BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 22. Aku Sudah Muak!


__ADS_3

Sebagai Baby sister Wijaya, Camilla mau tak mau harus mengikuti kemanapun Wijaya pergi. Meski saat ini Mayang sedang bersama dengan Wijaya.


Camilla terus menunggu dan menunggu di dalam ruangan kerja milik Wijaya. Sorot mata jengahnya terus memandang ke Mayang, terus menggeliat manja tiada henti di atas pangkuan Wijaya. Hal itu membuat pandangan Camilla semakin gatal, ia juga merasa bola matanya merasa kotor melihat sikap Mayang benar-benar seperti ulat bulu, menggeliat, dan menempel.


‘Aku sudah muak, aku sudah muak, aku sudah muak!’ gerutu Camilla dalam hati, sorot matanya terus memandang Wijaya sibuk di depan monitornya. Sedangkan Mayang sibuk menggeliat di atas pangkuan Wijaya.


Brak!


“Aku benar-benar sudah muak!” teriak Camilla sudah tidak tahan lagi meluapkan rasa jijik di dalam hatinya.


Wijaya dan Mayang sontak terkejut mendengar gebrakan Camilla, dan kini memandang ke arah Camilla.


Camilla beranjak dari duduknya, kedua kakinya melangkah besar mendekati meja Wijaya, dengan sorot mata suram terus memandang Mayang. Camilla berhenti di samping kursi kerja Wijaya.


“Ka-kamu mau ngapain?” tanya Wijaya gugup saat melihat wajah suram Camilla, dan sorot mata dingin memandang lekat wajah Wijaya.


“Kau tanya lagi aku mau ngapain! Tentu saja aku ingin mengusir kesialan dari lingkungan Perusahaan kau ini, Om!” teriak Camilla, saking emosinya dadanya sampai naik turun.


“Kesialan mana maksud kamu, wanita sumo?” tanya Mayang dengan raut wajah mengejek.


“Kau!” Camilla menunjuk wajah Mayang.


“Aku! Yang benar aja kalau ngomong,” Mayang menengadah, menatap wajah Wijaya saat ini sedang memangku dirinya, “Sayang, katanya aku sial!” lanjut Mayang memperjelas ucapan Camilla.


“Bisa tidak kamu duduk saja di sana,” perintah Wijaya datar, tangannya mengarah ke sofa tamu.


“Tidak! Selagi aku masih melihat hal yang tidak normal di dalam ruangan kerja. Aku tidak bisa diam,” Camilla menunju ke arah duduk Mayang berada di atas pangkuan Wijaya, “Apa kau tida punya pikiran Om? Bokong wanita ulat bulu itu sangat menempel di….anu..burung. Aku sangat yakin saat ini dia sedang memancing hasrat-mu!” lanjut Camilla mengutarakan isi pikirannya saat melihat gaya duduk Mayang seperti sedang menggoda.


“Emang kenapa dengan gaya duduknya? Aku tidak keberatan,” sahut Wijaya santai, membuat Mayang dan Camilla terkejut.

__ADS_1


"Tidak keberatan katanya?" Camilla bergumam.


“Sayang, kamu tidak keberatan, ‘kan?” Mayang bertanya dengan nada sedikit menggoda.


“Apa! Sudah gila,” Camilla menggenggam erat pergelangan tangan Mayang, “Kau, memang nggak keberatan Om. Tapi, aku sebagai seorang wanita sangat keberatan. Aku sering melihat hal seperti ini saat tengah malam di pinggir jalan. Ada beberapa tukang becak, mobil atau angkot, menyuruh seorang wanita duduk di atas pangkuannya. Lalu wanita itu naik turun seperti sedang bermain enjot-enjotan. Kini dengan santainya kau bilang tak merasakan apa pun. Meski seperti itu, aku tetap tidak suka,” Camilla menarik Mayang sekuatnya, hingga Mayang turun dari atas pangkuan Wijaya, “Aku akan mengusir-mu. Wanita ulat bulu. Ini kantor bukan tempat adegan mesum!,” lanjut Camilla sembari terus menarik paksa Mayang.


“Sayang, lakukan sesuatu. Masa wanita sumo ini mengatakan aku sama dengan wanita pilihan tukang becak, dan angkutan umum. Sayang…” rengek Mayang, sebelah tangannya terus mengulur, berharap Wijaya segera menahan tangan Mayang.


“Kalau nggak mau kau, aku sama, ‘kan dengan wanita 100 ribuan….”


“Berhenti!”


Wijaya menghentikan langkah Camilla, saat ini sedang membuka pintu ruangan. Wijaya beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Camilla, lalu melepaskan genggaman tangan Camilla dari tangan Mayang.


“Eh…” Camilla hanya bisa melihat dengan sorot mata terkejutnya.


“Kalau kamu tak suka melihat Mayang duduk seperti itu denganku, maka jangan di pandang. Kalau tidak, kau bisa pergi dari ruanganku,” usir Wijaya, sembari mengambil alih handle pintu dari genggaman tangan Camilla.


“A-aku hanya melakukan hal yang terbaik. Bukannya kamu tahu, kalau melakukan hal mesum sebelum menikah itu akan membawa….”


“Siapa yang mau berbuat mesum di Perusahaan ku sendiri. Kekasih sekaligus calon tunangan ku hanya duduk di atas pangkuanku,” sela Wijaya, sorot mata datar memandang wajah bingung Camilla.


“Tapi…wanita ulat bulu itu berulang kali... aku melihat menggesekkan bokongnya. Apa milikmu benar-benar tidak hidup, dan ingin melakukan hal lebih Om?” jelas Camilla cemas.


Meski Camilla seorang pencopet, tomboy dan urakan di pasaran. Tapi Camilla masih tahu batas norma antara lawan jenis. Camilla juga tahu mana yang baik, mana yang buruk.


“Aku tidak merasakan apa pun. Menurutku Mayang hanya seperti Andy,” sahut Wijaya jujur.


Kejujuran itu membuat Mayang terkejut. Mayang melirik penuh tanya ke Wijaya, sorot matanya mengarah ke resleting celana, berusaha menerawang ke dalam.

__ADS_1


‘Dia menganggapku seperti Andy, anaknya. Ya tuhan. Apakah pria yang akan menikahi ku ini normal? ada kelainan? Atau dia pria hipoten? Jika memang benar, pantas saja Wijaya tidak pernah mau menciumku. Aku juga sudah berusaha meningkatkan gairahnya, ia juga tidak tertarik. Oh…jangan-jangan,’ batin Mayang, sorot mata tak percayanya semakin jelas saat menatap resleting celana Wijaya.


Camilla menyadari pandangan Mayang, membuat segaris senyum licik di wajah cantiknya. Camilla berbalik, membelakangi Wijaya dan Mayang.


“Ha ha ha..sudah capek-capek merayu, tapi kau tak mendapatkan hasilnya. Ha ha ha…yang kasihannya aku sama-mu. Jangan-jangan lelaki yang akan bertunangan dan yang akan kau nikahi nanti adalah pria hipoten. Ha ha ha…selamat berusaha melakukan sendiri saat sudah menikah nanti!” ejek Camilla, tangannya melambai, “Daaa…puas-puas lah kau terus menggoda tanpa aku di dalam. Karena aku mau pergi dulu, ingin berjumpa dengan Babang tampan Radim, atau Varo!” lanjut Camilla, mulai melangkahkan kaki kanannya. Namun, langkah itu terhenti saat Wijaya memanggilnya.


“Tidak ada yang menyuruh kau untuk keluar dari ruanganku!” tegas Wijaya dingin. Sementara Mayang masih berdiri dengan raut wajah tak percaya, seolah sudah terhipnotis dengan ucapan Camilla.


Camilla berbalik badan, “Tapi tadi kau sudah mengusir ku, Om! Jadi aku berhak pergi. Kau urus aja dirimu sama pacar kau ini!”


Camilla kembali berbalik badan, tanpa rasa takut ia mulai melangkahkan kedua kakinya, dengan raut wajah kesal. Bibirnya juga terlihat terus mengumpat tiada henti. Sampai ia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Radim, tak jauh dari ruang kerja Wijaya. Terdengar kembali suara Wijaya memanggil nama Camilla dengan suara menggelegar, memenuhi seluruh ruangan hingga koridor.


“Camilla Hanin!!”


Camilla tidak merespon panggil Wijaya. Camilla malah mulai melangkah menuju lift, ia masuk, dan menekan tombol ke lantai bawah.


Sementara itu Radim mendengar suara Wijaya segera keluar dari ruangannya, menjumpai Wijaya saat ini berdiri di depan pintu ruang kerja milik Wijaya.


“A-ada apa Presdir? kenapa suara Presdir sangat kuat, hampir membuat jantung saya copot,” tanya Radim memegang dada kirinya.


Mayang sudah terhipnotis ucapan Camilla, perlahan keluar dari ruangan Wijaya. Raut wajahnya terlihat bingung. Sekilas Mayang mencium pipi Wijaya.


“Sayang, aku baru ingat. Kalau aku harus bertemu dengan Manager. Jadi, aku pamit dulu,” pamit Mayang datar.


“Mau ku suruh Varo untuk mengantar kamu?”


“Tidak perlu sayang, aku bawa mobil,” tolak Mayang datar.


Mayang pun perlahan melangkah, berjalan meninggalkan Wijaya bersama dengan Radim.

__ADS_1


__ADS_2