BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 34. Batang Baseball


__ADS_3

Keesokan paginya. Camilla sudah lebih dulu bangun, ia masuk ke kamar Andy tanpa mengetuk pintu. Camilla menyapa Andy sedang berdiri di depan cermin besar.


"Pagi!" sapa Camilla setelah masuk ke dalam kamar Andy.


"Kak Camilla!" Andy sedikit terkejut, tak biasa Camilla datang ke kamarnya.


Camilla langsung memutar arah posisi berdiri Andy, ia juga menundukkan sedikit tubuhnya, lalu punggung tangannya ia tempelkan ke dahi Andy.


"Sudah sembuh kau?" tanya Camilla dengan logat Medan nya.


"Sudah. Semua ini karena Kak Camilla yang merawat ku. Aku jadi ingat....."


"Stop, stop! aku nggak suka ya, kalau kau terus menyamai aku dengan mendiang Mama mu!" sela Camilla. Ia tak suka mendengar perbuatannya itu di samakan dengan perbuatan orang lain.


"Iya deh, maaf!" hela Andy.


"Kau yakin bisa ke sekolah?" tanya Camilla cemas.


"Yakin, aku tidak ingin libur sekolah hanya karena demam."


"Kenapa? libur sekali-kali tidak masalah ku rasa," usul Camilla sembari membantu merapihkan rambut Andy.


"Cita-citaku ingin menjadi seorang Dokter, Kak. Jika aku terlalu manja dengan demam biasa ini. Aku takut tidak bisa menjadi seorang Dokter nantinya. Dan aku ...." Andy menjeda ucapannya, lalu memeluk Camilla, "Aku ingin Kakak selalu sehat dan terus ada di dekatku!" lanjut Andy mengalihkan pembicaraannya.


"Hei, mana bisa aku terus di dekatmu. Kau pikir aku ini akan menjomblo seumur hidup? Bisa-bisa gersang lah hidupku!" cetus Camilla.


Andy melepaskan pelukannya, "Emang Kakak mau menikah?" tanya Andy sendu, sepasang bola matanya mulai meredup.


"Iya lah. Emang Papa kau aja yang mau menikah. Aku juga. Aku juga ingin memiliki Suami, anak, dan keluarga yang bisa aku jaga sendiri," sahut Camilla jujur.


"Kakak tidak mau menjadikan ku anakmu?" tanya Andy penuh harap.


"Ha ha ha...yang benar aja kau ini. Kau ini anak si duda itu, Wijaya. Calon Mama kau itu si wanita ulat bulu, Mayang. Jadi jangan pernah bertanya lagi soal itu, ya?" jelas Camilla mengingatkan Andy.


"Kalau Papa tidak jadi menikah dengan...."


Ucapan Andy terhenti, Wijaya datang, memanggilnya untuk sarapan.


"Andy, mari kita sarapan," ajak Wijaya, ia berdiri di depan pintu kamar, pandangannya beralih ke Camilla, "Sudah bangun?" lanjut Wijaya bertanya pada Camilla.


"Buta matamu! kau tengok lah Om duda, ini siapa?!" ketus Camilla tanpa ada rasa takut.


"Siapa tahu yang aku lihat setan," sahut Wijaya memulai perdebatan.


"Coba kau lihat di tv-tv itu. Apa ada setan secantik aku, haaa!" Camilla mulai tersulut emosi, hingga membawa kedua kakinya melangkah mendekati Wijaya.

__ADS_1


Maklum saja, kesabaran Camilla hanya setipis tisu.


Andy sudah biasa melihat perdebatan Camilla dan Wijaya, ia hanya melangkah pergi meninggalkan kamarnya menuju ruang makan.


Camilla dan Wijaya, masih adu mulut tanpa henti.


"Aku nggak pernah nonton tv, apa lagi nonton film setan. Dan....dari sudut mana kamu itu cantik? dada aja masih ukuran S, mini!" Wijaya kembali mengejek Camilla.


"Apa kau bilang Om? yang kau pikir uda besar kali milik kau itu, haaa?! jangan-jangan cuman sekecil jari kelingking ku!" sahut Camilla tak terima jika semangka kembarnya di bilang ukuran S.


"Jangan buat aku memaksamu untuk melihatnya," geram Wijaya mulai terpengaruh.


"Alah ...bacot! uda lah, mau pigi aku. Mau makan, lapar kali ku rasa. Setelah pergelangan kakiku sembuh, mau makan banyak-banyak aku, agar bisa lari lagi," putus Camilla tak ingin melanjutkan perdebatan karena perutnya mulai keroncongan.


Terlalu di ambil ucapan Camilla, dan sudah merasa terhina karena di bilang miliknya sebesar jari kelingking. Wijaya menahan bahu Camilla.


"Aku masih tak terima dengan ucapan mu tadi," Wijaya menarik Camilla, masuk ke dalam kamar Andy dan menutup pintu kamar.


Blam!


Wijaya menyudutkan Camilla di dinding, menempel seperti cicak.


"Eh, Om. Kenapa aku di tempelkan ke dinding?" tanya Camilla mulai panik saat wajah Wijaya mulai mendekati wajahnya.


"Aku tersinggung," gumam Wijaya di dengar oleh Camilla.


Wijaya mengambil tangan Camilla, mulai mendekatkannya ke celananya. Perbuatan spontan Wijaya mulai mendebarkan hingga bola mata Camilla semakin membesar, mengikuti pergerakan Wijaya.


"Om, om, om. A-aku tahu Om itu baek kali, da-dan mana mungkin Om tega melakukan hal itu kepadaku. Ta-tangan ku ini masih polos dan suci loh Om," Camilla mulai melembutkan nada suaranya. Namun, Wijaya tidak perduli, segaris senyum nakal tercetak di raut wajah Camilla.


"Sudah terlambat. Jika aku menginginkan hal itu, sekarang juga masih sempat," sahut Wijaya mulai nakal.


Dengan rasa gugup hingga tangan gemetaran, kedua kelopak mata tertutup, Camilla berusaha menahan tarikan Wijaya. Bukannya menghentikannya, Wijaya malah semakin menarik tangan Camilla dan membuatnya menggenggam pemukul baseball mainan milik Andy.


Camilla langsung berteriak histeris, sampai menangis. Pikirannya ia sudah memegang milik Wijaya.


"Aaa....ampuni aku, Mak ..Pak. Bukan mau ku, bukan salah ku. Aku hanya di paksa untuk memegang nya. Hiks....hiks, tangan ku sudah ternodai, huaaa!"


Wijaya terkekeh geli hingga perutnya sakit.


"Ha ha ha. Keras dan besar tidak?" tanya Wijaya di sela tawanya.


"I-iya. Maafkan aku, Om. Aku janji tidak akan mengungkit hal itu. A-aku mohon lepaskan tanganku dari milikmu," pinta Camilla kaku.


"Kenapa harus aku yang melepaskannya. Bukannya kamu yang menggenggamnya sangat erat. Jangan-jangan kamu sangat menginginkan hal itu," goda Wijaya kembali nakal.

__ADS_1


"Nggak Om. Aku masih polos, umurku juga belum matang untuk hal seperti itu. Aku mohon Om," sahut Camilla kembali memohon, hingga wajahnya pucat.


"Buka dulu mata kamu," pinta Wijaya.


"Nggak mau Om, takut dosa," tolak Camilla lirih.


"Kalau kamu nggak mau membuka nya, aku akan melakukan hal lebih padamu!" ancam Wijaya.


Camilla spontan membuka kedua kelopak matanya, ia langsung menatap lurus ke wajah Wijaya dengan wajah tegangnya.


"Sudah Om, aku sudah membuka mataku. Tapi kenapa Om tidak mau melepaskan milik Om dari genggaman tanganku?"


"Lihat ke bawah!"


"Tidak Om, ada dosa di bawah," tolak Camilla kembali dengan suara sangat pelan.


"Lihat, atau kau akan...."


"I-iya Om. Aku sudah melihatnya....eh, mainan pemukul baseball?" Camilla terkejut melihat tangannya ternyata menggenggam mainan pemukul baseball milik Andy.


Setelah puas menjahili Camilla. Wijaya langsung membuka pintu, ia berlari keluar kamar Andy terlebih dahulu.


"Ha ha ha...emang enak aku tipui!" ejek Wijaya di sela tawa puasnya.


"WIJAYA ATMAJI! teriak Camilla memanggil nama Wijaya lengkap.


Camilla membuang tongkat baseball mainan milik Andy, ia berlari cepat menyusul Wijaya, kini berlari menuju ke ruang makan.


Sesampainya di ruang makan. Wijaya dan Camilla sama-sama berhenti, saat melihat ada Lafi dan Mayang, duduk di kursi makan.


"Eh, ada wanita ulat bulu, dan abang Lafi. Pagi-pagi sudah berduaan aja di ruang makan," sapa Camilla.


"Kamu kenapa lari-larian dengan Wijaya. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Mayang penuh curiga.


"Oh, aku tadi di suruh pegang milik Om duda. Besar juga rupanya miliknya. Pantes aja wanita ulat bulu betah terus nempel dengan Om duda," sahut Camilla berbohong.


Sorot mata Mayang dan Lafi langsung mengarah pada Wijaya.


"Kalau kalian percaya, berarti kalian bodoh!" ketus Wijaya sembari menarik kursinya, dan duduk.


"Kamu pasti berbohong, 'kan?" tanya Mayang ke Camilla untuk menyakinkan ucapan Wijaya.


"Tentu saja aku tidak berbohong. Kau bayangin aja, buat apa aku di bayar mahal, kalau tidak ada pekerjaan sampingan," sahut Camilla menambahi.


Rahang Lafi mengeras, sedangkan Mayang, menggenggam sangat erat rok dress miliknya.

__ADS_1


Berhasil sudah merasuki pikiran Mayang dan Lafi. Camilla saat ini terkekeh dan menghujat dalam hati.


'Ha ha ha! emang enak aku bohongi. Makan itu kata-kata ku. Dasar manusia penipu, bermuka dua dan pengkhianat kalian berdua. Bukan itu saja, kalian berdua juga sudah mulai mengusik hidupku. Kalau kalian bisa menyakiti aku yang terkadang bodoh ini, maka aku juga bisa menghancurkan kalian secara perlahan. Ha ha...sudah macam di sinetron aja aku, ah!' batin Camilla.


__ADS_2