BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 45. Kembaran di Kebun binatang


__ADS_3

Camilla dan Andy bangun, sorot mata mereka memandang ke seluruh tempat.


"Sudah sampai Pa?" tanya Andy sembari mengucek kedua kelopak matanya.


"Sudah, mari turun," Wijaya mengulurkan kedua tangannya, ingin memberikan gendongan kepada Andy. Namun, Andy mengabaikannya.


Andy menarik rok dress Camilla, "Kak, aku masih mengantuk. Boleh tidak aku minta Kakak menggendongku," Andy mengarahkan jari telunjuknya ke salah satu wanita sedang berdiri di samping mobil, menggendong anaknya, "Aku juga ingin merasakan gendongan seperti anak itu," lanjut Andy mulai memelas.


Camilla menoleh, lalu ia mengangguk. Wijaya mengernyitkan dahinya.


'Anak ini benar-benar mengabaikan aku. Aku ini, 'kan Papa nya. Sudah aku yang capek menyetir, ingin menggendong nya aja pun nggak bisa,' gerutu Wijaya kesal.


Wijaya tak ingin mengomel di depan orang ramai hanya bisa pasrah, ia membuka pintu untuk membantu Camilla turun. Lalu mereka jalan menuju tempat pembelian tiket. Setelah mendapat tiket masuk, Wijaya, Camilla, dan Andy dalam gendongnya berjalan masuk.


Sepanjang perjalanan berkeliling di dalam kebun binatang, semua pengunjung memandang ke arah Camilla, heran kenapa wanita masih muda sudah memiliki anak seusia Andy.


Andy sendiri tersenyum, 'Mama, Mama...apa Mama sudah melihat dari atas syurga jika aku sedang di gendong dengan calon Mama baru. Mama, selama kepergian Mama, baru kali ini aku mendapat gendongan hangat dari seorang wanita. Selama ini aku selalu berjalan sendiri sampai-sampai kedua betis ku terkadang sakit. Oh ya, Ma. Mama mengizinkan Papa untuk menikahi Kak Camilla, 'kan? Aku yakin pasti Mama mengizinkannya. I Love U Mama, semoga Mama tenang di syurga sana, jangan pikirkan aku, karena aku sudah mendapatkan pengganti Mama,' batin Andy senang, bibirnya terus tersenyum manis, kedua tangannya juga menggenggam erat Camilla, seolah tak ingin melepaskan Camilla.


Tanpa Andy sadari, Wijaya sedari tadi terus melirik kelakuan Andy.


'Mulai deh, pasti Andy sudah menyusun rencana ini. Anak siapa sih dia, kok bisa licik seperti ini,' gumam Wijaya dalam hati.


Saat Andy dan Wijaya terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Camilla malah fokus pada setiap binatang berada di kandang. Kedua mata Camilla membulat sempurna saat ia melihat kandang simpanse.


Camilla pun berlari, Andy di dalam gendongan terkejut, menggenggam erat tubuh Camilla. Wijaya juga ikut berlari, terkejut melihat reaksi spontan Camilla.


"Wah...ada monyet. Andy, apa kau sudah melihat kembaranmu di sini?" tanya Camilla saat melihat anak simpanse di gendong induknya.


Andy dan Wijaya hanya menghela nafas singkat.


'Dia samakan anakku dengan anak simpanse,' batin Wijaya.


"Kalau aku sama dengan anak simpanse, berarti Kakak induknya?" tanya Andy.


"Iya, aku induknya, hehehe," sahut Camilla terkekeh.

__ADS_1


"Ha ha ha ..kalau gitu mari kita cari kembaran Kakak yang lain," ajak Andy di sela tawanya.


"Ayo!"


Camilla kembali membawa Andy berkeliling. Andy pun meminta untuk berhenti di kandang Singa.


"Lihat, lihat kak. Apakah Kakak sudah melihat adanya singa di dalam sana?" tunjuk Andy.


"Sudah, kenapa?" Camilla balik bertanya.


"Itu adalah kembaran Kakak, keren tidak?!"


Wijaya terkejut, jantungnya hampir lepas mendengar kejujuran Andy. Wijaya terus melirik ke wajah suram Camilla.


"Dasar bocah nakal. Seberapa mirip aku dengan Singa itu, ha?" Camilla terkekeh, ia tidak marah.


"99,9% kak. Kalau kakak berteriak, mulutnya juga selebar mulut singa yang sedang menguap itu!" dengan polosnya Andy kembali jujur saat melihat salah satu singa menguap.


Wijaya langsung membungkam mulut Andy, "Andy, siapa yang mengajari hal itu?" omel Wijaya berbisik pelan, sesekali senyum kaku di tunjukkan pada Camilla.


Camilla memukul pelan lengan Wijaya, "Kasar sekali kau sama anakmu sendiri. Biarkan dia berkata apa pun. Lagian yang dia katakan benar, aku sering marah seperti Singa," Camilla melirik ke Andy, "Bukan begitu Andy?" lanjut Camilla bertanya ke Andy.


"Hem...cuman bercanda aja Pa," ucap Andy lirih.


"Meski bercanda, tetap saja tidak sopan jika kita menyamakan sikap manusia dengan binatang. Lain kali jangan di ulangi, Papa nggak suka melihat anak Papa bersikap tidak sopan seperti ini," Wijaya menasehati dengan lembut.


"Baik, Pa. Aku minta maaf," sahut Andy lirih.


"Jadi kita mau kemana lagi?" tanya Camilla tak ingin membuat Andy sedih.


"Ke sana Kak!" tunjuk Andy ke kandang kolam buaya.


"Mari kita ke sana!" Camilla kembali membawa Andy menuju ke kandang kolam binatang.


Wijaya mengikuti pelan dari belakang, segaris senyum sekilas tercetak di wajah kharisma nya.

__ADS_1


"Aku baru melihat sisi lain dari Camilla di sini. Tidak aku sangka jika Camilla ternyata memiliki batas sabar yang besar untuk anak-anak," gumam Wijaya.


Camilla masih terus mengendong Andy, menurunkan Andy hanya sekedar untuk berfoto, lalu Camilla kembali menggendongnya, seakan menganggap Andy seperti anaknya sendiri.


Sudah puas berkeliling, hingga kedua kaki terasa pegal. Wijaya memutuskan untuk kembali.


Wijaya sudah melajukan mobilnya meninggalkan kebun binatang di Siantar, menuju kota Medan.


Saking lelahnya Camilla berkeliling menggendong Andy. Mobil baru jalan 5 meter ke depan, Camilla sudah tertidur pulas di kursi penumpang bagian depan. Sementara Andy masih terjaga.


"Pa, apa Kak Camilla sudah tertidur?" tanya Andy pelan.


"Sudah, kalau kamu mau tidur, tidur saja. Nanti akan Papa bangunkan saat sampai di toko roti ganda," usul Wijaya.


"Tidak ah. Aku masih belum mengantuk," tolak Andy, ia mengarahkan pandangannya ke luar jendela.


"Andy, apa kamu benar-benar menyukai Camilla?" Wijaya tiba-tiba bertanya.


Andy langsung memutar arah pandanganya, menatap Wijaya dari kaca spion tengah.


"Hem, sangat suka. Apakah Papa akan menikah dengan Kak Camilla?!" tanya Andy semangat.


"Camilla tak ingin menikah dengan Papa. Gimana tuh. Apa Papa lebih baik melanjutkan pertunangan dengan tante Mayang?"


"Tidak! aku tidak setuju. Tante Mayang hanya mencintai Papa, dia tidak perduli denganku. Jika Papa menikah dengan tante Mayang, aku akan kabur dari rumah!" ancam Andy tegas.


"Kalau gitu Papa nggak usah menikah. Kita hidup berdua aja, kamu mau?" cetus Wijaya terdengar lirih.


"Jangan, aku tak ingin Papa hidup selalu sendirian. Papa juga berhak memiliki pendamping hidup. Tapi...jangan sama tante Mayang. Aku hanya ingin Kak Camilla," ucap Andy jujur.


"Kalau Camilla benar-benar tidak ingin menikah dengan Papa, gimana? lebih baik kita hidup berdua saja!"


"Mungkin masa pertumbuhan ku akan sangat lambat jika tidak ada kasih sayang dari Kak Camilla. Papa sudah besar, dan memiliki segalanya. Seharusnya Papa sudah tahu gimana caranya merebut hati Kak Camilla," hela Andy seperti seorang pria dewasa.


Sementara itu, Camilla ternyata sudah terbangun karena percakapan antara anak dan bapak. Camilla hanya pura-pura tidur agar ia bisa terus mendengar.

__ADS_1


'Apalah bocah ini sama sih Om duda. Kalau aku lihat-lihat dan setelah aku pikir-pikir, sebenarnya aku juga menyukai Om duda. Tapi gengsi lah. Lagian aku malas berhubungan dengan wanita ulat bulu itu. Tapi...rasanya aku juga sudah nyaman dekat dengan Om duda. Apa aku gas, 'kan aja. Tidak ..jangan Camilla, kau akan masuk neraka jika merusak hubungan orang lain. Sudah lebih baik kau sama abang Varo atau abang Radim aja,' gerutu Camilla dalam hati.


__ADS_2