagian wajah Mayang, “Tenang saja, Wijaya tidak akan mungkin kembali lagi,” Lafi menenangkan Mayang.


“Ta..tapi…”


“Hussstt!! Aku ingin merayakan hari jadian kita,” sela Lafi sembari menggendong tubuh Mayang.


“Lafi, apa yang kamu lakukan?” tanya Mayang panik saat Lafi perlahan berjalan menuju anak tangga.


“Aku ingin kita kembali mengenang masa itu. Waktu itu kita sedang tidak sadar, tapi kali ini aku akan melakukannya dengan sadar,” sahut Lafi meminta jatah.


“Lafi, jangan lakukan hal itu lagi. Aku sudah bersama Wijaya, dan kami juga sebentar lagi akan bertunangan.”


Mayang pura-pura menolak. Namun hatinya menginginkan itu karena selama bersama Wijaya, Mayang tidak pernah mendapatkan kenikmatan hal itu, ataupun berciuman. Wijaya sama sekali tidak pernah melakukannya. Pacaran antara Mayang dan Wijaya hanya sebatas berpegangan tangan, kecup sekilas pipi dan dahi.


Langkah kaki Lafi terhenti di depan pintu kamar Mayang, “Bukannya kita sudah melakukan hal itu sebelum kamu jadian dengan abangku, Wijaya. Kenapa saat kita sudah resmi berpacaran, kamu menolakku? Apa Wijaya sudah sangat memuaskan hal itu sehingga kau menolak ku?” Lafi kembali mengingatkan Mayang tentang hal itu.


Mayang tertunduk, “Tidak,” sahut Mayang lirih.


“Baiklah, sebagai kekasih baru kamu. Aku akan mencoba memberikan kenikmatan untuk kamu,” ucap Lafi, tangannya mendorong handle pintu kamar, kakinya melangkah masuk ke dalam kamar, dan meletakkan tubuh Mayang di atas ranjang.

__ADS_1


Lafi pun memulai serangannya, melakukan pemanasan hingga suara cecapan dari bibir mereka melambung ke ruang hampa di dalam kamar. Setelah merasa cukup melakukan pemanasannya, Lafi mulai menyatukan dirinya ke tempat pertahanan Mayang yang sudah tidak bertembok lagi.


Rasa sakit di pergelangan kaki Mayang tadi seolah hilang, saat buas dan haus nya nafsu memuncak di upuk kepala. Mayang dan Lafi bergoyang dengan sangat lihai, seolah mereka sudah sering melakukannya. Setelah cukup puas melakukannya, Lafi pun menyemburkan serangannya ke wajah Mayang. Mayang pun menerimanya dengan senang hati.


Kini dua insan itu terbaring di atas ranjang dengan tubuh polos, bulir-bulir air asin membasahi seluruh tubuh mereka. Nafas memburu seakan kenikmatan perbuatan itu masih terasa di dada mereka, senyum manis di masing-masing bibir terukir indah.


“Kamu memang yang terhebat,” puji Mayang, tangannya meraih tisu basah, membersihkan semburan bekas milik Lafi di wajahnya.


“Terimakasih atas pujiannya, mulai sekarang aku akan memberikan kepuasan yang tak kau dapatkan dari abangku, Wijaya,” jelas Lafi di sela senyum penuh maksudnya.


“Sebenarnya aku tidak mencintai Wijaya, dan aku juga membenci anak nya, Andy,” ucap Mayang mengejutkan Lafi.


“Ma-maksud kamu, Andy, keponakan ku?”


“Lafi, mari kita saja yang menikah. Bukannya kamu sangat mencintaiku?” pinta Mayang.


“Ha ha ha….menikah? maaf Mayang, sampai detik ini aku belum kepikiran menikah dengan wanita manapun. Aku seorang fotographer, aku juga sering pergi kemanapun aku inginkan. Intinya aku masih menginginkan hidup bebas, tidak terikat,” sahut Lafi tenang.


“Terus, kenapa kamu mencintaiku, dan mau melakukan hal ini kepadaku?” tanya Mayang seolah tak terima.


“Tidak, itu bukan salah kamu,” Mayang bangkit dari tidurnya, dan duduk di atas tubuh Lafi, “Jangan putus, aku sangat mencintai kamu, Lafi, dan aku juga mendapatkan hal lebih puas dari kamu,” sambung Mayang dengan binar mata penuh cinta.


“Aku juga mencintai kamu, jadi jangan menuntut kepadaku untuk menikahi kamu. Jika kamu mau berumah tangga, biarkan Wijaya yang mewujudkannya,” jelas Lafi.


“Iya,” sahut Mayang patuh sembari melayangkan ciumannya.


Mayang menyatukan dirinya ke Lafi, Lafi pun tak menolaknya. Lafi dan Mayang kembali menyatukan diri mereka di atas ranjang dengan seprai sudah penuh noda perbuatan mereka.


.


.


💫Di sisi lain 💫

__ADS_1


Wijaya baru saja tiba di rumahnya, kakinya terus melangkah menuju kamar Andy, terletak di lantai bawah, bersebelahan dengan ruang kerjanya.


Tok tok!


“Andy,” panggil Wijaya lembut, tangan mendorong handle pintu kamar.


Sepasang mata Wijaya membulat sempurna saat melihat Andy dan Camilla, tertidur di sofa dengan tubuh saling menyandar. Wijaya masuk ke dalam kamar Andy, menggendong tubuh mungil Andy, memindahkannya di atas ranjang, lalu menyelimutinya. Detik selanjutnya Wijaya mendekati Camilla tertidur pulas di sofa. Wijaya mengambil selimut tak terpakai milik Andy, lalu menyelimuti tubuh Camilla.


Belum lagi Wijaya siap menyelimuti penuh tubuh Camilla, terdengar suara tamparan di pipi Wijaya.


Plaak!!


Wijaya terdiam, tangannya memegang sebelah pipi memerah, pedas akibat bekas tamparan Camilla.


“Apa kau Om, ingin mencoba merenggut kesucianku?” tanya Camilla sudah terduduk di ujung sofa, tangannya memegang selimut menutup tubuh bagian depan dan kakinya.


“Jangan geer kamu! Aku hanya ingin menyelimuti kamu, sebagai ucapan terimakasih ku sudah menjaga Andy,” sahut Wijaya menekan nada suaranya, sebelah tangannya masih mengelus pipinya terasa pedas.


“Jangan berkilah kau, Om. Tunggu dulu, coba aku cek ke dalam!” Camilla memasukkan kepalanya ke dalam selimut, lalu mengecek pakaian penutup segitiga miliknya. Detik selanjutnya Camilla mengeluarkan kepalanya, “Sudah aku cek, ternyata tidak ada bekas noda di kain itu. Sekarang kau, Om , sudah bisa pergi!” sambung Camilla mencoba mengusir Wijaya tanpa rasa takut.


Sejenak Wijaya menuruti perintah Camilla. Namun, baru sampai di depan pintu kamar, langkah Wijaya terhenti, ia kembali mendekati Camilla, menggenggam tangan Camilla, membawanya paksa keluar dari kamar Andy, tanpa mengatakan satu kata apa pun. Setelah sampai di luar kamar Andy, Wijaya baru memarahi Camilla.


“Tunggu dulu, inikan rumah ku, kenapa kamu mengusir ku dari kamar putra ku?” tanya Wijaya tak suka.


“Oh…putra-mu nya sih Andy itu? ha ha ha, aku pikir bukan. Soalnya yang sering ku lihat nya kau itu hanya memarahinya aja saat ada wanita ulat bulu itu di dekat-mu. Kini kau bilang dia putra-mu! Miris sekali kepribadian-mu!” cetus Camilla tak ada rasa takut sama sekali.


“Kasar sekali ucapan kamu!”


“Menurut-ku tidak kasar, inilah aku apa adanya. Aku suka berkata jujur, daripada aku menyimpannya di dalam hati. Nggak suka, nggak usah kau dengar Om!” cetus Camilla, ia balik badan, “Om, aku tidur di kamar-mu, ya? soalnya kamar ku besar kali, risih aku sama yang besar-besar,” sambung Camilla sembari terus melangkah menuju lantai 2.


“Tidak…tidak, sudah di kasih yang besar malah tidak suka,” gerutu Wijaya kesal, kedua kakinya ikut melangkah, mengejar Camilla sudah berjalan cepat di depannya.


“Aku belum terbiasa dengan hal yang besar-besar,” sahut Camilla terus berjalan.

__ADS_1


Saat Camilla dan Wijaya sudah berada di lantai atas, terlihat sepasag mata memandang dari balik tembok.


__ADS_2