BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 25. Pikiran Lafi


__ADS_3

Tok tok!


Pintu kamar Camilla di ketuk dari luar.


Camilla tidak menjawab, karena ia sudah tertidur bersama dengan Andy, sembari memeluk tubuh Andy.


Pintu kamar terbuka, terlihat seorang pria berdiri di depan pintu kamar Camilla. Pria itu adalah Varo.


"Dek Camilla," panggil Varo lembut.


Camilla tetap tidak menjawab, karena saat ini ia sudah tidur dengan nyenyak.


Karena melihat Camilla tidur sangat nyenyak. Varo menutup pintu kamar, kedua kakinya melangkah turun, menuju ruang dapur, tempat Viona sedang membereskan sisa pekerjaannya.


"Bi," panggil Varo, sudah berdiri di belakang Viona.


"Eh, Varo," Viona spontan menoleh, kedua tangannya segera membasuh bisa bekas cuci piring. Viona pun berdiri berhadapan dengan Varo, "Jangan panggil Bibi kenapa. Aku ini 'kan umurnya sama dengan kamu," lanjut Viona.


"Maaf, saya tidak bisa melakukannya. Anda sudah lebih dulu bekerja di rumah ini. Jadi, saya harus menghormati Anda," tolak Varo sopan.


"Ya sudah. Kamu tumben ke sini. Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" Viona mulai bertanya.


"Saya ke sini karena Anda tadi tidak menjawab telepon saya," sahut Varo datar.


"Ka-kamu menelepon saya?!"


"Iya, saya hanya ingin mengatakan. Jika nanti malam tuan Wijaya akan makan siang bersama dengan nona Mayang di sini. Masakan makanan yang enak untuk nona Mayang. Tuan Lafi, juga akan ikut makan malam. Itu saja, pesan yang di titipkan oleh tuan Wijaya," jelas Varo.


"Apa! tuan Lafi akan makan malam di sini? berkumpul bersama dengan tuan Wijaya? rasanya itu sungguh tidak mungkin," Viona seolah tak percaya jika Lafi akan makan malam di rumah, bersama dengan Wijaya dan Mayang.


"Saya pamit dulu. Soalnya saya masih ada urusan," pamit Varo.


Varo pun melangkah, meninggalkan ruang dapur.


Setelah kepergian Varo, Viona terus berjoget-joget kegirangan. Entah apa yang ia pikirkan.


Waktu pun begitu cepat berlalu. Kini jarum panjang mulai mengarah ke angka 19:30.


Di ruang makan, Lafi, Mayang, Camilla, Andy, dan Wijaya, sejenak mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing. Di hadapan mereka, di atas meja makan panjang dan lebar, sudah tersaji banyak menu makanan lezat, menggugah selera Camilla.


Lafi terus memandang wajah cantik Camilla, kulit putih bersih dan terlihat kenyal. Segaris senyum terkadang tercetak di raut wajah nakalnya. Mayang berada di hadapannya, hanya bisa melihat, menggenggam rok gaun malam miliknya.

__ADS_1


'CK...dasar wanita sumo. Sudah tahu Lafi itu mata keranjang, bisa-bisanya wanita sumo ini, memakai baju terusan, roknya hanya panjang 10 jengkal dari lututnya. Terus lengannya hanya selebar 2 jari. Apa dia kali ini ingin menggoda Lafi juga! Tidak akan aku biarkan. Lafi dan Wijaya hanya milikku!' gerutu Mayang dalam hati.


Camilla menyadari tatapan tak suka dari Mayang, sedari awal berjumpa dengannya. Camilla terus membuat tingkahnya menjadi centil. Sesekali ia menyibak rambut panjang pelanginya, memperlihatkan jenjang leher putih mulusnya, terdapat tato kupu-kupu.


'Kayak gini rupanya buat orang panas tanpa berbicara. Cukup banyak tingkah aja, sudah ketar-ketir dia. Ha ha ha...puas kale, puas kale hatiku!' kekeh Camilla dalam hati.


Andy terus melihat kelakuan aneh Camilla, membuat bibirnya perlahan terbuka. Tangan mungil mencolek lengan putih bersih Camilla.


"Kak, apakah Kakak baik-baik saja?" tanya Andy dengan polosnya.


Seketika Camilla berhenti menjadi centil. Senyum paksa ia tampilkan untuk Andy.


"Oh...tentu saja baik. Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku perhatikan dari tadi Kakak sepertinya terus menyibak rambut pelangi kakak. Setelah aku perhatikan sejak lama, kenapa tingkah Kakak seperti Tante Camilla?" jujur Andy.


Ucapan Andy membuat Camilla malu, hingga pandangannya melirik ke Mayang, terlihat tersenyum penuh makna.


'Ck, jujur kali bocah ingusan satu ini. Mana ucapannya terlalu jujur. Kalau aku perhatikan, memang iya, sih. Kok tingkah ku malah mirip dengan wanita ulat bulu itu. Niat mau memanasi, eh...malah aku yang di kira meniru gaya. Idih....najis kali aku!' batin Camilla.


"Kak, makan yuk!" ajak Andy, sudah lapar.


"I-iya," sahut Camilla kembali ke mode normalnya.


'Gadis pasaran ini cantik juga. Dari awal aku memandanginya, sampai detik ini. Wajahnya terlihat sangat cantik, dan nyaman. Kulitnya juga halus, dan kenyal. Tidak seperti Mayang. Aku rasa seluruh tubuhnya masih fresh. Apa perlu aku mencoba mendekati Camilla? ide yang bagus,' batin Lafi, tanpa sadar kepalanya mengangguk.


Mayang hanya bisa diam di dalam kesal, menatap sikap Lafi.


30 menit sudah berlalu, Lafi, Camilla, Andy, Mayang, dan Varo, sudah selesai makan malam. Mereka kini berpindah duduk di ruang tv keluarga, menikmati sinetron kesukaan Andy.


"Bang," panggil Lafi ke Wijaya, duduk di sisi kanannya.


"Iya."


"Mulai hari ini aku akan tinggal di rumah. Setelah aku pikir-pikir, hidup di apartemen sendiri itu sangat tidak menyenangkan," ucap Lafi, mengejutkan Wijaya, dan Mayang.


"Ke-kenapa?" Mayang keceplosan.


Mayang jadi nggak bisa leluasa bermain, atau melakukan hal aneh lainnya dengan Lafi. Jika benar Lafi akan tinggal bersama dengan Wijaya. Kepuasan duniawi nya pasti akan padam.


"Iya, kenapa?" sambung Wijaya.

__ADS_1


"Tidak ada alasan kenapa. Aku hanya bosan saja tinggal di apartemen. Di sini ramai, sepertinya aku sangat suka suasana di rumah ini. Bolehkan, aku kembali pulang ke rumah abang?"


"Tentu saja boleh, rumah ini cukup luas. Dan kamar kamu juga masih ada di atas," sahut Wijaya tanpa berpikir buruk.


"Kalau gitu, aku pamit untuk mengambil barang-barang di apartemen. Tapi...." Lafi menjeda ucapannya, sepasang bola matanya melirik ke Camilla, duduk santai bersama dengan Andy, menikmati kartun kesukaan Andy. "Boleh tidak, aku pinjam Camilla untuk membantuku beres-beres," lanjut Lafi.


"Tidak, kau pikir aku pembantumu!" ketus Camilla tanpa memberi harapan. Sepasang bola mata tak suka melirik ke Lafi.


"Aku akan membayar mu. Barang-barang ku banyak sekali di apartemen, jadi...."


"Apa urusannya denganku. Punya duitnya, kau suruh aja tukang angkat barang membereskannya. Jangan kau suruh-suruh aku! aku capek!" sela Camilla menolak keras.


Camilla pun bangkit, saat kedua kakinya hendak melangkah pergi, tangan mungil Andy menggenggam tangan Camilla.


"Mau ke mana kak?" tanya Andy, menengadahkan pandangannya ke atas.


"Tidur aku."


"Ikut Kak," pinta Andy.


"Aku bukan Mamak mu. Jadi, kau tidur aja di dalam kamarmu sendiri. Aku mau istirahat," tolak Camilla datar.


Camilla melepaskan genggaman tangan Andy, dengan tertatih karena kakinya masih sakit, ia kembali melangkah. Tapi, Andy berlari cepat, sampai sebelah kakinya memijak ujung sendalnya, Andy pun terjatuh.


Bam!


Wijaya, Lafi, Mayang, spontan berdiri. Kedua kaki mereka hendak berlari mendekati Andy, membantu Andy untuk berdiri. Namun, langkah Camilla lebih dulu mendekati Andy.


Raut wajah Camilla terlihat cemas, melihat kedua lutut Andy biru.


Wijaya marah, melihat kedua lutut Andy membiru, karena berusaha mengejar Camilla.


"Lihat, lihat kedua lutut Andy biru karena ingin mengejarnya. Ini semua gara-gara kamu!" Wijaya menghakimi Camilla.


"Ck, dasar. Kalau wanita pasaran, tetap saja wanita pasaran. Mau di didik, atau tinggal di lingkungan orang kaya mana pun. Wanita seperti dia tidak akan pernah bisa memiliki perasaan," Mayang menambahkan.


Camilla terdiam, menahan amarahnya, dengan kedua tangan di genggam erat.


"Andy tadi ingin ikut. Tapi, kenapa kau tidak mengizinkannya. Apa ruginya...."


Karena omelan, tuduhan, dan rasa bersalah Camilla terhadap Andy. Camilla menjauh dari Andy, ia beranjak pergi, berlari dengan terpincang ke kamarnya, tanpa mendengarkan ocehan Wijaya.

__ADS_1


"Camilla! Camilla!" teriak Wijaya, menatap kepergian Camilla, sudah naik ke anak tangga.


__ADS_2