BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 24. Isi hati Andy


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, sekaligus menjemput Andy pulang sekolah Tk. Wijaya menyuruh Varo untuk mengantarkan Camilla dan Andy pulang ke rumah. Sedangkan Wijaya kembali ke Perusahaan miliknya, karena pekerjaannya masih banyak.


Di rumah besar milik Wijaya, Andy terus menemani Camilla di dalam kamar. Bahkan Andy juga membuat pekerjaan tugas TK, di dalam kamar Camilla, di atas ranjang.


“Kak, Kak Camilla tahu hurup ini?” tanya Andy, menunjukkan sebuah tulisan, ‘Kak Camilla cepat sembuh, ya’.


“Wah, kau bisa menulis kalimat seperti itu?!” Camilla merampas buku coret-coret Andy, menatap lekat tulisan indah di atas buku khusus coretan itu. “Tulisan kau juga sangat rapih. Siapa yang mengajarkan kau?” lanjut Camilla kembali memuji.


“Almarhum Mama. Saat berusia 4 tahun, aku sering mencoret-coret di dinding rumah dengan tulisan aneh. Saat itu juga Mama mulai mengajariku dengan penuh kehangatan. Jadinya seperti itu, aku bisa menulis dengan rapih. Aku juga memiliki cita-cita ingin menjadi Dokter,” sahut Andy.


“Dokter! Kenapa, dan apa alasan kau menjadi Dokter?” tanya Camilla penasaran.


Andy berjalan sedikit mendekati kaki Camilla, lalu tangan mungilnya menyentuh perban di pergelangan kaki Camilla.


“Karena aku ingin terus merawat Kak Camilla. Aku tak ingin Kak Camilla sakit seperti…” Andy menundukkan kepalanya, air bening mulai naik ke permukaan sepasang bola mata indahnya. Tak ingin larut dalam kenangan, mengenang Mamanya sudah meninggal dunia akibat terkena sakit kanker stadium akhir. Andy mengangkat kepalanya, mencoba memberi senyuman manis selebar kuda, kedua tangan mungil itu menyeka kasar bulir air mata sudah jatuh di ujung matanya.


Camilla tersentak saat melihat senyum paksa terlihat jelas di raut wajah Andy terlihat sedih. Camilla menarik tangan Andy, memeluk erat tubuh mungil Andy.


“Hey, kau ini anak lelaki yang tampan dan bakalan jadi pria yang hebat. Kenapa kau memendam tangisanmu? Keluarkanlah semua kesedihanmu itu, agar dadamu tidak seperti terikat dengan tali tambang yang cukup menyesakkan dada. Aku sudah di bayar cukup mahal. Jadi, aku di sini ada untukmu, bukan hanya untuk Papamu. Ayo, keluarkan lah rasa sesak itu. Aku akan siap mendengarkannya,” pinta Camilla sembari mengelus punggung Andy.


Tangisan Andy seketika pecah, kedua tangan mungil itu memeluk erat tubuh Camilla, kepalanya menyandar di dada Camilla.

__ADS_1


“Hiks…hiks. Aku merasa bersalah. Kenapa saat Mama mengalami sakit keras, aku masih kecil. Kenapa aku belum menjadi seorang Dokter? Sehingga Mama sudah memasuki stadium akhir yang cukup sulit untuk di obati. Aku juga merasa bersalah, saat aku terus menikmati sisa terakhir atas penderitaan Mama. Dengan ajakan-ajakan lembut yang terus menghibur ku kemanapun aku mau!” pelukan Andy semakin mengerat, ia juga menggesekkan wajahnya di dada Camilla, “Aku benci saat itu. Aku benci saat Mama terus membuat aku bahagia di saat-saat dirinya sebenarnya sangat lemah. Aku benci, aku benci dengan waktu itu!” lanjut Andy, ia mengingat kejadian 1 tahun lalu, saat terakhir almarhum Mamanya memberikan kenangan terakhir sebelum meninggal dunia.


Camilla tidak bisa berkata apa pun, ia hanya bisa memberikan pelukan hangat, dan membiarkan Andy terus meluapkan rasa bersalah sudah lama di pendamnya.


‘Ku pikir nasib aku aja yang sesedih dan menjadi hancur saat kehilangan kedua orang tua. Ternyata, anak sekecil Andy merasakan hal yang lebih sakit lagi. Pantes saja gaya bicara dan pembawaan dirinya seperti seorang pria dewasa. Ternyata dia sudah membuat janji pada dirinya sendiri, setelah kepergian almarhum Mamanya. Semoga saja tujuanmu tercapai bocah. Tapi, yang jijikan aku sama Papanya itu. Bisa-bisanya duda satu itu tidak mengetahui penderitaan yang di pendam oleh anaknya sendiri. Di otaknya itu, hanya ada wanita ulat bulu itu aja. Oh…satu lagi. Aku baru ingat, yang membuat aku terluka ‘kan wanita ulat bulu itu juga. Yang dia pikirnya aku tidak tahu! Awas saja kau, wanita ulat bulu. Akan aku warnai hidupmu dengan semua ragam pembalasanku. Ha ha ha….senangnya hatiku saat sedang merencanakan hal gila,’ batin Camilla, tak sadar membuat segaris senyum di wajahnya.


“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Viona, entah darimana datangnya. Tapi, saat ini Camilla sangat terkejut hingga jantungnya mau lepas.


“Setan kau, memang setan! Kau buat jantungku hampir lepas dari tempatnya. Nggak ada sopan santun kau. Di sana ada daun pintu, kau juga punya tangan, mulut, dan pita suara. Sudah di kasih lengkap bukannya di pakai,” omel Camilla, tangannya terus mengelus dadanya.


“Kuping kau tersumbat. Makanya sering-sering kau korek kotoran di telinga kau itu. Sudah dari tadi aku mengetuk pintu, tapi kau tidak menjawab. Rupanya kau di sini sedang tersenyum sendiri. Dasar gadis aneh!”


“Diam kau, pelayan bermuka dua, dan berhati busuk!” balas Camilla tak mau kalah.


“Entahlah, kau tanya aja sama memori di otakmu,” Camilla melambai, “Sudahlah, sana kau pergi dari dalam kamarku. Soalnya aku tidak sudi melihat kedua kaki kau itu menyentuh lantai kamarku,” lanjut Camilla mengusir Viona.


Viona mengeratkan genggaman tangannya di nampan kecil, di depan dadanya. Raut wajah kesal terus menatap Camilla, saat ini sedang membalas tatapannya. Sedangkan Andy, ia tertidur di atas pangkuan Camilla, setelah puas menangis dan meluapkan kekesalan di hatinya.


“Jangan kau pikir, bekerja di sini akan lama. Mentang-mentang tuan muda Andy membela kau. Sebentar lagi tuan Wijaya akan bertunangan dengan nona Mayang. Aku sangat yakin, gadis aneh sepertimu pasti akan di depak dari rumah ini..”


“Ha ha ha…horror sekali ucapan kau. Seperti aku masuk rumah hantu yang ada di pasar malam Jl. Pancing itu,” kekeh Camilla tak merasa takut.

__ADS_1


“Ihh…” kesal Viona, ia berbalik badan, hendak melangkah pergi. Namun, Camilla menarik bajunya dari belakang.


“Kau mau kemana?” tanya Camilla dingin.


“Turun!”


“Aku melihat kau tadi membawakan bubur ayam untukku?”


“Iya, tuan Wijaya yang menyuruhku. Dia kasihan sama kau yang selalu dirundung kesialan!” ketus Viona, menusuk ke hati Camilla.


‘Alamak, benar juga kata ular betina ini. Kayaknya saat aku belum masuk ke kehidupan Om duda. Aku tidak pernah dirundung masalah seperti ini. Aksi copet ku juga sangat berjalan mulus, sampai hutang 100 juta, Bapakku bisa ku lunasi. Jangan-jangan sumber kesialanku itu ada pada Om duda itu. Kalau gitu aku harus sedikit jaga jarak langkah dari Om duda,’ batin Camilla memikirkan.


“Nggak ada lagi ‘kan? Soalnya aku mau ke pasar,” tanya Viona kembali melangkah. Namun, harus terhenti.


“Jangan pigi dulu kau, bawak, bawak kembali mangkuk bubur ayam ini. Aku tidak ingin memakannya. Jangan-jangan kau sudah meludahi makananku tadi!”


“Berani sekali kau menuduhku!” Viona tak suka.


“Aku tidak menuduh, hanya mengingatkan saja,” Camilla mengambil mangkuk bubur di atas meja lampu tidur, mengulurkan mangkuk itu ke Viona, “Ayo! Cepat bawak, sebelum aku membuangnya ke atas lantai, dan memfitnah mu!” lanjut Camilla mengancam Viona.


Dengan bibir berdesis, Viona terpaksa mengambil kembali mangkuk berisi bubur ayam ia buat. Viona pun melangkah keluar dari dalam kamar Camilla. Sesampainya di luar kamar Camilla. Vioan menatap isi mangkuk, lalu menatap pintu kamar Camilla.

__ADS_1


“Padahal sudah susah payah aku membeli obat pemulas perut, dan mencampurnya di sini. Akh! Jadi hilang kebahagianku saat ingin melihat gadis aneh itu, lari dengan sebelah kaki yang sakit,” gumam Viona.


Viona kembali berjalan menuju lantai bawah. Tanpa ia sadari, ada seorang pria berdiri di belakangnya.


__ADS_2