
Andy, Wijaya, Camilla, dan Varo. Mereka berempat sedang barbeque di teras belakang rumah. Wijaya dan Varo mengambil alih untuk masakan. Camilla dan Andy, menyusun gelas, piring, dan beberapa minuman di atas meja.
Dari jarak 5 meter, Wijaya terus menatap Camilla, sedangkan tangannya mengipas sosis, daging sapi, dan beberapa makanan lainnya di atas panggangan barbeque.
‘Wanita sumo itu benar-benar sudah meracuni pikiran Andy. Bisa-bisanya Andy tertawa lepas saat bersama dengannya. Mereka juga terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang begitu serius. Hal itu sangat membuatku ingin marah! Aku ini Papanya, dan wanita sumo itu hanya orang lain. Kenapa Andy malah memilih bercerita banyak dengan wanita sumo itu, sungguh membuat aku iri,’ batin Wijaya, sepasang matanya terus memandangi Camilla dan Andy, sampai tak sadar makanan miliknya gosong.
“Tuan, tuan, masakan tuan gosong,” panggil Varo dengan datar.
Camilla dan Andy hanya diam di tempat duduk mereka, dengan bibir tertawa geli, pandangannya mengarah pada Wijaya dan Varo berada di depan tempat pemanggang barbeque.
“Aaaah…ini semua gara-gara wanita sumo itu!” pekik Wijaya menyalahkan Camilla.
“Berarti dari tadi tuan sedang memikirkan dek Camilla?” ceplos Varo bertanya dengan wajah datar.
“Ah, nggak tahu! Cepat ambilkan yang baru,” perintah Wijaya sedikit kesal.
Wijaya mengambil sosis, daging sapi, dan beberapa makanan sudah gosong. Menggantikan makanan baru, dan mulai memanggangnya.
“Tuan, saya sudah mendapatkan informasi semuanya tentang dek Camilla sesuai dengan permintaan tuan, beberapa hari lalu.”
“Apa itu, katakan saja!”
“Menurut informasi yang saya temukan, dek Camilla memang hidup sebatang kara semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, atas kejadian buruk menimpanya saat dek Camilla berusia 12 tahun. Dek Camilla dulunya gadis yang anggun, sopan, dan lemah-lembut. Sampai ia di culik oleh seorang pria pemabuk, di bawah ke rumah besar tak berpenghuni. Dek Camilla di sekap di sana selama beberapa hari, ia juga sempat dilecehkan, tapi belum ke tahap yang lebih serius. Karena kedua orang tuanya datang, saat pria pemabuk membawa beberapa orang temannya. Di saat itu pula kedua orang tua dek Camilla di habisi oleh kawanan pria pemabuk. Setelah itu, kedua orang tuanya meninggal dunia, meninggalkan hutang menumpuk ke rentenir. Dari itu pula dek Camilla merubah dirinya sebagai…pencopet, untuk membayar hutang-hutang kedua orang tuanya,” Varo mengalihkan pandangannya ke Camilla, sedang bersandau-gurau bersama dengan Andy, “Dan, satu hal yang membuat saya takjub. Dek Camilla adalah seorang siswa berprestasi di sekolahnya, meski ia sering bolos,” lanjut Varo menjelaskan informasi tentang Camilla.
“Bagaimana dengan pria-pria itu?” tanya Wijaya, aura wajahnya menggelap.
“Karena kasus yang di perbuat mereka kepada anak di bawah umur. Para pria pemabuk itu….telah meninggal dunia, ulah teman dalam sel mereka. Tidak tahu jelas kenapa bisa seperti itu, saya hanya bisa menggali informasi sampai di situ saja,” sahut Varo mengakhiri penjelasannya.
“Berapa umur wanita sumo itu?”
“Siapa wanita sumo, tuan?” Varo balik bertanya karena dia tak tahu siapa yang dimaksud Wijaya.
“Camilla, jadi siapa lagi!” hela Wijaya menahan kesal.
“Oh, umurnya baru memasuki 18 tahun.”
__ADS_1
“Masih sangat muda.”
“Iya, tapi Camilla cocok untuk menjadi ibu sambung tuan muda Andy,” ceplos Varo dengan wajah datar tanpa bersalah.
Wijaya di sebelahnya hanya mengerutkan dahi, sebelah alis menaik.
“Kau ingin aku pecat?!” ancam Wijaya menekan nada suaranya.
“Saya sudah biasa mendengar kata-kata itu,” sahut Varo sembari menaruh sosis, daging sapi potong, dan beberapa makanan sudah siap di panggang, meletakkannya di atas meja, lalu menaburi beberapa bahan rempah. Varo mengalihkan pandangannya ke Wijaya, “Semuanya sudah matang, lebih baik kita segera makan sebelum tuan muda Andy, masuk angin,” lanjut Varo mengingatkan.
“Iya, aku akan membawakan nasi ke sana.”
Wijaya dan Varo, melangkah menuju meja, membawa barbeque siap di santap, Wijaya sendiri membawa nasi. Wijaya dan Varo pun meletakkannya di atas meja.
“Hem…aromanya sangat wangi,” puji Andy, detik selanjutnya melirik ke Camilla sedang terlihat menelan saliva nya, kedua mata memandang barbeque di hadapannya. “Kak Camilla mau?” lanjut Andy bertanya.
“Hem,” angguk Camilla, bola matanya memancarkan binar terang.
Andy mengulurkan tangannya ke Wijaya, “Papa, tolong ambilkan aku nasi beserta sosis dan barbeque lainnya untuk Kak Camilla,” pinta Andy sopan.
“Suruh wanita itu ambil sendiri,” tolak Wijaya datar, tangannya menjepit sosis, daging sapi, dan beberapa makanan lainnya, meletakkannya di atas piring, lalu menaruh nasi.
“Eh, i-iya deh, Papa turuti. Kamu jangan terus-menerus mengancam Papa dengan membawa tante Mayang dong,” keluh Wijaya lirih.
“Apa Papa beneran mencintai tante Mayang?”
“Tahu darimana kamu pertanyaan seperti itu?” pandangan Wijaya mengarah ke Camilla, “Pasti dia yang sudah memberitahu kamu!” lanjut Wijaya menuduh Camilla.
“Bagus sikit cakap kau, Om! Nggak kerjaan aku tuh menjelek-jelekkan orang,” cetus Camilla membela dirinya, karena ia benar-benar tak melakukan apa pun.
“Papa nih jahat banget sama Kak Camilla. Aku tahu karena aku ‘kan sudah dewasa,” Andy membela Camilla, menyebutkan dirinya sudah menjadi seorang pria dewasa.
“Kamu itu masih kecil, Andy. Jatuh aja kamu masih menangis,” Wijaya memberikan piring berisi nasi, barbeque, dan berkata, “Makan dulu, entar kita lanjut mengobrol nya.”
“Apa Papa yakin tante Mayang mencintai Papa, seperti Papa mencintai tante Mayang?” tanya Andy mengejutkan Wijaya.
__ADS_1
“Kamu bicara apa sih. Sudah pasti tante Mayang mencintai Papa seperti Papa mencintainya,” Wijaya mengelus puncak kepala Andy, “Sudah makan dulu,” pinta Wijaya mengakhiri percakapan.
‘Kenapa Andy tiba-tiba berkata seperti itu? Aku jadi kepikiran. Lagian tidak mungkinlah Mayang tidak mencintaiku. Buktinya, kalau dia tidak mencintaiku, kenapa dia selalu menempel, dan bersikap manis saat ada di dekatku. Ah…sudahlah, aku rasa Andy telah di dewasakan oleh film sinetron,’ batin Wijaya.
Andy, Camilla, Varo, dan Wijaya menyantap barbeque mereka.
30 menit sudah berlalu. Andy kekenyangan, tertidur di atas kursi panjang. Lain dengan Camilla, entah apa yang ia minum. Tapi, saat ini Camilla terlihat sedang mabuk berat, dan terus meracau nggak jelas. Wijaya tak ingin Andy mendengar racauan Camilla, menyuruh Varo untuk memindahkan Andy ke kamar.
“Hei, duda!” panggil Camilla menunjuk Wijaya duduk di depannya.
“Ada apa!” ketus Wijaya, menatap Camilla duduk di hadapannya.
“Aku sangat membencimu, sangat-sangat membencimu!” Camilla menepuk pelan dadanya, “Aku ini Camilla, pencopet tanpa bayangan yang beredar di sekitar pajak central, Sambu, atau…yang ada di kota Medan ini!” Camilla mendekatkan wajahnya ke wajah Wijaya, “Asal kau tahu aja. Aku dulu pernah mencopet uang milik adek kau itu. Sampai sekarang uangnya masih ada itu di tas ku, berjaga-jaga siapa tahu dia mengetahui jika aku pelakunya, dan meminta uangnya di kembalikan!” Camilla menempelkan jari telunjuknya ke bibir Wijaya, “Sssst…tapi kau jangan ember ya, Om duda. Rahasia ini cukup aku, dan kau aja yang tahu. Nyamuk sekalipun tidak boleh mengetahuinya, he he he…nyamuk, nyamuk!” lanjut Camilla meracau membongkar aibnya sendiri.
“Oh…kalau gitu aku akan menelepon pihak berwajib. Pencopet seperti kamu tidak boleh di lepaskan dan hidup dengan nyaman di rumahku ini,” Wijaya merogoh saku celananya mengambil ponsel miliknya.
“Eh, enak aja. Aku itu sudah baik kepada adik kau yang mesum itu Om. Sudah ku pulangkannya Atm, Sim, Ktp, terus kartu apa lagi….ah…pokoknya kartu-kartunya sudah aku pulangkan. Jadi, jangan kau ancam-ancam aku!”
Brak kraak!
Dengan santainya Camilla melempar ponsel milik Wijaya ke lantai, lalu menginjaknya hingga remuk. Wijaya duduk di sana spontan terkejut, beranjak dari duduknya, memungut ponsel milinya sudah remuk.
“Ponselku!”
“Ha ha ha…gitu aja kau nangis Om! Ponselku, ponselku,” ejek Camilla, detik selanjutnya Camilla mengelus puncak kepala Wijaya, “Cup, cup, Om duda yang tak punya hati jangan nangis lagi ya. Kalau kau terus menangis, maka aku akan…”
Wijaya yang geram menggenggam pergelangan tangan Camilla, membawa paksa Camilla masuk ke dalam rumah.
Saat berpapasan dengan Viona dan Varo. Camilla menyempatkan diri melambaikan tangannya.
“Daa…abang gantengku,” lambai Camilla ke Varo, dan mengedipkan matanya sebelah. Lalu melirik ke Viona, “Daaa…pembantu yang licik. Aku tahu, kau pasti yang sudah memberikan minuman itu buatku. Tapi aku sangat berterimakasih karena aku sudah merasakan minuman mahal. Daaa…besok-besok jangan lupa beri racun di dalamnya, agar usaha menyingkirkan aku berjalan dengan sempurna!” lanjut Camilla berteriak, karena ia sudah memasuki ruangan menuju anak tangga menuju lantai atas.
Melihat Camilla mengetahui kebusukan dan rencana rapih sudah ia susun dengan matang. Viona terdiam menjadi patung, kedua tangannya terlihat gemetar ketakutan.
‘Gawat, kenapa gadis pasaran itu mengetahui perbuatanku. Kalau seperti ini, aku harus segera hati-hati,’ batin Viona. Namun, Viona di kejutkan oleh genggaman kuat Varo.
__ADS_1
“Sudah jangan hiraukan perkataan dek Camilla. Mari kita bereskan peralatan barbeque,” ajak Varo sembari tersenyum paksa dengan wajah suramnya.
Viona melihat wajah Varo seketika menciut, debaran jantungnya sangat kuat, sampai ingin lepas.