BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 06. Teringat


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Andy, setelah Andy menunjukkan kamar milik Camilla, bersebelahan dengan kamar Wijaya. Sore itu juga Andy meminta kepada Wijaya untuk membelanjakan Camilla dengan baju bagus dan barang bagus lainnya. Andy juga berencana untuk merubah gaya tomboy Camilla menjadi wanita anggun.


Meski umur Andy masih 5 tahun, tapi pikirannya sudah seperti pria dewasa pada umumnya. Seperti itulah anak kecil yang di didik dengan benda digital. Memiliki pikiran matang sebelum umurnya.


Mobil di naiki Wijaya, Camilla, Andy, Varo, dan Mayang, sudah berhenti di tempat parkir Mall terbesar di kota Medan. Varo membuka pintu mobil penumpang bagian depan. Dimana Camilla duduk memangku Andy.


“Silahkan turun tuan muda,” sambut Varo sopan, membantu Andy turun dari pangkuan Camilla.


Camilla sendiri tiba-tiba terdiam, ia merasa jantungnya berdegup kencang saat melihat dekat wajah tampan Varo terlihat mulus.


Deg deg deg!


Camilla memegang dada kirinya, ‘Sumpah, abang ini ganteng kali. Kulit putih bersih, alis tebal, jakun sangat menonjol, tubuh kokoh, jari-jari yang panjang, perlakuan dan tutur kata lembut. Aduh…duh…mamak..bapak..sudah kau lihat belum dari atas sana kalau pria bernama Varo ini sangat tampan. Coba lihat dulu dari atas syurga sana Mak…Pak,’ gerutu Camilla dalam hati, pandangan masih terus memandang wajah tampan Varo.


Bam!


Wijaya memukul dinding pintu mobil, “Ngapain kamu terus memandang Varo dengan tatapan seperti itu!” bentak Wijaya mengejutkan Camilla.


“Benar, pasti kamu sedang memikirkan hal aneh,” sambung Mayang menuduh Camilla.


“Ti..tidak…” sahut Camilla tergagap, pandangannya beralih ke Varo, “A…aku hanya kagum aja lihat kulit putih bersih abang itu. Bening kali aku rasa,” sambung Camilla masih tergagap karena dirinya kepergok memperhatikan Varo.


“Sudah Pa, lagian Kak Camilla juga tidak salah memandang wajah Om Varo. Wajar saja kalau Kak Camilla terkesima. Om Varo, 'kan memang sangat tampan. Om Varo juga tidak marah kalau Kak Camilla memandanginya,” Andy melirik ke Varo, “Benarkan Om?” sambung Andy memperjelas pendapatnya.


“Tentu saja benar tuan muda. Siapa saja boleh memandang saya, asal tidak memiliki niat yang buruk,” sahut Varo tenang sembari melempar senyuman manis kepada Camilla.


Degser!


Kali ini aliran darah Camilla langsung naik turun saat melihat senyuman manis terlihat tulus diberikan untuknya.


“Cepat! Jangan terus memasang wajah tersipu seperti itu kamu!” desak Wijaya menahan amarahnya.


Raut wajah tersipu Camilla berubah menjadi suram, memandang wajah Wijaya. Camilla pun turun dari mobil, mendekati Wijaya, dan berkata, “Ganggu aku sedang mengkhayal saja kau ini, Om!” bisik Camilla. Lalu berjalan mendekati Andy, menggenggam tangan Andy.

__ADS_1


“Ck…dasar wanita sumo. Perkataannya itu sangat kasar sekali,” gumam Wijaya, pandangan menatap lurus ke Camilla, Andy, dan Varo, sudah berjalan terlebih dahulu memasuki pintu Mall.


Mayang menyelipkan tangannya di lengan Wijaya, “Sayang, aku juga mau shopping,” rengek Mayang bergelayut manja di lengan Wijaya.


“Tapi kemarin kamu sudah belanja. Kamu mau shopping apa lagi sayang?” tanya Wijaya lembut, tangannya mengelus puncak kepala Mayang.


“Mmm…tidak tahu, kalau ada barang baru, aku akan membelinya lagi,” Mayang menatap wajah Wijaya penuh harap, “Boleh ‘kan sayang,” sambung Mayang rengek manja di buat-buat.


“Tentu saja boleh sayang, sekarang mari kita masuk,” ajak Wijaya.


“Terimakasih sayang,” Mayang spontan memberikan kecupan di pipi Wijaya, membuat beberapa pengunjung memarkirkan mobilnya terdiam menatap perbuatan Mayang.


Mayang dan Wijaya pun berjalan masuk ke dalam Mall. Tangan terus bergandengan seolah takut akan terpisah.


Sesampainya di dalam Mall, Andy membawa Camilla masuk ke dalam store besar terkenal di kota medan. Dimana di dalam store itu sudah tersedia mulai dari baju, pakaian dalam, sandal, sepatu, cosmetic, dan lainnya.


“Kak Camilla, mari kita ke sana!” ajak Andy tangan menunjuk ke stand pakaian baju-baju dress wanita.


Wijaya melihat perbuatan Andy dari kejauhan seketika terdiam di tempat. Wijaya teringat dengan putra kecilnya saat itu masih berusia 4 tahun. Terakhir kali Wijaya melihat Andy sangat senang seperti ini saat di bawa ke Mall. Saat itu Wijaya membawa Andy berbelanja dengan mendiang istri tercinta di bulan puasa, berbelanja untuk kebutuhan menjelang lebaran.


Karena waktunya sangat singkat untuk bisa bersama Andy. Mendiang istrinya pun membuat janji kepada Wijayanti untuk memberikan kenangan indah dengan cara menyenangkan Andy selama 2 minggu penuh.


Selama 2 minggu setelah mereka buka puasa di luar, Wijaya dan mendiang istrinya selalu membawa Andy berbelanja ke Mall, atau sekedar bermain di dalam Mall itu. Saat itu Andy masih polos terlihat sangat senang, tanpa bertanya kenapa mereka setiap malamnya pergi ke Mall.


Namun, baru 1 minggu berjalan, mendiang istri sudah di panggil oleh sang Pencipta. Andy pun sangat terpukul atas kepergian mendiang istrinya. Sejak saat itu, Andy berubah menjadi pribadi lebih nakal, dan sikapnya terlihat sangat dewasa.


1 bulan setelah kepergian mendiang istrinya, Wijaya bertemu dengan Mayang saat pergi keluar kota. Merasa cocok dengan karakter Mayang, Wijaya pun memutuskan untuk menyatakan cinta kepada Mayang.


Wijaya pun membawa Mayang ke rumah, memperkenalkan kepada Andy, berharap Andy bisa menerima Mayang, dan bisa melakukan semuanya yang pernah Andy lakukan dengan mendiang istrinya dulu dengan Mayang. Namun harapan Wijaya berbuah sia-sia. Andy malah semakin membenci Wijaya, dan Mayang.


Tidak ingin usahanya sia-sia, Wijaya selalu menyempatkan diri untuk pergi berbelanja membawa Mayang, dan Andy bersama mereka. Berusaha mengulang hal itu dengan Mayang. Namun, usaha Wijaya selalu sia-sia.


Tapi kali ini, Wijaya melihat Andy sangat ceria, bahkan terlihat sangat akrab dengan Camilla. Tentu saja keakraban itu mengingatkan Wijaya dengan mendiang istrinya.

__ADS_1


Di tengah-tengah lamunan Wijaya, Mayang tiba-tiba datang.


“Sayang…ini bagus tidak?” tanya Mayang memudarkan lamunan Wijaya. Menunjukkan sendal hak tinggi bertumit kaca.


“Eh…bu-bukannya kamu baru beli kemarin. Coba pilih yang lain saja,” sahut Wijaya berusaha menetralkan pikirannya.


“Kamu benar, kalau gitu aku pilih yang lain saja ya, sayang,” ucap Mayang kembali meletakan sandal itu ke tempatnya.


Wijaya sendiri masih terus memandang Andy masih sibuk membantu Camilla memilih baju. Wijaya tak sadar, kedua kakinya membawanya mendekati Andy, Camilla, dan Varo.


“Jangan yang itu, itu terlalu pendek,” ucap Wijaya tiba-tiba memberi komentar saat melihat Varo memegang baju dress pilihan Andy.


“Papa…tuan muda…Om,” ucap Andy, Varo, dan Camilla serentak.


“Sayang, kamu kenapa bisa sampai di sini. Apa kamu juga mau memilihkan baju untuk wanita sumo ini?” tanya Mayang sewot, pandangan tak suka mengarah pada Camilla.


“Eh…aku…anu..” Wijaya baru sadar menjadi tergagap.


“Kenapa rupanya, emang Papa tidak boleh membantu Kak Camilla memilih baju. ‘Kan Kak Camilla juga akan berkerja menjadi Baby sister untuk Papa. Berarti penampilan Kak Camilla juga harus di perhatikan agar tidak membuat malu Papa,” sambung Andy tak suka saat Mayang berkata seperti itu.


“Be-benar kata Andy,” sahut Wijaya bingung mau memberi alasan apa.


Mayang mendengar hal itu pun seketika langsung ngambek. Ia menjatuhkan tas dan sandal di tangannya ke lantai, lalu pergi meninggalkan Wijaya.


“Kamu sudah tidak cinta sama aku lagi!” ucap Mayang sembari berlari.


“Eh….tunggu, kenapa barang-barang mahal ini di jatuhkan ke lantai,” teriak Camilla merasa kasihan melihat barang-barang mahal di jatuhkan ke lantai.


“Sudah biarkan saja Kak. Tante Mayang itu memang egois, maunya menang sendiri, sekarang lebih baik kita….”


Ucapan Andy terhenti saat melihat seorang pria dewasa sangat di kenal oleh Andy berada di tempat itu. Berdiri di depan stand sepatu cowok, membelakangi mereka. Pria itu adalah Lafi, adik Wijaya.


Andy pun segera berlari kecil menghampiri Lafi. “Om Lafi…” teriak Andy memeluk pria bernama Lafi dari belakang.

__ADS_1


Saat Lafi berbalik badan, kedua mata Camilla membulat sempurna. Ia langsung berbalik, menutup wajahnya dengan pakaian di genggaman tangannya.


__ADS_2