BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 51. Sabar Sabar


__ADS_3

Camilla terkejut melihat pria itu. Benar dugaannya mengenai suara begitu familiar meski sudah 1 bulan lamanya mereka tidak bertemu. Pria itu adalah Wijaya.


"O-om duda!" Camilla gugup.


Wijaya menggenggam erat pergelangan tangan Camilla, mengeluarkan uang sebesar 100 ribu, meletakkannya uang merah itu di atas meja.


Ibu pemilik warung es dan bapak pemilik gerobak bakso hanya menggeleng.


"Ikut aku!" tegas Wijaya, menarik Camilla.


"Bakso dan es ku, Om. Om...aku sangat lapar, Om!" teriak Camilla, berusaha terlepas dari genggaman tangan Wijaya, tapi tenaga Wijaya lebih kuat darinya.


Wijaya memasukkan Camilla secara paksa ke dalam mobil, lalu ia pun melajukan mobilnya meninggalkan warung kaki lima itu.


"Om, mau kemana kau bawa aku?" tanya Camilla, ia menatap sekeliling jalan raya tidak terlalu padat karena masih jam 2 sore.


"Ke hotel terdekat!" tegas Wijaya.


Wijaya terus melajukan mobilnya menuju hotel terdekat.


Camilla berusaha menarik handle pintu mobil, berharap pintu bisa di buka. Namun, usahanya sia-sia, salah satu jarinya malah terjepit.


"Aduh..duh. Sakit, sakit sekali," keluh Camilla, ia menghembus salah satu jarinya terluka, berdarah.


Wijaya tak memperdulikan rasa sakit Camilla. Ia masih terus melaju, menuju hotel terdekat. 20 menit berlalu, mobil Wijaya sudah terparkir rapih di parkiran hotel.


"Turun!" tegas Wijaya, menggenggam pergelangan tangan Camilla.


"Nggak mau. Aku berteriak nih, kalau kau menculik aku Om!" tolak Camilla, tangannya menggenggam erat seatbelt.


"Maka aku akan melaporkan kamu ke pihak berwajib atas pencurian di rumahku. Aku lebih kuat darimu. Aku bisa membayar apa pun untuk membuat kamu mau menuruti semua perintahku. Cepat! pilih ikut denganku, atau mau aku masukkan ke sel!" desak Wijaya, sorot mata berubah menjadi dingin.


Camilla takut akan ancaman Wijaya, terpaksa menurut. Camilla turun dengan wajah kesal.


"Puas!"


"Belum," Wijaya menggenggam pergelangan tangan Camilla, "Ayo kita masuk, aku ingin berbicara hal penting dengan mu!" lanjut Wijaya membawa paksa Camilla masuk ke dalam.


Wijaya sudah selesai memesan kamar hotel. Mereka kini sudah berada di dalam kamar VVIP.


Camilla duduk di sofa, sorot mata menjadi liar menatap sekeliling kamar hotel.


"Kalau cuman hanya berbicara, kenapa kau ajak aku ke sini Om?" tanya Camilla polos.


Wijaya tak menggubris, ia membuka baju kaos oblong nya, melangkah mendekati Camilla.


"Ya ampun! yang nggak adanya pikiran kau, Om?" Camilla spontan menutup kedua matanya saat melihat bidang perut dan dada sixpack Wijaya.


Wijaya melepaskan kedua tangan Camilla menutup matanya. Wijaya mengambil salah satu jari Camilla masih mengeluarkan darah, lalu memasukkannya ke dalam mulut.


Camilla terkejut, "Aaa!" tanpa sadar ia mengeluarkan suara itu.


Tak ingin hasratnya bertambah tinggi, Wijaya melepaskan nya. Ia pun duduk di sebelah Camilla. Camilla tertunduk, wajahnya memerah karena merasa ada gejolak aneh berputar di bawah perutnya.

__ADS_1


'Sadar Camilla, sadar. Apalah yang sedang kau pikirkan, jangan berpikir hal kotor kau. Sadar Camilla!' batin Camilla.


"Kenapa kamu kabur saat itu?" tanya Wijaya, mulai menatap Camilla.


"A..aku hanya tidak ingin mengganggu hubungan kau Om," sahut Camilla kikuk.


"Hubungan apa? aku dan Mayang sudah putus. Kami sudah lama tidak mempunyai hubungan lagi," jelas Wijaya, Camilla menegakkan kepalanya, menatap sorot mata Wijaya.


"Serius?!"


"Iya, ada hal lain yang aku ketahui tentang Mayang dan adikku Lafi. Aku sudah lama mencurigai Lafi dan Mayang. Semua kecurigaan ku semakin jelas waktu aku menemani kamu berbelanja ke Mall. Aku juga diam-diam memantau pergerakan mereka di apartemen milik Lafi melalui cctv tersembunyi yang aku pasang di sana," jelas Wijaya memberitahu kebenaran yang sesungguhnya kepada Camilla. Camilla menjadi bingung.


"Ja-jadi...ka....kau sudah tahu lama Om?" tanya Camilla gugup.


"Iya, makanya aku selalu takut jika Lafi mendekati kamu. Bukan hanya seorang playboy, tapi Lafi adalah penjahat kelamin," helaan Wijaya.


"Syukurlah, aku kira selama ini kau bodoh Om!" jujur Camilla.


"Camilla, menikahlah denganku!" Wijaya berlutut, mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya.


"Hahaha...sudah gila. Baru jumpa langsung melamar," kekeh Camilla.


"Kalau gitu aku panjar kamu dulu agar mau menerima ku!"


Wijaya dengan cepat menggendong Camilla, membawanya berlari ke kamar mandi.


"Lepaskan, lepaskan aku, Om!" teriak Camilla, memukul bidang dada Wijaya.


"Apa tangan mungil ini ingin menamparku?" tanya Wijaya datar, kakinya perlahan ikut masuk ke dalam, membuka kran air hangat.


"Om, aku pikir kau sudah tidak waras. Apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Camilla sedikit meninggikan nada suaranya.


"Tentu saja kamu pasti sudah tahu," sahut Wijaya, menekan bahu Camilla.


Camilla terduduk, seluruh bajunya basah, terendam air hangat.


Wijaya ikutan duduk di dalam, membawa Camilla duduk di atas pangkuannya, lalu mengulum bibir ranum Camilla.


Mendapat perlakukan tak baik dari Wijaya, tubuh Camilla bergetar. Rasa trauma kejadian akan penculikan dan pelecahan kembali terlintas di otak kecilnya.


Wijaya melepaskan ciumannya, memeluk tubuh mungil Camilla bergetar hebat.


"Hiks...hiks..hiks. Ampun, ampun Om. Ja-jangan lakukan itu padaku!" rintih Camilla lirih.


"Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi," ucap Wijaya penuh penyesalan, tangannya membelai rambut bagian belakang Camilla.


Camilla memeluk Wijaya sangat erat, membenamkan wajahnya di bidang dada Wijaya, lalu kembali menangis.


Wijaya tak berbuat apa pun, ia merasa bersalah, dan membiarkan Camilla menangis sepuasnya.


Lelah menangis hingga kelopak mata sembab, Camilla melepaskan pelukannya, menatap wajah datar Wijaya sedang menatapnya.


"Kenapa kau ingin melakukan hal jahat kepadaku, Om?" tanya Camilla di sela isakan nya.

__ADS_1


"Karena aku tidak ingin kehilangan sosok yang sangat spesial di hatiku. Camilla, berjanjilah jangan kabur lagi dariku, dan Andy. Kami sangat membutuhkan kehadiran mu," sahut Wijaya lembut, tangannya membelai puncak kepala Camilla.


"Kenapa? bukannya aku hanya wanita bermulut kasar. Apa spesial nya diriku di mata kau, Om?"


"Kamu foto copy dari almarhum istriku," Wijaya mengecup dahi Camilla lembut, detik selanjutnya melepaskan.


Camilla terdiam, tangannya memegang dahi bekas ciuman Wijaya.


"Maafkan karena keegoisan ku. Aku hampir khilaf," ucap Wijaya jujur.


"Terimakasih untuk tidak melanjutkannya," Camilla bersyukur masih bisa menjaga kehormatannya.


Wijaya mengambil salah satu jari Camilla, memasang cincin berlian di jari manisnya. Camilla terdiam, ia menatap jari manis sudah melingkar cincin berlian.


"A-apa maksud nya ini, Om?" tanya Camilla gugup, tak percaya jika di jari manisnya ada cincin berlian.


"Kita akan segera menikah, agar aku tidak khilaf," sahut Wijaya jujur.


"Apa?! menikah!" Camilla mendadak histeris.


"Iya! Oh...atau aku akan melakukan hal itu agar kamu tidak menolak ku!" ancam Wijaya, salah satu tangannya menyelinap masuk ke dalam baju kaos Camilla.


"Ja-jangan Om. I-iya aku akan menerima lamaran kau, Om. Kalau mau melakukan hal itu setelah menikah saja. Soalnya katanya sakit," sahut Camilla gugup.


"Sakit dikit aja. Aku juga tidak memaksamu loh!"


"Tapi kau mengancam ku, Om!"


"Karena kita sudah terlanjur basah, mari kita mandi," usul Wijaya, membuka baju kaos Camilla secara paksa.


Camilla tak bisa berkutik, saat kedua kakinya di kungkung oleh kedua kaki Wijaya. Mau memberontak, tenaganya kalah. Camilla hanya bisa menunduk, kedua tangan menyilang, menutup dua gunung kembar masih terlihat tegap, dan bulat sempurna.


Glek!


Dengan susah payah Wijaya menelan saliva nya.


"Tidak sopan kalau begini ceritanya, Om," protes Camilla pelan, kepala tertunduk, wajah memerah.


Wijaya langsung menempelkan baju Camilla ke bagian depan tubuhnya. Benda miliknya berada di bawah sudah tegak lurus. Tak ingin khilaf kembali, Wijaya segera keluar dari dalam bak, menuju kucuran shower.


"Kenapa tidak jadi Om?"


Camilla malah balik bertanya dengan suara menggoda. Wijaya hanya melirik dengan kedua matanya memerah karena terkena air pancuran.


"Apa kau yakin? jika aku keterusan, gimana? Sekali masuk ke dalam, dinding penghalang itu tidak bisa aku kembalikan lagi!"


"Baiklah, tidak jadi. Aku akan mandi di sini saja," gumam Camilla.


Bukannya Camilla namanya kalau dirinya tidak teledor, dan ceroboh. Camilla malah membuat seluruh pakaiannya, menyisakan bagian dalam. Ia berpikir jika bak mandi itu seperti mandi di sungai.


Wijaya hanya bisa memukul pelan dinding.


"Sabar..sabar.." gumam Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2