BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 32. Rencana Lafi gagal


__ADS_3

Camilla sudah berada di dalam apartemen milik Lafi, bersama dengan Lafi. Camilla berdiri di ruang tamu, memandang sekeliling ruangan terdapat banyak foto-foto pemandangan indah.


Lafi baru keluar dari dapur, membawa 2 gelas jus jeruk.


"Kamu suka dengan pemandangan alam seperti itu?" tanya Lafi berdiri di samping kanan Camilla.


"Iya, mengingatkan aku sewaktu masih kecil. Dulu Bapakku dan Mamakku suka kali bawak aku ke Berastagi. Mereka menghabiskan uang yang di cari selama 1 minggu hanya untuk mengajakku naik kuda," sahut Camilla mengenang kasih sayang dari mendiang kedua orang tuanya.


"Aku bisa membawa kamu ke sana hari ini juga. Itupun kalau kamu mau," cetus Lafi mulai merencanakan sesuatu.


"Benarkah?!" binar mata bahagia terlihat jelas.


"Hem," angguk Lafi, tangan memegang jus mengulur, "Sekarang minum dulu," lanjut Lafi memberikan jus segar untuk Camilla.


Dengan senang hati Camilla mengambil gelas berisi jus itu, menenggaknya hingga habis, karena ia sangat haus.


"Seger juga jus ini, ya," puji Camilla menatap gelas jus sudah kosong.


"Kalau kamu mau, aku bisa mengambilkannya lagi," Lafi mengambil gelas kosong dari tangan Camilla, lalu berbalik.


Pandangan Camilla perlahan terlihat goyang, kepalanya juga sedikit pusing. Camilla menatap punggung Lafi terlihat banyak.


"Aduh! kok kepalaku tiba-tiba pening, ya," gumam Camilla merasa pusing, dengan langkah goyah ia mendekati sofa tak jauh tempat ia berdiri, dan tubuhnya pun ambruk di sofa.


Blam!


Lafi keluar dari dapur, tangannya membawa jus jeruk baru untuk Camilla.


"Camilla, di mana? jangan main petak umpet dong!" teriak Lafi, sorot matanya memandang luas ke sekeliling ruang tamu, dan berhenti di sofa. "Oh! ternyata obatnya sudah bekerja. Nggak sia-sia aku belinya mahal," lanjut Lafi seolah ia memang sudah merencanakannya.


Lafi mendekat, ia meletakkan gelas jus di atas meja, lalu menggendong Camilla, membawanya ke kamar.


Setelah meletakkan tubuh Camilla di ranjang. Lafi duduk di samping Camilla, tangannya menyingkirkan beberapa rambut menutupi wajah cantik Camilla.


"Kamu adalah wanita yang paling sempurna yang pernah aku jumpai. Tapi, kenapa kesempurnaan itu harus selalu Wijaya yang menemukannya duluan. Aku hanya mendapatkan sisa dari miliknya."


Lafi mengendus aroma tubuh Camilla. Tangan-tangannya mulai menjalar, membuat hasratnya mulai memuncak.


"Sebelum Wijaya mendapatkannya, aku harus mendapatkan gadis ini terlebih dahulu. Harus!" gumam Lafi, kedua tangannya cepat-cepat membuka gesper celananya.


Belum lagi ia memulai aksinya, pintu kamarnya terbuka. Lafi terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya itu.


"A-abang!"


Wijaya melangkah masuk tanpa meminta izin kepada Lafi. Kedua tangannya segera menyingkirkan Lafi dari Camilla, masih terbaring dalam keadaan pingsan. Wijaya langsung menggendong tubuh mungil Camilla, membawanya pergi. Baru saja sampai di depan pintu kamar, Wijaya menoleh ke belakang.


"Aku akan mencoba berpura-pura tidak tahu tentang hal ini," celetuk Wijaya, lalu ia membawa Camilla pergi dari apartemen Lafi.


Lafi mendengus kesal, ia menjatuhkan semua barang-barang di dalam kamarnya saat Wijaya sudah membawa pergi Camilla.

__ADS_1


Prang! Blam!


"Kurang ajar kau, Wijaya! kenapa kau selalu merusak kebahagiaan ku. Kau bilang tak menyukai gadis itu, tapi kenapa kau merebutnya juga dariku!" teriak Lafi.


.


.


💫 Di sisi lain 💫


Di dalam mobil milik Wijaya, sedang melaju kencang menuju Perusahaan miliknya, tak jauh dari apartemen milik Lafi.


Wijaya terus memandang wajah polos Camilla, masih tertidur pulas di kursi penumpang bagian depan.


"Kemolekan tubuh mu membuat dirimu selalu jadi incaran pria yang haus akan melancarkan hasratnya. Maafkan aku sudah membiarkan adikku membawamu pergi. Lain kali aku akan terus menjagamu, hingga tak ada orang yang bisa menyentuh kulitmu," gumam Wijaya bersumpah.


Tak sampai 1 jam, mobil milik Wijaya sudah terparkir di depan teras Perusahaan. Varo terlihat berlari, membuka pintu mobil Wijaya.


"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Varo cemas, melihat Camilla tertidur pulas.


Wijaya keluar dari dalam mobil, berdiri di samping Varo.


"Ini hanya kesalahan ku saja. Varo, aku minta tolong sama kamu. Tolong belikan sup dan beberapa cemilan sehat untuk Camilla. Sekalian, jangan lupa jemput Andy, karena aku yakin dia sebentar lagi pulang sekolah. Kalau Andy mau ke sini, biarkan," Wijaya memberi perintah kepada Varo.


"Baik tuan," sahut Varo patuh.


Wijaya menggendong Camilla, membawanya masuk ke dalam Perusahaan.


"Selamat siang tu....." sapaan Gabi terhenti saat melihat Wijaya menggendong Camilla dalam kondisi pingsan. Gadi beranjak dari duduknya, berlari kecil mengikuti Wijaya. "Kenapa dengan Camilla?" lanjut Gabi mulai kepo.


Wijaya berhenti, melirik dengan sorot mata tajam, "Kenapa?" Wijaya bertanya kembali dengan nada dan aura dingin.


"Oh..ha ha ha...Maaf tuan. Ka-kalau gitu saya balik lagi ke kursi," ucap Gabi di sela ketakutannya melihat aura dipancarkan Wijaya sangat suram.


Gabi berlari kecil, kembali ke meja resepsionis, dan duduk. Sesekali kepalanya menunduk, memandang Wijaya kini sudah melangkah menuju lift.


Wijaya sudah masuk ke dalam lift. Wijaya terus memandang wajah polos Camilla, masih pingsan di dalam gendongannya.


'Kenapa setiap kali aku melihatmu, ada perasaan tersendiri yang terkadang membuat aku bingung,' gumam Wijaya dalam hati.


Ting!


Pintu lift terbuka.


Wijaya melangkah keluar lift, berjalan menuju ruangan kerja miliknya. Sesampainya di dalam ruangan, Wijaya meletakkan tubuh Camilla di sofa panjang, lalu menyelimuti tubuh mungil Camilla dengan jas miliknya.


Tok Tok!


Pintu ruangan di ketuk.

__ADS_1


"Masuk," Wijaya menyuruh orang mengetuk pintu masuk.


Pintu ruangan terbuka, terlihat Varo berdiri sambil menggendong Andy.


"Kenapa dengan Andy?" tanya Wijaya cemas.


"Tuan muda tiba-tiba demam tinggi. Tapi tuan tidak perlu kuatir, tadi pihak sekolah sudah membawanya ke rumah sakit. Tuan muda tidak ingin di rawat, tuan muda hanya ingin di rawat oleh dek Camilla," jelas Varo, sembari ia berjalan masuk, meletakkan tubuh Andy di sofa kosong lainnya.


"Anak ini. Dia benar-benar keras kepala seperti mendiang Ibunya," gumam Wijaya.


"Tuan, saya tadi tidak sempat membeli pesanan Anda. Tapi saya sudah memesan melalui aplikasi makanan online. Kemungkinan sebentar lagi makanan nya akan segera sampai," lanjut Varo memberitahu.


"Tidak masalah, yang terpenting kamu sudah menjemput dan membawa Andy ke sini," hela Wijaya, sembari mendudukkan dirinya di dekat Andy.


"Saya ambilkan air hangat dulu," pamit Varo.


"Iya, sekalian buatkan susu coklat buat Andy," pinta Wijaya.


Varo melangkah, meninggalkan ruangan Wijaya menuju dapur Perusahaan, untuk membuatkan minuman pesanan Wijaya.


Wijaya mengelus dahi putranya terasa hangat, "Kamu kenapa tiba-tiba jatuh sakit?" gumam Wijaya.


Kelopak mata Camilla perlahan bergerak, "Duh ..duh ..kenapa kepala aku masih pening, ya?" gumam Camilla setelah sadar.


"Sudah sadar?" tanya Wijaya.


Mendengar suara Wijaya, Camilla spontan tersadar, ia berdiri, mengecek seluruh tubuhnya, dan tanpa rasa malu ia menyingkap rok miliknya untuk memastikan keadaan bagian dalamnya masih utuh.


Wijaya hanya bisa memejamkan matanya saat menyadari kecerobohan Camilla.


"Syukurlah yang di dalam masih baik-baik saja!" hela Camilla lega.


"Kau pikir aku sepicik itu! Memanfaatkan kesempatan saat kau tak sadarkan diri, haa!" bentak Wijaya.


"Aku tidak menuduh kau loh. Aku tidak menuduh kau, Om!" sahut Camilla santai, ia kembali duduk. Sorot matanya terhenti pada wajah Andy terlihat merah, "Kenapa dengan Andy?" lanjutnya bertanya.


"Andy demam...."


"Apa! demam. Jadi anak demam kau biarkan aja kayak gitu. Kau kompres lah, atau kau kusuk badannya, agar suhu tubuhnya turun!" omel Camilla sembari berdiri.


"Dia sudah di bawa ke rumah sakit. Jadi....",


"Jadi kau berharap obat yang menyembuhkannya? entah di mana pikiranmu sebagai orang tua," sela Camilla kembali mengomel.


"Maksudmu aku nggak becus jadi orang tua?"


"Aku mau bawa Andy pulang. Tempat yang paling bagus untuk anak kecil di rawat itu di rumah, bukan di sini!" tegas Camilla, ia kini sudah menggendong tubuh Andy.


"Kenapa kamu suka sekali marah-marah?" gumam Wijaya, perlahan ia bangkit dari duduknya, "Baiklah, aku akan mengantar kalian pulang," lanjut Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2