BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 50. Isi pesan Camilla


__ADS_3

Hari mulai berganti, waktu terus berjalan. Sudah 1 bulan lamanya, Andy dan Wijaya melalui semuanya tanpa di temani Camilla.


Wijaya, dan Varo tidak tahu di man Camilla bersembunyi. Mereka sudah cukup lelah mencari Camilla. Andy juga sudah terlihat mulai merelakan kepergian Camilla, ia memulai hidup seperti awal mula, saat tak bertemu dengan Camilla.


Di parkiran mobil Mall terbesar di kota Medan. Seorang gadis memakai jaket, topi, dan masker serba hitam berlari.


"Hosh.. hosh! aku harus segera bersembunyi," bergumam.


Gadis itu adalah Camilla, ia masuk ke dalam bagasi belakang mobil warna hitam. Sesekali ia melirik ke kaca, memastikan apakah ada orang yang mengejarnya.


"Sepertinya aku aman," hela Camilla, menyandarkan tubuhnya di mobil. Namun, kedua telinganya tiba-tiba terusik dengan suara erangan.


Camilla melirik, terkejut saat tahu jika suara itu berasal dari 2 insan sedang memadu kasih. Camilla diam-diam merogoh ponsel dari saku celananya, merekam adegan tak senonoh 2 insan itu. 2 insan itu ialah, Mayang dan Lafi.


'Tontonan secara live. Aduh... duh, basah lah, beserak semuanya. Jika ku lihat-lihat kecil juga punya Lafi. Masih patenan punya Om duda. Baru aja aku sentuh, gedenya sudah bisa menembus jantung! eh...apaan sih otakku ini. Sudah 1 bulan masih kangen aja aku samanya,' batin Camilla, sambil terus merekam adegan Lafi dan Mayang.


Puas sudah merekam adegan Lafi dan Mayang. Camilla diam-diam membuka pintu bagasi, keluar dari dalam mobil.


Merasa ingin menjahili Mayang, Camilla pura-pura berhenti di samping pintu mobil penumpang bagian belakang. Membuka masker, topi, dan jaket menutupi baju kaos oblong berlengan 2 jari.


Camilla juga menyibakkan rambut panjang pelanginya terhembus angin kencang.


"Aaaa ..enaknya ngapain lah mendung-mendung kayak gini. Mau enak-enakan di dalam kamar kosan sama pacar, aku belum punya pacar. Mau rebut lakik orang, lakik orang nggak mau samaku. Apa aku coba yang gratisan aja. Sayang juga keperawanan ku belum di coba!" ucapan Camilla meninggikan nada suaranya.


Lafi mendengar dan setelah melihat Camilla, buru-buru mengeluarkan serangannya di atas perut Mayang. Lafi juga buru-buru membersihkan bekas-bekas di sekitar tubuhnya dengan tisu basah.


"Buset, ada dek Camilla. Jangan sampai dia melihat kita melakukan hal ini," Lafi buru-buru memakai celananya.


"Bukannya kamu yang bilang jika jendela ini tidak tembus pandang. Oh...atau jangan, jangan kau masih menyukainya, sama seperti abang kau itu?!" Mayang terlihat tidak senang.


Mayang pun membersihkan sisa dari perbuatan mereka.


"Aku rasa semua lelaki yang pernah bertemu dengan Camilla, dan setelah melihat kemolekan nya, pasti tidak akan pernah melupakannya," jujur Lafi.


"Aku sudah menyerahkan seluruhnya kepada kamu Lafi. Kenapa tidak ada sedikitpun perasaanmu untuk menghargai itu semua!" cetus Mayang meninggikan nada suaranya.


"Ha ha ha...kamu minta di hargai? jangan harap kamu. Buat apa aku menghargai wanita seperti kamu. Iya kalau hanya aku yang tidur dengan kamu, kalau ada lelaki lain. Buktinya saja punya kamu sudah long...."


Plak!


"Aku kecewa sama kamu. Aku kira kamu benar-benar mencintaiku. Ternyata kamu hanya seorang pria yang tak patut untuk aku miliki," ucap Mayang lirih.


Camilla benar-benar berhasil menggoyahkan iman seorang lelaki. Baru bertemu, ia sudah merusak kenikmatan orang lain.

__ADS_1


Lafi tidak memperdulikan ucapan dan perbuatan Mayang. Melihat Camilla hendak pergi, Lari buru-buru keluar, meninggalkan Mayang di dalam mobil.


"Camilla...Camilla!" panggil Lafi berlari, dan berhenti di samping Camilla.


Camilla menoleh, "Emang kita kenal?" tanya Camilla datar.


"Kemana saja kamu 1 bulan ini. Abang Wijaya, dan Varo sudah cukup lelah mencari kamu," sahut Lafi memberitahu.


"Kemana aku bukan urusan kalian. Sekarang aku sudah bebas, aku tak ada hubungan lagi dengan keluarga kau!" cetus Camilla datar.


"Cara bicaranya masih saja tajam," bergumam.


"Kau ngapain kejar panggil aku?" tanya Camilla datar.


"Andy sering sakit, apa kamu tidak ingin menjenguknya?" Lafi mengalihkan pertanyaan Camilla.


Camilla terdiam, menunduk dengan wajah merasa bersalah. Kedua tangannya juga di genggam erat.


'Kamu sakit? maafkan aku, Andy,' batin Camilla lirih.


Lafi menggenggam pergelangan tangan Camilla, "Mari ikut aku pulang," ajak Lafi.


Camilla menghempas genggaman tangan Lafi, "Jauhkan tangan kotor kau dari kulitku!" balik badan, "Aku pergi dulu!" lanjut Camilla pamit.


Wijaya memang tidak memiliki nomor ponsel dan wa Camilla. Tapi Camilla hafal seluruh nomor ponsel di rumah Wijaya. Itulah kepintaran tersembunyi Camilla. Walaupun Camilla pintar, tapi letak kebodohan dan keteledorannya masih tetap. Sudah capek bersembunyi selama 1 bulan lamanya, tahu-tahu nongol langsung ngirim pesan video wa ke nomor Wijaya.


Setelah pesan video wa di kirim. Camilla kembali melangkah, berjalan santai keluar dari parkiran Mall.


.


.


Di ruangan kerja Wijaya.


Drrt drrt!


Ponsel Wijaya tergelatak di atas meja berdering. Wijaya mengernyitkan dahinya, melihat nomor tak di kenal mengirim video kepadanya.


"Siapa ini?"


Wijaya mengambil ponselnya, lalu membuka rekaman video tersebut. Dengan volume suara masih kuat, Wijaya terkejut saat mendengar dan melihat rekaman video itu. Wijaya buru-buru mematikan rekaman video nya, lalu beralih membaca isi pesan wa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


..."He, Om duda, bodoh! Aku udah muak kali lihat perselingkuhan adek, dan calon tunangan kau itu. Bisa-bisanya mereka melakukan hal kotor di parkiran Mall. Yang entah dimana nya di letak orang itu 2 pikirannya. Aaah...Aah...kata orang itu 2 di dalam. Sakit kupingku dengarnya. Kalau aja aku nggak bersembunyi di bagasi mobil adek kau itu. Mungkin mata dan telingaku tidak akan menjadi kotor. Kau baca dan kau lihat isi pesanku ini ya! pikir-pikir lah kau kalau menikahi seorang wanita. Jangan sampai dia hamil dengan orang lain kau yang tanggung jawab."...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wijaya meletakkan ponselnya di atas meja, ia menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Ha ha...Camilla benar-benar tidak tahu jika aku dan Mayang sudah lama putus. Dasar gadis sumo yang ceroboh. Tunggu aku datang menjemputmu. Bersiaplah atas hukuman karena kamu telah membuat kami semua mencari kamu dalam kebingungan," gerutu Wijaya di sela tawa kejinya.


Wijaya mengambil ponselnya, ia menghubungi seseorang untuk melacak keberadaan Camilla melalui nomor ponsel Camilla.


Tak sampai 10 menit, Wijaya keluar dari ruangan kerja miliknya. Senyum manis dan langkah tegap terus berjalan melewati meja resepsionis.


Gabi, dan Varo berdiri secara serentak.


Penasaran mau kemana tuannya itu pergi, Varo berlari, mengejar Wijaya.


"Tuan mau kemana?" tanya Varo berhenti di depan pintu masuk perusahaan.


"Aku akan menjemput seseorang," sahut Wijaya menghentikan langkahnya.


"Kunci mobilnya masih sama saya."


"Tidak perlu, aku akan memakai mobil kantor," ucap Wijaya, lalu ia kembali melangkah.


.


.


Sementara itu di warung es campur pinggir jalan. Camilla duduk santai, mengipasi tubuhnya dengan topi.


"Aih...padahal mendung. Tapi kenapa hawa tubuh ini terasa panas, terus hidungku terus gatal aja. Perasaanku juga nggak enak," Camilla bergumam.


Ibu pemilik warung datang, meletakkan es campur.


"Ini dek, kalau masih ada yang kurang bilang, ya!" ucap Ibu itu.


"Kalau gitu aku pesan satu mangkuk lagi, sama bilang ke wawak jualan bakso gerobak itu. Aku mau pesan bakso satu, dan mie ayam satu. Lapar kali ku rasa. Cepat ya, Bu," ucap Camilla kembali menambah pesanannya.


"Iya," angguk ibu itu.


10 menit berlalu. Pesanan Camilla sudah datang. Mobil Avanza berwarna hitam berhenti di depan warung kaki lima. Seorang pria memakai baju kaos oblong, memakai topi dan jaket, duduk di sebelah Camilla.


"Kecil-kecil makannya banyak juga," bisik lelaki itu.

__ADS_1


Camilla menghentikan makannya, bola matanya membesar saat mendengar suara begitu familiar ada di sebelahnya.


__ADS_2